Terlepas dari pertanyaan adakah ISIS benar-benar mewakili
Islam atau hanya isapan jempol, barangkali ISIS memang memiliki semangat yang
tinggi. Pada kesempatan ini, ada baiknya kita memanfaatkan psikoanalisa yang
telah dipahami bersama. Bagaimana genealogi sehingga ISIS menjadi seteguh itu?
Saya sependapat dengan Nietzsche—barangkali Nietzsche-lah
yang sependapat dengan saya—mengenai kehendak-untuk-percaya secara alami hidup
di setiap jiwa manusia. Konsekuensinya adalah tidak adanya ateis yang murni.
Sisa dari ateisme hanyalah absennya Tuhan dalam ada, yang pada konsep linear,
keabsenan Tuhan sendiri merupakan kehadiran yang terepresi.
Kehendak untuk percaya ini tidak bisa dibendung, memang
begitu. Tetapi bagaimana metode supaya hasrat tersebut terpenuhi berbeda-beda
bagi setiap orang. Gadamer berkata, pengalaman dan kognisi manusia untuk
memahami menentukan cara manusia menyerap makna dari sebuah fenomena, sebuah
diskursus.
Jamak diketahui bahwa ISIS telah mengalami masa mencekamnya
yang tak terlalu lama. Dalam catatan sejarah, tak sekalipun masyarakat yang
hidup di kawasan Irak dan Suriah hidup merasakan kemerdekaan absolut. Sejak
romawi hingga hari ini dua wilayah tersebut selalu menjadi negara boneka bagi
kekuasaan asing yang lebih kuat darinya. Jadi bukan hal yang mengherankan
ketika negara-negara ini mengalami krisis yang serius hari ini.
Dalam hukum alam, hanya persoalan waktu hingga tumpukan
magma dalam timbunan materi di gunung untuk meletus. Bagi Suriah, kiranya
sekarang adalah kesempatan itu. Sebuah keputusan telah ditetapkan rakyat pada
gelombang musim semi Arab demi melawan rezim yang mengikatnya. Gejolak
berlanjut sehingga hanya orang-orang dengan i’tikad yang benar-benar kuat saja
yang sanggup meneruskan perjuangan tersebut. Akan tetapi, fenomena ISIS ini
adalah manifestasi gerakan sebagian kelompok yang bergama Islam untuk melakukan
pemberontakan, dengan tujuan pembebasan diri dari diskriminasi minoritas, bukan
semata-mata untuk mendominasi. Langkah dominasi politis hanya dipilih karena
terpaksa, untuk menjamin keamanan bagi kelompok kecil yang sudah sadar bahwa
mereka telah mengguncang dunia. Barangkali kini mereka tidak memiliki pilihan
untuk menjamin keselamatan diri mereka sendiri. Kemudian mereka melakukan
pertahanan sepenuhnya: penyerangan sebelum diserang.
Semestinya umat muslim diseluruh dunia mengerti bagaimana
muasa kebingungan ISIS ini. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, alih-alih
mulai memahami, mayoritas umat Islam mengucilkannya dalam label teroris tanpa belaian
halus sebagai bujukan.
Umat muslim sendiri perlu belajar pada keteguhan kelompok
ISIS ini. Meski dengan kemampuan untuk memahami agama Islam yang terbatas,
hasrat untuk meneguhkan keimanannya begitu besar. Barangkali ISIS bukan wakil
dari Islam, tetapi hasrat-untuk-percaya mereka sekuat generasi sahabat.

