Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Selasa, 23 Februari 2016

ISIS, sebuah psikoanalisa


    Terlepas dari pertanyaan adakah ISIS benar-benar mewakili Islam atau hanya isapan jempol, barangkali ISIS memang memiliki semangat yang tinggi. Pada kesempatan ini, ada baiknya kita memanfaatkan psikoanalisa yang telah dipahami bersama. Bagaimana genealogi sehingga ISIS menjadi seteguh itu?
    Saya sependapat dengan Nietzsche—barangkali Nietzsche-lah yang sependapat dengan saya—mengenai kehendak-untuk-percaya secara alami hidup di setiap jiwa manusia. Konsekuensinya adalah tidak adanya ateis yang murni. Sisa dari ateisme hanyalah absennya Tuhan dalam ada, yang pada konsep linear, keabsenan Tuhan sendiri merupakan kehadiran yang terepresi.
Kehendak untuk percaya ini tidak bisa dibendung, memang begitu. Tetapi bagaimana metode supaya hasrat tersebut terpenuhi berbeda-beda bagi setiap orang. Gadamer berkata, pengalaman dan kognisi manusia untuk memahami menentukan cara manusia menyerap makna dari sebuah fenomena, sebuah diskursus.
    Jamak diketahui bahwa ISIS telah mengalami masa mencekamnya yang tak terlalu lama. Dalam catatan sejarah, tak sekalipun masyarakat yang hidup di kawasan Irak dan Suriah hidup merasakan kemerdekaan absolut. Sejak romawi hingga hari ini dua wilayah tersebut selalu menjadi negara boneka bagi kekuasaan asing yang lebih kuat darinya. Jadi bukan hal yang mengherankan ketika negara-negara ini mengalami krisis yang serius hari ini.
    Dalam hukum alam, hanya persoalan waktu hingga tumpukan magma dalam timbunan materi di gunung untuk meletus. Bagi Suriah, kiranya sekarang adalah kesempatan itu. Sebuah keputusan telah ditetapkan rakyat pada gelombang musim semi Arab demi melawan rezim yang mengikatnya. Gejolak berlanjut sehingga hanya orang-orang dengan i’tikad yang benar-benar kuat saja yang sanggup meneruskan perjuangan tersebut. Akan tetapi, fenomena ISIS ini adalah manifestasi gerakan sebagian kelompok yang bergama Islam untuk melakukan pemberontakan, dengan tujuan pembebasan diri dari diskriminasi minoritas, bukan semata-mata untuk mendominasi. Langkah dominasi politis hanya dipilih karena terpaksa, untuk menjamin keamanan bagi kelompok kecil yang sudah sadar bahwa mereka telah mengguncang dunia. Barangkali kini mereka tidak memiliki pilihan untuk menjamin keselamatan diri mereka sendiri. Kemudian mereka melakukan pertahanan sepenuhnya: penyerangan sebelum diserang.
    Semestinya umat muslim diseluruh dunia mengerti bagaimana muasa kebingungan ISIS ini. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, alih-alih mulai memahami, mayoritas umat Islam mengucilkannya dalam label teroris tanpa belaian halus sebagai bujukan.

    Umat muslim sendiri perlu belajar pada keteguhan kelompok ISIS ini. Meski dengan kemampuan untuk memahami agama Islam yang terbatas, hasrat untuk meneguhkan keimanannya begitu besar. Barangkali ISIS bukan wakil dari Islam, tetapi hasrat-untuk-percaya mereka sekuat generasi sahabat.
Read more ...

Senin, 22 Februari 2016

Buah Tangan

Membeli oleh-oleh atau buah tangan sama sekali bukan urusan sepele. setidaknya hal itu berlaku buat saya. Oleh-oleh adalah sebentuk kearifan lokal yang muncul dari kepedulian seseorang pada kerabatnya. keragaman budaya rupanya sudah dipahami oleh masyarakat sejak dulu. Sementara masyarakat sadar bahwa tiap individu memiliki kesempatan yang berbeda untuk melakukan perjalanan dan mendapatkan pengalaman dari tempat lain. tentu saja ada perbedaan ini berpotensi untuk memunculkan rasa iri hati bagi individu yang tidak memiliki kesempatan yang dimiliki orang lain, meskipun dia juga memiliki kesempatan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang lain.



manusia Indonesia, sejauh yang saya ketahui, memiliki modal untuk memiliki rasa simpati yang didapatkan dari kultur yang amat menjunjung tinggi perasaan orang lain. sehingga muncul simbol-simbol kesopanan di tengah masyarakat, yang sayangnya kini mulai hilang, atau bertahan tetapi kehilangan makna filosofisnya. barangkali, dari modal ini tradisi oleh-oleh atau buah tangan muncul. merupakan upaya untuk menjaga perasaan orang lain yang tidak memiliki kesempatan demi melakukan perjalanan. seseorang yang diberi, pada gilirannya akan melakukan hal serupa ketika kesempatan untuk melakukan perjalanan itu tiba. tanpa disadari, tradisi semacam ini menjaga kearifan lokal hingga di masa modern ini. dan, pada frekuensi tertentu, tradisi oleh-oleh menjadi neraca penentu keseimbangan perspektif sebuah masyarakat budaya terhadap masyarakat budaya lainnya.
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates