Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Senin, 07 Desember 2015

Fir’aun, Tuhan dan Aku


Mengenai sosok raja adikuasa adimakmur dari masa lalu, agama Islam memiliki sebuah hikayat. Tapi antiklimaks dari hikayat itu diceritakan terlebih dahulu, konon pada saatnya ia dipastikan masuk neraka. Fir’aun. Ia masuk neraka karena mengaku Tuhan.
Rupanya kisah semacam ini tidak hanya menjadi tradisi Islam saja. Umat kristiani dan Yahudi juga mengenalnya dari kitab suci masing-masing.
Namun, meski Sigmund Freud menyebut Akhenaten, sejatinya ilmu pengetahuan belum bisa menyebut pasti fir’aun mana yang muncul dalam cerita tersebut. Sebab fir’aun bukanlah satu-dua orang, melainkan gelar yang dinisbatkan pada raja-raja Mesir kuno.
Meski demikian ada konsep-konsep yang dipercaya bangsa Mesir kuno mengenai Horus (dewa pelindung) yang menjelma dalam raga fir’aun. Sehingga eksistensi fir’aun dianggap sebagai dewa pula.
Sisi menarik dari hal ini adalah Osiris, ayah dari Horus, juga dipercaya sebagai dewa yang dulunya adalah pharaoh. Maka Osiris juga Horus yang dipuja-puja dulunya adalah manusia pula.
Bila benar demikian maka pola yang sama terjadi di belahan dunia lain. Tradisi Yunani kuno juga bercerita tentang dewa-dewa yang dulunya adalah nenek moyang mereka. Pun di India, raja-raja India kuno mengklaim dirinya adalah keturunan Parikesit sang pewaris tahta Hastinapura. Para lakon di situ pun tak lain para putra dan titisan dewa dipuja-puja pula.
Bila demikian kesimpulannya, maka tidak ada bedanya dengan animisme yang muncul di Nusantara. Lantas siapakah fir’aun yang dipastikan menetap di neraka; adilkah bila hanya fir’aun dari Mesir saja yang dihukumi?
Terlepas dari hal itu, premis awal kajian ini masih berlubang. Bahwa justifikasi ini tidak bisa ditetapkan hanya dari status raja atau fir’aun. Dosa pengantar manusia terletak dari perbuatan, dan perbuatan itu disebut aku: pengakuan.
Masyarakat Mesir kuno yang menganggap fir’aun sebagai Tuhannya tak bisa sepenuhnya disalahkan—setidaknya tak bisa disamakan dengan fir’aun. Sebab hasrat untuk memuja dan mencari pujaan mutlak ada dalam diri manusia, kata Nietzche. Bangsa Mesir kuno yang tak didampingi Nabi takkan mengenal figur agung yang pantas dipercaya selain fir’aun sendiri—terhitung Mesir kuno dalam kuasa fir’aun mampu memiliki peradaban yang tinggi sehingga pantas dipanuti.
Barangkali pengakuan fir’aun sebagai Tuhan bukanlah sebuah fenomena, tetapi genealogi. Maka sebaiknya kita menghindari pengakuan yang sama, ataupun bentuk perbuatan yang lebih termaafkan daripada itu. Meski pada akhirnya kita akan tersadar juga, bahwa yang disebut Tuhan adalah yang adikuasa, berkuasa untuk tidak mengikuti logika ini. Jawaban praktisnya adalah wallaahu a’lam bi ash-showwaab.


Malang, 7 Desember 2015
Read more ...

Jumat, 10 April 2015

Surat Wasiat

Han, Tuhan
Biarkanlah aku sekarang memanggil-manggilmu
Mengawali sebutanmu dengan huruf besar
Karena mungkin sebentar lagi, atau masih lama
Aku tidak lagi mengingatmu

Sudah kuputuskan untuk berjalan di jalan gelap menyesatkan
Untuk menemukan sebuah lentera bertanda logos
Yang sangat mungkin tak bisa kupegang
Atau memang tak mungkin bisa kupegang

Setelah perjalanan bunuh diri ini
Barangkali aku makin cinta kepadaMu
barangkali juga aku malah abai

Tapi kuakui, kulakukan ini karena diriMu
Dan Kau pasti tahu

Han, Tuhan
Kusadari aku ini bukan Muhammad
Tak secerdas Ghazali
Sudah cukup bagiku
Ketika Kau jadi Tuhanku

Sekarang
Sebelum mati akal atau moralku
Aku mau minta maaf kepadaMu
Karena pasti aku punya salah

Setelah itu
Takkan kuberwasiat padaMu
Karena kutahu Kau pasti melakukan yang benar
Karena kau memang benar

PadaMu hanya satu yang kuberikan
Jagalah yang satu ini
Satu warisanku
Ialah imanku



Malang, Jumat 10 April 2015
Read more ...

Jumat, 03 April 2015

Takut Salah Arah

Katanya ilmu itu berbatas
Dan Engkaulah batasnya
Katanya pengetahuan itu berbatas
Dan Engkaulah batasnya

Aku tak tahu
apakah katanya itu kataMu

Tentu Kau tahu aku ingin menujuMu
Kau pun tahu aku ingin mendapatkanMu
sebelum mati, sebelum jalan kepasrahan
Jadi kucoba menerobos batas-batas dunia, batas-batas pikiran
Kubangun menara babel dengan rangka agama
bata buku dan semen filsafat

Tapi
baru-baru kusadari aku merasa jauh
tak kutemukan kehadiranMu di hatiku
malah hilang getaran yang biasa kurasakan
ketika mendengar asmaMu
dalam dzikir, doa, shalat bahkan shalawat
sekarang aku malah merasa muak melakukannya

Aku juga merasa
orang-orang menuduhku sombong
Tapi aku memang sombong, sangat
Sejauh apa aku tak tahu
Barangkali sebentar lagi setingkat fir'aun

Tuhan, apakah untuk menujumu aku harus melewati semua ini?
Atau sejak semula aku salah arah?

Tuhan, aku takut salah arah
Tapi aku tak bisa bertanya pada orang
Kebanyakan dari mereka acuh
bertahan pada rasa aman
Sedang yang lain merasa tahu
Kutanya pada mereka
Mereka tunjuk arah yang berbeda
Tapi kebanyakan mereka menunjukku
“Carilah jalan aman” kata mereka

Sedikit orang saja yang mengembara menuju-Mu
Yang meski aku tahu mereka
tapi aku tak tahu
manakah di antara mereka yang tidak salah arah

Tuhan, aku takut salah arah
Tapi aku lebih takut jika diam saja

Malang, 3 April 2015
Read more ...

Senin, 30 Maret 2015

Bila hati telah dibelai cinta...

Bila hati telah dibelai cinta
Namun belum mampu 'tuk menjalaninya
Maka bersabarlah . . .

Pendamlah rahasia kecil pembesar hatimu
Untuk menyemaikanmu dan meranumkannya

Biarkan dia semakin merona pesona
Dengan tidak menodai izzah dan iffahnya,
Membujuknya dengan suatu haram nan fana

Berdoa, dan Tawakkallah . . .
Titipkan hatimu kepada Sang Pemilik Hati
Dan titipkan dia untuk kebaikannya

Raih romantika Ali dan Fathimah
Dengan kesempurnaan agama dan cinta sejati

Dan bila takdir belum menyambut
Maka berbahagialah untuk kesucianmu

Dan bila takdir tak menyambut
Bahkan hingga habis masamu
Maka syahid kehormatanmu

Sumbe: Anonim
Read more ...

Pagar : Kisah si Pohon Mangga

    A Priori.
   Agaknya semasa kecil kita terkadang heran setelah menilik peta dan globe, karena tak pernah sekalipun kita temukan wujud garis-garis astronomi di dunia realita. Dan setelah mendengar keterangan Ibu guru kita baru sadar, betapa khayalan bisa masuk ke ranah ilmu. Katanya garis itu dibuat untuk menunjukkan batas - meski si empu peta menentukan seenaknya. Lalu di mana batas antara ilmu dengan khayalan?
   Kita patut kagum pada para pendahulu kita bangsa Indonesia, dan segelintir masyarakat kini yang terpinggirkan. Satu unik - dulu biasa - dari mereka, yakni kemampuan mereka dalam membuat batas dan melihat batas, terutama batas tanah.
   Kali yang tiap kemarau kering, Pohon yang jadi sarang burung, bahkan batu di pojok jalan bisa jadi batas. Sekali kesepakatan atas tanah terbentuk, tak akan dilanggar. "tanah Pak Sutoyo dan tanah Pak Budi dibatasi oleh pohon mangga Pak Budi ini" hingga seterusnya, bahkan hingga pohon mangga itu mati, jasad pohon itu tetap jadi batas. Dan entah mengapa tanpa komando seseorang - apalagi memorandum - pun mereka tak akan berani-berani memindahkan pohon tersebut. Bukannya takut, tapi sadar diri.
   Sering sekali ketika dari dahan pohon mangga yang jadi tapal batas tanah muncul buah dan jatuh karena saking matangnya, tak seorang pun akan mengambilnya, bahkan terkadang hingga busuk. Sungkan, perasaan yang hanya bisa ditafsirkan dalam kehidupan Jawa ini selalu muncul dalam benak mereka. Tak akan mereka ambil bila tanpa izin, tanpa permisi, meski si empunya pohon sudah mengumumkan kepada seluruh desa, "silakan ambil buah dari pohon saya sesuka kalian".
   Namun berbeda bila kita mencoba menatap pohon mangga itu jika hidupnya di kota. Mungkin akan sulit sekali kita temui pohon mangga yang 'bebas' dipanjat, dimakan buahnya dan dibuat tidur-tiduran  bawahnya.
   Privasi. Bahkan pohon yang notabene milik Tuhan karena tanpa-Nya bisa tumbuh, diaku-aku milik pribadi - kalau memang ada orang kota yang mau menanam pohon mangga - tak ada yang boleh mengambil buah. Di batas tanahnya dipasang pagar, tinggi-tinggi pula. "Mengantisipasi maling" katanya.
    Batas semen tinggi-tinggi ini memang sering dibangun orang-orang kota, untuk membatasi tanahnya. Saya tidak tahu, apa motif sebenarnya, kepemilikan atau
  
Read more ...

Salam Sahabat untukmu, Negeri

Assalamu ‘alaikum. Negeriku, bagaimana kabarmu?
Kudengar dari beberapa media yang berhasil menyusup kemari, akhir-akhir ini Engkau sedang tidak sehat. Begitu banyak penyakit yang menggerogoti dirimu hingga status kritis. Kabarnya penduduk yang hidup di pangkuanmu begitu sengsara, sedang si pemimpin malah melalaikan tugasnya. Benarkah demikian?
Kudengar pula dari para tetangga kini taringmu sudah tanggal dan tubuhmu tumbang. Kemolekan ragamu telah terkikis, sedang jiwa-jiwa yang bernaung di bawahmu berselingkuh pada kefanaan dan kehinaan. Ada sedikit yang tetap setia, namun cacat. Nama harummu dihinakan dunia hingga Engkau terperosok pada bayang-bayang kehancuran yang diperkirakan dalam beberapa dekade. Sungguh malang nasibmu, Sobat.
Maafkan, Sobatku, jikalau kami belum bisa turut menolongmu. Kami masih menyempurnakan pertapaan kami. Di sini kami masih sibuk menuntut ilmu, menyelaraskan ilmu dan nilai Islam dengan bidang-bidang keilmuan lain supaya terbentuk ilmu yang lebih sempurna nan barokah. Kemudian dengan ilmu tersebut kami ‘kan menolongmu, Sobat.
Ada yang bilang bahwa kami hidup terkungkung bak ayam dalam sangkar. Ada pula yang bilang kebebasan manusiawi kami terjajah oleh sistem ma’had yang begitu ketat. Tapi Sobat, itu tidak benar. Kami hidup di sini karena kami memang berkehendak. Memang benar, kehidupan mahasantri di sini begitu ketat, penuh dengan jam ma’had dan jadwal kuliah yang begitu padat, bahkan waktu istirahat kami sangat terbatas. Namun di sisi lain ––terserah Engkau percaya atau tidak–– begitu banyak yang kami dapatkan dari ma’had ini, pengetahuan dan pengalaman yang takkan pernah diraih kecuali dengan tinggal di ma’had. Dengan inilah kami bertapa, memantapkan diri untuk menjadi pemimpin yang ideal dan bisa dijadikan suri tauladan. Pemimpin yang mengerti suka duka yang hakiki, mengerti tentang kehidupan dan kematian, serta hikmah di antara keduanya. Atau setidaknya kami bisa menjadi Agent of ‘moral’ change yang bisa memperbaiki negeri ini dari berbagai kebobrokan moral, atau setidaknya mempertahankannya dari aus.
Memang hidup sebagai mahasantri tidak menjadi jaminan kehidupan surga hakiki karena banyak sekali tantangan fisik maupun mental yang bisa menumbangkan prinsip kami. Namun kami sangat bersyukur, karena kami hidup di bawah naunganmu, tanah air surga. Tanah yang di bawah permukaannya yang gelap tersimpan dengan rahasia butir-butir berkilau, sedang di atasnya terkuak kehidupan yang asri. Dalam airnya tampak pesona alami dan udaranya menyejukkan kehidupan. Tak kurang suatu apa, bagi kami ‘negeriku adalah surgaku’.
Walaupun sekarang surga tanah air mulai rusak terusik keusilan manusia, namun kami masih bisa merasakan kenikmatannya, meski dengan berbagai keterbatasan. Bahkan di lingkar kehidupan kami yang begitu kecil ini, tak hanya fisik surga yang kami rasakan, tetapi juga ruhnya. Ruh surga itu terpatri dalam nilai islami dunia ma’had dengan berbagai budaya yang menghiasinya. Kearifan lokal para penduduk sekitar turut mencerminkan karakter penduduk surga yang ramah, santun dan peduli. This is the real heaven, you know!
Sobatku, tolong tunggulah kami sebentar lagi. Beberapa tahun lagi ketika kami tiba, kami ‘kan membantumu berdiri tegak kembali, meski semua orang memandang kami dengan sebelah mata, bahkan memalingkan wajahnya dari kami, hanya karena segelintir orang menggolongkan kami dalam barisan putih yang sok suci, hingga seluruh tuduhan terorisme bermotifkan penyucian negeri disudutkan kepada kami. Tunggulah kami, bukan karena kami satu-satunya yang bisa menolongmu, namun karena kami adalah sahabatmu.
Wassalamu ‘alaikum


Salam Sahabat untukmu, Negeri


Mahasantri Indonesia




 Esai dalam buku Dari Mahasantri Untuk Negeri
Read more ...

Salahkah bila mempercayai apa yang dianggap benar?

   Salahkah bila mempercayai apa yang dianggap benar?
   Pertanyaan ini seringkali hinggap di kepala saya, terutama ketika saya telah melakukan sebuah tindakan yang saya pikir adalah benar. Namun di saat kemudian saya mendengar bahwa yang saya lakukan adalah salah.
   Andaikata saya tak punya pendirian maka saya akan langsung berbalik arah. Tapi untung saja saya masih punya ego, sehingga saya masih bisa bersikukuh. Namun saya mengira, jika orang yang menyalahkan saya benar-benar memiliki argumen yang saking luar biasanya hingga saya merasa bersalah mempertahankan ego saya, sudah pasti saya akan mangkir dari jalan yang saya pilih tadi.
   Singkatnya, saya akan selalu dihadapkan pada sebuah jebakan simalakama, yang keduanya saling menyalahkan. Lalu saya bertanya: "Salahkan bila saya mempercayai apa yang saya anggap benar?"

Read more ...

Sabtu, 17 Januari 2015

Membangun kehidupan di atas kematian saudara


Judul buku         : The Gathering
Penulis                 : Anne Enright
Penerjemah      : Rika Iffati Farihah
Penerbit              : Voila – Mizan
Cetakan               : 1, November 2009
Tebal Buku         : 372 halaman
  
Kupilih buku ini dalam genggamanku menuju kasir karena di antara tumpukan buku yang sedang diobral, buku ini-lah tinggal satu di antara spesiesnya. Mungkin saking larisnya hingga tersisa satu? Aku tak ingat harganya, dua puluh ribu barangkali,  tapi kurasa sepadan dengan predikat yang tertulis di sampulnya. A new york times bestseller – a man booker prize winner. Tetapi sebenarnya yang paling membuatku penasaran adalah kutipan kecil di halaman depan: “Terkadang harus ada kematian untuk menyadarkan kita akan pentingnya kehidupan”.
Veronica nama wanita yang berkisah di sini. Sekarang, maksudku di cerita itu, dia adalah seorang ibu beranak dua yang hidup di Irlandia. Dia tidak benar-benar bahagia hidup dengan keluarganya, setidaknya menurutku. Dia hanya menganggap rumahnya “rumah” dan suaminya sebatas “suami”. Tetapi dia tidak benar-benar tahu apa yang ia inginkan. Bahkan dia tidak sadar dirinya tidak bahagia. Kurasa jiwanya tidak benar-benar mengisi tubuhnya. Hingga akhirnya terdengar kabar tentang kakak lelakinya, Liam, yang lama hilang dari keluarganya. Bukan Liam yang bicara, tapi petugas pengurus jenazah.
Perjalanan kisah ini sebenarnya amat singkat, antara berita kematian kakaknya hingga saat-saat setelah penguburan di tengah keluarga besarnya, Hegarty. Tetapi cerita yang dibawakan Veronica menjadi amat panjang karena hantu-hantu yang berseliweran dari masa lalunya. Kehidupan bersama Ada, neneknya-lah yang sangat mempengaruhi kehidupannya. Ia sudah mati dulu bersama suami dan selingkuhannya, meninggalkan ibu, bibi dan kesebelas saudaranya yang juga berkurang satu per satu.
Bahkan hingga di tengah cerita yang kubaca aku masih belum tahu ke mana novel ini berjalan.. Yang kubaca hanya fragmen-fragmen hidup Veronica yang tak saling bertautan. Hingga akhirnya kusadari di saat terakhir, seluruh hantu masa lalu dan sisa keluarganya adalah sebagian mozaik kehidupan Veronica. Novel ini bercerita tentang perjalanan Veronica untuk menjadi dirinya sendiri. Hal itu baru bisa tercapai ketika seluruh anggota keluarga Hegarty berkumpul untuk memakamkan Liam. Liam-lah kunci utama untuk Veronica. Karena dia-lah yang lebih disayangi Veronica ketimbang keluarga kecilnya.
Untuk bisa merasakan kehidupan dalam kisah ini dibutuhkan kecerdasan yang tinggi, menurutku. Oh, jangan lupakan empati, karena kisah ini ditulis dari sudut pandang wanita. Karena itulah aku kesusahan untuk menghayatinya.
Oh ya, sekilas tentang penulisnya, Anne Enright, aku tak pernah mendengar namanya sebelum ini. Dia seorang Irlandia dan seorang wanita. Kurasa itu cukup untuk menjelaskan rumitnya novel ini. Tentang karya lainnya, dikabarkan sudah empat novel dan sebuah buku non-fiksi yang telah ditulisnya. Selain itu banyak dan esainya yang telah terbit. Memang dikatakan di bagian kepengarangan bahwa dia gemar mengeksplorasi tema hubungan keluarga, cinta dan masa lalu.

Kurasa ini novel pertama dengan latar belakang keluarga yang pernah kubaca. Aku cukup terpukau dengan isinya, tapi belum sanggup menyukainya.
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates