Dikisahkan dalam kisah Ramayana, ketika Rama Wijaya pergi mengembara ke hutan, meninggalkan keduniawian, ia diminta untuk memimpin kerajaan Ayodya oleh adiknya Prabu Bharata. Rama Wijaya tidak bisa menerimanya meski berkeras hati. Memang adiknya yang masih memimpin Ayodya tersebut bermaksud menempatkan tahta pada tempatnya, sebab ia tak mumpuni dalam memimpin kerajaan.
Akhirnya Ramayana yang bijak mengambil keputusan, ia menerima untuk menjadi pemimpin kerajaan tetapi tidak sebagai raja yang berdaulat, tetapi lebih sebagai penasehat kerajaan. Seluruh tata kenegaraan dilaksanakan oleh Prabu Bharata dengan bantuan petunjuknya. Prabu Bharata pun setuju, namun ia minta petuah. Kemudian oleh Ramayana diberikan ilmu Hasthabrata, sebuah ilmu menelisik alam yang bisa digunakan untuk segala hal, termasuk untuk memimpin sebuah kerajaan. Beginilah isinya:
Pertama, dilambangkan dengan Bathara Endra, yakni meneladani bumi (tanah) dengan sifat-sifatnya, seperti sugih (kaya) yang suka memberi, rela, legawa, narima dan anoraga (rendah hati).
Kedua, dilambagkan dengan Bathara Yama, yakni meneladani lintang (bintang) dengan sifatnya yang tinggi. Artinya, ini menyangkut karsa (kehendak) seseorang, hendaknya memiliki cita-cita yang tinggi dengan tirakat dan wirangi (wara') atau berhati-hati terhadap segala sesuatu yang belum diketahui, layaknya tingginya bintang gemerlapan di langit.
Ketiga, dilambangkan dengan Bathara Surya, yakni meneladani srengenge (matahari) yang maknanya alon maton (pelan tapi pasti) seperti 'perjalanan' matahari yang tidak ketahuan ketika sedang berjalan. Ini menyangkut wilayang angen-angen (angan-angan) yang diharapkan mau membuka cakrawala diri atau membuka 'wewenganing ngelmu' secara istiqomah. Matahari pun selalu menyemarakkan kehidupan dengan kehangatannya, bahkan memberikan penerangan bagi makhluk hidup di muka bumi.
Keempat, dilambangkan dengan Bathara Candra, yakni meneladani rembulan (bulan), maknanya adalah hati yang bersih atau suci, sehingga memantulkan keindahan dan kedekatan kepada Gusti Kang Akarya Jagad.
Kelima, dilambangkan dengan Bathara Bayu, yakni meneladani angin (udara; angin), yakni dengan sifatnya yang suka bergerak, suka meneliti secara cermat dalam kehidupan secara komprehensif. Peneladanan angin ini juga mengisyaratkan akan pentingnya nafas dalam kehidupan manusia, sehingga diharapkan menjadi 'tetalining ngaurip' (penyambung kehidupan).
Keenam, dilambangkan dengan Bathara Kuwera, yakni meneladani mendung (mega; langit), maknanya merupakan pasemon terhadap rasa pangrasa manusia, sehingga mengarah kepada ketentraman dan kebahagiaan abadi.
Ketujuh, dilambangkan dengan Bathara Baruna, yakni meneladani banyu (air), dengan sifatnya yang menuju ke tempat yang lebih rendah. Peneladanan pada banyu ini juga mengisyaratkan wicara (bicara) seseorang yang diarahkan pada kebaikan.
Kedelapan, dilambangkan dengan Bathara Brama, yakni meneladani geni (api), dengan sifatnya yang tegas. Dalam hal ini, api identik dengan menghukum tanpa pandang bulu kepada siapa pun yang bersalah. Persis dengan maknanya sebagai nafsu manusia: anasir mengajak keburukan atau kejahatan hendaknya di-'bunuh' sedangkan yang mengajak kebaikan (luhur) dimuliakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar