“
Kita ini Agent of Change!”
seorang muda di depan saya menyalakkan orasinya saat orientasi
kampus. Cukup menggugah saya, meski saya menyangsikannya memahami apa
yang dikatakannya barusan.
“Darah muda, darahnya para remaja.
Yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah.” Saya hanya
manggut-manggut mendengarkan alunan dangdut Rhoma Irama ini. Tak
salah, orang muda memang memiliki ego yang tinggi. Ego tinggi berarti
rawan pada kelakuan buruk. Dan ini terbukti pada hari-hari ini, media
banya membicarakan kerusakan moral yang didalangi oleh para pemuda
bangsa. Meskipun begitu, tiap orang – saya yakin demikian –
sangat membanggakan kehidupan muda mereka. Mimpi, harapan, cinta,
semua kesenangan dalam hidup begitu lekat dengan masa muda.
Berulang kali pemuda dijadikan tokoh
utama dalam cerita-cerita fiksi. Sekali, pernah saya membaca dalam
sebuah manga action dari Jepang, mengulas sebuah alasan mengapa
pemuda selalu dijadikan harapan untuk perubahan besar. Tokoh manga
yang tua itu berkata pada si tokoh utama yang muda, “Kami orang tua
tidak bias meneruskan perjuangan, sebab kami sudah melihat batas
kemampuan kami. Dan kalian para pemuda masih punya waktu untuk
mencapai batas yang lebih tinggi.”
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Sebenarnya, atau dalam kebenaran
publik sejarah banyak menorehkan kata ‘pemuda’ dalam epik
perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia,apalagi setelah Een
Eereschuld (hutang
kehormatan) muncul dari pena Van Deventer, memaksa Belanda membuka
babak baru kolonialisasi di Indonesia, Politik Balas Budi. Mungkin
saja tidak disengaja,, kemunculan era baru bentukan koloni yang
dimaksudkan untuk memperbaiki citranya di dunia malah menyemaikan
sebuah gagasan baru dalam benak pelajar, golongan muda Indonesia yang
beruntung. Pun pada masa pendudukan Jepang, ‘kesalahan’ yang
serupa juga terjadi, kala pemuda dilatih di berbagai bidang, termasuk
militer. Maksud untuk jadi anjing suruhan malah akhirnya jadi pecut
makan tuannya, pemuda yang baru dididik dan dilatih ini seringkali
ngelunjak, mengkhianati tuannya sendiri dengan memerdekakan dirinnya
sendiri di waktu colongan. Kurang ajar, itulah sifat utama pemuda
Indonesia di mata dunia. Entah baik atau buruk, tetapi tak bias
dipungkiri bahwa Indonesia berhasil berkat kekurangajaran ini.
Habis satu masalah, buntunya pun
mengikuti. Tak cukup merdeka saja untuk mencapai kesejahteraan
publik, utopia tiap bangsa. Tak lama pasca proklamasi, pemuda
Indonesia harus turun kembali ke medan perjuangan. Pasalnya,
pemerintah yang diandalkan rakyat rupanya membelot, menguntungkan
dirinya sendiri dan menyengsarakan rakyat dengan politik otoriter.
Walaupun upaya pemuda berhasil, lagi-lagi tak sedikit korban jatuh di
pihak rakyat, pun pemuda sendiri.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Memang benar, sebelum tiba kehancuran
hakiki masalah takkan pernah habis, lagi dan datang lagi. Rupanya
setelah rea reformasi dibentuk, masalah semakin banyak dan kompleks,
menampakkan cacat bangsa ini. Apalagi korupsi. Agaknya sangat
terlambat kita sadari – atau mungkin sengaja – korupsi
menggerogoti bangsa ini. Namun bila kita mau menilik lebih tajam,
sebenarnya permasalahan ini sudah terlanjur basi. Oknum-oknum
pemerintahan sudah terbiasa dengan lingkungan – budaya – korupsi,
meski awalnya mereka tak memiliki itikad memperkaya diri. Namun –
meski tidak semua – ternyata bau korupsi lebih merangsang hasrat
tiap oknum pemerintah yang masih nggumun
dengan harta dan kuasa, membuatnya menggadaikan loyalitas terhadap
negeri dan menarik kesempatan kotor.Bahkan lebih dari itu, bau
korupsi – musuh kita yang ‘baru’ – ini sudah menjangkiti
hamper seluruh elemen yang bercelah keuntungan pribadi, termasuk di
dunia swasta. Kenyataan ini sudah begitu lekat dalam kehidupan kita,
tak ayal bila ‘budaya korupsi’ adalah kata yang pantas sebagai
gelarnya.
Satu pengalaman menarik yang saya
alami kala terlibat dalam kepanitiaan sebuah acara. Ternyata
pengeluaran yang terjadi di lapangan lebih sedikit dari yang sudah
dijadwalkan di proposal. Alhasil menghasilkan sisa yang menganggur.
Dalam protokoler organizer – katanya- saldo akhir keuangan harus
nol, tak kurang tak lebih, titik. Sejenak saya merasa aneh, saya
merasakan sebuah indikasi korupsi ketika kawan senior saya
membelanjakan uang sisa tersebut untuk dimakan sendiri. “Ini sudah
biasa, kalau tersisa malah salah, karena perhitungannya keliru.”
Katanya sambil menertawakan saya.
Ternyata pengalaman saya ini memang
hal yang marak terjadi. Banyak saya temukan kejadian serupa di
kepanitiaan lain, bahkan di lingkup pemuda. Dan semua kejadian ini
sudah dianggap biasa. Entah mana yang benar, tetapi fakta ini –
saya berani menyimpulkan – sudah menunjukkan bahwa korupsi sudah
sangat lekat dengan kehidupan kita.
Korupsi, begitulah namanya.
Akhir-akhir ini seringkali terngiang di telinga kita, terutama
setelah KPK diresmikan. Berkat kemunculannya, lumayan, banyak orang
yang akhirnya tersadar akan kekacauan besar dalam sistem keuangan di
negeri ini. Namun, sangat disayangkan, kemunculan KPK ini nyatanya
tidak bisa mengurangi jumlah korupsi yang terjadi. Begitu sedikit
kasus yang bisa terselesaikan, jauh lebih sedikit dari kasus yang
ditangani, apalagi kasus yang belum bisa ditangani. Dan itu masih
jauh lebih sedikit dari praktik korupsi yang terjadi.
Bila direnungkan, sangat terlambat
kita menyadari kebobolan besar di negeri ini, membuat penanganan
masalah ini terlambat pula. Kini, banyak orang yang meyakini, umur
negeri ini tidak akan lama lagi. Beragam orang sok menyebut angka,
berlagak dukun meramal waktu kematian bangsa ini.
Pupus harapan orang yang sudah
terlanjur tua. Bahkan mereka pun kecewa pada dirinya yang mereka
piker terlalu cepat menua, menuju ujung keterbatasan tanpa guna
sedikit pun. Tak ada yang bisa diharapkan lebih jauh dari mereka
golongan tua, karena hampir semuanya terkotak dalam kehidupan
pribadinya. Golongan rendah hanya memikirkan perut dan golongan atas
hanya sibuk mempertahankan posisinya, tak lain untuk hasratnya
sendiri. Ada pula golongan tengah yang mau menyumbangkan pikiran,
namun mereka sudah terlalu renta untuk mengobarkan semangat juangnya.
Bukan mereka yang bisa diandalkan.
Namun di samping kenyataan itu masih
ada secercah harapan – setidaknya saya mempercayainya – dari
golongan tengah yang tidak memikirkan perutnya, pun kedudukannya. Ada
orang-orang yang masih beritikad baik mensejahterakan bangsa, punya
semangat juang tinggi dan kekuatan yang besar. Harapan terakhir
bangsa, orang-orang yang masih murni hatinya, belum banyak hasratnya
terhadap harta dan kuasa. Sebuah generasi baru pemimpin masa depan
yang masih bisa dipercayakan, dan mau tak mau dipercayakan amanah
negeri ini, merekalah Pemuda.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.