Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Sabtu, 27 April 2013

Di gubug Bani Sa’idah


  Kegelapan telah meliputi Madinah dengan kedua sayapnya yang hitam sedang hujan telah membasahi permukaan bumi dengan air matanya yang mengucur. Saat kegelapan malam yang penuh ketenteraman itu dimanfaatkan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq dengan baik. Dia keluar dari rumahnya menuju gubug Bani Sa’idah – dan kebetulan hal itu dilihat Mu’alla bin Khunais salah seorang sahabat sekaliguspengagumnya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya: “Amboi, hendak ke manakah gerangan Imam keluar di malam hari seperti ini? Demi Allah, saya takkan membiarkannya pergi sendirian di malam yang gelap gulita seperti ini.”
  Maka berjalanlah Mu’alla di belakang Al-Imam membuntutinya, sementara Al-Imam sendiri tidak mengetahui. Tatkala dia mengikuti jejak Al-Imam, tiba-tiba dia mendengar sesuatu yang jatuh dari bahu Al-Imam, dan tercecer di atas tanah. Dan dingarnya pula Al-Imam berkata: “Bismillah, ya Allah, kembalikanlah ia kepada kami.”
Mu’alla mendekati Al-Imam lalu menyampaikan salam kepadanya, sehingga dari suaranya itu, tahulah Imam Ash-Shadiq siapa yang datang lalu berkata kepadanya: “Mu’allakah anda ini?”
  “Benar.” Jawab yang ditanya. “Biarlah aku menjadi pembelamu.” Sekilas ia melirik ke atas tanah, dan ternyata dia melihat roti yang banyak berceceran di sana.
  Al-Imam berkata: “Rabalah tanah dengan tanganmu, dan bawalah kemari apa-apa yang kamu dapatkan.”
  Dan setelah Mu’alla berhasil mengumpulkan roti dari atas tanah dan dia berikan kepada Al-Imam, mengertilah ia bahwa Al-Imam tidak kuat memanggul karung roti, sehingga karung itu jatuh di atas tanah. Oleh karena itu dia meminta ijin untuk menggantikannya memanggul karung itu.
  Namun jawab Al-Imam: “Tidak! Aku lebih memanggulnya daripada kamu. Akan tetapi ikutilah aku.”
Kedua orang itu berjalan bersama-sama, sedang Al-Imam tetap memanggul karung di atas bahunya, sehingga sampailah mereka berdua ke gubug Bani Sa’idah. Dan di sana, ternyata mereka melihat orang-orang fakir miskin dan orang-orang yang lemah. Dan mulailah Al-Imam meremas-remas satu-dua keping roti, lalu ia pun pergi bersama Mu’alla.
   Al-Imam berkata kepada Mu’alla: “Sedekah di waktu malam akan memadamkan murka Allah, dan menghapuskan dosa serta meringankan hisab.”
Judul: Di gubug Bani Sa’idah; Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates