Mengenai sosok raja adikuasa adimakmur dari masa lalu, agama Islam memiliki sebuah hikayat. Tapi antiklimaks dari hikayat itu diceritakan terlebih dahulu, konon pada saatnya ia dipastikan masuk neraka. Fir’aun. Ia masuk neraka karena mengaku Tuhan.
Rupanya kisah semacam ini tidak hanya menjadi tradisi Islam saja.
Umat kristiani dan Yahudi juga mengenalnya dari kitab suci masing-masing.
Namun, meski Sigmund Freud menyebut Akhenaten, sejatinya
ilmu pengetahuan belum bisa menyebut pasti fir’aun mana yang muncul dalam
cerita tersebut. Sebab fir’aun bukanlah satu-dua orang, melainkan gelar yang
dinisbatkan pada raja-raja Mesir kuno.
Meski demikian ada konsep-konsep yang dipercaya bangsa Mesir kuno
mengenai Horus (dewa pelindung) yang menjelma dalam raga fir’aun. Sehingga
eksistensi fir’aun dianggap sebagai dewa pula.
Sisi menarik dari hal ini adalah Osiris, ayah dari Horus, juga
dipercaya sebagai dewa yang dulunya adalah pharaoh. Maka Osiris juga Horus yang
dipuja-puja dulunya adalah manusia pula.
Bila benar demikian maka pola yang sama terjadi di belahan dunia
lain. Tradisi Yunani kuno juga bercerita tentang dewa-dewa yang dulunya adalah
nenek moyang mereka. Pun di India, raja-raja India kuno mengklaim dirinya
adalah keturunan Parikesit sang pewaris tahta Hastinapura. Para lakon di situ
pun tak lain para putra dan titisan dewa dipuja-puja pula.
Bila demikian kesimpulannya, maka tidak ada bedanya dengan animisme
yang muncul di Nusantara. Lantas siapakah fir’aun yang dipastikan menetap di
neraka; adilkah bila hanya fir’aun dari Mesir saja yang dihukumi?
Terlepas dari hal itu, premis awal kajian ini masih berlubang.
Bahwa justifikasi ini tidak bisa ditetapkan hanya dari status raja atau
fir’aun. Dosa pengantar manusia terletak dari perbuatan, dan perbuatan itu
disebut aku: pengakuan.
Masyarakat Mesir kuno yang menganggap fir’aun sebagai Tuhannya tak
bisa sepenuhnya disalahkan—setidaknya tak bisa disamakan dengan fir’aun. Sebab
hasrat untuk memuja dan mencari pujaan mutlak ada dalam diri manusia, kata
Nietzche. Bangsa Mesir kuno yang tak didampingi Nabi takkan mengenal figur
agung yang pantas dipercaya selain fir’aun sendiri—terhitung Mesir kuno dalam
kuasa fir’aun mampu memiliki peradaban yang tinggi sehingga pantas dipanuti.
Barangkali pengakuan fir’aun sebagai Tuhan bukanlah sebuah
fenomena, tetapi genealogi. Maka sebaiknya kita menghindari pengakuan yang
sama, ataupun bentuk perbuatan yang lebih termaafkan daripada itu. Meski pada
akhirnya kita akan tersadar juga, bahwa yang disebut Tuhan adalah yang
adikuasa, berkuasa untuk tidak mengikuti logika ini. Jawaban praktisnya adalah wallaahu
a’lam bi ash-showwaab.
Malang, 7 Desember 2015

