Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Senin, 30 Maret 2015

Bila hati telah dibelai cinta...

Bila hati telah dibelai cinta
Namun belum mampu 'tuk menjalaninya
Maka bersabarlah . . .

Pendamlah rahasia kecil pembesar hatimu
Untuk menyemaikanmu dan meranumkannya

Biarkan dia semakin merona pesona
Dengan tidak menodai izzah dan iffahnya,
Membujuknya dengan suatu haram nan fana

Berdoa, dan Tawakkallah . . .
Titipkan hatimu kepada Sang Pemilik Hati
Dan titipkan dia untuk kebaikannya

Raih romantika Ali dan Fathimah
Dengan kesempurnaan agama dan cinta sejati

Dan bila takdir belum menyambut
Maka berbahagialah untuk kesucianmu

Dan bila takdir tak menyambut
Bahkan hingga habis masamu
Maka syahid kehormatanmu

Sumbe: Anonim
Read more ...

Pagar : Kisah si Pohon Mangga

    A Priori.
   Agaknya semasa kecil kita terkadang heran setelah menilik peta dan globe, karena tak pernah sekalipun kita temukan wujud garis-garis astronomi di dunia realita. Dan setelah mendengar keterangan Ibu guru kita baru sadar, betapa khayalan bisa masuk ke ranah ilmu. Katanya garis itu dibuat untuk menunjukkan batas - meski si empu peta menentukan seenaknya. Lalu di mana batas antara ilmu dengan khayalan?
   Kita patut kagum pada para pendahulu kita bangsa Indonesia, dan segelintir masyarakat kini yang terpinggirkan. Satu unik - dulu biasa - dari mereka, yakni kemampuan mereka dalam membuat batas dan melihat batas, terutama batas tanah.
   Kali yang tiap kemarau kering, Pohon yang jadi sarang burung, bahkan batu di pojok jalan bisa jadi batas. Sekali kesepakatan atas tanah terbentuk, tak akan dilanggar. "tanah Pak Sutoyo dan tanah Pak Budi dibatasi oleh pohon mangga Pak Budi ini" hingga seterusnya, bahkan hingga pohon mangga itu mati, jasad pohon itu tetap jadi batas. Dan entah mengapa tanpa komando seseorang - apalagi memorandum - pun mereka tak akan berani-berani memindahkan pohon tersebut. Bukannya takut, tapi sadar diri.
   Sering sekali ketika dari dahan pohon mangga yang jadi tapal batas tanah muncul buah dan jatuh karena saking matangnya, tak seorang pun akan mengambilnya, bahkan terkadang hingga busuk. Sungkan, perasaan yang hanya bisa ditafsirkan dalam kehidupan Jawa ini selalu muncul dalam benak mereka. Tak akan mereka ambil bila tanpa izin, tanpa permisi, meski si empunya pohon sudah mengumumkan kepada seluruh desa, "silakan ambil buah dari pohon saya sesuka kalian".
   Namun berbeda bila kita mencoba menatap pohon mangga itu jika hidupnya di kota. Mungkin akan sulit sekali kita temui pohon mangga yang 'bebas' dipanjat, dimakan buahnya dan dibuat tidur-tiduran  bawahnya.
   Privasi. Bahkan pohon yang notabene milik Tuhan karena tanpa-Nya bisa tumbuh, diaku-aku milik pribadi - kalau memang ada orang kota yang mau menanam pohon mangga - tak ada yang boleh mengambil buah. Di batas tanahnya dipasang pagar, tinggi-tinggi pula. "Mengantisipasi maling" katanya.
    Batas semen tinggi-tinggi ini memang sering dibangun orang-orang kota, untuk membatasi tanahnya. Saya tidak tahu, apa motif sebenarnya, kepemilikan atau
  
Read more ...

Salam Sahabat untukmu, Negeri

Assalamu ‘alaikum. Negeriku, bagaimana kabarmu?
Kudengar dari beberapa media yang berhasil menyusup kemari, akhir-akhir ini Engkau sedang tidak sehat. Begitu banyak penyakit yang menggerogoti dirimu hingga status kritis. Kabarnya penduduk yang hidup di pangkuanmu begitu sengsara, sedang si pemimpin malah melalaikan tugasnya. Benarkah demikian?
Kudengar pula dari para tetangga kini taringmu sudah tanggal dan tubuhmu tumbang. Kemolekan ragamu telah terkikis, sedang jiwa-jiwa yang bernaung di bawahmu berselingkuh pada kefanaan dan kehinaan. Ada sedikit yang tetap setia, namun cacat. Nama harummu dihinakan dunia hingga Engkau terperosok pada bayang-bayang kehancuran yang diperkirakan dalam beberapa dekade. Sungguh malang nasibmu, Sobat.
Maafkan, Sobatku, jikalau kami belum bisa turut menolongmu. Kami masih menyempurnakan pertapaan kami. Di sini kami masih sibuk menuntut ilmu, menyelaraskan ilmu dan nilai Islam dengan bidang-bidang keilmuan lain supaya terbentuk ilmu yang lebih sempurna nan barokah. Kemudian dengan ilmu tersebut kami ‘kan menolongmu, Sobat.
Ada yang bilang bahwa kami hidup terkungkung bak ayam dalam sangkar. Ada pula yang bilang kebebasan manusiawi kami terjajah oleh sistem ma’had yang begitu ketat. Tapi Sobat, itu tidak benar. Kami hidup di sini karena kami memang berkehendak. Memang benar, kehidupan mahasantri di sini begitu ketat, penuh dengan jam ma’had dan jadwal kuliah yang begitu padat, bahkan waktu istirahat kami sangat terbatas. Namun di sisi lain ––terserah Engkau percaya atau tidak–– begitu banyak yang kami dapatkan dari ma’had ini, pengetahuan dan pengalaman yang takkan pernah diraih kecuali dengan tinggal di ma’had. Dengan inilah kami bertapa, memantapkan diri untuk menjadi pemimpin yang ideal dan bisa dijadikan suri tauladan. Pemimpin yang mengerti suka duka yang hakiki, mengerti tentang kehidupan dan kematian, serta hikmah di antara keduanya. Atau setidaknya kami bisa menjadi Agent of ‘moral’ change yang bisa memperbaiki negeri ini dari berbagai kebobrokan moral, atau setidaknya mempertahankannya dari aus.
Memang hidup sebagai mahasantri tidak menjadi jaminan kehidupan surga hakiki karena banyak sekali tantangan fisik maupun mental yang bisa menumbangkan prinsip kami. Namun kami sangat bersyukur, karena kami hidup di bawah naunganmu, tanah air surga. Tanah yang di bawah permukaannya yang gelap tersimpan dengan rahasia butir-butir berkilau, sedang di atasnya terkuak kehidupan yang asri. Dalam airnya tampak pesona alami dan udaranya menyejukkan kehidupan. Tak kurang suatu apa, bagi kami ‘negeriku adalah surgaku’.
Walaupun sekarang surga tanah air mulai rusak terusik keusilan manusia, namun kami masih bisa merasakan kenikmatannya, meski dengan berbagai keterbatasan. Bahkan di lingkar kehidupan kami yang begitu kecil ini, tak hanya fisik surga yang kami rasakan, tetapi juga ruhnya. Ruh surga itu terpatri dalam nilai islami dunia ma’had dengan berbagai budaya yang menghiasinya. Kearifan lokal para penduduk sekitar turut mencerminkan karakter penduduk surga yang ramah, santun dan peduli. This is the real heaven, you know!
Sobatku, tolong tunggulah kami sebentar lagi. Beberapa tahun lagi ketika kami tiba, kami ‘kan membantumu berdiri tegak kembali, meski semua orang memandang kami dengan sebelah mata, bahkan memalingkan wajahnya dari kami, hanya karena segelintir orang menggolongkan kami dalam barisan putih yang sok suci, hingga seluruh tuduhan terorisme bermotifkan penyucian negeri disudutkan kepada kami. Tunggulah kami, bukan karena kami satu-satunya yang bisa menolongmu, namun karena kami adalah sahabatmu.
Wassalamu ‘alaikum


Salam Sahabat untukmu, Negeri


Mahasantri Indonesia




 Esai dalam buku Dari Mahasantri Untuk Negeri
Read more ...

Salahkah bila mempercayai apa yang dianggap benar?

   Salahkah bila mempercayai apa yang dianggap benar?
   Pertanyaan ini seringkali hinggap di kepala saya, terutama ketika saya telah melakukan sebuah tindakan yang saya pikir adalah benar. Namun di saat kemudian saya mendengar bahwa yang saya lakukan adalah salah.
   Andaikata saya tak punya pendirian maka saya akan langsung berbalik arah. Tapi untung saja saya masih punya ego, sehingga saya masih bisa bersikukuh. Namun saya mengira, jika orang yang menyalahkan saya benar-benar memiliki argumen yang saking luar biasanya hingga saya merasa bersalah mempertahankan ego saya, sudah pasti saya akan mangkir dari jalan yang saya pilih tadi.
   Singkatnya, saya akan selalu dihadapkan pada sebuah jebakan simalakama, yang keduanya saling menyalahkan. Lalu saya bertanya: "Salahkan bila saya mempercayai apa yang saya anggap benar?"

Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates