Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Jumat, 31 Mei 2013


Sebenarnya yang membuat segalanya terasa aneh adalah karena kita tak berpikir layaknya ke'aneh'an itu
Read more ...

Minggu, 26 Mei 2013

'Jarum' Harapan


   Mendung, dan semakin gelap. Sepuluh pagi, keramahan pagi memang tak menyambut kompleks pesarean Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono di kawasan Gunung Kawi. Namun kebiasaan umum warga yang bergantung pada keadaan alam tak berlaku 25 Mei 2013 itu. Cina, Bule maupun Lokal -atau Hindu, Buddha, Kong Hu Cu maupun Islam-, semua tetap tumplek dalam satu bangunan, pusat pesarean. Beragam alasan, beragam latar, satu ritual.
   'Slametan', nama ritual harian yang diklaim para 'pengurus' pesarean duo Eyang. Nasi berkat, kembang setaman, dan doa-doa jawa-'islam' menjadi syarat utama ritual tersebut. Namun kata itu, saya sedikit tak setuju, karena itu cuma sebuah manifestasi permohonan atas harapan-harapan, bukannya wujud syukur atas pencapaian yang telah diraih. Intinya ritual tersebut bukanlah slametan, melainkan permintaan - setidaknya menurut saya. Tapi, pengklaiman 'nyeleneh' seperti itu tentu tak bisa digugat, karena hak pribadi.
   Fenomena ini sangat nyentrik, bukannya karena ke'nyeleneh'an nama ataupun alasan melakukan ritual yang terkesan materialistis, tapi pelaksanaan ritual itu sendiri. Sekilas, ritual seragam oleh pelaku multi agama ini tampak biasa, karena ketidak'jawa'an pelaku ritual kejawen ini, yang membuat terlihat seperti orang ngelindur. Namun bila sedikit saja kita tengok lebih dalam, sebenarnya di balik fenomena ini tampak jati diri karakter bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.
   Beribu tahun lalu, penghuni nusantara ini adalah bangsa yang 'agung', bangsa yang tanpa merusak keharmonisan alam mengenal berbagai macam budaya dan agama - meski akhirnya sejarawan malas mengungkit fakta ini dan menepisnya dengan sebutan agama animisme-dinamisme. Dan dengan berbagai batas perbedaan ini, mereka tak pernah mempersoalkannya, sangat mungkin karena rasa 'tepa selira' yang sudah tertanam dalam karakter bangsa ini. Perbedaan adalah anugerah, semua sepakat dan saling mengerti. Akhirnya, tumbuhlah bangsa nusantara ini dengan damai dan sejahtera, sebuah  utopia yang melegenda.
   Namun semua berubah, terutama -yang kita tahu- sejak Hindu-Buddha bertandang ke negeri nusantara. Budaya kearifan lokal murni bangsa akhirnya terusik dan berasimilasi dengan nilai luar yang belum begitu bersahabat dengan adanya perbedaan -terbukti dengan sistem kasta. Muncullah bentuk-bentuk kerajaan kuno di nusantara, dibarengi dengan rasa kabanggaan diri yang bertolak dari 'tepa selira'.
   Perlahan, namun pasti. Kearifan lokal murni bangsa semakin tergerus. Bahkan Empu Tantular -yang memahami karakter bangsa dan kemudian mengukirnya dalam Sutasoma- mengakui kemerosotan moral dan pasrah padanya. Dan kini kita cucu-cucunya terlampau sering menemui perselisihan di berbagai lapisan masyarakat, walau karena perihal yang sepele.
   Tergerus... memang. Sirna... makin. Grafik pertahanan moral kita menunjukkan palung yang tak berdasar. Namun rupanya Tuhan masih mengasihi bangsa yang semakin renta ini. Oleh-Nya. dipertahankan mutiara nilai kearifan lokal Tunggal Ika, meski terselip jauh dalam tumpukan 'jerami' kebobrokan moral. Dan 'jarum' harapan itu, bisa kita temukan do komplek pesarean Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono.
Read more ...

Jumat, 10 Mei 2013

Pola Pikir

Linier : berpikir searah dengan opini masyarakat di sekitar, tanpa mencoba memikirkannya lebih lanjut.
Zigzag : berpikir menurut seluruh pengetahuannya, berubah-ubah antara pro dan kontra, terkadang dibilang plin-plan.
Sirkular : berpikir dengan asumsi nilai kembali nilai yang ditujunya. Bila diniatkan dengan positif, maka hasilnya pasti positif. Bila diniatkan negatif maka hasilnya akan negatif. Contoh: pemikiran yang agamawi murni.
Spiral : berpikir dengan sangat terbuka, melihat dari berbagai sudut pandang, menyediakan ruang pemakluman terhadap sesuatu yang belum dimengerti dengan tidak sembarang memutuskan dan menyatakan apologi. Tidak memunculkan 1 jawaban yang subyektif, tetapi jawaban yang netral, obyektif dan bisa diterima oleh semua kalangan. Contoh: Nabi Muhammad






Draft by FiNuAz
Read more ...

Kamis, 09 Mei 2013

Asa


Kita ini Agent of Change!” seorang muda di depan saya menyalakkan orasinya saat orientasi kampus. Cukup menggugah saya, meski saya menyangsikannya memahami apa yang dikatakannya barusan.
Darah muda, darahnya para remaja. Yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah.” Saya hanya manggut-manggut mendengarkan alunan dangdut Rhoma Irama ini. Tak salah, orang muda memang memiliki ego yang tinggi. Ego tinggi berarti rawan pada kelakuan buruk. Dan ini terbukti pada hari-hari ini, media banya membicarakan kerusakan moral yang didalangi oleh para pemuda bangsa. Meskipun begitu, tiap orang – saya yakin demikian – sangat membanggakan kehidupan muda mereka. Mimpi, harapan, cinta, semua kesenangan dalam hidup begitu lekat dengan masa muda.
Berulang kali pemuda dijadikan tokoh utama dalam cerita-cerita fiksi. Sekali, pernah saya membaca dalam sebuah manga action dari Jepang, mengulas sebuah alasan mengapa pemuda selalu dijadikan harapan untuk perubahan besar. Tokoh manga yang tua itu berkata pada si tokoh utama yang muda, “Kami orang tua tidak bias meneruskan perjuangan, sebab kami sudah melihat batas kemampuan kami. Dan kalian para pemuda masih punya waktu untuk mencapai batas yang lebih tinggi.”
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Sebenarnya, atau dalam kebenaran publik sejarah banyak menorehkan kata ‘pemuda’ dalam epik perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia,apalagi setelah Een Eereschuld (hutang kehormatan) muncul dari pena Van Deventer, memaksa Belanda membuka babak baru kolonialisasi di Indonesia, Politik Balas Budi. Mungkin saja tidak disengaja,, kemunculan era baru bentukan koloni yang dimaksudkan untuk memperbaiki citranya di dunia malah menyemaikan sebuah gagasan baru dalam benak pelajar, golongan muda Indonesia yang beruntung. Pun pada masa pendudukan Jepang, ‘kesalahan’ yang serupa juga terjadi, kala pemuda dilatih di berbagai bidang, termasuk militer. Maksud untuk jadi anjing suruhan malah akhirnya jadi pecut makan tuannya, pemuda yang baru dididik dan dilatih ini seringkali ngelunjak, mengkhianati tuannya sendiri dengan memerdekakan dirinnya sendiri di waktu colongan. Kurang ajar, itulah sifat utama pemuda Indonesia di mata dunia. Entah baik atau buruk, tetapi tak bias dipungkiri bahwa Indonesia berhasil berkat kekurangajaran ini.
Habis satu masalah, buntunya pun mengikuti. Tak cukup merdeka saja untuk mencapai kesejahteraan publik, utopia tiap bangsa. Tak lama pasca proklamasi, pemuda Indonesia harus turun kembali ke medan perjuangan. Pasalnya, pemerintah yang diandalkan rakyat rupanya membelot, menguntungkan dirinya sendiri dan menyengsarakan rakyat dengan politik otoriter. Walaupun upaya pemuda berhasil, lagi-lagi tak sedikit korban jatuh di pihak rakyat, pun pemuda sendiri.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Memang benar, sebelum tiba kehancuran hakiki masalah takkan pernah habis, lagi dan datang lagi. Rupanya setelah rea reformasi dibentuk, masalah semakin banyak dan kompleks, menampakkan cacat bangsa ini. Apalagi korupsi. Agaknya sangat terlambat kita sadari – atau mungkin sengaja – korupsi menggerogoti bangsa ini. Namun bila kita mau menilik lebih tajam, sebenarnya permasalahan ini sudah terlanjur basi. Oknum-oknum pemerintahan sudah terbiasa dengan lingkungan – budaya – korupsi, meski awalnya mereka tak memiliki itikad memperkaya diri. Namun – meski tidak semua – ternyata bau korupsi lebih merangsang hasrat tiap oknum pemerintah yang masih nggumun dengan harta dan kuasa, membuatnya menggadaikan loyalitas terhadap negeri dan menarik kesempatan kotor.Bahkan lebih dari itu, bau korupsi – musuh kita yang ‘baru’ – ini sudah menjangkiti hamper seluruh elemen yang bercelah keuntungan pribadi, termasuk di dunia swasta. Kenyataan ini sudah begitu lekat dalam kehidupan kita, tak ayal bila ‘budaya korupsi’ adalah kata yang pantas sebagai gelarnya.
Satu pengalaman menarik yang saya alami kala terlibat dalam kepanitiaan sebuah acara. Ternyata pengeluaran yang terjadi di lapangan lebih sedikit dari yang sudah dijadwalkan di proposal. Alhasil menghasilkan sisa yang menganggur. Dalam protokoler organizer – katanya- saldo akhir keuangan harus nol, tak kurang tak lebih, titik. Sejenak saya merasa aneh, saya merasakan sebuah indikasi korupsi ketika kawan senior saya membelanjakan uang sisa tersebut untuk dimakan sendiri. “Ini sudah biasa, kalau tersisa malah salah, karena perhitungannya keliru.” Katanya sambil menertawakan saya.
Ternyata pengalaman saya ini memang hal yang marak terjadi. Banyak saya temukan kejadian serupa di kepanitiaan lain, bahkan di lingkup pemuda. Dan semua kejadian ini sudah dianggap biasa. Entah mana yang benar, tetapi fakta ini – saya berani menyimpulkan – sudah menunjukkan bahwa korupsi sudah sangat lekat dengan kehidupan kita.
Korupsi, begitulah namanya. Akhir-akhir ini seringkali terngiang di telinga kita, terutama setelah KPK diresmikan. Berkat kemunculannya, lumayan, banyak orang yang akhirnya tersadar akan kekacauan besar dalam sistem keuangan di negeri ini. Namun, sangat disayangkan, kemunculan KPK ini nyatanya tidak bisa mengurangi jumlah korupsi yang terjadi. Begitu sedikit kasus yang bisa terselesaikan, jauh lebih sedikit dari kasus yang ditangani, apalagi kasus yang belum bisa ditangani. Dan itu masih jauh lebih sedikit dari praktik korupsi yang terjadi.
Bila direnungkan, sangat terlambat kita menyadari kebobolan besar di negeri ini, membuat penanganan masalah ini terlambat pula. Kini, banyak orang yang meyakini, umur negeri ini tidak akan lama lagi. Beragam orang sok menyebut angka, berlagak dukun meramal waktu kematian bangsa ini.
Pupus harapan orang yang sudah terlanjur tua. Bahkan mereka pun kecewa pada dirinya yang mereka piker terlalu cepat menua, menuju ujung keterbatasan tanpa guna sedikit pun. Tak ada yang bisa diharapkan lebih jauh dari mereka golongan tua, karena hampir semuanya terkotak dalam kehidupan pribadinya. Golongan rendah hanya memikirkan perut dan golongan atas hanya sibuk mempertahankan posisinya, tak lain untuk hasratnya sendiri. Ada pula golongan tengah yang mau menyumbangkan pikiran, namun mereka sudah terlalu renta untuk mengobarkan semangat juangnya. Bukan mereka yang bisa diandalkan.
Namun di samping kenyataan itu masih ada secercah harapan – setidaknya saya mempercayainya – dari golongan tengah yang tidak memikirkan perutnya, pun kedudukannya. Ada orang-orang yang masih beritikad baik mensejahterakan bangsa, punya semangat juang tinggi dan kekuatan yang besar. Harapan terakhir bangsa, orang-orang yang masih murni hatinya, belum banyak hasratnya terhadap harta dan kuasa. Sebuah generasi baru pemimpin masa depan yang masih bisa dipercayakan, dan mau tak mau dipercayakan amanah negeri ini, merekalah Pemuda.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Read more ...

Rabu, 08 Mei 2013

Daun : Goenawan Mohamad

Kami berjalan sore-sore menyusuri desa Prancis tua itu, yang membanggakan diri dengan taman rajanya yang luas, dari zaman Louis XIV. Musim gugur seperti membentangkan permadani Turki pada daun-daun agak di kejauhan. Di belakang kami suara angin. Tak ada deru mobil. Hanya sesekali bel sepeda.
Aku menyukai tempat ini,” kata teman saya, seorang penulis tak terkenal kelahiran Belgia. Ia memang tinggal di desa itu, sejak beberapa belas tahun.
Aku menyukai tempat ini lebih dari banyak tempat di Eropa,” katanya setengah mengulang. Ketika kami selesai satu jam berjalan – menyeberangi taman dan hutan perburuan, melihat kolam dan pohon-pohon yang membisu – te3man itu menunjuk ke satu tempat agak di tepi jalan. Sebuah kafe kecil. Kami pun ke sana, duduk, memesan sherry.
Tempat itu lengang tampaknya, tapi agak di bagian dalam tampak lima pasang anak muda merayakan sebuah perkawinan. Mereka menari dengan lagu pada akordeon. Pengantin dusun yang riang.
Apakah jadinya hidup ini jika kegembiraan kecil seperti itu hilang, jika kafe kecil ini berubah jadi restoran besar, jika desa ini berubah jadi Paris atau New York?” teman saya terus berkata-kata. Saya memandangi pasangan-pasangan itu, yang menari, dengan gelas anggur di tangan, dan dengan ketawa dan nyanyi yang mulai terhuyung-huyung.
Karena itu, kau beruntung, di Indonesia,” kata teman saya pula. “Orang masih bisa menghibur diri, menyanyi dan menari, dan tak cuma menunggu acara music televise. Kau tentu menyukai dusun-dusun di khatulistiwa itu, bukan? Mungkin lebih nyaman dari ini?”
Saya mengangguk, “ya, ya”, dan mencoba mengingat dusun-dusun yang pernah saya kenal.
Di sana memang ada kegembiraan, juga pengantin, meskipuun tanpa tarian dan anggur. Di sana ada kedai, juga orang menembang atau bermain gamelan. Tapi di sana ada kemiskinan. Dan kepadatan.
Di Dunia ketiga orang berseruuntuk industrialisasi, modernisasi, obil, tv, pabrik, dan entah apa lagi didatangkan. Apa yang sebenarnya hendak didapat? Kebahagiaan? Lalu teman itu memungut selembar daun yang jatuh, dan menciumnya. “harum daun ini adalah sebagian dari surga yang hampir hilang,” katanya lagi.
Maka, Dunia Ketiga tak perlu kehilangan haru daun jati,” tiba-tiba ia seperti menasihati.”Tutup pintu kalian dari angin burukm tumbuhlah seperti padi tumbuh, dengan sifat-sifatnya sendiri.”
Sore mulai gelap. Rombongan pengantin itu masih menyanyi, sampai pada lagu yang tiba-tiba membuat mata saya nyalang: melodi itu pernah diajarkan kakak saya, dulu, jauh, di sebuah dusun di Indonesia. Bagaimana melodi itu bisa dating menyeberangi lautan dan benua, tak tahulah saya. Saya teringat radio besar ayah di pojok rumah. Dan saya teringat tiang-tiang listrik, tempat burung-burung hinggap sebelum magrib. Seakan unggas itu mendapatkan tempat beristirahat.
Dunia Ketiga pun membangun tiang-tiang listrik juga – lebih banyak. Bung Karno menyuruh orang membongkar alam, bikin telaga buatan dan Jatiluhur, juga pabrik baja dan stasiun tv. Orang komunis bicara akan membawa abad ke-20 ke antara pematang sawah. Orde Baru memasang satelit, memperkenalkan padi unggul, dan bahkan para pesindennya menembangkan semboyan “modernisasi desa”. Tampaknya, pilihan memang tak banyak. Mungkin itu-itu juga, dengan pelbagai variasinya. Untuk melawan kemiskinan, untuk mengurangi tekanan kepadatan.
Saya tak tahu apa yang harus saya katakana kepada teman saya. Bahwa ia bicara klise, mengulang suara romantic, mencari Dunia Ketiga yang sebenarnya hanya imajiner karena ia kehilangan sesuatu di Dunia Pertama? Tapi ia bisa mengatakan seperti Dr. Sutomo mengatakan setengah abad yang silam: berhati-hatilah. Kesalahan yang pernah dialamu Dunia Pertama, toh bisa dihindari. “Janganlah terjadi yang kita juga akan menderita beberapa ‘kesedihan dan kesakitan’ masyarakat, seperti di Benua Eropa . . .,” tulis Sutomo, tahun 1936.
Masalahnya, kemudian: apa pula yang dianggap “kesedihan dan kesakitan?” Dan oleh siapa? Oleh mereka yang tak ingin kehilangan surga semula yang lebih tenteram? Atau oleh mereka yang menginginkan surga baru? Dua sisi itu adalah kenyataan-kenyataan kita, dan dua sisi itu bergolak di tengah kita.
Dan pergulatan antara keduanya bukanlah sekadar pergulatan antara keindahan daun dan kemegahan pabrik. Yang terjadi akhirnya adalah pergulatan yang lebih kasar: pergulatan kepentingan – mungkin kepentingan seorang atau lebih, nun di atas sana, yang tak semua kita tahu.

Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 29 Maret 1986
Read more ...

Kamis, 02 Mei 2013

Pahala takut kepada Allah


  Dalam sebuah Hadits Qudsi, ada riwayat mengenai balasan yang diberikan Allah kepada orang yang takut kepada-Nya
Rasulullah bersabda, “Ada seorang lelaki yang tidak pernah berbuat kebajikan sama sekali. Lelaki itu berwasiat kepada keluarganya, ‘Jika aku mati, maka bakarlah aku hingga lumat menjadi abu. Kemudian, taburkanlah sebagian abu itu di daratan dan sebagian lagi di laut. Demi Allah, jika Allah sampai menghisabku, pasti Dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun di alam semesta!’
  Tatkala lelaki itu meninggal, keluarganya melaksanakan apa yang telah dia wasiatkan kepada mereka. Lalu, Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu yang disebar di daratan itu dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan debu yang disebar di lautan itu.
Kemudian, Allah SWT bertanya kepada lelaki itu (setelah dihidupkan kembali), ‘Mengapa kau lakukan ini?’
  Lelaki itu menjawab, ‘Karena aku takut kepada-Mu Tuhanku, dan Engkau lebih tahu itu.’
  Allah SWT lalu mengampuninya.”
  Kisah dalam Hadits Qudsi ini begitu menggelitik dan penuh hikmah. Seseorang yang selalu berbuat maksiat dan tidak pernah beramal shalih sedikit pun, masih memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Keagungan Allah ada di depan matanya, sehingga dia takut akan hisab dan azab Allah atas perbuatannya di dunia.
  Ketakutannya ini membuatnya berwasiat bodoh. Setelah mati, dia ingin mayatnya dibakar dan abunya disebar di daratan dan lautan. Dengan begitu, dia berharap tidak akan bisa dihisab oleh Allah SWT. Dia ingin selamat dari azab Allah SWT. Dia yakin Allah itu ada. Dia pun yakin, hisab Allah itu ada dan hisab itu menunggu satelah kematiannya. Dia ingin menyelamatkan dirinya dengan cara menyebar lumatan tubuhnya di darat dan di laut.
  Namun, Allah Mahakuasa untuk tetap menghisabnya. Tidak ada yang luput dari hisab-Nya. Pada akhirnya, Allah mengampuni lelaki itu berkat rasa takutnya pada keagungan Allah SWT.
  Hikmah yang dapat diambil dari kisah tadi adalah sekecil apa pun keimanan dalam dada seseorang (yaitu keyakinan akan adanya Allah, hisab, dan keadilan Allah) dapat mendeatangkan ampunan dan rahmat Allah SWT. Bagaimana jika rasa takut kepada Allah itu dihadirkan setiap saat dengan disertai amal shalih? Tentu, pahala yang disediakan Allah, akan lebih besar dan agung.
   Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman dan memberikan kabar gembira, “Dan ada pun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS.         An-Naazi’aat [79]: 40-41)

Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Read more ...

Rabu, 01 Mei 2013

Kalimat Pengusir Maksiat


  Seorang ulama terkemuka Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari menuturkan kisah dirinya, “Ketika berumur tiga tahun, aku ikut pamanku yaitu Muhammad bin Sanwar untuk melakukan qiyamullail. Aku melihat cara shalat pamanku dan aku menirukan gerakannya.
  Suatu hari, paman berkata kepadaku, ‘Apakah kau mengingat Allah, yang menciptakanmu?’
  Aku menukas, ‘Bagaimana caranya aku mengingatnya?’
  Beliau menjawab, ‘Anakku, jika kau berganti pakaian dan ketika hendak tidur, katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakkan lisanmu, ‘Allah ma’i...Allahu naadhiri... Allahu syaahidi!’ (Artinya, Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan aku!)
  Aku menghafalkan kalimat itu, lalu mengucapkannya bermalam-malam. Kemudian, aku menceritakan hal ini kepada paman.
  Pamanku berkata, ‘Mulai sekarang, ucapkan dzikir itu sepuluh kali setiap malam.’
  Aku melakukannya, aku resapi setiap maknanya, dan aku merasakan ada kenikmatan dalam hatiku. Pikiran terasa terang. Aku merasa senantiasa bersama Allah SWT.
  Satu tahun setelah itu, paman berkata ‘Jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu, dan langgengkanlah sampai kau masuk kubur. Dzikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan di akhirat. Lalu pamanku berkata ‘Hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai oleh allah, dilihat Allah, dan disaksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’
  Kalimat Allahu ma’i. Allahu naadhiri. Allahu yaahidi! sangat terkenal di kalangan ulmama arif billah. Bahkan, Syeikh Al-Azhar, Imam Abdul Halim Mahmud, yang dikenal sebagai ulama yang arif billah meganjurkan kepada kaum Muslimin untuk menancapkan kalimat ini di dalam hati. Maknanya sangat dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa ma’iyatullah (selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah SWT, di mana dan kapan saja).
   Pada akhirnya, rasa ini akan menumbuhkan taqwa yang tinggi kepada Allah SWT. Kalau sudah begitu, apakah orang yang merasa selalu disertai, dilihat, dan disaksikan Allah akan melakukan maksiat?

Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates