Assalamu
‘alaikum.
Negeriku, bagaimana kabarmu?
Kudengar
dari beberapa media yang berhasil menyusup kemari, akhir-akhir ini
Engkau sedang tidak sehat. Begitu banyak penyakit yang menggerogoti
dirimu hingga status kritis. Kabarnya penduduk yang hidup di
pangkuanmu begitu sengsara, sedang si pemimpin malah melalaikan
tugasnya. Benarkah demikian?
Kudengar
pula dari para tetangga kini taringmu sudah tanggal dan tubuhmu
tumbang. Kemolekan ragamu telah terkikis, sedang jiwa-jiwa yang
bernaung di bawahmu berselingkuh pada kefanaan dan kehinaan. Ada
sedikit yang tetap setia, namun cacat. Nama harummu dihinakan dunia
hingga Engkau terperosok pada bayang-bayang kehancuran yang
diperkirakan dalam beberapa dekade. Sungguh malang nasibmu, Sobat.
Maafkan,
Sobatku, jikalau kami belum bisa turut menolongmu. Kami masih
menyempurnakan pertapaan kami. Di sini kami masih sibuk menuntut
ilmu, menyelaraskan ilmu dan nilai Islam dengan bidang-bidang
keilmuan lain supaya terbentuk ilmu yang lebih sempurna nan barokah.
Kemudian dengan ilmu tersebut kami ‘kan menolongmu, Sobat.
Ada
yang bilang bahwa kami hidup terkungkung bak ayam dalam sangkar. Ada
pula yang bilang kebebasan manusiawi kami terjajah oleh sistem ma’had
yang begitu ketat. Tapi Sobat, itu tidak benar. Kami hidup di sini
karena kami memang berkehendak. Memang benar, kehidupan mahasantri di
sini begitu ketat, penuh dengan jam ma’had dan jadwal kuliah yang
begitu padat, bahkan waktu istirahat kami sangat terbatas. Namun di
sisi lain ––terserah Engkau percaya atau tidak–– begitu
banyak yang kami dapatkan dari ma’had ini, pengetahuan dan
pengalaman yang takkan pernah diraih kecuali dengan tinggal di
ma’had. Dengan inilah kami bertapa, memantapkan diri untuk menjadi
pemimpin yang ideal dan bisa dijadikan suri tauladan. Pemimpin yang
mengerti suka duka yang hakiki, mengerti tentang kehidupan dan
kematian, serta hikmah di antara keduanya. Atau setidaknya kami bisa
menjadi Agent
of ‘moral’ change
yang bisa memperbaiki negeri ini dari berbagai kebobrokan moral, atau
setidaknya mempertahankannya dari aus.
Memang
hidup sebagai mahasantri tidak menjadi jaminan kehidupan surga hakiki
karena banyak sekali tantangan fisik maupun mental yang bisa
menumbangkan prinsip kami. Namun kami sangat bersyukur, karena kami
hidup di bawah naunganmu, tanah air surga. Tanah yang di bawah
permukaannya yang gelap tersimpan dengan rahasia butir-butir
berkilau, sedang di atasnya terkuak kehidupan yang asri. Dalam airnya
tampak pesona alami dan udaranya menyejukkan kehidupan. Tak kurang
suatu apa, bagi kami ‘negeriku adalah surgaku’.
Walaupun
sekarang surga tanah air mulai rusak terusik keusilan manusia, namun
kami masih bisa merasakan kenikmatannya, meski dengan berbagai
keterbatasan. Bahkan di lingkar kehidupan kami yang begitu kecil ini,
tak hanya fisik surga yang kami rasakan, tetapi juga ruhnya. Ruh
surga itu terpatri dalam nilai islami dunia ma’had dengan berbagai
budaya yang menghiasinya. Kearifan lokal para penduduk sekitar turut
mencerminkan karakter penduduk surga yang ramah, santun dan peduli.
This
is the real heaven, you know!
Sobatku,
tolong tunggulah kami sebentar lagi. Beberapa tahun lagi ketika kami
tiba, kami ‘kan membantumu berdiri tegak kembali, meski semua orang
memandang kami dengan sebelah mata, bahkan memalingkan wajahnya dari
kami, hanya karena segelintir orang menggolongkan kami dalam barisan
putih yang sok suci, hingga seluruh tuduhan terorisme bermotifkan
penyucian negeri disudutkan kepada kami. Tunggulah kami, bukan karena
kami satu-satunya yang bisa menolongmu, namun karena kami adalah
sahabatmu.
Wassalamu
‘alaikum
Salam Sahabat
untukmu, Negeri
Mahasantri
Indonesia
Esai dalam buku Dari Mahasantri Untuk Negeri