Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.
Jumat, 31 Mei 2013
Kategori
Puing pesarean
bukan Tuhan
Minggu, 26 Mei 2013
'Jarum' Harapan
Mendung, dan semakin gelap. Sepuluh pagi, keramahan pagi memang tak menyambut kompleks pesarean Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono di kawasan Gunung Kawi. Namun kebiasaan umum warga yang bergantung pada keadaan alam tak berlaku 25 Mei 2013 itu. Cina, Bule maupun Lokal -atau Hindu, Buddha, Kong Hu Cu maupun Islam-, semua tetap tumplek dalam satu bangunan, pusat pesarean. Beragam alasan, beragam latar, satu ritual.
'Slametan', nama ritual harian yang diklaim para 'pengurus' pesarean duo Eyang. Nasi berkat, kembang setaman, dan doa-doa jawa-'islam' menjadi syarat utama ritual tersebut. Namun kata itu, saya sedikit tak setuju, karena itu cuma sebuah manifestasi permohonan atas harapan-harapan, bukannya wujud syukur atas pencapaian yang telah diraih. Intinya ritual tersebut bukanlah slametan, melainkan permintaan - setidaknya menurut saya. Tapi, pengklaiman 'nyeleneh' seperti itu tentu tak bisa digugat, karena hak pribadi.
Fenomena ini sangat nyentrik, bukannya karena ke'nyeleneh'an nama ataupun alasan melakukan ritual yang terkesan materialistis, tapi pelaksanaan ritual itu sendiri. Sekilas, ritual seragam oleh pelaku multi agama ini tampak biasa, karena ketidak'jawa'an pelaku ritual kejawen ini, yang membuat terlihat seperti orang ngelindur. Namun bila sedikit saja kita tengok lebih dalam, sebenarnya di balik fenomena ini tampak jati diri karakter bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.
Beribu tahun lalu, penghuni nusantara ini adalah bangsa yang 'agung', bangsa yang tanpa merusak keharmonisan alam mengenal berbagai macam budaya dan agama - meski akhirnya sejarawan malas mengungkit fakta ini dan menepisnya dengan sebutan agama animisme-dinamisme. Dan dengan berbagai batas perbedaan ini, mereka tak pernah mempersoalkannya, sangat mungkin karena rasa 'tepa selira' yang sudah tertanam dalam karakter bangsa ini. Perbedaan adalah anugerah, semua sepakat dan saling mengerti. Akhirnya, tumbuhlah bangsa nusantara ini dengan damai dan sejahtera, sebuah utopia yang melegenda.
Namun semua berubah, terutama -yang kita tahu- sejak Hindu-Buddha bertandang ke negeri nusantara. Budaya kearifan lokal murni bangsa akhirnya terusik dan berasimilasi dengan nilai luar yang belum begitu bersahabat dengan adanya perbedaan -terbukti dengan sistem kasta. Muncullah bentuk-bentuk kerajaan kuno di nusantara, dibarengi dengan rasa kabanggaan diri yang bertolak dari 'tepa selira'.
Perlahan, namun pasti. Kearifan lokal murni bangsa semakin tergerus. Bahkan Empu Tantular -yang memahami karakter bangsa dan kemudian mengukirnya dalam Sutasoma- mengakui kemerosotan moral dan pasrah padanya. Dan kini kita cucu-cucunya terlampau sering menemui perselisihan di berbagai lapisan masyarakat, walau karena perihal yang sepele.
Tergerus... memang. Sirna... makin. Grafik pertahanan moral kita menunjukkan palung yang tak berdasar. Namun rupanya Tuhan masih mengasihi bangsa yang semakin renta ini. Oleh-Nya. dipertahankan mutiara nilai kearifan lokal Tunggal Ika, meski terselip jauh dalam tumpukan 'jerami' kebobrokan moral. Dan 'jarum' harapan itu, bisa kita temukan do komplek pesarean Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono.
Perlahan, namun pasti. Kearifan lokal murni bangsa semakin tergerus. Bahkan Empu Tantular -yang memahami karakter bangsa dan kemudian mengukirnya dalam Sutasoma- mengakui kemerosotan moral dan pasrah padanya. Dan kini kita cucu-cucunya terlampau sering menemui perselisihan di berbagai lapisan masyarakat, walau karena perihal yang sepele.
Tergerus... memang. Sirna... makin. Grafik pertahanan moral kita menunjukkan palung yang tak berdasar. Namun rupanya Tuhan masih mengasihi bangsa yang semakin renta ini. Oleh-Nya. dipertahankan mutiara nilai kearifan lokal Tunggal Ika, meski terselip jauh dalam tumpukan 'jerami' kebobrokan moral. Dan 'jarum' harapan itu, bisa kita temukan do komplek pesarean Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono.
Kategori
Esai dan Opini
bukan Tuhan
Jumat, 10 Mei 2013
Pola Pikir
Linier : berpikir searah dengan opini masyarakat di sekitar, tanpa
mencoba memikirkannya lebih lanjut.
Zigzag : berpikir menurut seluruh pengetahuannya, berubah-ubah antara
pro dan kontra, terkadang dibilang plin-plan.
Sirkular : berpikir dengan asumsi nilai kembali nilai yang ditujunya.
Bila diniatkan dengan positif, maka hasilnya pasti positif. Bila
diniatkan negatif maka hasilnya akan negatif. Contoh: pemikiran yang
agamawi murni.
Spiral : berpikir dengan sangat terbuka, melihat dari berbagai sudut
pandang, menyediakan ruang pemakluman terhadap sesuatu yang belum
dimengerti dengan tidak sembarang memutuskan dan menyatakan apologi.
Tidak memunculkan 1 jawaban yang subyektif, tetapi jawaban yang
netral, obyektif dan bisa diterima oleh semua kalangan. Contoh: Nabi
Muhammad
Draft by FiNuAz
Kategori
Esai dan Opini
bukan Tuhan
Kamis, 09 Mei 2013
Asa
“Kita ini Agent of Change!” seorang muda di depan saya menyalakkan orasinya saat orientasi kampus. Cukup menggugah saya, meski saya menyangsikannya memahami apa yang dikatakannya barusan.
“Darah muda, darahnya para remaja.
Yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah.” Saya hanya
manggut-manggut mendengarkan alunan dangdut Rhoma Irama ini. Tak
salah, orang muda memang memiliki ego yang tinggi. Ego tinggi berarti
rawan pada kelakuan buruk. Dan ini terbukti pada hari-hari ini, media
banya membicarakan kerusakan moral yang didalangi oleh para pemuda
bangsa. Meskipun begitu, tiap orang – saya yakin demikian –
sangat membanggakan kehidupan muda mereka. Mimpi, harapan, cinta,
semua kesenangan dalam hidup begitu lekat dengan masa muda.
Berulang kali pemuda dijadikan tokoh
utama dalam cerita-cerita fiksi. Sekali, pernah saya membaca dalam
sebuah manga action dari Jepang, mengulas sebuah alasan mengapa
pemuda selalu dijadikan harapan untuk perubahan besar. Tokoh manga
yang tua itu berkata pada si tokoh utama yang muda, “Kami orang tua
tidak bias meneruskan perjuangan, sebab kami sudah melihat batas
kemampuan kami. Dan kalian para pemuda masih punya waktu untuk
mencapai batas yang lebih tinggi.”
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Sebenarnya, atau dalam kebenaran
publik sejarah banyak menorehkan kata ‘pemuda’ dalam epik
perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia,apalagi setelah Een
Eereschuld (hutang
kehormatan) muncul dari pena Van Deventer, memaksa Belanda membuka
babak baru kolonialisasi di Indonesia, Politik Balas Budi. Mungkin
saja tidak disengaja,, kemunculan era baru bentukan koloni yang
dimaksudkan untuk memperbaiki citranya di dunia malah menyemaikan
sebuah gagasan baru dalam benak pelajar, golongan muda Indonesia yang
beruntung. Pun pada masa pendudukan Jepang, ‘kesalahan’ yang
serupa juga terjadi, kala pemuda dilatih di berbagai bidang, termasuk
militer. Maksud untuk jadi anjing suruhan malah akhirnya jadi pecut
makan tuannya, pemuda yang baru dididik dan dilatih ini seringkali
ngelunjak, mengkhianati tuannya sendiri dengan memerdekakan dirinnya
sendiri di waktu colongan. Kurang ajar, itulah sifat utama pemuda
Indonesia di mata dunia. Entah baik atau buruk, tetapi tak bias
dipungkiri bahwa Indonesia berhasil berkat kekurangajaran ini.
Habis satu masalah, buntunya pun
mengikuti. Tak cukup merdeka saja untuk mencapai kesejahteraan
publik, utopia tiap bangsa. Tak lama pasca proklamasi, pemuda
Indonesia harus turun kembali ke medan perjuangan. Pasalnya,
pemerintah yang diandalkan rakyat rupanya membelot, menguntungkan
dirinya sendiri dan menyengsarakan rakyat dengan politik otoriter.
Walaupun upaya pemuda berhasil, lagi-lagi tak sedikit korban jatuh di
pihak rakyat, pun pemuda sendiri.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Memang benar, sebelum tiba kehancuran
hakiki masalah takkan pernah habis, lagi dan datang lagi. Rupanya
setelah rea reformasi dibentuk, masalah semakin banyak dan kompleks,
menampakkan cacat bangsa ini. Apalagi korupsi. Agaknya sangat
terlambat kita sadari – atau mungkin sengaja – korupsi
menggerogoti bangsa ini. Namun bila kita mau menilik lebih tajam,
sebenarnya permasalahan ini sudah terlanjur basi. Oknum-oknum
pemerintahan sudah terbiasa dengan lingkungan – budaya – korupsi,
meski awalnya mereka tak memiliki itikad memperkaya diri. Namun –
meski tidak semua – ternyata bau korupsi lebih merangsang hasrat
tiap oknum pemerintah yang masih nggumun
dengan harta dan kuasa, membuatnya menggadaikan loyalitas terhadap
negeri dan menarik kesempatan kotor.Bahkan lebih dari itu, bau
korupsi – musuh kita yang ‘baru’ – ini sudah menjangkiti
hamper seluruh elemen yang bercelah keuntungan pribadi, termasuk di
dunia swasta. Kenyataan ini sudah begitu lekat dalam kehidupan kita,
tak ayal bila ‘budaya korupsi’ adalah kata yang pantas sebagai
gelarnya.
Satu pengalaman menarik yang saya
alami kala terlibat dalam kepanitiaan sebuah acara. Ternyata
pengeluaran yang terjadi di lapangan lebih sedikit dari yang sudah
dijadwalkan di proposal. Alhasil menghasilkan sisa yang menganggur.
Dalam protokoler organizer – katanya- saldo akhir keuangan harus
nol, tak kurang tak lebih, titik. Sejenak saya merasa aneh, saya
merasakan sebuah indikasi korupsi ketika kawan senior saya
membelanjakan uang sisa tersebut untuk dimakan sendiri. “Ini sudah
biasa, kalau tersisa malah salah, karena perhitungannya keliru.”
Katanya sambil menertawakan saya.
Ternyata pengalaman saya ini memang
hal yang marak terjadi. Banyak saya temukan kejadian serupa di
kepanitiaan lain, bahkan di lingkup pemuda. Dan semua kejadian ini
sudah dianggap biasa. Entah mana yang benar, tetapi fakta ini –
saya berani menyimpulkan – sudah menunjukkan bahwa korupsi sudah
sangat lekat dengan kehidupan kita.
Korupsi, begitulah namanya.
Akhir-akhir ini seringkali terngiang di telinga kita, terutama
setelah KPK diresmikan. Berkat kemunculannya, lumayan, banyak orang
yang akhirnya tersadar akan kekacauan besar dalam sistem keuangan di
negeri ini. Namun, sangat disayangkan, kemunculan KPK ini nyatanya
tidak bisa mengurangi jumlah korupsi yang terjadi. Begitu sedikit
kasus yang bisa terselesaikan, jauh lebih sedikit dari kasus yang
ditangani, apalagi kasus yang belum bisa ditangani. Dan itu masih
jauh lebih sedikit dari praktik korupsi yang terjadi.
Bila direnungkan, sangat terlambat
kita menyadari kebobolan besar di negeri ini, membuat penanganan
masalah ini terlambat pula. Kini, banyak orang yang meyakini, umur
negeri ini tidak akan lama lagi. Beragam orang sok menyebut angka,
berlagak dukun meramal waktu kematian bangsa ini.
Pupus harapan orang yang sudah
terlanjur tua. Bahkan mereka pun kecewa pada dirinya yang mereka
piker terlalu cepat menua, menuju ujung keterbatasan tanpa guna
sedikit pun. Tak ada yang bisa diharapkan lebih jauh dari mereka
golongan tua, karena hampir semuanya terkotak dalam kehidupan
pribadinya. Golongan rendah hanya memikirkan perut dan golongan atas
hanya sibuk mempertahankan posisinya, tak lain untuk hasratnya
sendiri. Ada pula golongan tengah yang mau menyumbangkan pikiran,
namun mereka sudah terlalu renta untuk mengobarkan semangat juangnya.
Bukan mereka yang bisa diandalkan.
Namun di samping kenyataan itu masih
ada secercah harapan – setidaknya saya mempercayainya – dari
golongan tengah yang tidak memikirkan perutnya, pun kedudukannya. Ada
orang-orang yang masih beritikad baik mensejahterakan bangsa, punya
semangat juang tinggi dan kekuatan yang besar. Harapan terakhir
bangsa, orang-orang yang masih murni hatinya, belum banyak hasratnya
terhadap harta dan kuasa. Sebuah generasi baru pemimpin masa depan
yang masih bisa dipercayakan, dan mau tak mau dipercayakan amanah
negeri ini, merekalah Pemuda.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Kategori
Esai dan Opini
bukan Tuhan
Rabu, 08 Mei 2013
Daun : Goenawan Mohamad
Kami
berjalan sore-sore menyusuri desa Prancis tua itu, yang membanggakan
diri dengan taman rajanya yang luas, dari zaman Louis XIV. Musim
gugur seperti membentangkan permadani Turki pada daun-daun agak di
kejauhan. Di belakang kami suara angin. Tak ada deru mobil. Hanya
sesekali bel sepeda.
“Aku
menyukai tempat ini,” kata teman saya, seorang penulis tak terkenal
kelahiran Belgia. Ia memang tinggal di desa itu, sejak beberapa belas
tahun.
“Aku
menyukai tempat ini lebih dari banyak tempat di Eropa,” katanya
setengah mengulang. Ketika kami selesai satu jam berjalan –
menyeberangi taman dan hutan perburuan, melihat kolam dan pohon-pohon
yang membisu – te3man itu menunjuk ke satu tempat agak di tepi
jalan. Sebuah kafe kecil. Kami pun ke sana, duduk, memesan sherry.
Tempat
itu lengang tampaknya, tapi agak di bagian dalam tampak lima pasang
anak muda merayakan sebuah perkawinan. Mereka menari dengan lagu pada
akordeon. Pengantin dusun yang riang.
“Apakah
jadinya hidup ini jika kegembiraan kecil seperti itu hilang, jika
kafe kecil ini berubah jadi restoran besar, jika desa ini berubah
jadi Paris atau New York?” teman saya terus berkata-kata. Saya
memandangi pasangan-pasangan itu, yang menari, dengan gelas anggur di
tangan, dan dengan ketawa dan nyanyi yang mulai terhuyung-huyung.
“Karena
itu, kau beruntung, di Indonesia,” kata teman saya pula. “Orang
masih bisa menghibur diri, menyanyi dan menari, dan tak cuma menunggu
acara music televise. Kau tentu menyukai dusun-dusun di khatulistiwa
itu, bukan? Mungkin lebih nyaman dari ini?”
Saya
mengangguk, “ya, ya”, dan mencoba mengingat dusun-dusun yang
pernah saya kenal.
Di
sana memang ada kegembiraan, juga pengantin, meskipuun tanpa tarian
dan anggur. Di sana ada kedai, juga orang menembang atau bermain
gamelan. Tapi di sana ada kemiskinan. Dan kepadatan.
“Di
Dunia ketiga orang berseruuntuk industrialisasi, modernisasi, obil,
tv, pabrik, dan entah apa lagi didatangkan. Apa yang sebenarnya
hendak didapat? Kebahagiaan? Lalu teman itu memungut selembar daun
yang jatuh, dan menciumnya. “harum daun ini adalah sebagian dari
surga yang hampir hilang,” katanya lagi.
“Maka,
Dunia Ketiga tak perlu kehilangan haru daun jati,” tiba-tiba ia
seperti menasihati.”Tutup pintu kalian dari angin burukm tumbuhlah
seperti padi tumbuh, dengan sifat-sifatnya sendiri.”
Sore
mulai gelap. Rombongan pengantin itu masih menyanyi, sampai pada lagu
yang tiba-tiba membuat mata saya nyalang: melodi itu pernah diajarkan
kakak saya, dulu, jauh, di sebuah dusun di Indonesia. Bagaimana
melodi itu bisa dating menyeberangi lautan dan benua, tak tahulah
saya. Saya teringat radio besar ayah di pojok rumah. Dan saya
teringat tiang-tiang listrik, tempat burung-burung hinggap sebelum
magrib. Seakan unggas itu mendapatkan tempat beristirahat.
Dunia
Ketiga pun membangun tiang-tiang listrik juga – lebih banyak. Bung
Karno menyuruh orang membongkar alam, bikin telaga buatan dan
Jatiluhur, juga pabrik baja dan stasiun tv. Orang komunis bicara akan
membawa abad ke-20 ke antara pematang sawah. Orde Baru memasang
satelit, memperkenalkan padi unggul, dan bahkan para pesindennya
menembangkan semboyan “modernisasi desa”. Tampaknya, pilihan
memang tak banyak. Mungkin itu-itu juga, dengan pelbagai variasinya.
Untuk melawan kemiskinan, untuk mengurangi tekanan kepadatan.
Saya
tak tahu apa yang harus saya katakana kepada teman saya. Bahwa ia
bicara klise, mengulang suara romantic, mencari Dunia Ketiga yang
sebenarnya hanya imajiner karena ia kehilangan sesuatu di Dunia
Pertama? Tapi ia bisa mengatakan seperti Dr. Sutomo mengatakan
setengah abad yang silam: berhati-hatilah. Kesalahan yang pernah
dialamu Dunia Pertama, toh bisa dihindari. “Janganlah terjadi yang
kita juga akan menderita beberapa ‘kesedihan dan kesakitan’
masyarakat, seperti di Benua Eropa . . .,” tulis Sutomo, tahun
1936.
Masalahnya,
kemudian: apa pula yang dianggap “kesedihan dan kesakitan?” Dan
oleh siapa? Oleh mereka yang tak ingin kehilangan surga semula yang
lebih tenteram? Atau oleh mereka yang menginginkan surga baru? Dua
sisi itu adalah kenyataan-kenyataan kita, dan dua sisi itu bergolak
di tengah kita.
Dan
pergulatan antara keduanya bukanlah sekadar pergulatan antara
keindahan daun dan kemegahan pabrik. Yang terjadi akhirnya adalah
pergulatan yang lebih kasar: pergulatan kepentingan – mungkin
kepentingan seorang atau lebih, nun di atas sana, yang tak semua kita
tahu.
Goenawan
Mohamad, Catatan
Pinggir 29 Maret
1986
Kategori
Esai dan Opini
bukan Tuhan
Kamis, 02 Mei 2013
Pahala takut kepada Allah
Dalam sebuah Hadits Qudsi, ada riwayat mengenai balasan yang diberikan Allah kepada orang yang takut kepada-Nya
Rasulullah bersabda, “Ada seorang lelaki yang tidak pernah berbuat kebajikan sama sekali. Lelaki itu berwasiat kepada keluarganya, ‘Jika aku mati, maka bakarlah aku hingga lumat menjadi abu. Kemudian, taburkanlah sebagian abu itu di daratan dan sebagian lagi di laut. Demi Allah, jika Allah sampai menghisabku, pasti Dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun di alam semesta!’
Tatkala lelaki itu meninggal, keluarganya melaksanakan apa yang telah dia wasiatkan kepada mereka. Lalu, Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu yang disebar di daratan itu dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan debu yang disebar di lautan itu.
Kemudian, Allah SWT bertanya kepada lelaki itu (setelah dihidupkan kembali), ‘Mengapa kau lakukan ini?’
Lelaki itu menjawab, ‘Karena aku takut kepada-Mu Tuhanku, dan Engkau lebih tahu itu.’
Allah SWT lalu mengampuninya.”
Kisah dalam Hadits Qudsi ini begitu menggelitik dan penuh hikmah. Seseorang yang selalu berbuat maksiat dan tidak pernah beramal shalih sedikit pun, masih memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Keagungan Allah ada di depan matanya, sehingga dia takut akan hisab dan azab Allah atas perbuatannya di dunia.
Ketakutannya ini membuatnya berwasiat bodoh. Setelah mati, dia ingin mayatnya dibakar dan abunya disebar di daratan dan lautan. Dengan begitu, dia berharap tidak akan bisa dihisab oleh Allah SWT. Dia ingin selamat dari azab Allah SWT. Dia yakin Allah itu ada. Dia pun yakin, hisab Allah itu ada dan hisab itu menunggu satelah kematiannya. Dia ingin menyelamatkan dirinya dengan cara menyebar lumatan tubuhnya di darat dan di laut.
Namun, Allah Mahakuasa untuk tetap menghisabnya. Tidak ada yang luput dari hisab-Nya. Pada akhirnya, Allah mengampuni lelaki itu berkat rasa takutnya pada keagungan Allah SWT.
Hikmah yang dapat diambil dari kisah tadi adalah sekecil apa pun keimanan dalam dada seseorang (yaitu keyakinan akan adanya Allah, hisab, dan keadilan Allah) dapat mendeatangkan ampunan dan rahmat Allah SWT. Bagaimana jika rasa takut kepada Allah itu dihadirkan setiap saat dengan disertai amal shalih? Tentu, pahala yang disediakan Allah, akan lebih besar dan agung.
Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman dan memberikan kabar gembira, “Dan ada pun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat [79]: 40-41)
Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Rasulullah bersabda, “Ada seorang lelaki yang tidak pernah berbuat kebajikan sama sekali. Lelaki itu berwasiat kepada keluarganya, ‘Jika aku mati, maka bakarlah aku hingga lumat menjadi abu. Kemudian, taburkanlah sebagian abu itu di daratan dan sebagian lagi di laut. Demi Allah, jika Allah sampai menghisabku, pasti Dia akan mengazabku dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun di alam semesta!’
Tatkala lelaki itu meninggal, keluarganya melaksanakan apa yang telah dia wasiatkan kepada mereka. Lalu, Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu yang disebar di daratan itu dan memerintahkan lautan untuk mengumpulkan debu yang disebar di lautan itu.
Kemudian, Allah SWT bertanya kepada lelaki itu (setelah dihidupkan kembali), ‘Mengapa kau lakukan ini?’
Lelaki itu menjawab, ‘Karena aku takut kepada-Mu Tuhanku, dan Engkau lebih tahu itu.’
Allah SWT lalu mengampuninya.”
Kisah dalam Hadits Qudsi ini begitu menggelitik dan penuh hikmah. Seseorang yang selalu berbuat maksiat dan tidak pernah beramal shalih sedikit pun, masih memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Keagungan Allah ada di depan matanya, sehingga dia takut akan hisab dan azab Allah atas perbuatannya di dunia.
Ketakutannya ini membuatnya berwasiat bodoh. Setelah mati, dia ingin mayatnya dibakar dan abunya disebar di daratan dan lautan. Dengan begitu, dia berharap tidak akan bisa dihisab oleh Allah SWT. Dia ingin selamat dari azab Allah SWT. Dia yakin Allah itu ada. Dia pun yakin, hisab Allah itu ada dan hisab itu menunggu satelah kematiannya. Dia ingin menyelamatkan dirinya dengan cara menyebar lumatan tubuhnya di darat dan di laut.
Namun, Allah Mahakuasa untuk tetap menghisabnya. Tidak ada yang luput dari hisab-Nya. Pada akhirnya, Allah mengampuni lelaki itu berkat rasa takutnya pada keagungan Allah SWT.
Hikmah yang dapat diambil dari kisah tadi adalah sekecil apa pun keimanan dalam dada seseorang (yaitu keyakinan akan adanya Allah, hisab, dan keadilan Allah) dapat mendeatangkan ampunan dan rahmat Allah SWT. Bagaimana jika rasa takut kepada Allah itu dihadirkan setiap saat dengan disertai amal shalih? Tentu, pahala yang disediakan Allah, akan lebih besar dan agung.
Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman dan memberikan kabar gembira, “Dan ada pun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat [79]: 40-41)
Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Rabu, 01 Mei 2013
Kalimat Pengusir Maksiat
Seorang ulama
terkemuka Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari menuturkan kisah dirinya,
“Ketika berumur tiga tahun, aku ikut pamanku yaitu Muhammad bin Sanwar
untuk melakukan qiyamullail. Aku melihat cara shalat pamanku dan aku
menirukan gerakannya.
Suatu hari, paman berkata kepadaku, ‘Apakah kau mengingat Allah, yang menciptakanmu?’
Aku menukas, ‘Bagaimana caranya aku mengingatnya?’
Beliau menjawab, ‘Anakku, jika kau berganti pakaian dan ketika hendak tidur, katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakkan lisanmu, ‘Allah ma’i...Allahu naadhiri... Allahu syaahidi!’ (Artinya, Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan aku!)
Aku menghafalkan kalimat itu, lalu mengucapkannya bermalam-malam. Kemudian, aku menceritakan hal ini kepada paman.
Pamanku berkata, ‘Mulai sekarang, ucapkan dzikir itu sepuluh kali setiap malam.’
Aku melakukannya, aku resapi setiap maknanya, dan aku merasakan ada kenikmatan dalam hatiku. Pikiran terasa terang. Aku merasa senantiasa bersama Allah SWT.
Satu tahun setelah itu, paman berkata ‘Jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu, dan langgengkanlah sampai kau masuk kubur. Dzikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan di akhirat. Lalu pamanku berkata ‘Hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai oleh allah, dilihat Allah, dan disaksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’
Kalimat Allahu ma’i. Allahu naadhiri. Allahu yaahidi! sangat terkenal di kalangan ulmama arif billah. Bahkan, Syeikh Al-Azhar, Imam Abdul Halim Mahmud, yang dikenal sebagai ulama yang arif billah meganjurkan kepada kaum Muslimin untuk menancapkan kalimat ini di dalam hati. Maknanya sangat dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa ma’iyatullah (selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah SWT, di mana dan kapan saja).
Pada akhirnya, rasa ini akan menumbuhkan taqwa yang tinggi kepada Allah SWT. Kalau sudah begitu, apakah orang yang merasa selalu disertai, dilihat, dan disaksikan Allah akan melakukan maksiat?
Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Suatu hari, paman berkata kepadaku, ‘Apakah kau mengingat Allah, yang menciptakanmu?’
Aku menukas, ‘Bagaimana caranya aku mengingatnya?’
Beliau menjawab, ‘Anakku, jika kau berganti pakaian dan ketika hendak tidur, katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakkan lisanmu, ‘Allah ma’i...Allahu naadhiri... Allahu syaahidi!’ (Artinya, Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan aku!)
Aku menghafalkan kalimat itu, lalu mengucapkannya bermalam-malam. Kemudian, aku menceritakan hal ini kepada paman.
Pamanku berkata, ‘Mulai sekarang, ucapkan dzikir itu sepuluh kali setiap malam.’
Aku melakukannya, aku resapi setiap maknanya, dan aku merasakan ada kenikmatan dalam hatiku. Pikiran terasa terang. Aku merasa senantiasa bersama Allah SWT.
Satu tahun setelah itu, paman berkata ‘Jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu, dan langgengkanlah sampai kau masuk kubur. Dzikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan di akhirat. Lalu pamanku berkata ‘Hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai oleh allah, dilihat Allah, dan disaksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’
Kalimat Allahu ma’i. Allahu naadhiri. Allahu yaahidi! sangat terkenal di kalangan ulmama arif billah. Bahkan, Syeikh Al-Azhar, Imam Abdul Halim Mahmud, yang dikenal sebagai ulama yang arif billah meganjurkan kepada kaum Muslimin untuk menancapkan kalimat ini di dalam hati. Maknanya sangat dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa ma’iyatullah (selalu merasa disertai, dilihat, dan disaksikan Allah SWT, di mana dan kapan saja).
Pada akhirnya, rasa ini akan menumbuhkan taqwa yang tinggi kepada Allah SWT. Kalau sudah begitu, apakah orang yang merasa selalu disertai, dilihat, dan disaksikan Allah akan melakukan maksiat?
Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Langganan:
Postingan (Atom)



