Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Kamis, 01 Mei 2014

Madrasah Nahwu Bashroh

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pada jaman Jahiliyyah, kebiasaan orang-orang Arab ketika mereka berucap atau berkomunikasi dengan orang lain, mereka melakukannya dengan tabiat masing-masing, dan lafazh-lafazh yang muncul, terbentuk dengan peraturan yang telah ditetapkan mereka, di mana para junior belajar kepada senior, para anak belajar bahasa dari orang tuanya dan seterusnya. Namun ketika Islam datang dan menyebar ke negeri Persia dan Romawi, terjadinya pernikahan orang Arab dengan orang non Arab, serta terjadi perdagangan dan pendidikan, menjadikan Bahasa Arab bercampur baur dengan bahasa non Arab.Orang yang fasih bahasanya menjadi jelek dan banyak terjadi salah ucap, sehingga keindahan Bahasa Arab menjadi hilang. Dari kondisi inilah mendorong adanya pembuatan kaidah-kaidah yang disimpulkan dari ucapan orang Arab yang fasih yang bisa dijadikan rujukan dalam mengharakati bahasa Arab, sehingga muncullah ilmu pertama yang dibuat untuk menyelamatkan Bahasa Arab dari kerusakan, yang disebut dengan ilmu Nahwu. Seperti yang sudah kita ketahui kiblat dari pembelajaran ilmu nahwu itu terletak antara basrah dan kuffah.Dua aliran ini sangat kuat dalam mengulas setiap akar ilmu nahwu.Tetapi terdapat banyak perbedaan antara keduanya.Baik berbeda dari segi ketetapan, penamaan, dan sebagainya. Dalam segi periode Basrah dan Kuffah, Basrah merupakan masa ketiga dan Kufah baru memulai masa pertamanya. Hal ini tidak terlalu mengherankan, sebab kota Bashrah memang lebih dulu dibangun daripada kota Kufah.Lunturnya metode nahwu pada aliran Kuffah dikarenakan tidak adanya pembukuan dan penetapan ilmu yang tertulis pada kitab-kitab yang dibukukan untuk masa selanjutnya, tidak seperti Basrah yang diabadikan dalam tulisan karya-karya para Ulama’ pada masanya.Seperti Imam Syibawaihi yang menciptakan banyak kitab-kitab nahwu dan masih menjadi rujukan sampai saat ini

1.2.Rumusan Masalah
Inti masalah yang kami ambil sebagai berikut:
1.2.1.      Madzhab- madzhab dalam ilmu nahwu
1.2.2.      Kronologis kelahiran ilmu nahwu ke muka bumi
1.2.3.      Apakah Bashroh Itu?
1.2.4.      Yang Membidani Lahirnya Ilmu Nahwu
1.2.5.      Bashroh sebagai kota kelahiran nahwu
1.2.6.      Konsep nahwu bashroh
1.2.7.      Paradigma ulama Bashroh
1.2.8.      Karakteristik nahwu bashroh
1.2.9.      Tokoh-tokoh ulama’ nahwu bashroh dan produk nahwunya

1.3. Tujuan Pembahasan
Tujuan yang diharapkan dari pembahasan makalah ini adalah agar pembaca mengetahui dan bisa mengupas lebih dalam tentang beberapa hal kajian mengenai nahu bashroh atau madaris bashroh dari beberapa segi sudut pandang. Dan dari sini pembaca mengetahui tokoh ulama’ bashroh serta produknya dan semoga bisa terinspirasi oleh karyanya sehinga pembaca mampu melahirkan karya-karyanya yang mungkin saat ini masih terpendam.








BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Madhab-Madhab Dalam Ilmu Nahwu
Tidak hanya dalam masalah furu’iyah ( fiqih ) para ulama berbeda pendapat. lahirmya imam madzhab merupakan sebuah dilalah bahwa mereka memilki pendapat yang berbeda satu sama lain.  dan perbedaan pendapat ini terjadi juga dalam ilmu nahwu.  Dlaif (1968) membagi perkembangan Ilmu Nahwu berdasarkan aliran-aliran (madzhab) dengan menyebutkan sejumlah tokoh yang dominan pada setiap aliran. Ia menyebutkan secara kronologis lima aliran nahwu sebagai berikut. (1) aliran Bashrah, (2) aliran Kufah, (3) aliran Baghdad, (4) aliran Andalusia, dan (5) aliran Mesir. Dua aliran pertama, Bashrah dan Kufah, disebutnya sebagai aliran utama, karena keduanya mempunyai otoritas dan independensi yang tinggi, kedua aliran tersebut juga mempunyai pendukung yang banyak dan fanatik, sehingga mampu mewarnai aliran-aliran berikutnya. Adapun tiga aliran yang lainya hanya merupakan “ Inovasi “ dan “ kreasi “ yang dikembangkan dari 2 madhab sebelumnya.[1]
2.2. Kronologis Kelahiran Ilmu Nahwu Ke Muka Bumi

Hampir semua pakar linguistik Arab bersepakat bahwa gagasan awal yang kemudian berkembang menjadi Ilmu Nahwu muncul dari Ali bin Abi Thalib saat beliau menjadi khalifah. Gagasan ini muncul karena didorong oleh beberapa faktor, antara lain faktor agama dan faktor sosial budaya (Dlaif, 1968:11; Al-Fadlali, 1986:5).
Faktor agama disini adalah usaha untuk menjaga kemurnian agama islam, Al-Qur’an dan as-sunnah dari kesalahan didalam membaca yang mashur dengan istilah Lahn.  Lahn adalah kesalahan dalam membaca. Lahn ini sudah terjadi sejak jaman Rasulullah. tetapi prekuensinya tidak terlalu banyak. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ada seorang yang berkata salah  dalam mengucapakan bahasa arab dihadapan Nabi, maka beliau berkata kepada para sahabat: "Arsyiduu akhakum fa innahu qad dlalla" (Bimbinglah teman kalian, sesungguhnya ia telah tersesat). Perkataan dlalla 'tersesat' pada hadits tersebut merupakan peringatan yang cukup keras dari Nabi. Kata itu lebih keras artinya dari akhtha'a 'berbuat salah' atau zalla 'keseleo lidah'.
            Dalam riwayat lain dikatakan bahwa salah seorang gubernur pada pemerintahan Umar bin Khattab menulis surat kepadanya dan di dalamnya terdapat lahn, maka Umar membalasnya dengan diberi kata-kata "an qanni' kitabak sawthan" 'berhatihatilah dalam menulis.[2]
Seiring berjalannya waktu dan  seiring menyebarnya agama islam ke seantero dunia, pasti pemeluk Islam menjadi begitu heterogen. dan Lahn itu semakin lama semakin sering terjadi. Pada saat itulah mulai terjadi akulturasi dan proses saling mempengaruhi antara bahasa Arab dan bahasa bahasa lain. Para penutur bahasa Arab dari non-Arab sering kali berbuat lahn dalam berbahasa Arab, sehingga hal itu dikhawatirkan akan terjadi juga pada waktu mereka membaca Al-Qur'an. Dari sisi sosial budaya, bangsa Arab dikenal mempunyai kebanggaan dan fanatisme yang tinggi terhadap bahasa yang mereka miliki. Hal ini mendorong mereka berusaha keras untuk memurnikan bahasa Arab dari pengaruh asing. Kesadaran itu semakin lama semakin mengkristal, sehingga tahap demi tahap mereka mulai memikirkan langkah-langkah pembakuan bahasa dalam bentuk kaidah-kaidah. Selanjutnya, dengan prakarsa Khalifah Ali dan dukungan para tokoh yang mempunyai komitmen  terhadap bahasa Arab dan Al-Qur'an, sedikit demi sedikit disusun kerangka- kerangka teoritis yang kelak kemudian menjadi cikal bakal pertumbuhan Ilmu Nahwu. Sebagaimana terjadi pada ilmu-ilmu lain, Ilmu Nahwu tidak begitu saja muncul dan langsung sempurna dalam waktu singkat, melainkan berkembang tahap demi tahap dalam kurun waktu yang cukup panjang. Hal inilah yang menjadi “ Embrio “ kelahiran  Ilmu Nahwu.[3]

2.3. Apakah Bashroh itu?
Bashrah adalah kota perdagangan di pinggir negara-negara Arab. Di sana, mengalir sungai Tigris dan Euphrates yang bermuara ke laut. Basrah terletak pada jarak tiga ratus mil tenggara Baghdad.Namanya diperoleh dari sifat tanahnya.Bashrah adalah tempat yang tanahnya halus berbatu, banyak mengandung air dan bagus untuk pertanian. Hal ini diperlihatkan dengan adanya buluh (qashb), yaitu: tanah yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal, dan memungkinkan untuk berkembang dan mengambil manfaat dari tempat-tempatnya yang bersifat natural.[4]
Basrah merupakan salah satu kota pusat peradaban Islam pada masa awal Islam. Bashrah dan Kufah merupakan dua kota kembar yang didirikan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H. Dua kota ini dirancang oleh Umar bin Khattab menjadi mu’askar, pusat pendidikan dan pelatihan militer. Khalifah Umar bin Khattab memilih Bashrah dan Kufah untuk menjadi mu’askar dengan pertimbangan yang berikut: a) Dua kota ini berudara sejuk dengan nuansa yang berbeda dengan nuansa padang pasir pada umumnya. b) Secara geopolitik, Bashrah dan Kufah berada di ujung Timur Jazirah Arabia yang berbatasn langsung dengan Persia. Menempatkan militer di dua kota ini sangat strategis untuk menjaga perbatasan, sekaligus mempelajari bahasa, budaya, tradisi lokal dan penguasaan medan guna menyebarkan Islam ke wilayah Asia Tengah. Hanya membutuhkan waktu tiga tahun, Khalifah Umar bin Khattab berhasil menguasai Persia dalam Perang Qadisiyah yang terjadi pada tahun 20 H.[5]
Bashrah adalah kota yang aman dan stabil serta terlepas dari istabilitas politik dan pertentang mazhab. Kondisi seperti ini telah menghantarkan Bashrah menjadi kota yang berperadaban, disibukkan dengan berbagai aktifitas keilmuan, dan memanfaatkan anekaragam kebudyaan. Terjadilah pertemuan keilmuan yang berbeda dan muncul pulalah mazhab-mazhab agama dan filsafat. Kehidupan yang stabil ini juga menuntut kehidupan intelektualitas yang tertib.[6]
2.4. Yang Membidani Lahirnya Ilmu Nahwu
 Mengenai tokoh yang dapat disebut sebagai peletak batu pertama Ilmu Nahwu, ada perbedaan dikalangan para ahli. Sebagian ahli mengatakan, peletak dasar Ilmu Nahwu adalah Abul Aswad Ad-Du'ali. Sebagian yang lain mengatakan, Nashr bin 'Ashim. Ada juga yang mengatakan, Abdurrahman bin Hurmus (Dlaif, 1998:13). Namun, dari perbedaan-perbedaan itu pendapat yang paling populer dan diakui oleh mayoritas ahli sejarah adalah Abul Aswad. Pendukung pendapat ini dari golongan ahli sejarah terdahulu antara lain Ibnu Qutaibah (wafat 272 H), Al-Mubarrad (wafat 285 H), As-Sairafiy (wafat 368 H), Ar-Raghib Al-Ashfahaniy (502 H), dan As-Suyuthiy (wafat 911 H), sedangkan dari golongan ahli nahwu kontemporer antara lain Kamal Ibrahim, Musthofa As-Saqa, dan Ali an- Najdiy Nashif (Al-Fadlali, 1986:9-17). Penokohan Abul Aswad ini didasarkan atas jasa jasanya yang fundamental dalam membidani lahirnya Ilmu Nahwu.
Abul Aswad Ad-Du'ali (wafat 69 H) adalah orang pertama yang mendapat kepercayaan dari Khalifah Ali bin Abi Thalib untuk menangani dan mengatasi masalah lahn yang mulai mewabah di kalangan masyarakat awam. Ali memilihnya untuk hal itu karena ia adalah salah seorang penduduk Bashrah yang berotak genius, berwawasan luas, dan berkemampuan tinggi dalam bahasa Arab (Al-Fadlali, 1986:8).
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu ketika, Abul Aswad melihat Ali sedang termenung memikirkan sesuatu, maka ia mendekatinya dan bertanya: "Wahai Amirul Mu'minin! Apa yang sedang engkau pikirkan?" Ali menjawab: "Saya dengar di negeri ini banyak terjadi lahn, maka aku ingin menulis sebuah buku tentang dasar-dasar bahasa Arab". Setelah beberapa hari, Abul Aswad mendatangi Ali dengan membawa lembaran yang bertuliskan antara lain: "Bismillahir rahmanir rahim. Al-kala:mu kulluhu ismun wafi'lun wa harfun. Fal ismu ma: anba’a 'anil musamma, wal fi'lu ma anbaa 'an harakatil musamma, wal harfu ma anbaa 'an ma'nan laisa bi ismin walaa fi'lin". “Dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang.
Ujaran itu terdiri dari isim, fi'il dan harf. Isim adalah kata yang mengacu pada sesuatu (nomina), fi'il adalah kata yang menunjukkan aktifitas, dan harf adalah kata yang menunjukkan makna yang tidak termasuk kategori isim dan fi'il”.[7]
            Dalam riwayat lain dikatakan bahwa suatu ketika Abul Aswad mendengar seorang membaca ayat Al-Qur'an: "Inna AIla:ha bari:un minal mu'mini:na warasu:lihi" dengan mengkasrah lam dari kata rasu:lihi, padahal seharusnya didlammah. Atas kejadian itu dia kemudian meminta izin kepada Ziyad bin Abieh, Gubernur Bashrah, untuk menulis buku tentang dasar-dasar kaidah bahasa Arab (Dlaif, 1968:15). Ibnu Salam (tanpa tahun) dalam kitabnya Thabaqa:tu Fuhu:lisy Syu'ara:" mengatakan bahwa Abul Aswad adalah orang pertama yang meletakkan dasar ilmu bahasa Arab. Hal  itu dilakukannya ketika ia melihat lahn mulai mewabah di kalangan orang arab. Dia menulis antara lain bab fa:'il, maf'ul, harf jar, rafa', nashab, dan jazm."[8]
Berbagai riwayat dengan berbagai sumber banyak sekali disebutkan oleh para ahli dalam rangka mendukung Abul Aswad seagai tokoh peletak dasar Ilmu Nahwu. Namun demikian, diantara riwayat-riwayat itu masih banyak yang diperdebatkan keabsahannya. Satu riwayat yang cukup populer dan diakui keabsahannya oleh para ahli adalah bahwa Abul Aswad berjasa dalam memberi syakal (tanda baca) pada mushaf Al-Qur'an. Sebagaimana diketahui pada mulanya tulisan Arab itu tidak bertitik dan tidak menggunakan tanda baca. Tidak ada tanda pembeda antara huruf dal dan dzal, antara huruf sin dan syin, dan sebagainya. Juga tidak ada perbedaan antara yang berbaris /a/, /i/, dan /u/. Demikian juga tulisan yang ada pada mushaf Al-Qur'an, sehingga banyak orang yang keliru dalam membaca Al-Qur'an, terutama umat Islam non-Arab (Umam, 1992). Lama kelamaan, karena khawatir kesalahan itu akan semakin mewabah, Ziad bin Abi Sufyan meminta Abul Aswad untuk mencari solusi yang tepat. Berangkat dari permintaan itu akhirnya Abul Aswad menemukan jalan, yaitu dengan memberi tanda baca dalam Al-Qur'an. Dengan tinta yang warnanya berlainan dengan tulisan Al-Qur'an. Tanda baca itu adalah titik diatas huruf untuk fathah, titik dibawah huruf untuk kasrah, dan titik di sebelah kiri atas untuk dlammah. Karena tanda baca itu berupa titik-titik, maka dikenal dengan sebutan naqthul i'rab (titik penanda i'rab) (Sirajuddin,1992:33). Ilmu nahwu di Basrah yang kemudian dikenal dengan istilah Al-Madrasah Al- Basriyah (aliran Basrah) berkembang dengan pesat.[9]

2.5. Bashrah Sebagai Kota Kelahiran Ilmu Nahwu
            Atas jasanya dalam memberi tanda baca mushaf Al-Qur'an itu Abul Aswad kemudian dikenal sebagai peletak dasar ilmu I'rab, dan setelah itu banyak orang yang datang kepadanya untuk belajar ilmu qira'ah dan dasar-dasar ilmu i'rab. Dia melaksanakan pengajaran itu di masjid Jami' Bashrah. Dari sinilah awal mula kota Bashrah dikenal sebagai kota kelahiran Ilmu Nahwu. Banyak murid yang berhasil dan kemudian menjadi generasi penerus yang mengembangkan gagasan-gagasan yang telah dirintisnya, diantaranya adalah Anbasah bin Ma'dan yang dikenal dengan panggilan Anbasah Al-fil, Nashr bin 'Ashim al-Laitsiy (wafat 89H), dan Yahya bin Ya'mur Al-Adwaniy (wafat 129 H). Anbasah kemudian mempunyai seorang murid yang banyak berpengaruh dalam pengembangan Ilmu Nahwu yaitu Maimun Al-Aqran (Al-Fadlali, 1986:26).
Perkembangan Ilmu Nahwu yang sempat dicapai pada masa Yahya bin Ya'mur dan Nashr bin Ashim  antara lain adalah: (1) pembakuan sebagian istilah nahwu, seperti rafa', nasab, jar, tanwin, dan i'rab, (2) perluasan beberapa pokok bahasan nahwu, (3) mulai dipakainya pendekatan nahwiyyah dalam pembahasan masalah-masalah ilmiyah di kalangan para ulama, dan (4) mulai bermunculannya karangan-karangan dalam bidang Ilmu Nahwu, sekalipun masih belum berbentuk buku. Di samping itu, dikenalnya kota Bashrah dengan kota kelahiran nahwu juga karena kota ini selalu menjadi pusat kegiatan pengajian dan penelitian di bidang itu.
Para ahli nahwu setelah generasi Yahya dan 'Ashim, seperti Ibnu Abi Ishaq (wafat 117 H) dan Abu "Amr bin Al-'Ala' (wafat 154 H) selalu getol dalam mengkaji dan meneliti berbagai masalah yang berkaitan dengan nahwu. Merekalah yang mula-mula mengembangkan metode induksi dan deduksi serta analogi dalam penyusunan Ilmu Nahwu. Untuk mengumpulkan data penelitian itu mereka tidak segan-segan melanglang buana ke berbagai penjuru jazirah Arab yang bahasanya masih dianggap murni ,seperti Nejed, Hijaz, dan Tihamah. Dari daerah-daerah itu mereka pilih kabilah-kabilah yang benar-benar kuat dalam memegang kemurnian bahasa, seperti kabilah Tamim, Qais, Asad, Thayyi', dan Hudzail. Disamping itu, dalam melakukan analogi mereka tidak segan-segan merujuk pada sumber utama ilmu bahasa Arab yaitu Al-Qur'an. Mereka tidak merujuk pada Hadits Nabi dalam melakukan analogi, karena pada waktu itu hadits belum dibukukan.
Bashrah pada saat itu merupakan pusat perdagangan negara Iraq, sehingga kota itu banyak menerima pertukaran budaya dengan negara-negara asing. Selain itu, dibandingkan dengan Kufah, Bashrah juga lebih dekat ke Jundaisabur, Persi yang saat itu merupakan pusat pengkajian budaya dan filsafat Yunani, Persi, dan Hindia. Oleh karena itu pemikiran Bashrah secara umum lebih mendalam dari pada pemikiran kufah, dan lebih siap untuk mengkaji dan mengkonstruksi berbagai macam ilmu.[10]
Jika demikian itu keadaan di kota Bashrah, maka tidak demikian apa yang terjadi di kota Kufah (yang pada akhirnya juga dikenal dengan aliran nahwunya). Di saat Bashrah sedang gencar-gencarnya mengkaji dan membahas berbagai hal yang berkaitan dengan Ilmu Nahwu, sampai pertengahan akhir abad kedua Hijriah, Kufah masih berkutat pada pembacaan Al-Qur'an dan pengumandangan syair dan prosa. Dalam hal ini Ibnu Salam berkata: "Bashrah lebih dahulu menaruh perhatian terhadap kaidah-kaidah bahasa Arab" (Ibnu Salam, tanpa tahun:12). Senada dengan itu, Ibnu Nadim (dalam Dlaif, 1968:20) mengatakan: "Saya lebih mengutamakan pendapat ulama Bashrah, karena dari merekalah Ilmu Nahwu mula-mula dipelajari".[11]
Terkait dengan perkembangan ilmu nahwu, ada lima tahap perkembangan yang penting untuk diketahui, yaitu:
1.Penggunaan contoh dan dalil. Cara ini dipakai agar pendapat yang diambil benar dan sesuai dengan perkataan orang Arab. Abu al-Aswad memakai cara ini ketika Bani Qusyair mempertanyakan masuknya dia ke dalam kelompok Syiah. Kemudian Abu al-Aswad mengucapkan sebuah syair yang berbunyi :
ولست بمخطئ إن كان غيا فإن يك حبهم رشدا أصبه
Syair ini adalah bukti bahwa Abu al-Aswad tidak ragu-ragu. Pendapat Abu al-Aswad terkait dengan hak untuk berbeda pendapat. Dia menggunakan ayat al-Qur’an sebagai dalil, yaitu ayat yang berbunyi: وإنا أو إياكم لعلى هدى أو فى ضلال مبين (سبأ : 24) Pada kesempatan yang lain, Abu al-Aswad juga menjelaskan bolehnya menggunakan perkataan لولاي . Hal ini sesuai dengan sebuah syair yang berbunyi: وكم موطن لولاي طيحت كما هوى # بأجرامه من قنة النيق منهرى 
2.Penggunaan pendapat ulama terdahulu. Hal ini misalnya yang terjadi pada ‘Abdullah bin Abi Ishaq yang membaca: قل هو الله أحدٌ الله الصمد , Kemudian dia mendengar Nasr bin ‘Asim membacanya dengan cara: قل هو الله أحدُ الله الصمد karena bertemunya dua tanwin. ‘Abdullah mengatakan kepada Nasr bahwa ‘Urwah membaca ayat tersebut dengan tanwin, tetapi Nasr mengatakan bahwa bacaan ‘Urwah tidak baik. Maka ‘Abdullah membaca ayat tersebut tanpa tanwin seperti yang dikatakan oleh Nasr. [12]
3. Perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat ini terkait dengan prinsip-prinsip yang dirumuskan sendiri oleh para ahli nahwu. Sebagai contoh adalah ‘Abdurrahman bin Hurmuz yang membaca ayat dengan bacaan: أو يأتيهم  العذاب قُبُلاً (الكهف : 55 .Hal ini berbeda dengan ‘Isa bin ‘Umar yang membaca: (أو يأتيهم العذاب قِبَلاً (الكهف : 55. ‘Abdullah bin Abu Ishaq juga membaca beberapa ayat dengan cara berbeda, misalnya:يا ليتنا نردَ ولا نكذبَ بآيات ربنا ونكونَ من المؤ منين (الأنعام :2 ) ( والزانيةَ والزانيَ (النور : 2 dan والسارقَ والسارقةَ (المائدة : 38
4. Pemeriksaan dan Penafsiran Para ahli nahwu mulai memeriksa kaidah dan menafsirkan teks sesuai dengan kaidah yang mereka susun. Sebagai contoh adalah perbedaan penafsiran antara ‘Isa bin ‘Umar dan ‘Amr bin al-‘Ala. Keduanya membaca sebuah ayat dengan cara yang sama, yaitu ayat: يا جبال أوبي معه والطيرَ (سبأ : 10) . Akan tetapi, keduanya berbeda dalam penafsiran. Bagi ‘Isa, cara pembacaan seperti di atas terkait dengan adanya nida’, sedangkan Abu ‘Amr menyatakan adanya idmar dengan سَخَّرْنَا seperti dalam ayat yang berbunyi: ولسليمان الريحَ (سبأ : 12) .
5. Pemberlakuan Aturan Nahwu. Pemberlakuan ini dilakukan oleh para ahli nahwu terkait dengan penggunaan bahasa Arab di kalangan umat Islam. Sebagai contoh adalah Abu Muslim yang menjadi pengajar khalifah Malik bin Marwan. Dia bertanya kepada seseorang mengenai ayat:(تأزهم أزا (مريم : 83 dan إذا الموءودة سئلت (التكوير : 8) ketika dipakai dalam contoh ungkapan يا فاعلٌ افعلْ . Maka orang itu menjawab dengan perkataan: يا آز اُز dan يا وائد اِد .Maka Abu Muslim merasa bahwa perkataan ini tidak pernah didengarnya dari orang Arab dan memutuskan untuk tidak digunakan di kalangan umat Islam. (Kitab Madaris An Nahwiyah)[13]

2.6. Konsep Nahwu Bashroh
Para ulama` nahwu bahsroh mereka dalam menerapkan konsep nahwu mereka tidak terikat dengan metode-metode yang ada. Karena dalam berpikir mereka lebih kuat dan bebas dan metodenya lebih terorganisir yakni mereka berpegang teguh pada dalil yang tsiqoh dan tatanan lisan Arab banyak berperan dikalangan mereka. Karena menurut mereka tatanan lisan Arab itu terpecaya dan bisa dijadikan landasan. Para ulama` nahwu basroh mereka tidak mau mengambil suatu dalil (bukti) jika tidak terdapat dalam alquran dan perkataan orang arab yang mereka akui kefasihannya dan jauh dari kesalahan. Dan mereka (Para ulama` nahwu basroh) juga belajar pada ulama` dan sastrawan karena mereka menganggap perkataan mereka bisa dijadikan landasan. Dan tidak salah jika Imam Suyuti berkata bahwa: bahwa aliran (madrasah) basroh adalah aliran yang paling benar dalam pengqiasannya karena tidak memperhatikan pada setiap apa yang mereka dengar dan tidak mengqiaskan pada sesuatu yang langka (شاذ). Pada hakikatnya para ulama` bashroh terpengaruh oleh lingkungannya dan mereka mengikuti dan terpengaruh oleh Mu`tazilah dalam hal mengandalkan aqal dalam berargumen dan membuang yang bertentangan dengannya dan meninggalkan yang langka atau jarang (شواذ) dalam bahasa. Oleh karena itu ulama` nahwu basroh dinamakan ahli mantik.

2.7. Paradigma Ulama Basroh
Orang yang berpradikma itu mengambil perumpamaan apa yang mereka lihat seperti apa yang mereka dengarkan dan mengabaikan siapa yang berpendapat, tapi kebanyakan dari orang yang bersaksi mendengarkan secara umum tidak bisa dijadikan dasar hukum. Orang kufah berpendapat segala sesuatu yang dia dengarkan dari orang arab dan mereka menjadikannya dasar untuk di qiyaskan, dan sesungguhnya orang kufah tidak mendokumentasikan apa yang mereka qiaskan dari bahasa arab, karena yang mereka qiyaskan masih ganjil dan langka, qias yang mereka pakai dengan materi yang mereka pelajari. Kita akan melihat bagaimana materi nahwu versi lama tentang basroh dan kufah. Abdul Ishaq menyalahkan kalimat berbahasa arab apabila kalimat tersebut keluar dari orang arab, dan Abdul Ishaq belajar kepada Farasdaq tentang bahasa dan bertukar pikiran tentang pelajaran, dan Anabighah belajar secara bertahap dalam bab yang mempelajari kekeliruan dalam I’rob, Syaibawiyah dan orang-orang basroh mereka menguatkan pendengarannya qiyas, mereka tidak mengambil qiyas kecuali apa yang mereka percaya. Syayuti meneliti tentang masalah qiyas dan beliau berkata: setujulah kalian sesungguhnya orang Basroh lebih benar masalah qiyas karena mereka tidak memperhatikan kepada apa yang mereka dengar dan tidak mengqiyaskan sesuatu yang langka, dan orang kufah lebih luas periwayatannya. Abu Barkah berkata tidak diketahui dari ulama’ basroh satu orangpun tentang ilmu nahwu dan bahasa yang mengutip dari ahlil kufah kecuali Abu Zaid maka sesungguhnya ia meriwayatkan dari yang mulya. Abu Khotim juga berkata jika kamu menafsirkan huruf al-quran yang bertentangan dan kamu menceritakan sesuatu kepada orang arab, maka ceritakannlah yang terpercaya. Sumber pempelajaran orang Basroh dan bersandar kepada beberapa sumber diantaranya ialah:
 1. Al-qu’an Orang Basroh bersandar kepada al-quran dan membangun ilmu nahwunya, al-quran salah satu sumber yang mereka percayai dari dasar nahwu mereka, ini tidak bisa diartikan orang orang kufah itu tidak menjadikan al-quran sebagai landasan mereka, dan itu dibahas di bab kuffayin.
2. syair jahiliyah dan islam Telah bersandar penyair jahiliyah dari keasliannya, dan dan keluar dari syair islam mereka mempunyai syair Farasdak dan Jarir.

2.8. Karekteristik Nahwu Bashroh
Doctor Makhzumi menyebutkan krarakteristik madrosah bashroh sebagai berikut:
1.      Ulama’ nahwu bashroh cenderung lebih pada qiyas, analogi.
2.      Kaidah bahasa yang dipakai lebih murni. Dari daerah-daerah mereka pilih kabilah-kabilah yang benar-benar kuat dalam memegang kemurnian bahasa, seperti kabilah Tamim, Qais, Asad, Thayyi', dan Hudzail.
3.      Disamping itu, dalam melakukan analogi mereka tidak segan-segan merujuk pada sumber utama ilmu bahasa Arab yaitu Al-Qur'an.
4.      Mereka tidak merujuk pada Hadits Nabi dalam melakukan analogi, karena pada waktu itu hadits belum dibukukan.
Doctor Abdu Ar-Rojihi menyebutkan karekteristik madrosah bashroh sebagai berikut:
1.      Pemakaian riwayat yang terseleksi.
2.      Tidak menggunakan hadist dalam melakukan analogi.[14]
Secara sederhana bisa diketahui bahwa nahwu aliran Bashrah adalah nahwu yang cenderung murni berdasarkan bahasa al-Qur’an dan bahasa dari suku-suku yang dikenal fasih bahasa Arabnya, seperti Qais dan Tamim, yang kebanyakan tinggal di Najd,Tihamah, dan Hijaz. Sedangkan nahwu Kufah cenderung mengikuti pola pemikiran fiqh di dalam meletakkan asal-usul, dasar-dasar dan kaidah-kaidah nahwu, di samping sumber pengambilannya yang lebih meluas hingga ke suku-suku yang tidak dikenal kefasihannya, seperti suku “al-Tsawin” dari Bani Asad di Yaman. Karakter dan teknik pengambilan yang berbeda,pada gilirannya membawa aliran nahwu Kufah berpredikat independen. Namun, predikat ini tidak secara mutlak, karena ia tetap mendasarkan pada apa yang telah ditetapkan Ulama Bashrah. Upaya nahwu Kufah untuk membuat “kepribadiannya” dilakukan dengan menganalisa ulang partikel dan kata, membuat istilah-istilah baru, atau terus melahirkan pandangan-pandangan baru.(ejournal.uin-malang.ac.id › ... › Ridwan -)
Adapun kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh kelompok Bashrah diantaranya:
1.Shifat hanya beramal pada nafi, istifham, dan maushuf. Baik itu secara maknawi, lafdhi ataupun taqdir (dikira-kirakan).
2.Yang merafa’kan mubtada’ adalah ibtida’ (karena posisinya di awal kalimat).
3.Fi’il harus mudzakar ketika digunakan untuk isim mudzakar, dan harus mu’anats ketika untuk isim mu’anats.
 4.Mashdar adalah asal dari kalimat, sedangkan fi’il merupakan musytaqnya. Dengan kata lain mashdar adalah asal dari fi’il.
5.Na’ib fa’il tidak boleh diganti dengan dharf, jer majrur atau mashdar selam ada maf’ul bihi.
 6.Tamyiz harus terbentuk dari isim nakirah
7.Kata (بئس) dan (نعم) adalah kata kerja, begitu pula fi’il ta’ajub
8.Tidak boleh membuat taukid dari isim nakirah.
9.Fi’il mudlari’ yang jatuh setelah (حتى), (أو) atau (فاء السببية) atau (واو المعية) dinashabkan dengan (أن ) yang harus tersimpan (mudlmar).
10.Fi’il mudlari’ mu’rab karena menyerupai isim fa’il.
11.Setelah (كى), أن tidak boleh ditampakkan, tetapi harus mudlmar (tersimpan)
12.(أن)Yang sudah dibuang (محذوفة)tidak bisa beramal lagi (tidak berfungsi manashabkan).(Syauqi Dlaif, 1976)[15]

2.9. Tokoh-Tokoh Nahwu Basroh
Sekalipun Abul Aswad Ad-Du'ali berjasa dalam memberi syakal Al- Qur'an, dia belum dapat dikatakan sebagai tokoh sejati dalam bidang Ilmu Nahwu, karena yang ia lakukan itu semata-mata usaha pengalihan kode bunyi vokal yang sudah ada ke dalam bentuk tulisan (berupa titik), dan belum sampai pada pembentukan kaidah-kaidah Ilmu Nahwu. Demikian juga, apa yang dilakukan oleh Yahya bin Ya'mur dan Nashr bin 'Ashim. Mereka masih membentuk beberapa istilah dan belum sampai pada generalisasi kaidah-kaidah. Tokoh nahwu generasi pertama yang sejati menurut Dlaif (1968:22-23) adalah Ibnu Abi Ishaq, kemudian ketiga muridnya, Isa bin Umar, Abu Amr bin Al-'Ala', dan Yunus bin Hubaib (Dlaif 1968:22).
Ibnu Abi Ishaq
Ia adalah Abdullah bin Ishaq (wafat 117H). Dialah orang yang pertama merumuskan kaidah-kaidah nahwu, menerapkan prinsip-prinsip analogi, dan menerangkan berbagai alasan secara linguistis. Kepeduliannya terhadap prinsip analogi tidak hanya ia terapkan pada masalahmasalah nahwu, tetapi juga ia tanamkan pada pola berpikir murid muridnya. Dengan metode ini ia banyak menentang Farazdaq, seorang penyair ulung yang dinilainya banyak menyalahi kaidah bahasa Arab. Misalnya, ia menyalahkan Farazdaq dalam syairnya: "wa 'adldlu zama:nin ya bna marwa:na lam yada'
minal ma:li illa: mus-hatan aw mujarrafu".
Kata mujarrafu (berakhir vokal /u/ karena dibaca rafa') menurutnya tidak benar , karena menyalahi kaidah nahwu. Kata itu seharusnya di baca mujarrafa (berakhir vokal /a/ atau nashab) karena diathafkan pada mushatan. Dengan penentangannya itu ia ingin menunjukkan bahwa seorang penyair, bagaimanapun fasihnya, tidak boleh seenaknya menyalahi kaidah nahwu. Keteguhannya berpegang pada analogi (qiyas) membuatnya tidak takut untuk kadang-kadang bertentangan dengan jumhurul qurra' (para ahli baca Al-Qur'an). Sebagai contoh ia berbeda dengan mereka dalam membaca ayat "as sa:riqu was sa:riqatu faqtha'u: aydiya huma:.....". Para qurra' membaca as sa:riqu was sa:riqatu dengan rafa' sebagai mubtada''subjek', yang khabar 'predikat'-nya berupa klausa faqtha'u: aydiya huma, sedangkanIbnu Abi Ishaq membacanya dengan nashab " as sa:riqa wassa:riqata" sebagai maf'ul bih 'objek pelengkap'. Sampai pada akhir hayatnya Ibnu Abi Ishaq tidak meninggalkan satu buku pun tentang nahwu. Ilmu yang berharga itu ia sampaikan kepada murid-muridnya secara lisan saja melalui muhadlarah-muhadlarah (kuliah- kuliah) dan pengajian-pengajian di berbagai tempat.[16]
Isa bin Umar Ats-Tsaqafiy
Ia seorang penduduk Basrah yang lahir di daerah Tsaqi:f, dan oleh karena itu dipanggil dengan gelar Ats-Tsaqafiy. Ia salah seorang murid dari Ibnu Abi Ishaq. Seperti gurunya, ia menjunjung tinggi prinsip analogi dan berusaha menerapkannya dalam menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan tata bahasa. Ia banyak mengkritik syair-syair yang menyalahi kaidah nahwu, baik syair yang ditulis oleh orang semasanya maupun oleh para pendahulunya, bahkan syair-syair jahiliy seperti karya Nabighah Adz-Dzubyani. Dalam beberapa bacaan Al-Qur'an ia juga berbeda pendapat dengan kebanyakan ulama, seperti pada ayat "Ha:?ula:?i bana:tiy hunna athharu lakum". Jumhur ulama membaca rafa' kata athharu sebagai khabar dari kata hunna, sedangkan ia membaca nashab kata tersebut sebagai hal dan menjadikan hunna sebagai dlamir fashl. Pengaruh lain yang nyata dirasakan oleh muridnya, seperti Khalil bin Ahmad dan generasi sesudahnya, adalah ide tentang taqdi:rul 'awa:mil almakhdzu: fah ( adanya unsur yang terdelisi dari struktur lahir kalimat). Isa bin 'Umar telah meletakkan dasar penting yang menunjukkan kedalaman rasa bahasanya. Ia memilih menashabkan kata-kata yang di kalangan orang Arab menjadi perdebatan; apakah kata itu dibaca nashab atau dibaca rafa'. Ia seakan merasakan dengan jelas bahwa orang Arab lebih senang nashab dari pada rafa' karena lebih ringan secara fonologis. Isa bin Umar kembali ke hadapan Tuhan dengan meninggalkan beberapa karya penting dalam bentuk risalah dan karangan, antara lain "Al- Ja:mi'" dan "Al-Ikmal".  Karya yang pertama memuat masalah-masalah dan kaidah-kaidah nahwu, sedangkan yang kedua merupakan penyempurnaan dari yang pertama (Dlaif, 1968:27).[17]
 Abu Amr bin Al-'Ala'
Ia lahir di Mekah pada tahun 70 H dan dibesarkan di Bashrah serta menetap disana sampai meninggal pada tahun 154 H. Ia juga termasuk salah satu murid dari Ibnu Abi Ishaq. Hanya saja, disamping dikenal sebagai ahli nahwu, ia dikenal sebagai ahli bacaan Al-Qur'an, penyair dan ahli perhitungan hari dan tanggal (hisab). Ketenarannya sebagai salah satu qurra:?ul qur?an as-sab'ah (tujuh orang yang dijadikan panutan dalam membaca Al-Qur'an) hampir mengalahkan ketenarannya sebagai ahli nahwu. Oleh karena itu Imam Sibawaih tidak meriwayatkan dari padanya masalah-masalah nahwu, kecuali beberapa masalah yang berkaitan dengan data kebahasaan secara umum. Namun demikian, dia juga meninggalkan beberapa gagasan nahwu yang orisinil, seperti pendapatnya tentang nashabnya kata rajulan dalam kalimat habbadza: muhammadun rajulan. Menurutnya kata rajulan itu dinashabkan karena menjadi hal, bukan tamyiz sebagaimana pendapat umum ahli nahwu.


Yunus bin Hubaib
Ia lahir pada tahun 94 H dan wafat pada tahun 182 H. Dalam umurnya yang cukup panjang itu berkesempatan melanglang buana dalam rangka memperdalam ilmu tentang bahasa Arab secara umum. Ia sempat berguru pada Ibnu Ishaq, Isa bin Umar, dan Abu Amr. Ia juga sempat tinggal beberapa lama di kalangan suku badui. Pengalamannya yang beragam itu mengantarkannya menjadi ahli bahasa dan dialek yang terkenal. Ia juga menyusun beberapa karangan tentang kebahasaan. Halaqah yangdiadakannya di Bashrah banyak diikuti oleh masyarakat dari berbagai penjuru kota itu. Dari halaqahnya itu terlahir beberapa ahli nahwu besar, misalnya Abu Ubaidah dan Sibawaih. Dalam bukunya yang terkenal, "Al- Kita:b", Sibawaih bahkan sering menyebut namanya. Akan tetapi penyebutan itu kebanyakan berkaitan dengan data kebahasaan, dan bukan dengan pendapatnya tentang nahwu, karena dengan masalah nahwu Sibawaih lebih cenderung pada pendapat Al-Khalil bin Ahmad. Dalam perkembangan selanjutnya, pendapat-pendapat Yunus dalam masalah nahwu kurang populer, karena banyak berbeda dengan pendapat Al-Kholil dan muridnya, Sibawaih yang kelak menjadi panutan bagi generasai sesudahnya. Diantara pendapat Yunus yang berseberangan denganpendapat Sibawaih adalah masalah afiksasi (ziyadah) pada kata seperti /qassama/. Menurut Yunus sisipan yang ada pada kata tersebut adalah /s/ yang pertama, sementara Sibawaih berpendapat sebaliknya, yaitu /s/ kedua yang merupakan imbuhan.[18]









BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dalam rangka memperluas wawasan tentang perkembangan Ilmu Nahwu, seorang linguis tidak bisa terlepas dari kajian historis. Para ulama terdahulu telah meninggalkan begitu banyak warisan berharga dalam bidang Ilmu Nahwu dan perkembangannya. Usaha yang telah dirintis oleh para ahli generasi pertama disambut dan ditindak lanjuti oleh generasai sesudahnya, sehingga kajian nahwu itu selalu berkesinambungan bak rantai yang tiada putus-putusnya. Hal itu dibuktikan oleh tumbuhnya aliranaliran besar dalam bidang Ilmu Nahwu dari masa-kemasa, seperti aliran Bashrah, aliran Kuffah, aliran Baghdad, aliran Andalus, dan aliran Mesir. Di samping aliran-aliran itu, sejarah juga mencatat nama-nama besar yang menjadi simbol bagi setiap aliran. Dari aliran Bashrah tercatat namanama seperti Abul Aswad, Al-Khalil, dan Sibawaih. Dari aliran Kuffah ada Al-Kisa'i, dan Tsa'lab. Sementara itu dari Baghdad nama Abu Ali Alfarisi, Ibnu Ginniy, dan Az-Zamakhsyari merupakan tokoh yang tak pernah terlupakan. Demikian juga dari aliran-aliran lainnya.














DAFTAR PUSTAKA

http:// bagaimanakah-proses-kelahiran-ilmu.html
Dhaif,Syauqi,Madaris an-nahwiyah:thob’ah 7,  Mesir, Daar Al Ma’rifah, (tanpa tahun)
Kholisin, Cikal Bakal Kelahiran Ilmu Nahwu
http:// studi-nahwu-mazhab-bashrah_9705.html
http://
http:// studi-nahwu-mazhab-bashrah_9705.html
http:// bagaimanakah-proses-kelahiran-ilmu.html
Tamim Mulloh, Al Basith fi ushulin nahwi wa madarisihi: thob’ah 1, Malang, dream litera, 2014 
http://forumstudinahwu.blogspot.com





[1] http:// bagaimanakah-proses-kelahiran-ilmu.html
[2] Syauqi Dhaif, madaris an-nahwiyah:thob’ah 7, Daar Al Ma’rifah, (tanpa tahun), hal:11
[3] Kholisin, Cikal Bakal Kelahiran Ilmu Nahwu 5
[4] http:// studi-nahwu-mazhab-bashrah_9705.html
[5] http://
[6] http:// studi-nahwu-mazhab-bashrah_9705.html
[7]Syauqi Dhoif, Madaris An-nahwiyah:  Thob’ah 7, Daarul ma’rifah, (Tanpa Tahun)hal: 13-14
[8] Ibid hal 15
[9] Kholisin, Cikal Bakal Kelahiran Ilmu Nahwu hal: 5- 7
[10] http:// bagaimanakah-proses-kelahiran-ilmu.html
[11]  Kholisin, Cikal Bakal Kelahiran Ilmu Nahwu hal 8

[12] http://forumstudinahwu.blogspot.com
[13] Syauqi Dhoif, Madaris An-nahwiyah:  Thob’ah 7, Daarul ma’rifah, (Tanpa Tahun)hal: 24 -27
[14] Tamim mulloh, Al Basith fi ushulin nahwi wa madarisihi: thob’ah 1,  dream litera, 2014  hal: 109
[15] http://forumstudinahwu.blogspot.com
[16] Syauqi Dhoif, Madaris An-nahwiyah:  Thob’ah 7, Daarul ma’rifah, (Tanpa Tahun)hal:23
[17] Ibid,25
[18] Ibid, 28-29


Suasana kelas Ushul Nahwu binaan Ustadz Tamim Mulloh






Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates