Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.
Tampilkan postingan dengan label Dilupa sayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dilupa sayang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 April 2013

Beberapa Pengetahuan & Kesalahan Umum Tentang Otak

   Rupanya banyak masyarakat awam di Indonesia yang salah memahami tentang konsep otak. maklum, otak adalah salah satu organ manusia yang terletak di dalam tubuh, alhasil tidak bisa dilihat dengan mata. karena itu, saya ingin berbagi pengetahuan tentang otak, dari kuliah tambahan saya di fakultas psikologi yaitu tentang fisiologi psikologi (psikologi faal).
Read more ...

Senin, 22 April 2013

Adab Safar

Sebelum Perjalanan
  1. Shalat Istikharah
  2. Mengharap Ridha Allah
  3. Berbekal Ilmu Syar’i
  4. Bertaubat
  5. Izin dari kedua ibu bapak
  6. Mencari dan menjadi Teman perjalanan yang baik
  7. Mengajak istri dengan undian
  8. Menulis Wasiat
  9. Bekal yang Halal
  10. Membekali diri dengan wasiat orang-orang shalih, dan untuk mendapatkan do’anya
  11. Berpamitan
  12. Pesan Taqwa
  13. Saling mendo’akan dengan orang yang ditinggalkan
  14. Membaca do’a safar

Dalam Perjalanan
  1. Melakukan perjalanan di hari Kamis
  2. Berdo’a ketika keluar rumah
  3. Rajin berdoa selama perjalanan
  4. Amar Ma’ruf nahi Munkar
  5. Menjauhi segala bentuk kemaksiatan
  6. Melaksanakan segala kewajiban
  7. Berakhlak mulia
  8. Suka menolong
  9. Bercengkerama dengan anak-anak
  10. Tidak membawa genta, seruling, dan anjing
  11. Mengangkat seseorang untuk menjadi pemimpin perjalanan
  12. Tidak bepergian sendirian
  13. Berkumpul ketika singgah
  14. Memperhatikan kelancaran kendaraan, dan menjauh dari jalan ketika singgah di akhir malam
Perjalanan Pulang
  1. Membawa oleh-oleh
  2. Mengadakan perjamuan
  3. Bersegera untuk kembali
  4. Tidak datang tiba-tiba di malam hari
  5. Ketika datang di kampung halaman, mulailah dengan shalat dua raka’at di masjid
  6. Berpelukan
Read more ...

Sebelum Perjalanan: dari Niat hingga Teman Perjalanan

  1. Shalat Istikharah
Pada hakikatnya safar adalah sebuah pilihan yang berat, dan setiap pilihan lebih baik diawali dengan shalat istikharah. Karena kita sebagai manusia tidak mampu mengetahui hal-hal yang akan menimpa diri kita, sedang Allah maha mengetahui yang nampak dan tak nampak. Allah pulalah yang mengetahui jalan mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Dalam disebutkan pula “Orang yang bermusyawarah tidak akan merugi, dan orang yang beistikharah tidak akan menyesal.”
Namun di samping beristikharah alangkah baiknya bila kita meminta pertimbangan dari orang shalih dan orang yang berpengalaman dalam bersafar. Dari keduanya pula kita bisa menambah ilmu dan hikmah tentang bersafar, atau hal-hal yang bermanfaat bagi kita nantinya.
Adapun untuk hal-hal yang sudah pasti manfaat dan kebaikannya seperti haji ke baitullah tidak perlu untuk beristikharah. Namun istikharah baginya adalah sunnah.

  1. Memantapkan Niat yang baik
Penting bagi seorang musafir memantapkan niat baik dalam hatinya, yaitu selalu mengharap ridha Allah. Dengan mengharap ridha Allah seorang musafir akan mendapat barokah dari perjalanan tersebut. Hal ini berkenaan dengan hati, yaitu niat. Bila niat kita baik insya Allah jalan yang kita tempuh akan baik, dan bila niat kita buruk, maka jalan yang ditempuh akan membawa kepada keburukan, seperti yang dijelaskan pada The Law of Attraction (hukum tarik-menarik). Juga seperti yang dijelaskan dalam hadits pertama dalam kumpulan hadits arba’in Imam Nawawi.
Jangan pula seorang musafir memiliki niat melakukan safar untuk mendapatkan kesenangan duniawi, membanggakan diri, mendapatkan gelar, riya’ maupun sum’ah. Karena hal itu akan menghapus pahala kebaikan dan menyebabkan amal kita tidak diterima, akibatnya, kita pula tidak mendapatkan barokah dari safar kita.

  1. Berbekal Ilmu Syar’i
Apalagi seorang yang melakukan ibadah haji, seorang musafir harus tahu dan paham ilmu syar’i Islam, terutama yang berkaitan dengan safar. Jadi sebelum berangkat, baiknya bila kita mempelajari ilmu-ilu syar’i seperti shalat jama’ dan qashar, tayammum, dan syari’at teknis lainnya.

  1. Taubat
Dalam syariat Islam, kadang kala seseorang diharuskan untuk keluar dari tempat tinggalnya (safar) untuk menyempurnakan taubatnya. Sekilas sebagian pengharusan tersebut terkesan sebagai pengusiran dan pengucilan dikarenakan syariat tersebut diwajibkan atas seseorang yang berdosa seperti zina. Namun saya memandang bahwa safar yang diharuskan tersebut adalah sebagai wujud penyucian dirinya. Terbukti bahwa orang yang diharuskan untuk keluar dari tempat tinggalnya adalah untuk orang-orang yang bertaubat. Orang-orang yang bertaubat tersebut akan memperoleh hikmah yang akan membentuk dirinya di sepanjang perjalanan keluar tempat tinggalnya. Dan akhirnya orang yang bertaubat akan mendapatkan jati dirinya yang lebih baik. Selain itu dengan meninggalkan tempat tinggalnya sementara waktu (biasanya di syariat adalah minimal setahun) adalah untuk menghapus trauma dan memori buruk yang menempel di masyarakat tempatnya tinggal. Dan akhirnya ketika seorang musafir yang bertaubat itu kembali ke kampung halamannya ia akan mendapat kehormatannya kembali sebagai orang asing yang mulai membentuk kehidupan barunya di tempat tersebut, seperti kain putih yang sebelumnya kotor dicuci kembali hingga tampak putih lagi.
Kemudian dalam konteks safar, sebaiknya kita tidak melupakan hakikat safar, yakni pencarian jati diri. Taubat sendiri, mengapa dianjurkan dalam safar ini? Tidak lain taubat adalah sebuah pintu untuk membuka jati diri yang baik dari musafir itu sendiri.
Selain itu kita juga tahu bahwa safar adalah kegiatan yang amat berat dan memiliki resiko yang begitu besar. Besar pula kemungkinan seorang musafir meninggal dalam perjalanannya. Jadi taubat ini juga sebagai media untuk menyucikan diri sebelum mati.

  1. Izin dari kedua ibu bapak
Seseorang datang kepada Nabi Muhammad SAW. Meminta izin untuk pergi jihad, maka Nabi Muhammad SAW. bertanya kepadanya:
“Apakah kedua ibu bapakmu masih hidup?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya.”
Maka Nabi SAW. Bersabda, “Tinggallah dengan kedua orangtuamu, maka itulah jihadmu.”
Ibnu Hajar RA. Berkata, “Hadits tersebut dijadikan dalil haramnya safar tanpa izin orang tua. Karena manakala jihad dilarang, padahal keutamaannya sangat agung, maka safar yang mubah tentu lebih dilarang. Kecuali jika safar tersebut untuk mencari ilmu yang fardhu ‘ain dan ia tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengadakan safar, maka safar dalam hal ini tidak dilarang. Adapun jika ilmu tersebut fadhu kifayah, maka para ulama berbeda pendapat.”
  1. Mencari dan menjadi Teman perjalanan yang baik
Orang yang akan bepergian dianjurkan mencari teman yang baik, terutama orang yang mengerti tentang ilmu agama. Karena hal itu merupakan salah satu faktor yang membuat dia diberi petunjuk oleh Allah dan juga menyebabkan dia terjaga dari berbuat kesalahan selama dalam perjalanan atau ketika mengerjakan manasik haji dan umrah.
Rasulullah bersabda: “Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan teman dekat.”
Di samping mencari teman perjalanan yang baik, kita pula juga harus menjadi teman yang baik bagi teman perjalanan kita. Bahkan Imam Bukhari menekankan hal ini hingga membuat bab khusus tentang keutamaan seorang yang menjadi teman yang baik, dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Tentang seseorang yang mengangkat barang bawaan saudaranya dalam perjalanan:
“Setiap persendian wajib dikeluarkan shadaqahnya setiap hari. Seseorang membantu yang lain mengangkat barang bawaannya ke kendaraannya (adalah shadaqah). Atau membawakan barang orang lain (di kendaraan sendiri) adalah shadaqah. Kalimat yang baik dan setiap langkah untuk melaksanakan shalat adalah shadaqah. Dan menunjukkan jalan adalah shadaqah.”

  1. Mengajak istri dengan undian
Jika orang yang akan mengadakan perjalanan mempunyai lebih dari satu istri dan dia ingin mengajak salah satu dari mereka maka disunnahkan baginya mengundi mereka. Siapa yang namanya tertunjuk dalam undian dialah yang pergi menemani suami. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA, yang artinya:
“Rasulullah SAW. Jika ingin mengadakan perjalanan, beliau mengundi para istrinya. Beliau akan bepergian bersama istri yang namanya keluar dalam undian tersebut.”
Hal ini merupakan sunnah Nabi SAW. Jadi seorang suami yang hendak bepergian bersama salah seorang istrinya boleh melakukan undian. Hal itu juga merupakan salah satu solusi tepat yang diperbolehkan sehingga tidak akan timbul permasalahan. Namun bila tanpa undian permasalahan ini bisa diselesaikan maka itu lebih baik.

Read more ...

Macam-Macam Shafar

Safar dibagi menjadi lima macam dari segi hukumnya. Pada umumnya hukum safar diklasifikasikan menurut niat dan tujuan musafir tersebut. Kelima macam safar tersebut ialah sebagai berikut:
  1. Safar yang haram
Yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Misalnya orang yang menempuh perjalanan untuk berdagang minuman keras dan barang-barang lain yang diharamkan oleh Allah. Demikian juga bepergian untuk merampok atau seorang wanita yang bepergian tanpa disertai mahramnya.
  1. Safar yang wajib
Menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiban seperti ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib atau kewajiban berjihad. Bisa juga karena nadzar karena nadzar adalah wajib. Dan bisa pula untuk menghindari tempat-tempat yang berbahaya seperti daerah yang rawan bencana.
  1. Safar yang sunnah
Melakukan perjalanan yang dianjurkan, misalnya bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah, dan jihad yang sunnah.
  1. Safar yang mubah
Bepergian guna melakukan hal-hal yang dibolehkan dalam agama, misalnya untuk berdagang barang-barang yang halal.
  1. Safar yang makruh
Bepergian dimakruhkan adalah semisal orang yang bepergian sendirian tanpa ada yang menemaninya. Bepergian seperti itu dimakruhkan kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Dalil mengenai hal ini adalah sabda Rasulullah SAW:

Andai orang mengetahui bahaya yang terdapat dalam bepergian seorang diri sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak akan ada orang yang melakukan perjalanan sendirian pada waktu malam hari.”
Inilah beberapa macam perjalanan yang telah disebutkan oleh para ulama. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk tidak mengadakan perjalanan yang diharamkan. Seyogyanya seorang muslim tidak mengadakan perjalanan yang dimakruhkan, dan hanya mengadakan perjalanan yang diwajibkan, disunnahkan atau perjalanan yang dibolehkan.
NB: Para ulama berbeda pendapat mengenai safar yang menyebabkan seseorang mendapatkan rukhsah (keringanan) dalam beribadah seperti menjama’ shalat, tidak berpuasa, mengusap sepatu dan serban selama 3 hari 3 malam dan melakukan shalat sunnah di atas kendaraan, dalam hal ini ada beberapa pendapat:
  • Pendapat pertama menyebutkan bahwa safar yang membolehkan rukhshah tersebut ialah safar yang wajib, sunnah dan mubah. Adapun safar yang makruh dan haram tidak membolehkan adanya rukhshah
  • Pendapat kedua menyebutkan bahwa safar yang membolehkan rukhshah tersebut adalah safar yang dilakukan untuk menunaikan kewajiban seperti umrah, haji dan berjihad. Oleh karena itu safar yang sunnah, mubah, makruh dan haram tidak memberikan adanya rukhshah tersebut
  • Pendapat yang ketiga menyebutkan bahwa safar yang membolehkan adanya rukhshah adalah safar yang didasari ketaatan, yakni safar yang wajib dan yang sunnah.
  • Imam Abu Hanifah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan sebagian besar ulama berpendapat bahwa rukhshah dalam beribadah tetap diberikan meski dalam safar yang haram. Karena tidak ada dalil yang mengkhususkan macam safar mana yang diberikan keringanan beribadah
Read more ...

Jumat, 25 Maret 2011

Definisi Safar dan Musafir

Kali ini saya ingin berbagi pengetahuan tentang dunia musafir yang sekarang marak disebut backpacker. Pada mulanya saya akan menyampaikan pengertian tentang musafir ini.
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates