Judul Buku : Samarcande
Pengarang : Amin Maalouf
Judul Terjemahan : Samarkand
Penerjemah : Winarsih Arifin
Penerbit : Serambi
Cetakan : ke-1, Januari 2007
Tebal Buku : 514 halaman
"Kautanya dari manakah napas hidup kita.
Jika harus disingkat sebuah cerita yang terlalu rinci,
Akan kukatakan munculnya dari dasar samudra,
Lalu tiba-tiba samudra menelannya kembali."
~Samarkand~
Sekali lagi, Maalouf mengarang sebuah novel yang menceritakan kisah pencarian buku atau naskah. Berbeda dengan karya sebelumnya, Balthasar's Odyssey yang menceritakan perjalanan seseorang, Maalouf menceritakan perjalanan sebuah naskah di novel kali ini, yakni naskah Samarkand, karya legendaris Omar Khayyam.
Diawali dengan persinggahan Omar Khayyam di Samarkand, kota yang masih kurang terbuka dengan kebebasan ucapan dan tindakan, termasuk dalam menyampaikan syair. Karenanya Omar dianggap sebagai orang yang menyimpang, bahkan ada yang memfitnahnya sebagai ahli alkimia (penyihir). Namun untungnya ia ditolong oleh kadi yang bijak, Abu Taher. Abu Taher pulalah yang memberikan solusi atas pemboikotan syair-syair Khayyam, yakni dengan menuliskannya dalam kitab khusus dari cina. Kitab yang diisi syair-syair rubaiyat (kwartain) oleh Khayyam itulah yang kemudian menjadi naskah Samarkand.
Perjalanan naskah Samarkand pun dimulai. Berbagai kejadian dalam perjalanan Khayyam yang menginspirasinya dituliskan dalam naskah tersebut. Termasuk kisah percintaannya dengan Djahan dan kisah persahabatannya dengan Nizam al-Mulk, penasehat kerajaan di Isfahan dan Hassan Sabbah, mahasiswa cerdas yang kemudian melakukan pemberontakan kepada sang Malik. Penulisan naskah Samarkand berakhir ketika Omar sudah merasakan ajalnya semakin dekat, ditegaskan dengan dicurinya naskah tersebut oleh Hassan.
Maalouf kemudian mengisahkan perjalanan Benjamin Omar Lesage dari Amerika pada abad ke-29 untuk mencari naskah Samarkand yang masih tiada duanya -Samarkand tak pernah dikopi. Demi mendapatkan naskah legendaris tersebut Benjamin rela melakukan perjalanan lintas benua, bahkan sampai menempatkan dirinya di tengah kecamuk pemberontakan dan peperangan di Parsi, tanah Samarkand. Banyak darah tertumpah, banyak dosa terbuat, namun usaha Lesage tak sia-sia. Naskah itu bisa diselamatkan dari kemelut yang semakin kacau di tanah Parsi, dan dibawa keluar dari Eurasia ke Amerika. Naas, naskah Samarkand tak pernah berhasil menyeberang Arktik, tenggelam bersama Titanic, kapal legendaris yang 'anti' karam.
Maalouf memang lihai dalam meracik cerita sejarah hingga jadi sebuah novel yang runtut dan lengkap. Penggunaann gaya bahasa yang sulit dipahami dan begitu banyaknya tokoh dan kejadian yang membentuk suasana memang sedikit mengganggu pembaca pemula, namun bila sudah terbiasa dengan jenis novel sejarah dan tertarik dengannya kekurangan tersebut malah akan menambah wawasan pembaca.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar