Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.
Tampilkan postingan dengan label Esai dan Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai dan Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Februari 2016

ISIS, sebuah psikoanalisa


    Terlepas dari pertanyaan adakah ISIS benar-benar mewakili Islam atau hanya isapan jempol, barangkali ISIS memang memiliki semangat yang tinggi. Pada kesempatan ini, ada baiknya kita memanfaatkan psikoanalisa yang telah dipahami bersama. Bagaimana genealogi sehingga ISIS menjadi seteguh itu?
    Saya sependapat dengan Nietzsche—barangkali Nietzsche-lah yang sependapat dengan saya—mengenai kehendak-untuk-percaya secara alami hidup di setiap jiwa manusia. Konsekuensinya adalah tidak adanya ateis yang murni. Sisa dari ateisme hanyalah absennya Tuhan dalam ada, yang pada konsep linear, keabsenan Tuhan sendiri merupakan kehadiran yang terepresi.
Kehendak untuk percaya ini tidak bisa dibendung, memang begitu. Tetapi bagaimana metode supaya hasrat tersebut terpenuhi berbeda-beda bagi setiap orang. Gadamer berkata, pengalaman dan kognisi manusia untuk memahami menentukan cara manusia menyerap makna dari sebuah fenomena, sebuah diskursus.
    Jamak diketahui bahwa ISIS telah mengalami masa mencekamnya yang tak terlalu lama. Dalam catatan sejarah, tak sekalipun masyarakat yang hidup di kawasan Irak dan Suriah hidup merasakan kemerdekaan absolut. Sejak romawi hingga hari ini dua wilayah tersebut selalu menjadi negara boneka bagi kekuasaan asing yang lebih kuat darinya. Jadi bukan hal yang mengherankan ketika negara-negara ini mengalami krisis yang serius hari ini.
    Dalam hukum alam, hanya persoalan waktu hingga tumpukan magma dalam timbunan materi di gunung untuk meletus. Bagi Suriah, kiranya sekarang adalah kesempatan itu. Sebuah keputusan telah ditetapkan rakyat pada gelombang musim semi Arab demi melawan rezim yang mengikatnya. Gejolak berlanjut sehingga hanya orang-orang dengan i’tikad yang benar-benar kuat saja yang sanggup meneruskan perjuangan tersebut. Akan tetapi, fenomena ISIS ini adalah manifestasi gerakan sebagian kelompok yang bergama Islam untuk melakukan pemberontakan, dengan tujuan pembebasan diri dari diskriminasi minoritas, bukan semata-mata untuk mendominasi. Langkah dominasi politis hanya dipilih karena terpaksa, untuk menjamin keamanan bagi kelompok kecil yang sudah sadar bahwa mereka telah mengguncang dunia. Barangkali kini mereka tidak memiliki pilihan untuk menjamin keselamatan diri mereka sendiri. Kemudian mereka melakukan pertahanan sepenuhnya: penyerangan sebelum diserang.
    Semestinya umat muslim diseluruh dunia mengerti bagaimana muasa kebingungan ISIS ini. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, alih-alih mulai memahami, mayoritas umat Islam mengucilkannya dalam label teroris tanpa belaian halus sebagai bujukan.

    Umat muslim sendiri perlu belajar pada keteguhan kelompok ISIS ini. Meski dengan kemampuan untuk memahami agama Islam yang terbatas, hasrat untuk meneguhkan keimanannya begitu besar. Barangkali ISIS bukan wakil dari Islam, tetapi hasrat-untuk-percaya mereka sekuat generasi sahabat.
Read more ...

Senin, 22 Februari 2016

Buah Tangan

Membeli oleh-oleh atau buah tangan sama sekali bukan urusan sepele. setidaknya hal itu berlaku buat saya. Oleh-oleh adalah sebentuk kearifan lokal yang muncul dari kepedulian seseorang pada kerabatnya. keragaman budaya rupanya sudah dipahami oleh masyarakat sejak dulu. Sementara masyarakat sadar bahwa tiap individu memiliki kesempatan yang berbeda untuk melakukan perjalanan dan mendapatkan pengalaman dari tempat lain. tentu saja ada perbedaan ini berpotensi untuk memunculkan rasa iri hati bagi individu yang tidak memiliki kesempatan yang dimiliki orang lain, meskipun dia juga memiliki kesempatan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang lain.



manusia Indonesia, sejauh yang saya ketahui, memiliki modal untuk memiliki rasa simpati yang didapatkan dari kultur yang amat menjunjung tinggi perasaan orang lain. sehingga muncul simbol-simbol kesopanan di tengah masyarakat, yang sayangnya kini mulai hilang, atau bertahan tetapi kehilangan makna filosofisnya. barangkali, dari modal ini tradisi oleh-oleh atau buah tangan muncul. merupakan upaya untuk menjaga perasaan orang lain yang tidak memiliki kesempatan demi melakukan perjalanan. seseorang yang diberi, pada gilirannya akan melakukan hal serupa ketika kesempatan untuk melakukan perjalanan itu tiba. tanpa disadari, tradisi semacam ini menjaga kearifan lokal hingga di masa modern ini. dan, pada frekuensi tertentu, tradisi oleh-oleh menjadi neraca penentu keseimbangan perspektif sebuah masyarakat budaya terhadap masyarakat budaya lainnya.
Read more ...

Senin, 07 Desember 2015

Fir’aun, Tuhan dan Aku


Mengenai sosok raja adikuasa adimakmur dari masa lalu, agama Islam memiliki sebuah hikayat. Tapi antiklimaks dari hikayat itu diceritakan terlebih dahulu, konon pada saatnya ia dipastikan masuk neraka. Fir’aun. Ia masuk neraka karena mengaku Tuhan.
Rupanya kisah semacam ini tidak hanya menjadi tradisi Islam saja. Umat kristiani dan Yahudi juga mengenalnya dari kitab suci masing-masing.
Namun, meski Sigmund Freud menyebut Akhenaten, sejatinya ilmu pengetahuan belum bisa menyebut pasti fir’aun mana yang muncul dalam cerita tersebut. Sebab fir’aun bukanlah satu-dua orang, melainkan gelar yang dinisbatkan pada raja-raja Mesir kuno.
Meski demikian ada konsep-konsep yang dipercaya bangsa Mesir kuno mengenai Horus (dewa pelindung) yang menjelma dalam raga fir’aun. Sehingga eksistensi fir’aun dianggap sebagai dewa pula.
Sisi menarik dari hal ini adalah Osiris, ayah dari Horus, juga dipercaya sebagai dewa yang dulunya adalah pharaoh. Maka Osiris juga Horus yang dipuja-puja dulunya adalah manusia pula.
Bila benar demikian maka pola yang sama terjadi di belahan dunia lain. Tradisi Yunani kuno juga bercerita tentang dewa-dewa yang dulunya adalah nenek moyang mereka. Pun di India, raja-raja India kuno mengklaim dirinya adalah keturunan Parikesit sang pewaris tahta Hastinapura. Para lakon di situ pun tak lain para putra dan titisan dewa dipuja-puja pula.
Bila demikian kesimpulannya, maka tidak ada bedanya dengan animisme yang muncul di Nusantara. Lantas siapakah fir’aun yang dipastikan menetap di neraka; adilkah bila hanya fir’aun dari Mesir saja yang dihukumi?
Terlepas dari hal itu, premis awal kajian ini masih berlubang. Bahwa justifikasi ini tidak bisa ditetapkan hanya dari status raja atau fir’aun. Dosa pengantar manusia terletak dari perbuatan, dan perbuatan itu disebut aku: pengakuan.
Masyarakat Mesir kuno yang menganggap fir’aun sebagai Tuhannya tak bisa sepenuhnya disalahkan—setidaknya tak bisa disamakan dengan fir’aun. Sebab hasrat untuk memuja dan mencari pujaan mutlak ada dalam diri manusia, kata Nietzche. Bangsa Mesir kuno yang tak didampingi Nabi takkan mengenal figur agung yang pantas dipercaya selain fir’aun sendiri—terhitung Mesir kuno dalam kuasa fir’aun mampu memiliki peradaban yang tinggi sehingga pantas dipanuti.
Barangkali pengakuan fir’aun sebagai Tuhan bukanlah sebuah fenomena, tetapi genealogi. Maka sebaiknya kita menghindari pengakuan yang sama, ataupun bentuk perbuatan yang lebih termaafkan daripada itu. Meski pada akhirnya kita akan tersadar juga, bahwa yang disebut Tuhan adalah yang adikuasa, berkuasa untuk tidak mengikuti logika ini. Jawaban praktisnya adalah wallaahu a’lam bi ash-showwaab.


Malang, 7 Desember 2015
Read more ...

Senin, 30 Maret 2015

Pagar : Kisah si Pohon Mangga

    A Priori.
   Agaknya semasa kecil kita terkadang heran setelah menilik peta dan globe, karena tak pernah sekalipun kita temukan wujud garis-garis astronomi di dunia realita. Dan setelah mendengar keterangan Ibu guru kita baru sadar, betapa khayalan bisa masuk ke ranah ilmu. Katanya garis itu dibuat untuk menunjukkan batas - meski si empu peta menentukan seenaknya. Lalu di mana batas antara ilmu dengan khayalan?
   Kita patut kagum pada para pendahulu kita bangsa Indonesia, dan segelintir masyarakat kini yang terpinggirkan. Satu unik - dulu biasa - dari mereka, yakni kemampuan mereka dalam membuat batas dan melihat batas, terutama batas tanah.
   Kali yang tiap kemarau kering, Pohon yang jadi sarang burung, bahkan batu di pojok jalan bisa jadi batas. Sekali kesepakatan atas tanah terbentuk, tak akan dilanggar. "tanah Pak Sutoyo dan tanah Pak Budi dibatasi oleh pohon mangga Pak Budi ini" hingga seterusnya, bahkan hingga pohon mangga itu mati, jasad pohon itu tetap jadi batas. Dan entah mengapa tanpa komando seseorang - apalagi memorandum - pun mereka tak akan berani-berani memindahkan pohon tersebut. Bukannya takut, tapi sadar diri.
   Sering sekali ketika dari dahan pohon mangga yang jadi tapal batas tanah muncul buah dan jatuh karena saking matangnya, tak seorang pun akan mengambilnya, bahkan terkadang hingga busuk. Sungkan, perasaan yang hanya bisa ditafsirkan dalam kehidupan Jawa ini selalu muncul dalam benak mereka. Tak akan mereka ambil bila tanpa izin, tanpa permisi, meski si empunya pohon sudah mengumumkan kepada seluruh desa, "silakan ambil buah dari pohon saya sesuka kalian".
   Namun berbeda bila kita mencoba menatap pohon mangga itu jika hidupnya di kota. Mungkin akan sulit sekali kita temui pohon mangga yang 'bebas' dipanjat, dimakan buahnya dan dibuat tidur-tiduran  bawahnya.
   Privasi. Bahkan pohon yang notabene milik Tuhan karena tanpa-Nya bisa tumbuh, diaku-aku milik pribadi - kalau memang ada orang kota yang mau menanam pohon mangga - tak ada yang boleh mengambil buah. Di batas tanahnya dipasang pagar, tinggi-tinggi pula. "Mengantisipasi maling" katanya.
    Batas semen tinggi-tinggi ini memang sering dibangun orang-orang kota, untuk membatasi tanahnya. Saya tidak tahu, apa motif sebenarnya, kepemilikan atau
  
Read more ...

Minggu, 29 Juni 2014

Presiden bukan harapan

   Pemilihan Umum sebentar lagi, hampir bisa dihitung jari. Calonnya ya cuma dua pasang, Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dengan Prabowo Subianto-Hatta Radjasa (Prabowo-Hatta). Tetapi semarak yang menghiasi media terus bertambah, bahkan membludak.
Read more ...

Kamis, 27 Februari 2014

Semesta Puji (1:2)


الْØ­َÙ…ْدُ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ رَبِّ الْعَالَÙ…ِينَ


Ada sebagian orang, memang, yang mengklasifikasikan ayat ini sebagai ayat pertama dalam Al-Qur’an. Tapi mayoritas meletakkannya sebagai ayat kedua, dan saya memilih yang ini karena saya tidak tahu apa-apa.
Secara umum, kalimat ini menunjukkan ekspresi syukur kepada Allah. Memang, lafazh al-hamdu lillah secara harfiah bisa diartikan dengan segala puji bagi Allah dan itu merupakan salah satu bentuk bersyukur, yakni memuji. Dan, saya pikir setiap orang yang karena saking gembiranya dan speechless, mungkin frase segala puji bisa mewakili rasa syukur tersebut.
Read more ...

Jumat, 24 Januari 2014

Pemimpin, Antara Otak dan Hati



Sampai detik ini saya masih percaya bahwa tiap individu adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Saya juga yakin tiap-tiap dari mereka berpotensi –salah, yang benar berkesempatan– menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Tapi premis saya yang kedua ini sangat lemah, terutama karena kita sudah mengenal struktur organisasi.
Organisasi, seperti yang kita tahu, merupakan elemen yang terbentuk dari kumpulan individu yang memiliki tujuan yang sama, seharusnya begitu. Kumpulan ini membentuk beberapa organ yang memiliki bermacam-macam fungsi, dan wujud dari gabungan dari kesemuanya disebut organisasi –dalam biologi kita lazim menyebutnya sebagai tubuh.
Salah satu organ tersebut adalah ketua –di sini saya menuliskannya sebagai pemimpin struktural– yang dinyana sebagai otak sebuah organisasi. Organ ini sangat penting, lebih penting daripada jantung (sekretaris) dan paru-paru (bendahara)[1]. Karena sentralnya posisi ini, banyak yang berpendapat bahwa ketua yang baik berasal dari individu berkualifikasi terbaik.
Read more ...

Jumat, 17 Januari 2014

Titik Awal (1:1)

بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ الرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ الرَّØ­ِيمِ



Bukan wewenang saya untuk memutuskan apakah kalimat basmalah termasuk dalam ayat Al-Qur’an atau bukan, tapi memang demikian yang sudah sering saya baca. Kalimat basmalah selalu terletak dalam ayat pertama.
Sepengetahuan saya –yang amat terbatas– bahwasanya seluruh elemen semesta ini terkandung dalam Al-Qur’an. Namun kita juga tahu bahwa surat Al-Fatihah adalah induk Al-Qur’an, bilamana kita membacanya pahala yang kita dapat setara dengan pahala membaca seluruh Al-Qur’an (saya tidak tahu dalilnya, hanya ingat begitu saja). Dan satu surat yang berarti pembuka ini, memiliki inti pada kepalanya, alias ayat yang pertama, yakni kalimat basmalah. Saya juga mendengar, entah memang benar atau tidak, bahwa satu ayat basmalah itu berintikan huruf ba’ di awal ayat –hal ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa pengetahuan sahabat Ali bin Abi Thalib setara dengan huruf ba’ ini. Lantas saya berpikir nakal, barangkali inti dari huruf ba’ tersebut adalah titiknya. Barangkali semua terwakili oleh satu titik itu.
Alangkah mulianya kalimat basmalah itu.
Sedikit saya memikirkan, mengapa kalimat yang berisi 19 huruf ini wajib dibaca sebelum melakukan apa pun –saya belum tahu dalilnya, lantas di antara orang-orang yang membacanya mengalami banyak keajaiban (silakan cari referensinya). Sepintas saya tersadar, barangkali hal ini berkaitan dengan lafadz bismi di awal ayat.
Lafadz bismi ini –sudah saya klarifikasi ke teman saya– merupakan lafadz qasam[1]. Sedikit menengok, ada beberapa contoh qasam dalam Al-Qur’an, di antaranya pada surat Ad-Dhuha dan surat Asy-Syams. Seperti halnya kedua contoh tersebut lafadz-lafadz qasam tersebut menggunakan makhluk Allah sebagai isim qasam. Namun berbeda dengan lafadz basmalah, isim qasam tersebut adalah asma Allah.
Ada apa dengan hal ini?
Mungkinkah Allah mempertaruhkan nama-Nya sendiri sebagai sumpah-Nya, sehingga di antara qasam-qasam yang ada, qasam dalam kalimat basmalah inilah yang tertinggi? (Ketika saya membaca ulang kalimat ini, saya teringat bahwa berdasar kalimat thoyyibah hasbunallah [cukuplah bagi kami Allah], barangkali Allah memang jaminan sekaligus penjamin yang terbaik). Namun saya belum bisa menjawab, apakah Allah yang bersumpah di sana, ataukah kita yang membacanya ini, atau memang keduanya tidak salah.
Bukan saya yang tahu jawabannya.
Saya juga menyadari, bahwa Allah memang Maha Kuasa dengan segala kehendak-Nya. Dengan kesadaran itu saya mencoba mengerti, bahwa kalimat basmalah ini adalah kalimat ijab kita untuk bertawakkal, mencari dan menerima segala kehendak yang Allah berikan –seperti shalat istikharah. Sehingga dengan kalimat ini kita ditunjukkan pada kebesaran Allah. Sehingga dengan kalimat ini kita diluruskan menuju ridha-Nya, yang juga berarti taubat.
Wallahu a’alam bi ash-shawwab




[1] Sumpah. Dalam struktur bahasa Arab menggunakan 3 huruf: ba’, ta’, dan wawu
Read more ...

Senin, 13 Januari 2014

Jiwa yang Salah


Indonesia adalah negara multibudaya dengan cita rasa orang timur. Semua orang tahu dan meyakini hal itu. Bahkan pemerintah yang agaknya selalu dalam posisi serba salah juga tahu, kita meyakini hal itu.
Belakangan banyak publik yang mengeluh karena budaya kita yang tak terawat. Budaya tradisional semakin menipis dengan dominasi globalisasi di Indonesia. Indonesia memang selalu terbuka.
Read more ...

Jumat, 09 Agustus 2013

Hasthabrata: 8 elemen rahasia Ramayana


 Dikisahkan dalam kisah Ramayana, ketika Rama Wijaya pergi mengembara ke hutan, meninggalkan keduniawian, ia diminta untuk memimpin kerajaan Ayodya oleh adiknya Prabu Bharata. Rama Wijaya tidak bisa menerimanya meski berkeras hati. Memang adiknya yang masih memimpin Ayodya tersebut bermaksud menempatkan tahta pada tempatnya, sebab ia tak mumpuni dalam memimpin kerajaan.
Read more ...

Minggu, 26 Mei 2013

'Jarum' Harapan


   Mendung, dan semakin gelap. Sepuluh pagi, keramahan pagi memang tak menyambut kompleks pesarean Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono di kawasan Gunung Kawi. Namun kebiasaan umum warga yang bergantung pada keadaan alam tak berlaku 25 Mei 2013 itu. Cina, Bule maupun Lokal -atau Hindu, Buddha, Kong Hu Cu maupun Islam-, semua tetap tumplek dalam satu bangunan, pusat pesarean. Beragam alasan, beragam latar, satu ritual.
   'Slametan', nama ritual harian yang diklaim para 'pengurus' pesarean duo Eyang. Nasi berkat, kembang setaman, dan doa-doa jawa-'islam' menjadi syarat utama ritual tersebut. Namun kata itu, saya sedikit tak setuju, karena itu cuma sebuah manifestasi permohonan atas harapan-harapan, bukannya wujud syukur atas pencapaian yang telah diraih. Intinya ritual tersebut bukanlah slametan, melainkan permintaan - setidaknya menurut saya. Tapi, pengklaiman 'nyeleneh' seperti itu tentu tak bisa digugat, karena hak pribadi.
   Fenomena ini sangat nyentrik, bukannya karena ke'nyeleneh'an nama ataupun alasan melakukan ritual yang terkesan materialistis, tapi pelaksanaan ritual itu sendiri. Sekilas, ritual seragam oleh pelaku multi agama ini tampak biasa, karena ketidak'jawa'an pelaku ritual kejawen ini, yang membuat terlihat seperti orang ngelindur. Namun bila sedikit saja kita tengok lebih dalam, sebenarnya di balik fenomena ini tampak jati diri karakter bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.
   Beribu tahun lalu, penghuni nusantara ini adalah bangsa yang 'agung', bangsa yang tanpa merusak keharmonisan alam mengenal berbagai macam budaya dan agama - meski akhirnya sejarawan malas mengungkit fakta ini dan menepisnya dengan sebutan agama animisme-dinamisme. Dan dengan berbagai batas perbedaan ini, mereka tak pernah mempersoalkannya, sangat mungkin karena rasa 'tepa selira' yang sudah tertanam dalam karakter bangsa ini. Perbedaan adalah anugerah, semua sepakat dan saling mengerti. Akhirnya, tumbuhlah bangsa nusantara ini dengan damai dan sejahtera, sebuah  utopia yang melegenda.
   Namun semua berubah, terutama -yang kita tahu- sejak Hindu-Buddha bertandang ke negeri nusantara. Budaya kearifan lokal murni bangsa akhirnya terusik dan berasimilasi dengan nilai luar yang belum begitu bersahabat dengan adanya perbedaan -terbukti dengan sistem kasta. Muncullah bentuk-bentuk kerajaan kuno di nusantara, dibarengi dengan rasa kabanggaan diri yang bertolak dari 'tepa selira'.
   Perlahan, namun pasti. Kearifan lokal murni bangsa semakin tergerus. Bahkan Empu Tantular -yang memahami karakter bangsa dan kemudian mengukirnya dalam Sutasoma- mengakui kemerosotan moral dan pasrah padanya. Dan kini kita cucu-cucunya terlampau sering menemui perselisihan di berbagai lapisan masyarakat, walau karena perihal yang sepele.
   Tergerus... memang. Sirna... makin. Grafik pertahanan moral kita menunjukkan palung yang tak berdasar. Namun rupanya Tuhan masih mengasihi bangsa yang semakin renta ini. Oleh-Nya. dipertahankan mutiara nilai kearifan lokal Tunggal Ika, meski terselip jauh dalam tumpukan 'jerami' kebobrokan moral. Dan 'jarum' harapan itu, bisa kita temukan do komplek pesarean Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono.
Read more ...

Jumat, 10 Mei 2013

Pola Pikir

Linier : berpikir searah dengan opini masyarakat di sekitar, tanpa mencoba memikirkannya lebih lanjut.
Zigzag : berpikir menurut seluruh pengetahuannya, berubah-ubah antara pro dan kontra, terkadang dibilang plin-plan.
Sirkular : berpikir dengan asumsi nilai kembali nilai yang ditujunya. Bila diniatkan dengan positif, maka hasilnya pasti positif. Bila diniatkan negatif maka hasilnya akan negatif. Contoh: pemikiran yang agamawi murni.
Spiral : berpikir dengan sangat terbuka, melihat dari berbagai sudut pandang, menyediakan ruang pemakluman terhadap sesuatu yang belum dimengerti dengan tidak sembarang memutuskan dan menyatakan apologi. Tidak memunculkan 1 jawaban yang subyektif, tetapi jawaban yang netral, obyektif dan bisa diterima oleh semua kalangan. Contoh: Nabi Muhammad






Draft by FiNuAz
Read more ...

Kamis, 09 Mei 2013

Asa


Kita ini Agent of Change!” seorang muda di depan saya menyalakkan orasinya saat orientasi kampus. Cukup menggugah saya, meski saya menyangsikannya memahami apa yang dikatakannya barusan.
Darah muda, darahnya para remaja. Yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah.” Saya hanya manggut-manggut mendengarkan alunan dangdut Rhoma Irama ini. Tak salah, orang muda memang memiliki ego yang tinggi. Ego tinggi berarti rawan pada kelakuan buruk. Dan ini terbukti pada hari-hari ini, media banya membicarakan kerusakan moral yang didalangi oleh para pemuda bangsa. Meskipun begitu, tiap orang – saya yakin demikian – sangat membanggakan kehidupan muda mereka. Mimpi, harapan, cinta, semua kesenangan dalam hidup begitu lekat dengan masa muda.
Berulang kali pemuda dijadikan tokoh utama dalam cerita-cerita fiksi. Sekali, pernah saya membaca dalam sebuah manga action dari Jepang, mengulas sebuah alasan mengapa pemuda selalu dijadikan harapan untuk perubahan besar. Tokoh manga yang tua itu berkata pada si tokoh utama yang muda, “Kami orang tua tidak bias meneruskan perjuangan, sebab kami sudah melihat batas kemampuan kami. Dan kalian para pemuda masih punya waktu untuk mencapai batas yang lebih tinggi.”
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Sebenarnya, atau dalam kebenaran publik sejarah banyak menorehkan kata ‘pemuda’ dalam epik perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia,apalagi setelah Een Eereschuld (hutang kehormatan) muncul dari pena Van Deventer, memaksa Belanda membuka babak baru kolonialisasi di Indonesia, Politik Balas Budi. Mungkin saja tidak disengaja,, kemunculan era baru bentukan koloni yang dimaksudkan untuk memperbaiki citranya di dunia malah menyemaikan sebuah gagasan baru dalam benak pelajar, golongan muda Indonesia yang beruntung. Pun pada masa pendudukan Jepang, ‘kesalahan’ yang serupa juga terjadi, kala pemuda dilatih di berbagai bidang, termasuk militer. Maksud untuk jadi anjing suruhan malah akhirnya jadi pecut makan tuannya, pemuda yang baru dididik dan dilatih ini seringkali ngelunjak, mengkhianati tuannya sendiri dengan memerdekakan dirinnya sendiri di waktu colongan. Kurang ajar, itulah sifat utama pemuda Indonesia di mata dunia. Entah baik atau buruk, tetapi tak bias dipungkiri bahwa Indonesia berhasil berkat kekurangajaran ini.
Habis satu masalah, buntunya pun mengikuti. Tak cukup merdeka saja untuk mencapai kesejahteraan publik, utopia tiap bangsa. Tak lama pasca proklamasi, pemuda Indonesia harus turun kembali ke medan perjuangan. Pasalnya, pemerintah yang diandalkan rakyat rupanya membelot, menguntungkan dirinya sendiri dan menyengsarakan rakyat dengan politik otoriter. Walaupun upaya pemuda berhasil, lagi-lagi tak sedikit korban jatuh di pihak rakyat, pun pemuda sendiri.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Memang benar, sebelum tiba kehancuran hakiki masalah takkan pernah habis, lagi dan datang lagi. Rupanya setelah rea reformasi dibentuk, masalah semakin banyak dan kompleks, menampakkan cacat bangsa ini. Apalagi korupsi. Agaknya sangat terlambat kita sadari – atau mungkin sengaja – korupsi menggerogoti bangsa ini. Namun bila kita mau menilik lebih tajam, sebenarnya permasalahan ini sudah terlanjur basi. Oknum-oknum pemerintahan sudah terbiasa dengan lingkungan – budaya – korupsi, meski awalnya mereka tak memiliki itikad memperkaya diri. Namun – meski tidak semua – ternyata bau korupsi lebih merangsang hasrat tiap oknum pemerintah yang masih nggumun dengan harta dan kuasa, membuatnya menggadaikan loyalitas terhadap negeri dan menarik kesempatan kotor.Bahkan lebih dari itu, bau korupsi – musuh kita yang ‘baru’ – ini sudah menjangkiti hamper seluruh elemen yang bercelah keuntungan pribadi, termasuk di dunia swasta. Kenyataan ini sudah begitu lekat dalam kehidupan kita, tak ayal bila ‘budaya korupsi’ adalah kata yang pantas sebagai gelarnya.
Satu pengalaman menarik yang saya alami kala terlibat dalam kepanitiaan sebuah acara. Ternyata pengeluaran yang terjadi di lapangan lebih sedikit dari yang sudah dijadwalkan di proposal. Alhasil menghasilkan sisa yang menganggur. Dalam protokoler organizer – katanya- saldo akhir keuangan harus nol, tak kurang tak lebih, titik. Sejenak saya merasa aneh, saya merasakan sebuah indikasi korupsi ketika kawan senior saya membelanjakan uang sisa tersebut untuk dimakan sendiri. “Ini sudah biasa, kalau tersisa malah salah, karena perhitungannya keliru.” Katanya sambil menertawakan saya.
Ternyata pengalaman saya ini memang hal yang marak terjadi. Banyak saya temukan kejadian serupa di kepanitiaan lain, bahkan di lingkup pemuda. Dan semua kejadian ini sudah dianggap biasa. Entah mana yang benar, tetapi fakta ini – saya berani menyimpulkan – sudah menunjukkan bahwa korupsi sudah sangat lekat dengan kehidupan kita.
Korupsi, begitulah namanya. Akhir-akhir ini seringkali terngiang di telinga kita, terutama setelah KPK diresmikan. Berkat kemunculannya, lumayan, banyak orang yang akhirnya tersadar akan kekacauan besar dalam sistem keuangan di negeri ini. Namun, sangat disayangkan, kemunculan KPK ini nyatanya tidak bisa mengurangi jumlah korupsi yang terjadi. Begitu sedikit kasus yang bisa terselesaikan, jauh lebih sedikit dari kasus yang ditangani, apalagi kasus yang belum bisa ditangani. Dan itu masih jauh lebih sedikit dari praktik korupsi yang terjadi.
Bila direnungkan, sangat terlambat kita menyadari kebobolan besar di negeri ini, membuat penanganan masalah ini terlambat pula. Kini, banyak orang yang meyakini, umur negeri ini tidak akan lama lagi. Beragam orang sok menyebut angka, berlagak dukun meramal waktu kematian bangsa ini.
Pupus harapan orang yang sudah terlanjur tua. Bahkan mereka pun kecewa pada dirinya yang mereka piker terlalu cepat menua, menuju ujung keterbatasan tanpa guna sedikit pun. Tak ada yang bisa diharapkan lebih jauh dari mereka golongan tua, karena hampir semuanya terkotak dalam kehidupan pribadinya. Golongan rendah hanya memikirkan perut dan golongan atas hanya sibuk mempertahankan posisinya, tak lain untuk hasratnya sendiri. Ada pula golongan tengah yang mau menyumbangkan pikiran, namun mereka sudah terlalu renta untuk mengobarkan semangat juangnya. Bukan mereka yang bisa diandalkan.
Namun di samping kenyataan itu masih ada secercah harapan – setidaknya saya mempercayainya – dari golongan tengah yang tidak memikirkan perutnya, pun kedudukannya. Ada orang-orang yang masih beritikad baik mensejahterakan bangsa, punya semangat juang tinggi dan kekuatan yang besar. Harapan terakhir bangsa, orang-orang yang masih murni hatinya, belum banyak hasratnya terhadap harta dan kuasa. Sebuah generasi baru pemimpin masa depan yang masih bisa dipercayakan, dan mau tak mau dipercayakan amanah negeri ini, merekalah Pemuda.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Read more ...

Rabu, 08 Mei 2013

Daun : Goenawan Mohamad

Kami berjalan sore-sore menyusuri desa Prancis tua itu, yang membanggakan diri dengan taman rajanya yang luas, dari zaman Louis XIV. Musim gugur seperti membentangkan permadani Turki pada daun-daun agak di kejauhan. Di belakang kami suara angin. Tak ada deru mobil. Hanya sesekali bel sepeda.
Aku menyukai tempat ini,” kata teman saya, seorang penulis tak terkenal kelahiran Belgia. Ia memang tinggal di desa itu, sejak beberapa belas tahun.
Aku menyukai tempat ini lebih dari banyak tempat di Eropa,” katanya setengah mengulang. Ketika kami selesai satu jam berjalan – menyeberangi taman dan hutan perburuan, melihat kolam dan pohon-pohon yang membisu – te3man itu menunjuk ke satu tempat agak di tepi jalan. Sebuah kafe kecil. Kami pun ke sana, duduk, memesan sherry.
Tempat itu lengang tampaknya, tapi agak di bagian dalam tampak lima pasang anak muda merayakan sebuah perkawinan. Mereka menari dengan lagu pada akordeon. Pengantin dusun yang riang.
Apakah jadinya hidup ini jika kegembiraan kecil seperti itu hilang, jika kafe kecil ini berubah jadi restoran besar, jika desa ini berubah jadi Paris atau New York?” teman saya terus berkata-kata. Saya memandangi pasangan-pasangan itu, yang menari, dengan gelas anggur di tangan, dan dengan ketawa dan nyanyi yang mulai terhuyung-huyung.
Karena itu, kau beruntung, di Indonesia,” kata teman saya pula. “Orang masih bisa menghibur diri, menyanyi dan menari, dan tak cuma menunggu acara music televise. Kau tentu menyukai dusun-dusun di khatulistiwa itu, bukan? Mungkin lebih nyaman dari ini?”
Saya mengangguk, “ya, ya”, dan mencoba mengingat dusun-dusun yang pernah saya kenal.
Di sana memang ada kegembiraan, juga pengantin, meskipuun tanpa tarian dan anggur. Di sana ada kedai, juga orang menembang atau bermain gamelan. Tapi di sana ada kemiskinan. Dan kepadatan.
Di Dunia ketiga orang berseruuntuk industrialisasi, modernisasi, obil, tv, pabrik, dan entah apa lagi didatangkan. Apa yang sebenarnya hendak didapat? Kebahagiaan? Lalu teman itu memungut selembar daun yang jatuh, dan menciumnya. “harum daun ini adalah sebagian dari surga yang hampir hilang,” katanya lagi.
Maka, Dunia Ketiga tak perlu kehilangan haru daun jati,” tiba-tiba ia seperti menasihati.”Tutup pintu kalian dari angin burukm tumbuhlah seperti padi tumbuh, dengan sifat-sifatnya sendiri.”
Sore mulai gelap. Rombongan pengantin itu masih menyanyi, sampai pada lagu yang tiba-tiba membuat mata saya nyalang: melodi itu pernah diajarkan kakak saya, dulu, jauh, di sebuah dusun di Indonesia. Bagaimana melodi itu bisa dating menyeberangi lautan dan benua, tak tahulah saya. Saya teringat radio besar ayah di pojok rumah. Dan saya teringat tiang-tiang listrik, tempat burung-burung hinggap sebelum magrib. Seakan unggas itu mendapatkan tempat beristirahat.
Dunia Ketiga pun membangun tiang-tiang listrik juga – lebih banyak. Bung Karno menyuruh orang membongkar alam, bikin telaga buatan dan Jatiluhur, juga pabrik baja dan stasiun tv. Orang komunis bicara akan membawa abad ke-20 ke antara pematang sawah. Orde Baru memasang satelit, memperkenalkan padi unggul, dan bahkan para pesindennya menembangkan semboyan “modernisasi desa”. Tampaknya, pilihan memang tak banyak. Mungkin itu-itu juga, dengan pelbagai variasinya. Untuk melawan kemiskinan, untuk mengurangi tekanan kepadatan.
Saya tak tahu apa yang harus saya katakana kepada teman saya. Bahwa ia bicara klise, mengulang suara romantic, mencari Dunia Ketiga yang sebenarnya hanya imajiner karena ia kehilangan sesuatu di Dunia Pertama? Tapi ia bisa mengatakan seperti Dr. Sutomo mengatakan setengah abad yang silam: berhati-hatilah. Kesalahan yang pernah dialamu Dunia Pertama, toh bisa dihindari. “Janganlah terjadi yang kita juga akan menderita beberapa ‘kesedihan dan kesakitan’ masyarakat, seperti di Benua Eropa . . .,” tulis Sutomo, tahun 1936.
Masalahnya, kemudian: apa pula yang dianggap “kesedihan dan kesakitan?” Dan oleh siapa? Oleh mereka yang tak ingin kehilangan surga semula yang lebih tenteram? Atau oleh mereka yang menginginkan surga baru? Dua sisi itu adalah kenyataan-kenyataan kita, dan dua sisi itu bergolak di tengah kita.
Dan pergulatan antara keduanya bukanlah sekadar pergulatan antara keindahan daun dan kemegahan pabrik. Yang terjadi akhirnya adalah pergulatan yang lebih kasar: pergulatan kepentingan – mungkin kepentingan seorang atau lebih, nun di atas sana, yang tak semua kita tahu.

Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 29 Maret 1986
Read more ...

Kamis, 27 Desember 2012

BERPIKIR INDONESIA, INDONESIAWI



   Indonesia semakin hari semakin punah. Hari ini penghuni negeri ini mulai melenceng dari pola pikir layaknya bangsa Indonesia seharusnya. Melenceng jadi seperti bangsa barat, terbukti acuan masyarakat Indonesia untuk mengukur segala sesuatu menggunakan analogi barat. Hidup, kebutuhan hidup, sumber kehidupan semuanya mengacu pada barat. Sudut pandangnya mulai mengekor pola barat, seolah Indonesia harus mengejar ketertinggalannya dari barat. Seolah bangsa Indonesia seekor burung yang dilatih keras jadi seekor penguin, praktis tak pernah terlintas dalam benak bangsa Indonesia untuk terbang seperti kodratnya melainkan menyelam layaknya penguin.
   Sudah umum bahwa pola pikir bangsa barat dan bangsa timur saling membelakangi. Barat selalu berpikir secara terfokus untuk hidup sukses dan perfeksionis sedangkan Timur selalu berpikir tenang untuk hidup berdampingan secara sederhana dan penuh toleransi. Hal inilah yang jadi jurang pemisah budaya barat dengan budaya timur. Budaya barat identik dengan gaya hidup mandiri, praktis dan glamor, sedang budaya timur identik dengan gotong royong, harmonis dan berkecukupan.
   Indonesia sendiri sebagai negara belahan Timur semenjak dulu terkenal dengan keramahannya. Bahkan Indonesia tercatat sebagai bangsa paling ramah karena paling sering menebar senyum dan salam. Kebudayaan Indonesia sendiri jauh lebih timur dari bangsa timur lainnya karena yang menempel dalam jiwa bangsa Indonesia tak hanya mindset orang timur saja, namun ajaran Islam juga telah memolesnya hingga sangat halus. Mungkin saja para wali yang menyebarkan ajaran Islam dengan mengakulturasikan nilai Islam pada budaya Indonesia asli sudah memahami karakter bangsa Indonesia pribumi dan tahu cara untuk membentuk karakter bangsa yang sempurna, bahkan lebih sempurna dari bangsa Arab asal Islam.
   Namun sekarang globalisasi barat mengambil hati sebagian hati timur karena barat lihai dalam berakting cerdas. Akibatnya banyak negeri timur ‘gengsi’ bila tak mengikuti tren barat yang terkesan lebih maju –padahal sebenarnya barat tak lebih dari tamu kasar penjajah dunia timur dan mengekor kepada barat daripada mempertahankan pola kehidupan lamanya. Tengok saja Jepang yang tercatat kalah judi perang dunia II ternyata tapi juga kalah dalam mempertahankan pola pikir ketimuran khasnya pasca perang. Jepang terburu-buru memilih revolusi industri daripada rekonstruksi karakter bangsanya sendiri. Akhirnya Jepang memang dapat menghidupi kepala-kepala yang berlindung di bawahnya, namun Jepang menyesali keterburu-buruannya atas satu hal. Jepang kehilangan jati dirinya sebagai bangsa timur yang gigih dan sabar dalam menghadapi cobaan dan memilih jalan pintas mengekor Amerika. Sekarang sambil menyesali kebodohannya Jepang berusaha mengais puing kebudayaan yang terkubur setelah dikhianatinya.
   Beda halnya dengan Indonesia. Indonesia memang telah memerdekakan raga dari penjajahan barat dan meyelamatkan sebagian besar budayanya, tapi tidak dengan otaknya. Indonesia belum mampu membawa otaknya merdeka karena otaknya lebih memilih barat. Rupanya sejak masa kependudukan banyak bangsa Indonesia yang mulai putus asa dan mengidolakan kehidupan ala barat. Memang secara psikologis hal ini wajar, terhitung Indonesia ditekan begitu lalimnya di tanahnya sendiri. Namun hal ini bukanlah alibi yang bisa dijadikan alasan mengapa otak Indonesia tak ikut merdeka.
   Racun pikiran itu membuat segala hal yang bisa memenuhi hasratnya akan jadi tuhan. Lihat saja akibat proklamasi yang pincang itu membuat rakyat kecil dijajah oleh pemerintahnya sendiri. Petinggi negara yang awalnya merasa siap memimpin jadi melongo ketika melihat uang dan kuasa di tangannya. Praktis korupsi pun terjadi. Walaupun pejabatnya diganti hal ini akan terus berulang karena mengganti kursi tak sama degan mengganti otak. Ibarat seekor macan yang hingga usia tiga tahun tak pernah makan daging, namun tiba-tiba ia disuguhi daging, kontan saja si macan pasti mengambil daging itu dan tergila-gila karenanya. Dan hal ini berlaku pada setiap macan. Penyakit nggumun, itulah efek samping pola pikir barat yang menjangkiti bangsa Indonesia, terutama di barisan pemerintah.
   Andaikan saja bangsa Indonesia mau mengerti jati diri bangsa dan tanah airnya sendiri tentu saja hal seperti itu tak akan pernah terjadi. Kalau bangsa Indonesia mau berpikir keluar kotak dan memperhatikan negerinya, ia akan memahami bahwa tanah air Indonesia adalah surga dunia, tanah yang tak pernah tandus dan air yang tak pernah punah. Di bawah tanahnya terkubur harta karun dan di atasnya terapat sumber kehidupan. Dalam airnya terkunci segala keindahan dan dalam udaranya bertiup hawa kehidupan. Sungguh surga dunia bila bangsa Indonesia mengerti jati dirinya. Terlebih, penduduk yang hidup di negeri adalah penduduk yang ramah, santun, serta cinta damai. Itulah gambaran dari penduduk surga yang kita sendiri bangsa Indonesia. Bahkan Islam sendiri menggambarkan surga layaknya Indonesia. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan? Jati diri itulah yang seharusnya diangkat  dari penjara mindset barat.
   Andaikan saja bangsa Indonesia kini mau berpikir layaknya bangsa Indonesia sejatinya tak akan ada permasalahan materi yang membunuh, tak ada masalah sosial yang menyiksa hati, tak ada masalah lingkungan yang meracuni. Sedikit bangsa Indonesia mau berpikir out of the box, akan ketemu berbagai keindahan sisi kehidupan bangsa Indonesia yang bisa menyembuhkan segala duka-lara. Tak hanya itu, dengan berpikir ala Indonesia maka bangsa Indonesia akan menemukan jati dirinya yang lebih unggul dari bangsa lain. Tak perlu teknologi canggih untuk memenuhi kebutuhan kita, karena kita hidup di surga dan kita lah penghuni surga yang sebenarnya.
   Andaikan saja bangsa Indonesia mau berpikir ala Indonesia. Maukah Anda?
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates