Ada seorang pemuda tampan di Kufah, kuat beribadah lagi rajin. Suatu ketika dia berkunjung ke Bani An-Nakha’, tanpa disengaja ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat elok nan rupawan. Pertemuan ini membuat ia langsung mabuk kepayang, begitu juga halnya dengan si wanita. Tanpa membuang waktu si pemuda langsung melamar si gadis tadi. Sang ayah yang menerima utusan untuk melamar mengabarkan bahwa si anak gadisnya telah dijdohkan dengan seudara sepupunya. Namun rasa cinta yang sudah membara tidak padam begitu saja, malah semakin berkobar-kobar. Akhirnya si gadis mengirimkan utusannya untuk menyampaikan pesan yang berbunyi, “Aku tahu betapa besar rasa cintamu padaku, dan betapa besar aku diuji dengan kamu. Bila engkau berkenan aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.”
Sebagai seorang pemuda yang bertaqwa – ia merasa wajib menjaga kehrmatannya – dua alternatif yang diberikan si gadis idaman itu ditolaknya dengan jawaban bijak:
“Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar kiamat.” (QS. 10:15)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar