Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Mei 2013

Pahala takut kepada Allah


  Dalam sebuah Hadits Qudsi, ada riwayat mengenai balasan yang diberikan Allah kepada orang yang takut kepada-Nya
Rasulullah bersabda, “Ada seorang lelaki yang tidak pernah berbuat kebajikan sama sekali. Lelaki itu berwasiat kepada keluarganya, ‘Jika aku mati, maka bakarlah aku hingga lumat menjadi abu. Kemudian, taburkanlah sebagian abu itu di daratan dan sebagian lagi di laut. Demi Allah, jika Allah sampai menghisabku, pasti Dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun di alam semesta!’
  Tatkala lelaki itu meninggal, keluarganya melaksanakan apa yang telah dia wasiatkan kepada mereka. Lalu, Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu yang disebar di daratan itu dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan debu yang disebar di lautan itu.
Kemudian, Allah SWT bertanya kepada lelaki itu (setelah dihidupkan kembali), ‘Mengapa kau lakukan ini?’
  Lelaki itu menjawab, ‘Karena aku takut kepada-Mu Tuhanku, dan Engkau lebih tahu itu.’
  Allah SWT lalu mengampuninya.”
  Kisah dalam Hadits Qudsi ini begitu menggelitik dan penuh hikmah. Seseorang yang selalu berbuat maksiat dan tidak pernah beramal shalih sedikit pun, masih memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Keagungan Allah ada di depan matanya, sehingga dia takut akan hisab dan azab Allah atas perbuatannya di dunia.
  Ketakutannya ini membuatnya berwasiat bodoh. Setelah mati, dia ingin mayatnya dibakar dan abunya disebar di daratan dan lautan. Dengan begitu, dia berharap tidak akan bisa dihisab oleh Allah SWT. Dia ingin selamat dari azab Allah SWT. Dia yakin Allah itu ada. Dia pun yakin, hisab Allah itu ada dan hisab itu menunggu satelah kematiannya. Dia ingin menyelamatkan dirinya dengan cara menyebar lumatan tubuhnya di darat dan di laut.
  Namun, Allah Mahakuasa untuk tetap menghisabnya. Tidak ada yang luput dari hisab-Nya. Pada akhirnya, Allah mengampuni lelaki itu berkat rasa takutnya pada keagungan Allah SWT.
  Hikmah yang dapat diambil dari kisah tadi adalah sekecil apa pun keimanan dalam dada seseorang (yaitu keyakinan akan adanya Allah, hisab, dan keadilan Allah) dapat mendeatangkan ampunan dan rahmat Allah SWT. Bagaimana jika rasa takut kepada Allah itu dihadirkan setiap saat dengan disertai amal shalih? Tentu, pahala yang disediakan Allah, akan lebih besar dan agung.
   Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman dan memberikan kabar gembira, “Dan ada pun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS.         An-Naazi’aat [79]: 40-41)

Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Read more ...

Rabu, 01 Mei 2013

Kalimat Pengusir Maksiat


  Seorang ulama terkemuka Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari menuturkan kisah dirinya, “Ketika berumur tiga tahun, aku ikut pamanku yaitu Muhammad bin Sanwar untuk melakukan qiyamullail. Aku melihat cara shalat pamanku dan aku menirukan gerakannya.
  Suatu hari, paman berkata kepadaku, ‘Apakah kau mengingat Allah, yang menciptakanmu?’
  Aku menukas, ‘Bagaimana caranya aku mengingatnya?’
  Beliau menjawab, ‘Anakku, jika kau berganti pakaian dan ketika hendak tidur, katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakkan lisanmu, ‘Allah ma’i...Allahu naadhiri... Allahu syaahidi!’ (Artinya, Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan aku!)
  Aku menghafalkan kalimat itu, lalu mengucapkannya bermalam-malam. Kemudian, aku menceritakan hal ini kepada paman.
  Pamanku berkata, ‘Mulai sekarang, ucapkan dzikir itu sepuluh kali setiap malam.’
  Aku melakukannya, aku resapi setiap maknanya, dan aku merasakan ada kenikmatan dalam hatiku. Pikiran terasa terang. Aku merasa senantiasa bersama Allah SWT.
  Satu tahun setelah itu, paman berkata ‘Jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu, dan langgengkanlah sampai kau masuk kubur. Dzikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan di akhirat. Lalu pamanku berkata ‘Hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai oleh allah, dilihat Allah, dan disaksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’
  Kalimat Allahu ma’i. Allahu naadhiri. Allahu yaahidi! sangat terkenal di kalangan ulmama arif billah. Bahkan, Syeikh Al-Azhar, Imam Abdul Halim Mahmud, yang dikenal sebagai ulama yang arif billah meganjurkan kepada kaum Muslimin untuk menancapkan kalimat ini di dalam hati. Maknanya sangat dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa ma’iyatullah (selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah SWT, di mana dan kapan saja).
   Pada akhirnya, rasa ini akan menumbuhkan taqwa yang tinggi kepada Allah SWT. Kalau sudah begitu, apakah orang yang merasa selalu disertai, dilihat, dan disaksikan Allah akan melakukan maksiat?

Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Read more ...

Selasa, 30 April 2013

Gadis Cerdas, Gadis Impian


  Ada seorang pemuda Arab yang tampan, shalih, dan sangat cerdas. Dia ingin menikah dens shalihah dan cerdas seperti dirinya. Maka, mulailah dia mengembara dari satu kabilah ke kabilah lain, untuk mencari gadis impiannya.
  Suatu ketika, dia berjalan menuju kabilah di Yaman. Di tengah perjalanan, dia berjumoa dengan seorang lelaki. Akhirnya, dia berjalan bersama lelaki itu.
  Pemuda itu menyapa, “Hai Tuan, apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?”
  Spontan lelaki itu menjawab, “Hai bodoh, kau ini bagaimana? Aku menunggang kuda dan kau juga menunggang kuda.   Bagaimana kita bisa saling membawa?”
  Pemuda itu diam saja mendengar jawaban lelaki itu.
  Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Lalu, mereka melewati sebuah kampung. Kampung itu yang dikelilingi oleh kebun yang sudah tiba masa panennya.
  Pemuda itu bertanya, “Menurutmu, buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya, atau belum ya?”
  Seketika, lelaki itu menjawab, “Pertanyaanmu itu aneh sekali! Kamu sendiri melihat dengan mata dan kepalamu, buah-buahna itu masih ada di pohonnya dan belum dipanen kok kamu bertanya, apakah buah-buahna itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?”
  Pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab perkataan lelaki itu.
  Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Baru sebentar berjalan mereka bertemu dengan orang-orang yang sedang mengiring jenazah.
  Pemuda itu berkata, “Menurutmu, yang diiring dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati, ya?”
  Lelaki itu menjawab, “Aku semakin tidak paham denganmu. Aku tidak pernah menemukan pemuda yang lebih bodoh darimu. Ya, jelas! Jenazah itu akan dibawa untuk dikuburkan. Tentu dia sudah mati.”
  Pemuda itu kembali diam dan tidak menjawab sepatah kata pun atas komentar lelaki itu. Akhirnya, keduanya sampai di rumah lelaki itu. Dia mengajak pemuda itu menginap di rumahnya. Dia merasa kasihan, sebab pemuda itu terlihat sudah sangat letih.
  Lelaki itu memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik.
  Begitu tahu ada seorang tamu menginap, anak gadisnya itu bertanya, “Ayah, siapa dia?”
  “Dia itu pemuda paling bodoh yang pernah aku temukan.” Jawab ayahnya.
  Anak gadisnya itu malah penasaran. Dia mengejar dengan pertanyaan berikutnya, “Bodoh bagaimana?”
  Ayahnya langsung menceritakan awal pertemuannya dengan pemuda itu dan segala perkataan serta pertanyaannya.
  Mendengar cerita ayhnya, anak gadis itu berkata, “Ayah ini bagaimana? Dia itu tidak bodoh. Justru dia sangat cerdas dan pandai. Kata-katanya mengandung makna tersirat. Ketika dia mengatakan, ‘Apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?’, sebenarnya maksudnya adalah, ‘Apakah kita bisa saling berbincang-bincang sehingga bisa membawa kita pada suasana yang lebih akrab?’ ketika dia mengatakan, ‘Buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?’ Ia memaksudkan, ‘Apakah pemiliknya sudah menjualnya, pemiliknya tentu menerima uangnya dan membelanjakannya untuk makan dia dan keluarganya. Kemudian, ketika dia bertanya, ‘Apakah jenazah di dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati?’ Maksudnya, ‘Apakah jenazah itu memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuangannya atau tidak?’
  Setelah mendengar apa yang dikatakan putinya, lelaki itu keluar menemui pemuda itu. Dia meminta maaf atas perkataannya yang membodoh-bodohkan pemuda itu. Keduanya lalu berbincang-bincang.
  Lelaki itu berkata, “Sekarang aku baru tahu apa maksud pertanyaan-pertanyaanmu dalam perjalanan tadi.”
  Lalu, dia menjelaskan seperti yang dikatakan putrinya.
  Mendengar itu,  sang pemuda bertanya, “Saya yakin itu bukan lahir dari pikiranmu sendiri dan bukan perkataanmu demi Allah, katakanlah padaku siapa yang mengatakannya?”
  “Yang mengatakan hal itu padaku adalah putriku.” Jawab lelaki itu.
  Spontan pemuda itu berkata, “Apakah kau mau menikahkan aku dengan putrimu?”
  “Ya.”
   Begitulah, setelah melalui pengembaraan yang panjang, akhirnya pemuda itu menemukan pendamping hidup yang dia impikan.

Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Read more ...

Senin, 29 April 2013

Putusnya Persahabatan


  Barangkali tak pernah ada seorangpun yang menyangka, bahwa persahabatan dua orang yang bersahabat kental itu akan berpisah buat selama-lamanya. Orang lebih mengenal di dengan nama sahabatnya – yaitu dengan sebutan “Kawan Imam Ash-Shadiq.”
  Pada suatu hari, kedua orang yang bersahabat itu masuk ke dalam pasar sepatu. Mereka disertai pula seorang budak dari kawan Imam Ash-Shadiq – yang berjalan di belakang mereka. Suatu saat, kawan Imam Ash-Shadiq itu menoleh ke belakang akan tetapi ternyata budaknya tidak kelihatan. Namun, dia tetap berjalan beberapa langkah, kemudian menoleh sekali lagi, dan ternyata budaknya tetap belum juga kelihatan. Dan untuk ketiga kalinya dia melihat pula ke belakang, dan ternyata budaknya tetap belum kelihatan. Oleh karena itu, dia sibuk mencara ke sana ke mari dalam pasar itu. Dan setelah sekian lama budaknya baru kelihatan, maka berkatalah ia: “Hai anak sundal, dari mana kau?”
  Mendengar perkataan seperti itu maka Imam Ash-Shadiq merasa kesal. Oleh karena itu, beliau mengangkat tangannya, lalu memukulnya muka kawannya seraya berkata: “Subhanallah, kau menuduh berzina kepada ibunya. Tadinya saya kira kamu seorang yang wara’, tapi ternyata tidak!”
Kawannya berkata: “Biarlah kutebus engkau dengan diriku hai putra Rasulullah. Sesungguhnya ibunya adalah seorang wanita musyrik dari Sindi.”
  Jawab Imam Ash-Shadiq: “Sekalipun ibunya kafir, umpamanya, namun tidakkah engkau tahu, bahwa pada setiap umat  terdapat pernikahan, dan bahwa anak-anak mereka tidaklah seperti anak-anak kita.” Kemudian Ash-Shadiq berkata lagi: “Enyahlah kau dariku!”
   Sesudah itu, Imam Ash-Shadiq tak pernah lagi kelihatan lagi berjalan bersama kawannya itu, sehingga maut memisahkan antara mereka berdua.
Read more ...

Minggu, 28 April 2013

Hasil Usaha


  Ali bin Abi Hamzah Al-Bathaini berjalan melewati Imam Al-Kazhim, yang sedang bekerja keras di ladangnya dan mempersiapkannya untuk ditanami, dengan penuh semangat. Keringat mengucur dari tubuhnya, sehingga Ali bin Abi   Hamzah tertarik untuk bertanya kepadanya: “Biarlah aku menjadi penggantimu. Ke manakah orang-orang? Kenapakah tidak engkau serahkan pekerjaan ini kepada orang lain?”
  “Kenapakah harus aku serahkan pekerjaan ini kepada orang lain, hai Ali? Bila aku melakukan dengan tanganku sendiri, maka telah ada orang yang lebih baik dariku dan daripada ayahku, yang bekerja dengan tangannya sendiri.”
  “Siapa?”
   “Rasulullah dan Amirul Mukminin, dan bapak-bapakku, seluruhnya telah bekerja dengan tangan mereka. Dan bekerja adalah profesi dari para Nabi dan utusan-utusan Allah – pengemban wasiat dan orang-orang shaleh.”
Read more ...

Sabtu, 27 April 2013

Di gubug Bani Sa’idah


  Kegelapan telah meliputi Madinah dengan kedua sayapnya yang hitam sedang hujan telah membasahi permukaan bumi dengan air matanya yang mengucur. Saat kegelapan malam yang penuh ketenteraman itu dimanfaatkan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq dengan baik. Dia keluar dari rumahnya menuju gubug Bani Sa’idah – dan kebetulan hal itu dilihat Mu’alla bin Khunais salah seorang sahabat sekaliguspengagumnya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya: “Amboi, hendak ke manakah gerangan Imam keluar di malam hari seperti ini? Demi Allah, saya takkan membiarkannya pergi sendirian di malam yang gelap gulita seperti ini.”
  Maka berjalanlah Mu’alla di belakang Al-Imam membuntutinya, sementara Al-Imam sendiri tidak mengetahui. Tatkala dia mengikuti jejak Al-Imam, tiba-tiba dia mendengar sesuatu yang jatuh dari bahu Al-Imam, dan tercecer di atas tanah. Dan dingarnya pula Al-Imam berkata: “Bismillah, ya Allah, kembalikanlah ia kepada kami.”
Mu’alla mendekati Al-Imam lalu menyampaikan salam kepadanya, sehingga dari suaranya itu, tahulah Imam Ash-Shadiq siapa yang datang lalu berkata kepadanya: “Mu’allakah anda ini?”
  “Benar.” Jawab yang ditanya. “Biarlah aku menjadi pembelamu.” Sekilas ia melirik ke atas tanah, dan ternyata dia melihat roti yang banyak berceceran di sana.
  Al-Imam berkata: “Rabalah tanah dengan tanganmu, dan bawalah kemari apa-apa yang kamu dapatkan.”
  Dan setelah Mu’alla berhasil mengumpulkan roti dari atas tanah dan dia berikan kepada Al-Imam, mengertilah ia bahwa Al-Imam tidak kuat memanggul karung roti, sehingga karung itu jatuh di atas tanah. Oleh karena itu dia meminta ijin untuk menggantikannya memanggul karung itu.
  Namun jawab Al-Imam: “Tidak! Aku lebih memanggulnya daripada kamu. Akan tetapi ikutilah aku.”
Kedua orang itu berjalan bersama-sama, sedang Al-Imam tetap memanggul karung di atas bahunya, sehingga sampailah mereka berdua ke gubug Bani Sa’idah. Dan di sana, ternyata mereka melihat orang-orang fakir miskin dan orang-orang yang lemah. Dan mulailah Al-Imam meremas-remas satu-dua keping roti, lalu ia pun pergi bersama Mu’alla.
   Al-Imam berkata kepada Mu’alla: “Sedekah di waktu malam akan memadamkan murka Allah, dan menghapuskan dosa serta meringankan hisab.”
Read more ...

Jumat, 26 April 2013

Kejujuran membawa Berkah


  Suatu ketika seorang pria berkebangsaan Eropa yang telah memeluk agama Islam melihat iklan lowongan kerja di sebuah instansi pemerintah yang kafir. Tanpa ragu ia pun mengajukan lamaran untuk mendapat pekerjaan itu – sebelumnya dia sudah menyadari resiko yang bakal ia terima atas keIslamannya.
  Saat gilirannya tiba untuk diwawancarai, panitia penerimaan pegawai mengajukan beberapa pertanyaan, di antaranya, “Apakah anda gemar mengkonsumsi minuman keras?” Jawabnya: “Tidak, saya adalah seorang muslim, agama yang saya peluk ini melarangnya.” Kemudian mereka melanjutkan pertanyaan, “Apakah anda memiliki teman kencan?” Jawabnya: “Tidak, agama yang saya anut ini mengharamkannya. Saya hanya berhubungan dengan istri yang telah saya nikahi sesuai dengan syariat Islam.”
   Setelah wawancara selesai ia keluar dengan perasaan agak pesimis akan hasil tesnya di instansi itu – pertama jumlah pesaing cukup banyak dan kedua ke-Islamannya. Ternyata dugaannya meleset, ia diterima sementara peserta yang lain dinyatakan gagal. Untuk menghilangkan rasa keheranannya ia mendatangi panitia penerimaan, dan berkata: “Tadinya saya mengira anda tidak akan menerima saya atas perbedaan agama kita. Saya terkejut bisa diterima, apa rahasia di balik ini semua?” Ketua panitia ini menjawab: “Rahasianya adalah, orang yang diterima hanyalah orang yang memiliki perhatian penuh terhadap pekerjaan, dan cekatan dalam setiap keadaan. Jadi untuk pekerjaan seperti ini tidak mungkin diamanahkan kepada orang yang suka bermabuk-mabukan, atau orang yang suka berkencan – dan anda memenuhi persyaratan itu.” Setelah mendengar penjelasan itu semua keluarlah ia dari ruangan seraya bersyukur kepada Allah yang melimpahkan nikmat Islam yang begitu besar bagi dirinya.
Read more ...

Kamis, 25 April 2013

Jamuan Makan Khalifah



  Syarik bin Abdillah An-Nakha’i adalah seorangahli fiqih yang tersohor pada abad kedua Hijriyah. Ia akan kezuhudan, ketaqwaan dan keluasan ilmunya. Khalifah al-Mahdi dari daulah Bani Abasiyah sangat mengharapkannya agar ia bersedia menjadi hakim. Tetapi dia menolaknya dan berusaha menjauhkan diri untuk tidak membantu penguasa yang zhalim, sebagaimana dia menolak ketika ditawari menjadi guru pribadi (private) bagi anak-anaknya.
  Pada suatu hari khalifah Al-Mahdi mengirim seorang utusan kepadanya dengan mengajukan  tiga alternatif, agar ia memililih salah satu di antaranya:
  Pertama: Ia akan diberi jabatan sebagai hakim negara.
  Kedua: Ia disuruh mengajar kedua anak khalifah Al-Mahdi
  Ketiga: Ia diminta datang untuk menghadiri jamuan makan di istana.
  Setelah berfikir dalam-dalam akhirnya ia memutuskan untuk memilih alternatif terakhir, karena hal itu dianggap yang paling ringan baginya.
  Segeralah khalifah Al-Mahdi menginstruksikan juru masaknya agar menyiapkan aneka ragam masakan yang lezat cita rasanya.
  Seusai Syarik menikmati hidangannya, berkatalah kepala juru masak istana kepada khalifah: “Sehabis jamuan makan ini, niscaya Syarik itu tak akan selamat selamanya.”
  Apa yang diramalkan kepala juru masak istana, kemudian menjadi kenyataan. Selang beberapa saat setelah jamuan makan itu, Syarik telah menduduki jabatan hakim negara. Di samping itu ia juga telah menjadi guru privat bagi anak-anak khalifah, dan ditetapkan pula bahwa ia akan menerima gaji dari Baitul Maal.
  Pada suatu ketika terjadilah persengketaan antara Syarik dan kepala Baitul Maal. Yang menjadi persoalan adalah uang gaji Syarik. Kepala Baitul Maal berkata: “Sesungguhnya kamu belum menjual sesuatu kebaikan apa pun.”
Maka Syarik pun menyangkal: “Demi Allah, saya telah menjual sebesar-besar kebaikan. Saya telah menjual agama saya.”
Read more ...

Rabu, 24 April 2013

Tali Sepatu


  Imam Ja’far Ash-Shadiq pada suatu hari pergi bersama beberapa orang sahabatnya kepada salah seorang kerabatnya, untuk sekedar memberinya hiburan. Ketika dia berjalan bersama sahabat-sahabatnya itu, tiba-tiba tali sepatunya putus. Maka tali itu dia ambil dengan tangannya lalu berjalan tanpa sepatu. Ketika hal itu diketahui Ibnu Abi Ya’fur, salah seorang sahabatnya yang terkemuka, maka dia mencopot tali sepatunya dan dia berikan kepada Al-Imam supaya beliau berjalan bersepatu. Namun ternyata Al-Imam menolak, dan tidak suka terhadap apa yang dilakukan Ibnu Abi Ya’fur itu, lalu berkata: “Sesungguhnya orang yang ditimpa musibah lebih patut menerimanya dengan sabar.”
Read more ...

Selasa, 23 April 2013

Muslim Baru


  Di antara kisah yang disampaikan Imam Ja’far Ash-Shadiq adalah seorang muslim bertetangga dengan seorang Nasrani. Mereka berdua kerap kali membicarakan tentang Islam. Penjelasan si muslim tentang Islam demikian menarik, sehingga tetangga itu akhirnya memeluk Islam.
  Waktu masih terlalu malam, fajar pun belum menyingsing, ketika tetangga yang baru masuk Islam itu mendengar pintunya diketuk orang. Maka bertanyalah ia:
  “Siapa yang mengetuk pintu?”
  “Saya, tetanggamu.”
  “Ada keperluan apa malam-malam begini kau datang kemari?”
  “Berwudhulah dengan segera dan kenakanlah pakaianmu. Kita pergi ke masjid bersama untuk melaksanakan Shalat Shubuh.”
  Maka berwudhulah si Nasrani yang baru memeluk Islam tadi, kemudian keluar bersama tetangganya, si muslim, menuju masjid. Selama hidupnya baru kali ini ia pergi ke masjid. Ketika itu fajar baru menjelang lalu shalatlah mereka beberapa raka’at hingga waktu Shubuh tiba.
  Begitu masuk waktu Shubuh, mereka pun melaksanakan Shalat Shubuh berjama’ah, diteruskan dengan membaca dzikir dan do’a sampai hilang kegelapan malam. Hari pun telah menjadi terang dan si Muslim yang baru itu beranjak dari tempat duduknya akan pulang. Tetapi ia ditegur oleh temannya tadi:
  “Kemana kau?”
  “Mau pulang kita kan telah melaksanakan kewajiban shalat. Pekerjaan telah menanti kita.”
  “Kenapa terburu-buru. Kita baca dulu wirid-wirid setelah sampai terbit matahari.”
  Ia pun kembali ke tempat duduknya semula, lalu membaca wirid-wirid sampai sang surya menampakkan dirinya. Bersamaan dengan terbitnya matahari ia bangkit dari tempat duduknya hendak pergi, namun dicegah oleh temannya:      “Tahukah kau betapa besarnya pahala dan keutamaan puasa?”
  Di kala waktu Zhuhur menjelang tiba, temannya berkata: “Bersabarlah waktu zhuhur tinggal sebentar lagi.” Seusai shalai zhuhur ia berkata pula: “Jarak antara waktu Ashar dan Zhuhur tidaklah jauh. Sebaiknya kita tunggu waktu Ashar sebab seutama-utamanya shalat Ashar adalah jika dilaksanakan tepat pada waktunya.”
  Shalat Ashar mereka kerjakan. Kini berkatalah temannya: “waktu siang tinggal sedikit. Tanggung kalau kita pulang tunggu sajalah waktu Maghrib selesai dikerjakan. Dan baru saja ia hendak beranjak meninggalkan masjid setelah shalat Maghrib, temannya mencegah dangan berkata: “Kewajiban shalat kita hanya tinggal satu kali lagi. Sempurnakanlah yang satu ini.” Barulah mereka pulang bersama seusai shalat Isya.
Pada malam yang kedua si muslim baru itu mendengar pula pintunya diketuk orang, maka bertanyalah:
  “Siapa yang mengetuk pintu?”
  “Saya tetanggamu. Ambillah air wudhu dan mari kita pergi ke masjid bersama lagi.” Namun jawabannya di luar dugaan:   “Cukup sampai di sini saya memluk agamamu. Carilah orang lain yang lebih tahan menghabiskan waktunya di masjid daripada saya. Saya adalah orang miskin yang punya tanggungan keluarga. Saya mesti bekerja mencari rezeki.”
   Setelah Imam Ash-Shadiq selesai menceritakan kisah ini, maka berkatalah: “Muslim ini telah memasukkan tetangganya yang miskin ke dalam Islam. Tetapi, ia pulalah yang memurtadkannya. Maka pandai-pandailah kamu mengambiil palajaran dari kisah ini. Janganlah kamu mempersulit manusia. Kekuatan manusia itu berbeda-beda. Kita harus mempergauli mereka dengan mempertingmbangkan kondisi mereka.”
Read more ...

Senin, 22 April 2013

Pengangkat Beban


  Pada suatu hari Rasulullah SAW lewat dan menyaksikan sekelompo orang yang sedang mengangkat batu-batu. Rasulullah bertanya kepada mereka: “Sedang apa kalian?”
Mereka menjawab: “Kami sedang menguji siapakah di antara kami yang paling kuat.”
Rasulullah bertanya pula: “Maukah kalian kuberi tahu siapa di antara kalian yang terkuat?”
  “Tentu saja ya Rasulullah,” jawan mereka.
  “Yang terkuat di antaramu ialah orang yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1.    Apabila sedang suka, rasa sukanya tidak sampai menjerumuskan dirinya ke dalam dosa dan kebatilan.
2.    Apabila sedang benci, rasa bencinya tidak sampai menyeretnya keluar dari kebenaran.
3.    Apabila sedang berkuasa, tidaklah mau mengambil sesuatu yang bukan haknya.”
Read more ...

Keputusan yang Bijak


  Ada seorang pemuda tampan di Kufah, kuat beribadah lagi rajin. Suatu ketika dia berkunjung ke Bani An-Nakha’, tanpa disengaja ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat elok nan rupawan. Pertemuan ini membuat ia langsung mabuk kepayang, begitu juga halnya dengan si wanita. Tanpa membuang waktu si pemuda langsung melamar si gadis tadi. Sang ayah yang menerima utusan untuk melamar mengabarkan bahwa si anak gadisnya telah dijdohkan dengan seudara sepupunya. Namun rasa cinta yang sudah membara tidak padam begitu saja, malah semakin berkobar-kobar. Akhirnya si gadis mengirimkan utusannya untuk menyampaikan pesan yang berbunyi, “Aku tahu betapa besar rasa cintamu padaku, dan betapa besar aku diuji dengan kamu. Bila engkau berkenan aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.”
  Sebagai seorang pemuda yang bertaqwa – ia merasa wajib menjaga kehrmatannya – dua alternatif yang diberikan si gadis idaman itu ditolaknya dengan jawaban bijak:
   “Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar kiamat.” (QS. 10:15)
Read more ...

Ibnu Sina dan Ibnu Maskawaih


  Ibnu Sina adalah seorang alim yang menguasai ilmu-ilmu yang ada pada masa hidupnya. Masih dalam usia belasan tahun, ia telah mendalami ilmu-ilmu filsafat, fisika, eksakta dan ilmu-ilmu agama. Pada suatu hari, tatkala ia sedang mengajar murid-muridnya, Ibnu Maskawaih, seorang alim yang sangat terkenal, ikut mendatangi ruang belajar. Ibnu Sina melemparkan sebuah jauzah (sejenis pinang, pen) ke arah Ibnu Maskawaih sambil bertanya dengan sikap sombong, “Berapakah luas permukaan kulit dari buah ini?”
   Ibnu Maskawaih menjawab: “Perbaiki dahulu akhlakmu! Itu lebih penting daripada menentukan luas permukaan kulit buah ini.” Kemudian ia memberikan Ibnu Sina buku pelajaran akhlak yang kebetulan dibawanya. Mendengar kata-kata itu merahlah muka Ibnu Sina karena malunya. Mulai saat itu ia memperbaiki akhlaknya.
Read more ...

Imam Ghazali dan Penyamun


  Imam Ghazali, seorang pemikir Islam yang tersohor itu adalah kelahiran desa Thus, yang terletak di dekat kota Masyhad. Beliau hidup pada abad ke-5 Hijriyah. Waktu itu kota Naisapur menjadi pusat ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para penuntut ilmu dari berbagai penjuru – dan beliau adalah salah satu di antaranya.
Beliau datang ke Naisapur dan Jurjan untuk menuntut ilmu dan memburu keutamaan. Dari kedua kota itu beliau berhasil mengumpulkan segudang ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya.
  Ada pun metode yang ditempuh Imam Ghazali dalam studinya, ialah mencatat segala apa yang diajarkan gurunya dalam kertas agar tidak lupa. Dengan cara ini, beliau berhasil mengumpulkan sejumlah banyak catatan selama masa studinya.
Ketika beliau akan pulang ke kampung halamannya, catatan-catatan itu dibawa serta dimasukkan ke kopor. Lalu pulanglah beliau bersama rombongannya. Di tengah perjalanan, mereka dicegat sekawanan penyamun yang siap merampas segala harta mereka.
  Satu persatu mereka digeledah, dan sampai pada giliran Imam Ghazali, penyamun-penyamun tadi mendapatkan kopor yang berisi catatan-catatan. Mereka bermaksud untuk merampasnya menyangka bahwa di dalam kopor itu berisi barang-barang yang berharga, namun beliau tetap mempertahankan kopor itu agar tidak dirampas. Setelah dibuka, ternyata isinya lembaran-lrmbaran kertas dan buku-buku. Lalu mereka bertanya: “Untuk apa ini semua?”
  “Ini bermanfaat bagiku tetapi tidak untukmu.”
  “Manfaat apa yang kau peroleh dari lembaran-lembaran ini?”
  “Ini adalah hasil jerih payahku selama bertahun-tahun menuntut ilmu. Jika kamu ambil barang ini, akan lenyaplah semua pengetahuanku dan akan sia-sialah hasil usahaku selama ini.”
  “Apakah benar semua yang kau pelajari itu ditulis dalam kertas-kertas ini?”
  “Benar.”
  “Ilmu yang dapat dicuri bukanlah ilmu.”
Rupanya kalimat ini benar-benar menggores dalam lubuk hatinya. Selanjutnya beliau mengubah metode belajarnya dalam rangka menambah kecerdasannya. Beliau merasa bahwa selama ini dirinya tak berbeda dengan seekor burung beo, hanya merekam apa-apa yang diperoleh dari gurunya dalam kertas. Setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut penyamun, beliau mulai melatih otakya berpikir dan membiasakan diri untuk menghafal. Sejak itu beliau selalu mengabadikan masalah-masalah penting di dalam otaknya, tidak lagi mencatatnya dalam kertas.
   Terhadap nasihat yang amat berharga itu beliau berkomentar, “Sebaik-baik nasihat yang menerangi jalan pikiranku dalam kehidupan ini ialah nasihat yang kudengar dari para penyamun.”
Read more ...

Imam Ash-Shadiq dan Rombongan kaum shufi

   Sufyan Al-Tsauri datang ke rumah Imam Ja’far Ash-Shadiq, saat itu Imam mengenakan pakaian indah serba putih. Maka berkatalah Sufyan kepadanya: “Ini bukanlah pakaian tuan. Tidak patut tuan melumuri diri tuan dengan perhiasan dunia yang fana ini. Seyogyanya tuan hidup secara zuhud dan menghias diri dengan taqwa.”
    Imam Ash-Shadiq menyahut: “Dengarkanlah perkataanku, sesungguhnya bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat, jika kamu mati dalam berperang pada sunnah dan kebenaran, dan tidak mati dalam keadaan berbuat bid’ah. Mungkin terlintas di matamu keadaan Rasulullah dan para sahabatnya yang sangat sederhana ketika itu. Ketahuilah bahwa Rasulullah itu hidup di zaman yang gersang. Tapi, apabila dunia ini sudah dihidangkan kepada manusia, maka yang lebih berhak atasnya ialah orang-orang yang taat, bukan orang-orang yang ingkar; orang-orang yang beriman, bukan orang-orang munafik dan orang-orang Islam bukan orang-orang kafir. Wahai Tsauri, apa yang kau ingkari atasku. Demi Allah, sesungguhnya sekalipun aku berpakaian indah seperti yang kau lihat, namun sejak aku dewasa, pagi ataupun petang kapan saja bila pada hartaku terdapat sesuatu yang harus aku berikan kepada seseorang, pasti aku berikan.”
    Maka keluarlah Sufyan dari rumah Imam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dan berikutnya, sekelompok orang masuk ke rumah Imam. Mereka adalah orang-orang yang zuhud dan mengajak manusia agar mengikuti jejak mereka, hidup dalam kesengsaraan.
    Mereka berkata kepada Imam: “Sahabatku Tsauri telah kehabisan argumen.”
    “Kamu sekalianpunya rgumen atau pertanyaan? Kemukakanlah!” seru Imam.
    Maka berkatalah mereka: “Alasan kami adalah merupakan kesimpulan dari ayat Al-Qur’an.”
    “Kemukakanlah ayat itu, sesungguhnya ayat Al-Qur’an lah yang paling patut dianut dan dilaksanakan.”
    “Allah menceritakan tentang sekelompok orang-orang yang dekat dengan Rasulullah mereka mengutamakan kaum muhajirin atas diri mereka walaupun mereka sendiri dalam kesusahan. Barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka termasuk orang-orang yang beruntung.” (QS. 59:9). Di ayat lain Allah pun berfirman: “Dan mereka memberi makankepada orang-orang miskin, anak-anak yatim dan tawanan  dengan makanan yang mereka sukai.” (QS. 76:8)
    Maka berdirilah seorang di antara mereka seraya berkata, “Aku sama sekali tidak melihat engkau zuhud dalam soal makanan yang baik, sementara engkau memerintahkan manusia untuk zuhud dalam harta mereka, dan di lain pihak engkau sendiri bersenang-senang dengan harta itu.”
    Imam berkata: “Tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat. Katakanlah kepadaku, apakah kalian mengetahui adanya nasikh-mansukh dan ayat muhkamat serta mutasyabihat di dalam Al-Qur’an yang dalam hal itu banyak sekali umat yang tersesat dan celaka?”
    Mereka berkata: “Kami hanya mengetahui sebagian saja, tidak seluruhnya.”
    Kata Imam Ash-Shadiq selanjutnya: “Dari sinilah kamu tertimpa bencana. Adapun yang kamu sebutkan kepadaku tentang ayat Al-Qur’an yang menceritakan tentang kebaikan perlakuan orang-orang Anshor terhadap orang-orang Muhajirin, itu memang baik, tapi itu merupakan hal yang mubah. Di waktu mereka tidak dilarang melakukannya. Hal itu, karena kemudian Allah menyuruh dengan suruhan yang berbeda dari apa yang mereka kerjakan, maka suruhan Allah itu merupakan penghapus (nasikh) dari perbuatan mereka, sedang larangan-Nya merupakan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maksudnya agar mereka beserta keluarga mereka tidak tertimpa bahaya, karena di antara mereka ada anak-anak kecil yang lemah, dan ada orang-orang tua yang tak tahan menanggung lapar. Dan seandainya aku bersedekah sepotong roti selain itu, maka mereka akan binasa kelaparan. Oleh karena itulah, Rasulullah bersabda:
    “Barangsiapa yang inginmenafkahkan kurma, roti, dinar atau dirham yang dimilikinya, maka yang paling utama untuk diberi nafkah ialah kedua orang tuanya, dan kedua dirinya sendiri beserta orang yang menjadi tanggungannya. Yang ketiga para kerabat dan saudara-saudaranya yang mukmin. Yang keempat: para tetangganya yang miskin. Dan yang kelima untuk kepentingan di jalan Allah. Itulah nafkah yang mendapat pahala terbaik.”
    “Ketika Rasulullah mendengar salah seorang penduduk Madinah menafkahkan seluruh hartanya pada detik-detik terakhir menjelang kematiannya, padahal dia mempunyai beberapa anak kecil, beliau berkata: “Seandainya kalian memberitahukan masalahnya kepadaku, tak akan kubiarkan kalian menguburnya di pemakaman umat Islam. Dia telah menjadikan anak-anaknya terlantar dan meminta-minta.”
    Kemudian Imam Ash-Shadiq berkata: “Ayahku, Al-Baqir memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Orang yang pertama kali patut dinafkahi ialah orang yang terdekat.”
    Ia melanjutkan perkataannya: “Lain dari itu Al-Qur’ an pun menolak perkataan kalian dan melarang perbuatan kalian. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan) itu di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. 25:67). Di ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Ia tak suka kepada orang yang berlebih-lebihan.”     (QS. 6:141). Jadi Allah melarang kaum muslimin berlebih-lebihan dan berlaku kikir. Allah tidak membenarkan seseorang menafkahkan seluruh kekayaannya sementara dia berdo’ a kepada-Nya agar dia diberi rezeki. Allah tak akan mengabulkan do’anya; sesuai dengan hadits nabi yang menyatakan: “Sesungguhnya ada beberapa golongan dari umatku yang tidak dikabukan do’anya:
    Pertama: Orang yang mendo’akan kejelekan buat orang tuanya.
    Kedua: Orang yang mendo’akan kejelekan buat orang yang berpiutang. Penghutang itu pergi membawa harta si pemberi hutang, tapi tidak mau menuliskan dan tidak sudi menjadi saksi atasnya.
    Ketiga: Orang yang mendo’akan kejelekan buat isterinya padahal Allah telah menyerahkan nasib wanita itu kepadanya.
    Keempat: Orang yang duduk ongkang-ongkang di rumah sambil berdo’a memohon rezeki kepada Tuhannya, tanpa melakukan suatu usaha. Allah Ta’ala berfirman. Hai hamba-Ku, bukankah Aku telah memberikan jalan kepadamu buat mencari rezeki dan berusaha dengan anggota tubuh yang sehat, sehingga kamu tidak tercela di hadapan-Ku dalam meminta karunia, karena kamu menunaikan perintah-Ku; dan juga agar kamu tidak menjadi beban atas keluargamu. Selanjutnya, jika Aku menghendaki, maka Aku beri rezeki kepadamu, dan jika Aku menghendaki maka Aku tak memberikan rezeki kepadamu. Tapi kamu tidak lagi tercela di sisi-Ku.
    Kelima: Orang yang dikaruniai Allah harta yang bayak kemudian menafkahkan seluruh hartanya itu. Lalu ia berdo’a kepada Allah memohon rezeki lagi, sehingga Allah berfirman: Bukankah Aku telah memberimu rezeki yag luas? Mengapa kamu tidak hemat dengan hartamu sebagaimana Aku perintahkan, dan mengapa kamu berlebih-lebihan padahal yang demikian itu Aku larang?
  Keenam: Orang yang berdo’a, padahal dia memutuskan siaturahmi.
Sesungguhnya Allah SWT telah mengajarkan kepada Nabi-Nya bagaimana seharusnya membelanjakan harta. Pernah beliau menafkahkan sejumlah emas, karena merasa tidak senang jika masih ada emas walaupun dalam jumlah sedikit di rumahnya. Maka dalam sehari itu beliau menyedekahkan semua emas yang ada padanya. Pada hari berikutnya beliau didatangi seseorang yang hendak memohon pertolongan, ternyata tak ada sesuatu pun yang dapat diberikan kepadanya – gundahlah hati Rasulullah. Ketika itu turun ayat: “Dan janganlah kau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula kau terlalu mengulurkannya, maka kamu akan menjadi tercela dan menyesal.”      (QS. 17:29). Ayat ini menguatkan apa yang terkandung dalam hadits Nabi tadi.
    Ketika Abu Bakar dalam keadaan kritis menjelang wafatnya, beliau diminta supaya berwasiat, maka beliau berkata: “Saya berwasiat seperlima hartaku, dan seperlima adalah banyak. Sesungguhnya Allah ridha dengan seperlima.”
Abu Bakar mewasiatkan seperlima hartanya, meski sebenarnya Allah memberinya kemampuan untuk berwasiat lebih dari itu (sepertiganya). Sekiranya Abu Bakar berpendapat bahwa berwasiat sepertiga itu baik, tentu sekian itulah yang beliau lakukan.
    Hal seperti itu terjadi pula pada diri Salman dan Abu Dzar yang dikenal sebagai orang zuhud dan wara’. Setiap kali Salman mengambil bayarannya, ia selalu menyisihkan makanan untuk satu tahun disimpan sampai datang bayaran berikutnya.Bertanyalah seorang kepadanya: “Hai Abu Abdillah engkau adalah orang zuhud, tapi mengapa berlaku demikian? Padahal engkau tidak tahu apakah akan mati sekarang atau besok hari.”
    Ia menjawab: “Mengapa kamu mengharapkan aku segera mati? Apakah kamu tidak mengerti bagi tiap-tiap bagian jiwa itu ada sepertiga bagian, sehingga jika sedang ditimpa kesusahan hidup, maka ia bisa menyandarkan diri kepada-Nya. Dan jika kehidupannya sedang lapang, ia merasa ringan.
    Adapun Abu Dzar, sebagai serang zuhud ia mempunyai banyak unta dan domba.Jika ada di antara keluarganya yang menginginkan daging atau sedang ditimpa kesulitan hidup, iaperah susunya dan ia sembelih binatang itu, kemudian dagingnya dibagi-bagikan. Dia pun mengambil bagian yang sama sebagaimana yang ia berikan kepada orang-orang.
Siapakah yang berani mengaku lebih zuhud dari mereka, padahal Rasulullah sendiri telah mengatakan sedemikian rupa mengenai mereka? Ketahuilah saudara-saudara sesungguhnya pernah saya mendengar ayah saya meriwayatkannya dari kakek-kakekku, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Tidaklah aku heran erhadap sesuatu melebihi keherananku kepada seorang mukmin. Jika terpotong-potong kulitnya di dunia dengan gunting, hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika ia memiliki seluruh isi dunia timur dan barat, hal itu merupakan kebaikan baginya. Apa pun yang ditakdirkanAllah terhadapnya selalu dianggap sebagai kebaikan.”
    Jadi kebahagiaan dan kebaikan seorang mukmin bukanlah terletak pada kelayaan ataupun kepapaannya, melainkan tergantung pada iman dan aqidahnya. Karena ia tahu, bahwa kewajiban itu mesti dilakukan, baik dalam keadaan kaya maupun dalam keadaan miskin. Sungguh aneh, manakala ada seorang mukmin menyengsarakan dirinya, degan keyakinan bahwa kesengsaraan itu merupakan kebahagiaan dan kebaikan.
    Selanjutnya Imam berkata: “Bolehkah aku tambah lagi perkataanku? Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya Allah SWT dahulu mewajibkan atas orang-orang mukmin, agar satu orang di antara mereka harus melawan sepuluh orang musyrik, tanpa boleh berpaling dari mereka. Barang siapa berpaling maka kelak akan ditimpa siksa neraka. Kemudian Allah mengubah ketentuan tersebut. Akhirnya seorang mukmin diharuskan melawan dua orang musyrik saja. Hal ini merupakan rahmat dan keringanan buat mereka. Jadi “dua orang” itu merupakan nasikh bagi “sepuluh orang”.
    Ketahuilah pula bahwa seorang hakim akan menjadi orang yang zhalim bila dia mengharuskan seseorang memberi nafkah kepada isterinya, padahal orang itu sudah mengatakan, “Saya ini seorang zahid, yang tak punya apa-apa.” Kalau kalian katakan hakim itu kejam, berarti kalian menganiaya sesama orang Islam dan mengada-ada. Tapi kalau kalian katakan hakim itu adil, maka hakim memusuhi diri sendiri.
    Perlu kalian ketahui pula bahwa jika semua manusia seperti kalian dalam berzuhud, tak perduli sama sekali dengan harta dunia, maka kepada siapa sedekah akan diberikan jika seseorang mau membayar kifarat sumpah atau kifarat nadzar? Kepada siapa zakat unta, kambing, sapi, dan lain-lain akan diserahkan? Kepada siapa pula zakat emas, perak, buah-buahan dan segala harta zakat akan dibayarkan?
    Seandainya Islam menjadikan dunia ini sebagai tempat kepapaan dan penderitaan hidup, atau sebagai tempat berpaling dari segala bentuk kesenangan duniawi atau sebagai penjara kemiskinan, dan dia harus mendekam di dalamnya, tentulah orang-orang fakir miskin itu telah sampai kepada apa yang dicita-citakan Islam. Lalu buat apa kita diwajibkan memeri zakat kepada mereka? Tentulah tidak perlu lagi kita mengusik kebahagiaan yang sedang mereka nikmati, yaitu kefakiran, dan tak perlu lagi menerima pemberian.
  Jika dunia yang dikehendaki adalah seperti apa yang kalian katakan, mestinya tak boleh ada seseorang yang menyimpan harta benda. Apa pun yang dimiliki seseorang haruslah dicampakkan, walaupun ia sendiri sedang dihimpit kesulitan hidup. Jelek nian dunia yang kalian dambakan. Dan kalian telah membawa umat ini kepada situasi kebutaan terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Kalian telah menolak hadits-hadits yang tidak sesuai dengan jalan hidup yang kalian tempuh. Inilah bentuk ketololan kalian yang lain pula. Kalian tidak pula memperhatikan adanya nasikh-mansukh di dalam Al-Qur’an, sebagaimana kalian tidak membedakan antara ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Juga kalian mencampur-adukkan antara perintah dan larangan.
    Ingatlah kisah Nabi Sulaiman bin Daud ketika memohon ke hadirat Allah agar dikaruniai kerajaan yang tidak dimiliki seorang jua pun sesudahnya kemudian Allah mengabulkannya. Kita tahu bahwa Nabi Sulaiman adalah penyeru dan sekaligus sebagai penyeru kebenaran. Ternyata Allah tidak mencela perbuatannya. Sampai sekarang pun, tak ada seorang mukmin yang menyalahkan sikapnya.
    Kenanglah pula riwayat Nabi Yusuf-beliau pernah berkata kepada raja Mesir: “Jadikanlah aku bendaharawan negara, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
    Ketika beliau memegang jabatan itu, datanglah masa paceklik, sehingga penduduk negara-negara tetangga datang berbondong-bondong ke kerajaannya untuk mendapatkan makanan daripadanya. Beliau adalah penyeru dan pelaksana. Dan ternyata, tak ada seorang pun yang mengeritik tindakannya.
Perhatikan pula bahwa Al-Qur’an memuat kisah Dzul Qarnain, seorang hamba yang mencintai Allah dan Dia pun mencintainya. Allah menjadikannya penguasa kerajaan yang sengat luas sekaligus sebagai penyeru dan pelaksana kebenaran – dan tidak kita jumpai seseorang yang mencelanya.
     Oleh sebab itu, hendaklah kalian bersikap sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Penuhilah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya. Apa-apa yang masih samar-samar bagimu tinggalkanlah andaikata kamu tak mempunyai pengetahuan tentangnya. Percayakan ilmu pada ahlinya, niscaya kalian akan diberi pahala dan diampuni Allah. Pelajarilah ilmu tentang nasikh-mansukh dalam Al-Qur’an dan tentang ayat-ayat muhkamat serta mustasyabihat. Apa yang dihalalkan Allah, sesungguhnya akan menjadikan kamu dekat dengan Allah, dan menjauhkan kamu dari kebodohan. Biarkanlah kebodohan itu kembali kepada pemiliknya, sesungguhnya orang-orang bodoh itu banyak, sedangkan orang-orang berilmu itu sedikit. Dan Allah telah berfirman: “Dan di atas tiap-tiap orang yang berilmu itu, ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (QS. 12:76)
Read more ...

Penghormatan terhadap khalifah

Dalam perjalannya menuju ke negeri Syam, Imam Ali melewati kota Anbar yang sedang diduduki bangsa persia. Mendengar kedatangannya, pemuka-pemuka kota Anbar beserta penduduknya keluar berbondong-bondong dan berkerumun berjejal-jejal di sekeliling Imam. Mereka menyambut hangat kedatangannya. Melihat itu, Imam pun bertanya:
    “Apa maksud kamu sekalian berbuat demikian?”
    “Adalah tradisi kami mengagungkan pemimpin-pemimpin kami.”
    “Demi Allah, perbuatan demikian tiadalah bermanfaat bagi pemimpin-pemimpinmu. Dan kamu benar-benar telah menyulitkan dirimu sendiri, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Alangkah ruginya orang-orang yang mendapat kesulitan di dunia sedangkan di akhirat mereka ditimpa siksa pula. Dan alangkah beruntungnya orang-orang yang tidak mendapat kesulitan di dunia, sementara di akhirat pun mereka dijauhi api neraka.
Read more ...

Kawan di perjalanan Haji

   Seusai menunaikan ibadah haji, berkisahlah salah seorang kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq apa yang terjadi dalam rombongan perjalanan hajinya. Ia memuji-muji kezuhudan salah seorang anggota rombongannya. Selanjutnya ia berkata: “Kami sangat bangga wahai tuan, mempunyai seorang anggota rombongan yang selalu sibuk dengan urusan ibadah. Setiap kali berhenti di suatu tempat, ia selalu menggunakan kesempatan itu untuk beribadah. Singkatnya, tak ada sedikit pun waktunya yang ia gunakan untuk memikirkan urusan dunia.”
    “Kalau begitu siapa gerangan yang mengurus keperluannya?” tanya Imam.
    Orang itu menjawab: “Kamilah yang mengurusnya, sebab ia tak punya waktu untuk melakukan hal itu.”
    Maka Imam pun menjawab: “Ketahuilahbahwa kalian semua lebih utama dari pada dia.”
Read more ...

Permohonan Do’a

  Seorang yang sedang dilanda kesulitan hidup datang menghadap Imam Ja’far Ash-Shadiq sekedar untuk mohon didoakan. Berkatalah orang itu: “Wahai tuanku, hamba sangat berharap semoga tuanku berkenan memanjatkan do’a ke hadirat Allah agar Ia melimpahkan rezeki kepadaku. Tuanku melihat sendiri, betapa hamba ini orang yang sangat miskin. Buat makan sehari-hari saja hamba tak kuasa mencarinya.
    Secara spontan Imam Ash-Shadiq menjawab: “Aku tak akan mendo’akan kamu!”. Orang yang menghadap itu pun heran maka bertanyalah ia: “Mengapa tuan tak sudi mendo’akan hamba?” Imam menjawab: “Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kita agar berusaha mencari rezeki, bukan untuk berpasrah diri tanpa usaha. Jika kamu duduk ongkang-ongkang saja di rumahmu seraya memanjatkan do’a sebagai wasilah untuk memperoleh rezeki, maka hal ini tidaklah diridhai Allah. Oleh karena itu, bekerjalah untuk mendapatkan rezeki, sebagaimana Allah telah memerintah kamu.”
Read more ...

Rasulullah dan dua kelompok sahabat

  Pada suatu hari Rasulullah SAW. Masuk ke masjid Madinah. Dilihatnya ada dua kelompok sahabat, di antaranya ada yang asyik melakukan ibadah dan dzikir, sedangkan yang lain sedang sibuk dalam urusan ilmu – mereka terlibat dalam proses belajar-mengajar. Wajah beliau tampak berseri-seri menyaksikan, dan matanya berbinar-binar menyaksikan kedua pemandangan tersebut. Namun rasa simpati lebih beliau tampakkan kepada kelompok kedua, yang diekspresikan nya dengan berkomentar kepada sahabat di sekitarnya, “Alangkah baiknya apa yang sedang mereka lakukan,” sambil memberi isyarat kepada kelompok kedua. Selanjutnya beliau berkata: “Sesungguhnya aku diutus untuk mengajar.” Kemudian beliau pun duduk ikut bersama kelompok kedua.
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates