Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Selasa, 30 April 2013

Gadis Cerdas, Gadis Impian


  Ada seorang pemuda Arab yang tampan, shalih, dan sangat cerdas. Dia ingin menikah dens shalihah dan cerdas seperti dirinya. Maka, mulailah dia mengembara dari satu kabilah ke kabilah lain, untuk mencari gadis impiannya.
  Suatu ketika, dia berjalan menuju kabilah di Yaman. Di tengah perjalanan, dia berjumoa dengan seorang lelaki. Akhirnya, dia berjalan bersama lelaki itu.
  Pemuda itu menyapa, “Hai Tuan, apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?”
  Spontan lelaki itu menjawab, “Hai bodoh, kau ini bagaimana? Aku menunggang kuda dan kau juga menunggang kuda.   Bagaimana kita bisa saling membawa?”
  Pemuda itu diam saja mendengar jawaban lelaki itu.
  Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Lalu, mereka melewati sebuah kampung. Kampung itu yang dikelilingi oleh kebun yang sudah tiba masa panennya.
  Pemuda itu bertanya, “Menurutmu, buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya, atau belum ya?”
  Seketika, lelaki itu menjawab, “Pertanyaanmu itu aneh sekali! Kamu sendiri melihat dengan mata dan kepalamu, buah-buahna itu masih ada di pohonnya dan belum dipanen kok kamu bertanya, apakah buah-buahna itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?”
  Pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab perkataan lelaki itu.
  Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Baru sebentar berjalan mereka bertemu dengan orang-orang yang sedang mengiring jenazah.
  Pemuda itu berkata, “Menurutmu, yang diiring dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati, ya?”
  Lelaki itu menjawab, “Aku semakin tidak paham denganmu. Aku tidak pernah menemukan pemuda yang lebih bodoh darimu. Ya, jelas! Jenazah itu akan dibawa untuk dikuburkan. Tentu dia sudah mati.”
  Pemuda itu kembali diam dan tidak menjawab sepatah kata pun atas komentar lelaki itu. Akhirnya, keduanya sampai di rumah lelaki itu. Dia mengajak pemuda itu menginap di rumahnya. Dia merasa kasihan, sebab pemuda itu terlihat sudah sangat letih.
  Lelaki itu memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik.
  Begitu tahu ada seorang tamu menginap, anak gadisnya itu bertanya, “Ayah, siapa dia?”
  “Dia itu pemuda paling bodoh yang pernah aku temukan.” Jawab ayahnya.
  Anak gadisnya itu malah penasaran. Dia mengejar dengan pertanyaan berikutnya, “Bodoh bagaimana?”
  Ayahnya langsung menceritakan awal pertemuannya dengan pemuda itu dan segala perkataan serta pertanyaannya.
  Mendengar cerita ayhnya, anak gadis itu berkata, “Ayah ini bagaimana? Dia itu tidak bodoh. Justru dia sangat cerdas dan pandai. Kata-katanya mengandung makna tersirat. Ketika dia mengatakan, ‘Apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?’, sebenarnya maksudnya adalah, ‘Apakah kita bisa saling berbincang-bincang sehingga bisa membawa kita pada suasana yang lebih akrab?’ ketika dia mengatakan, ‘Buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?’ Ia memaksudkan, ‘Apakah pemiliknya sudah menjualnya, pemiliknya tentu menerima uangnya dan membelanjakannya untuk makan dia dan keluarganya. Kemudian, ketika dia bertanya, ‘Apakah jenazah di dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati?’ Maksudnya, ‘Apakah jenazah itu memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuangannya atau tidak?’
  Setelah mendengar apa yang dikatakan putinya, lelaki itu keluar menemui pemuda itu. Dia meminta maaf atas perkataannya yang membodoh-bodohkan pemuda itu. Keduanya lalu berbincang-bincang.
  Lelaki itu berkata, “Sekarang aku baru tahu apa maksud pertanyaan-pertanyaanmu dalam perjalanan tadi.”
  Lalu, dia menjelaskan seperti yang dikatakan putrinya.
  Mendengar itu,  sang pemuda bertanya, “Saya yakin itu bukan lahir dari pikiranmu sendiri dan bukan perkataanmu demi Allah, katakanlah padaku siapa yang mengatakannya?”
  “Yang mengatakan hal itu padaku adalah putriku.” Jawab lelaki itu.
  Spontan pemuda itu berkata, “Apakah kau mau menikahkan aku dengan putrimu?”
  “Ya.”
   Begitulah, setelah melalui pengembaraan yang panjang, akhirnya pemuda itu menemukan pendamping hidup yang dia impikan.

Sumber: Ketika Cinta Berbuah Surga - Habiburrahman El-Shirazy
Hak Cipta : Allah ta'ala
Read more ...

Senin, 29 April 2013

Putusnya Persahabatan


  Barangkali tak pernah ada seorangpun yang menyangka, bahwa persahabatan dua orang yang bersahabat kental itu akan berpisah buat selama-lamanya. Orang lebih mengenal di dengan nama sahabatnya – yaitu dengan sebutan “Kawan Imam Ash-Shadiq.”
  Pada suatu hari, kedua orang yang bersahabat itu masuk ke dalam pasar sepatu. Mereka disertai pula seorang budak dari kawan Imam Ash-Shadiq – yang berjalan di belakang mereka. Suatu saat, kawan Imam Ash-Shadiq itu menoleh ke belakang akan tetapi ternyata budaknya tidak kelihatan. Namun, dia tetap berjalan beberapa langkah, kemudian menoleh sekali lagi, dan ternyata budaknya tetap belum juga kelihatan. Dan untuk ketiga kalinya dia melihat pula ke belakang, dan ternyata budaknya tetap belum kelihatan. Oleh karena itu, dia sibuk mencara ke sana ke mari dalam pasar itu. Dan setelah sekian lama budaknya baru kelihatan, maka berkatalah ia: “Hai anak sundal, dari mana kau?”
  Mendengar perkataan seperti itu maka Imam Ash-Shadiq merasa kesal. Oleh karena itu, beliau mengangkat tangannya, lalu memukulnya muka kawannya seraya berkata: “Subhanallah, kau menuduh berzina kepada ibunya. Tadinya saya kira kamu seorang yang wara’, tapi ternyata tidak!”
Kawannya berkata: “Biarlah kutebus engkau dengan diriku hai putra Rasulullah. Sesungguhnya ibunya adalah seorang wanita musyrik dari Sindi.”
  Jawab Imam Ash-Shadiq: “Sekalipun ibunya kafir, umpamanya, namun tidakkah engkau tahu, bahwa pada setiap umat  terdapat pernikahan, dan bahwa anak-anak mereka tidaklah seperti anak-anak kita.” Kemudian Ash-Shadiq berkata lagi: “Enyahlah kau dariku!”
   Sesudah itu, Imam Ash-Shadiq tak pernah lagi kelihatan lagi berjalan bersama kawannya itu, sehingga maut memisahkan antara mereka berdua.
Read more ...

Minggu, 28 April 2013

Beberapa Pengetahuan & Kesalahan Umum Tentang Otak

   Rupanya banyak masyarakat awam di Indonesia yang salah memahami tentang konsep otak. maklum, otak adalah salah satu organ manusia yang terletak di dalam tubuh, alhasil tidak bisa dilihat dengan mata. karena itu, saya ingin berbagi pengetahuan tentang otak, dari kuliah tambahan saya di fakultas psikologi yaitu tentang fisiologi psikologi (psikologi faal).
Read more ...

Hasil Usaha


  Ali bin Abi Hamzah Al-Bathaini berjalan melewati Imam Al-Kazhim, yang sedang bekerja keras di ladangnya dan mempersiapkannya untuk ditanami, dengan penuh semangat. Keringat mengucur dari tubuhnya, sehingga Ali bin Abi   Hamzah tertarik untuk bertanya kepadanya: “Biarlah aku menjadi penggantimu. Ke manakah orang-orang? Kenapakah tidak engkau serahkan pekerjaan ini kepada orang lain?”
  “Kenapakah harus aku serahkan pekerjaan ini kepada orang lain, hai Ali? Bila aku melakukan dengan tanganku sendiri, maka telah ada orang yang lebih baik dariku dan daripada ayahku, yang bekerja dengan tangannya sendiri.”
  “Siapa?”
   “Rasulullah dan Amirul Mukminin, dan bapak-bapakku, seluruhnya telah bekerja dengan tangan mereka. Dan bekerja adalah profesi dari para Nabi dan utusan-utusan Allah – pengemban wasiat dan orang-orang shaleh.”
Read more ...

Sabtu, 27 April 2013

Di gubug Bani Sa’idah


  Kegelapan telah meliputi Madinah dengan kedua sayapnya yang hitam sedang hujan telah membasahi permukaan bumi dengan air matanya yang mengucur. Saat kegelapan malam yang penuh ketenteraman itu dimanfaatkan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq dengan baik. Dia keluar dari rumahnya menuju gubug Bani Sa’idah – dan kebetulan hal itu dilihat Mu’alla bin Khunais salah seorang sahabat sekaliguspengagumnya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya: “Amboi, hendak ke manakah gerangan Imam keluar di malam hari seperti ini? Demi Allah, saya takkan membiarkannya pergi sendirian di malam yang gelap gulita seperti ini.”
  Maka berjalanlah Mu’alla di belakang Al-Imam membuntutinya, sementara Al-Imam sendiri tidak mengetahui. Tatkala dia mengikuti jejak Al-Imam, tiba-tiba dia mendengar sesuatu yang jatuh dari bahu Al-Imam, dan tercecer di atas tanah. Dan dingarnya pula Al-Imam berkata: “Bismillah, ya Allah, kembalikanlah ia kepada kami.”
Mu’alla mendekati Al-Imam lalu menyampaikan salam kepadanya, sehingga dari suaranya itu, tahulah Imam Ash-Shadiq siapa yang datang lalu berkata kepadanya: “Mu’allakah anda ini?”
  “Benar.” Jawab yang ditanya. “Biarlah aku menjadi pembelamu.” Sekilas ia melirik ke atas tanah, dan ternyata dia melihat roti yang banyak berceceran di sana.
  Al-Imam berkata: “Rabalah tanah dengan tanganmu, dan bawalah kemari apa-apa yang kamu dapatkan.”
  Dan setelah Mu’alla berhasil mengumpulkan roti dari atas tanah dan dia berikan kepada Al-Imam, mengertilah ia bahwa Al-Imam tidak kuat memanggul karung roti, sehingga karung itu jatuh di atas tanah. Oleh karena itu dia meminta ijin untuk menggantikannya memanggul karung itu.
  Namun jawab Al-Imam: “Tidak! Aku lebih memanggulnya daripada kamu. Akan tetapi ikutilah aku.”
Kedua orang itu berjalan bersama-sama, sedang Al-Imam tetap memanggul karung di atas bahunya, sehingga sampailah mereka berdua ke gubug Bani Sa’idah. Dan di sana, ternyata mereka melihat orang-orang fakir miskin dan orang-orang yang lemah. Dan mulailah Al-Imam meremas-remas satu-dua keping roti, lalu ia pun pergi bersama Mu’alla.
   Al-Imam berkata kepada Mu’alla: “Sedekah di waktu malam akan memadamkan murka Allah, dan menghapuskan dosa serta meringankan hisab.”
Read more ...

Jumat, 26 April 2013

Kejujuran membawa Berkah


  Suatu ketika seorang pria berkebangsaan Eropa yang telah memeluk agama Islam melihat iklan lowongan kerja di sebuah instansi pemerintah yang kafir. Tanpa ragu ia pun mengajukan lamaran untuk mendapat pekerjaan itu – sebelumnya dia sudah menyadari resiko yang bakal ia terima atas keIslamannya.
  Saat gilirannya tiba untuk diwawancarai, panitia penerimaan pegawai mengajukan beberapa pertanyaan, di antaranya, “Apakah anda gemar mengkonsumsi minuman keras?” Jawabnya: “Tidak, saya adalah seorang muslim, agama yang saya peluk ini melarangnya.” Kemudian mereka melanjutkan pertanyaan, “Apakah anda memiliki teman kencan?” Jawabnya: “Tidak, agama yang saya anut ini mengharamkannya. Saya hanya berhubungan dengan istri yang telah saya nikahi sesuai dengan syariat Islam.”
   Setelah wawancara selesai ia keluar dengan perasaan agak pesimis akan hasil tesnya di instansi itu – pertama jumlah pesaing cukup banyak dan kedua ke-Islamannya. Ternyata dugaannya meleset, ia diterima sementara peserta yang lain dinyatakan gagal. Untuk menghilangkan rasa keheranannya ia mendatangi panitia penerimaan, dan berkata: “Tadinya saya mengira anda tidak akan menerima saya atas perbedaan agama kita. Saya terkejut bisa diterima, apa rahasia di balik ini semua?” Ketua panitia ini menjawab: “Rahasianya adalah, orang yang diterima hanyalah orang yang memiliki perhatian penuh terhadap pekerjaan, dan cekatan dalam setiap keadaan. Jadi untuk pekerjaan seperti ini tidak mungkin diamanahkan kepada orang yang suka bermabuk-mabukan, atau orang yang suka berkencan – dan anda memenuhi persyaratan itu.” Setelah mendengar penjelasan itu semua keluarlah ia dari ruangan seraya bersyukur kepada Allah yang melimpahkan nikmat Islam yang begitu besar bagi dirinya.
Read more ...

Kamis, 25 April 2013

Jamuan Makan Khalifah



  Syarik bin Abdillah An-Nakha’i adalah seorangahli fiqih yang tersohor pada abad kedua Hijriyah. Ia akan kezuhudan, ketaqwaan dan keluasan ilmunya. Khalifah al-Mahdi dari daulah Bani Abasiyah sangat mengharapkannya agar ia bersedia menjadi hakim. Tetapi dia menolaknya dan berusaha menjauhkan diri untuk tidak membantu penguasa yang zhalim, sebagaimana dia menolak ketika ditawari menjadi guru pribadi (private) bagi anak-anaknya.
  Pada suatu hari khalifah Al-Mahdi mengirim seorang utusan kepadanya dengan mengajukan  tiga alternatif, agar ia memililih salah satu di antaranya:
  Pertama: Ia akan diberi jabatan sebagai hakim negara.
  Kedua: Ia disuruh mengajar kedua anak khalifah Al-Mahdi
  Ketiga: Ia diminta datang untuk menghadiri jamuan makan di istana.
  Setelah berfikir dalam-dalam akhirnya ia memutuskan untuk memilih alternatif terakhir, karena hal itu dianggap yang paling ringan baginya.
  Segeralah khalifah Al-Mahdi menginstruksikan juru masaknya agar menyiapkan aneka ragam masakan yang lezat cita rasanya.
  Seusai Syarik menikmati hidangannya, berkatalah kepala juru masak istana kepada khalifah: “Sehabis jamuan makan ini, niscaya Syarik itu tak akan selamat selamanya.”
  Apa yang diramalkan kepala juru masak istana, kemudian menjadi kenyataan. Selang beberapa saat setelah jamuan makan itu, Syarik telah menduduki jabatan hakim negara. Di samping itu ia juga telah menjadi guru privat bagi anak-anak khalifah, dan ditetapkan pula bahwa ia akan menerima gaji dari Baitul Maal.
  Pada suatu ketika terjadilah persengketaan antara Syarik dan kepala Baitul Maal. Yang menjadi persoalan adalah uang gaji Syarik. Kepala Baitul Maal berkata: “Sesungguhnya kamu belum menjual sesuatu kebaikan apa pun.”
Maka Syarik pun menyangkal: “Demi Allah, saya telah menjual sebesar-besar kebaikan. Saya telah menjual agama saya.”
Read more ...

Rabu, 24 April 2013

Tali Sepatu


  Imam Ja’far Ash-Shadiq pada suatu hari pergi bersama beberapa orang sahabatnya kepada salah seorang kerabatnya, untuk sekedar memberinya hiburan. Ketika dia berjalan bersama sahabat-sahabatnya itu, tiba-tiba tali sepatunya putus. Maka tali itu dia ambil dengan tangannya lalu berjalan tanpa sepatu. Ketika hal itu diketahui Ibnu Abi Ya’fur, salah seorang sahabatnya yang terkemuka, maka dia mencopot tali sepatunya dan dia berikan kepada Al-Imam supaya beliau berjalan bersepatu. Namun ternyata Al-Imam menolak, dan tidak suka terhadap apa yang dilakukan Ibnu Abi Ya’fur itu, lalu berkata: “Sesungguhnya orang yang ditimpa musibah lebih patut menerimanya dengan sabar.”
Read more ...

Selasa, 23 April 2013

Muslim Baru


  Di antara kisah yang disampaikan Imam Ja’far Ash-Shadiq adalah seorang muslim bertetangga dengan seorang Nasrani. Mereka berdua kerap kali membicarakan tentang Islam. Penjelasan si muslim tentang Islam demikian menarik, sehingga tetangga itu akhirnya memeluk Islam.
  Waktu masih terlalu malam, fajar pun belum menyingsing, ketika tetangga yang baru masuk Islam itu mendengar pintunya diketuk orang. Maka bertanyalah ia:
  “Siapa yang mengetuk pintu?”
  “Saya, tetanggamu.”
  “Ada keperluan apa malam-malam begini kau datang kemari?”
  “Berwudhulah dengan segera dan kenakanlah pakaianmu. Kita pergi ke masjid bersama untuk melaksanakan Shalat Shubuh.”
  Maka berwudhulah si Nasrani yang baru memeluk Islam tadi, kemudian keluar bersama tetangganya, si muslim, menuju masjid. Selama hidupnya baru kali ini ia pergi ke masjid. Ketika itu fajar baru menjelang lalu shalatlah mereka beberapa raka’at hingga waktu Shubuh tiba.
  Begitu masuk waktu Shubuh, mereka pun melaksanakan Shalat Shubuh berjama’ah, diteruskan dengan membaca dzikir dan do’a sampai hilang kegelapan malam. Hari pun telah menjadi terang dan si Muslim yang baru itu beranjak dari tempat duduknya akan pulang. Tetapi ia ditegur oleh temannya tadi:
  “Kemana kau?”
  “Mau pulang kita kan telah melaksanakan kewajiban shalat. Pekerjaan telah menanti kita.”
  “Kenapa terburu-buru. Kita baca dulu wirid-wirid setelah sampai terbit matahari.”
  Ia pun kembali ke tempat duduknya semula, lalu membaca wirid-wirid sampai sang surya menampakkan dirinya. Bersamaan dengan terbitnya matahari ia bangkit dari tempat duduknya hendak pergi, namun dicegah oleh temannya:      “Tahukah kau betapa besarnya pahala dan keutamaan puasa?”
  Di kala waktu Zhuhur menjelang tiba, temannya berkata: “Bersabarlah waktu zhuhur tinggal sebentar lagi.” Seusai shalai zhuhur ia berkata pula: “Jarak antara waktu Ashar dan Zhuhur tidaklah jauh. Sebaiknya kita tunggu waktu Ashar sebab seutama-utamanya shalat Ashar adalah jika dilaksanakan tepat pada waktunya.”
  Shalat Ashar mereka kerjakan. Kini berkatalah temannya: “waktu siang tinggal sedikit. Tanggung kalau kita pulang tunggu sajalah waktu Maghrib selesai dikerjakan. Dan baru saja ia hendak beranjak meninggalkan masjid setelah shalat Maghrib, temannya mencegah dangan berkata: “Kewajiban shalat kita hanya tinggal satu kali lagi. Sempurnakanlah yang satu ini.” Barulah mereka pulang bersama seusai shalat Isya.
Pada malam yang kedua si muslim baru itu mendengar pula pintunya diketuk orang, maka bertanyalah:
  “Siapa yang mengetuk pintu?”
  “Saya tetanggamu. Ambillah air wudhu dan mari kita pergi ke masjid bersama lagi.” Namun jawabannya di luar dugaan:   “Cukup sampai di sini saya memluk agamamu. Carilah orang lain yang lebih tahan menghabiskan waktunya di masjid daripada saya. Saya adalah orang miskin yang punya tanggungan keluarga. Saya mesti bekerja mencari rezeki.”
   Setelah Imam Ash-Shadiq selesai menceritakan kisah ini, maka berkatalah: “Muslim ini telah memasukkan tetangganya yang miskin ke dalam Islam. Tetapi, ia pulalah yang memurtadkannya. Maka pandai-pandailah kamu mengambiil palajaran dari kisah ini. Janganlah kamu mempersulit manusia. Kekuatan manusia itu berbeda-beda. Kita harus mempergauli mereka dengan mempertingmbangkan kondisi mereka.”
Read more ...

Senin, 22 April 2013

Pengangkat Beban


  Pada suatu hari Rasulullah SAW lewat dan menyaksikan sekelompo orang yang sedang mengangkat batu-batu. Rasulullah bertanya kepada mereka: “Sedang apa kalian?”
Mereka menjawab: “Kami sedang menguji siapakah di antara kami yang paling kuat.”
Rasulullah bertanya pula: “Maukah kalian kuberi tahu siapa di antara kalian yang terkuat?”
  “Tentu saja ya Rasulullah,” jawan mereka.
  “Yang terkuat di antaramu ialah orang yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1.    Apabila sedang suka, rasa sukanya tidak sampai menjerumuskan dirinya ke dalam dosa dan kebatilan.
2.    Apabila sedang benci, rasa bencinya tidak sampai menyeretnya keluar dari kebenaran.
3.    Apabila sedang berkuasa, tidaklah mau mengambil sesuatu yang bukan haknya.”
Read more ...

Keputusan yang Bijak


  Ada seorang pemuda tampan di Kufah, kuat beribadah lagi rajin. Suatu ketika dia berkunjung ke Bani An-Nakha’, tanpa disengaja ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat elok nan rupawan. Pertemuan ini membuat ia langsung mabuk kepayang, begitu juga halnya dengan si wanita. Tanpa membuang waktu si pemuda langsung melamar si gadis tadi. Sang ayah yang menerima utusan untuk melamar mengabarkan bahwa si anak gadisnya telah dijdohkan dengan seudara sepupunya. Namun rasa cinta yang sudah membara tidak padam begitu saja, malah semakin berkobar-kobar. Akhirnya si gadis mengirimkan utusannya untuk menyampaikan pesan yang berbunyi, “Aku tahu betapa besar rasa cintamu padaku, dan betapa besar aku diuji dengan kamu. Bila engkau berkenan aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.”
  Sebagai seorang pemuda yang bertaqwa – ia merasa wajib menjaga kehrmatannya – dua alternatif yang diberikan si gadis idaman itu ditolaknya dengan jawaban bijak:
   “Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar kiamat.” (QS. 10:15)
Read more ...

Ibnu Sina dan Ibnu Maskawaih


  Ibnu Sina adalah seorang alim yang menguasai ilmu-ilmu yang ada pada masa hidupnya. Masih dalam usia belasan tahun, ia telah mendalami ilmu-ilmu filsafat, fisika, eksakta dan ilmu-ilmu agama. Pada suatu hari, tatkala ia sedang mengajar murid-muridnya, Ibnu Maskawaih, seorang alim yang sangat terkenal, ikut mendatangi ruang belajar. Ibnu Sina melemparkan sebuah jauzah (sejenis pinang, pen) ke arah Ibnu Maskawaih sambil bertanya dengan sikap sombong, “Berapakah luas permukaan kulit dari buah ini?”
   Ibnu Maskawaih menjawab: “Perbaiki dahulu akhlakmu! Itu lebih penting daripada menentukan luas permukaan kulit buah ini.” Kemudian ia memberikan Ibnu Sina buku pelajaran akhlak yang kebetulan dibawanya. Mendengar kata-kata itu merahlah muka Ibnu Sina karena malunya. Mulai saat itu ia memperbaiki akhlaknya.
Read more ...

Imam Ghazali dan Penyamun


  Imam Ghazali, seorang pemikir Islam yang tersohor itu adalah kelahiran desa Thus, yang terletak di dekat kota Masyhad. Beliau hidup pada abad ke-5 Hijriyah. Waktu itu kota Naisapur menjadi pusat ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para penuntut ilmu dari berbagai penjuru – dan beliau adalah salah satu di antaranya.
Beliau datang ke Naisapur dan Jurjan untuk menuntut ilmu dan memburu keutamaan. Dari kedua kota itu beliau berhasil mengumpulkan segudang ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya.
  Ada pun metode yang ditempuh Imam Ghazali dalam studinya, ialah mencatat segala apa yang diajarkan gurunya dalam kertas agar tidak lupa. Dengan cara ini, beliau berhasil mengumpulkan sejumlah banyak catatan selama masa studinya.
Ketika beliau akan pulang ke kampung halamannya, catatan-catatan itu dibawa serta dimasukkan ke kopor. Lalu pulanglah beliau bersama rombongannya. Di tengah perjalanan, mereka dicegat sekawanan penyamun yang siap merampas segala harta mereka.
  Satu persatu mereka digeledah, dan sampai pada giliran Imam Ghazali, penyamun-penyamun tadi mendapatkan kopor yang berisi catatan-catatan. Mereka bermaksud untuk merampasnya menyangka bahwa di dalam kopor itu berisi barang-barang yang berharga, namun beliau tetap mempertahankan kopor itu agar tidak dirampas. Setelah dibuka, ternyata isinya lembaran-lrmbaran kertas dan buku-buku. Lalu mereka bertanya: “Untuk apa ini semua?”
  “Ini bermanfaat bagiku tetapi tidak untukmu.”
  “Manfaat apa yang kau peroleh dari lembaran-lembaran ini?”
  “Ini adalah hasil jerih payahku selama bertahun-tahun menuntut ilmu. Jika kamu ambil barang ini, akan lenyaplah semua pengetahuanku dan akan sia-sialah hasil usahaku selama ini.”
  “Apakah benar semua yang kau pelajari itu ditulis dalam kertas-kertas ini?”
  “Benar.”
  “Ilmu yang dapat dicuri bukanlah ilmu.”
Rupanya kalimat ini benar-benar menggores dalam lubuk hatinya. Selanjutnya beliau mengubah metode belajarnya dalam rangka menambah kecerdasannya. Beliau merasa bahwa selama ini dirinya tak berbeda dengan seekor burung beo, hanya merekam apa-apa yang diperoleh dari gurunya dalam kertas. Setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut penyamun, beliau mulai melatih otakya berpikir dan membiasakan diri untuk menghafal. Sejak itu beliau selalu mengabadikan masalah-masalah penting di dalam otaknya, tidak lagi mencatatnya dalam kertas.
   Terhadap nasihat yang amat berharga itu beliau berkomentar, “Sebaik-baik nasihat yang menerangi jalan pikiranku dalam kehidupan ini ialah nasihat yang kudengar dari para penyamun.”
Read more ...

Imam Ash-Shadiq dan Rombongan kaum shufi

   Sufyan Al-Tsauri datang ke rumah Imam Ja’far Ash-Shadiq, saat itu Imam mengenakan pakaian indah serba putih. Maka berkatalah Sufyan kepadanya: “Ini bukanlah pakaian tuan. Tidak patut tuan melumuri diri tuan dengan perhiasan dunia yang fana ini. Seyogyanya tuan hidup secara zuhud dan menghias diri dengan taqwa.”
    Imam Ash-Shadiq menyahut: “Dengarkanlah perkataanku, sesungguhnya bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat, jika kamu mati dalam berperang pada sunnah dan kebenaran, dan tidak mati dalam keadaan berbuat bid’ah. Mungkin terlintas di matamu keadaan Rasulullah dan para sahabatnya yang sangat sederhana ketika itu. Ketahuilah bahwa Rasulullah itu hidup di zaman yang gersang. Tapi, apabila dunia ini sudah dihidangkan kepada manusia, maka yang lebih berhak atasnya ialah orang-orang yang taat, bukan orang-orang yang ingkar; orang-orang yang beriman, bukan orang-orang munafik dan orang-orang Islam bukan orang-orang kafir. Wahai Tsauri, apa yang kau ingkari atasku. Demi Allah, sesungguhnya sekalipun aku berpakaian indah seperti yang kau lihat, namun sejak aku dewasa, pagi ataupun petang kapan saja bila pada hartaku terdapat sesuatu yang harus aku berikan kepada seseorang, pasti aku berikan.”
    Maka keluarlah Sufyan dari rumah Imam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dan berikutnya, sekelompok orang masuk ke rumah Imam. Mereka adalah orang-orang yang zuhud dan mengajak manusia agar mengikuti jejak mereka, hidup dalam kesengsaraan.
    Mereka berkata kepada Imam: “Sahabatku Tsauri telah kehabisan argumen.”
    “Kamu sekalianpunya rgumen atau pertanyaan? Kemukakanlah!” seru Imam.
    Maka berkatalah mereka: “Alasan kami adalah merupakan kesimpulan dari ayat Al-Qur’an.”
    “Kemukakanlah ayat itu, sesungguhnya ayat Al-Qur’an lah yang paling patut dianut dan dilaksanakan.”
    “Allah menceritakan tentang sekelompok orang-orang yang dekat dengan Rasulullah mereka mengutamakan kaum muhajirin atas diri mereka walaupun mereka sendiri dalam kesusahan. Barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka termasuk orang-orang yang beruntung.” (QS. 59:9). Di ayat lain Allah pun berfirman: “Dan mereka memberi makankepada orang-orang miskin, anak-anak yatim dan tawanan  dengan makanan yang mereka sukai.” (QS. 76:8)
    Maka berdirilah seorang di antara mereka seraya berkata, “Aku sama sekali tidak melihat engkau zuhud dalam soal makanan yang baik, sementara engkau memerintahkan manusia untuk zuhud dalam harta mereka, dan di lain pihak engkau sendiri bersenang-senang dengan harta itu.”
    Imam berkata: “Tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat. Katakanlah kepadaku, apakah kalian mengetahui adanya nasikh-mansukh dan ayat muhkamat serta mutasyabihat di dalam Al-Qur’an yang dalam hal itu banyak sekali umat yang tersesat dan celaka?”
    Mereka berkata: “Kami hanya mengetahui sebagian saja, tidak seluruhnya.”
    Kata Imam Ash-Shadiq selanjutnya: “Dari sinilah kamu tertimpa bencana. Adapun yang kamu sebutkan kepadaku tentang ayat Al-Qur’an yang menceritakan tentang kebaikan perlakuan orang-orang Anshor terhadap orang-orang Muhajirin, itu memang baik, tapi itu merupakan hal yang mubah. Di waktu mereka tidak dilarang melakukannya. Hal itu, karena kemudian Allah menyuruh dengan suruhan yang berbeda dari apa yang mereka kerjakan, maka suruhan Allah itu merupakan penghapus (nasikh) dari perbuatan mereka, sedang larangan-Nya merupakan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maksudnya agar mereka beserta keluarga mereka tidak tertimpa bahaya, karena di antara mereka ada anak-anak kecil yang lemah, dan ada orang-orang tua yang tak tahan menanggung lapar. Dan seandainya aku bersedekah sepotong roti selain itu, maka mereka akan binasa kelaparan. Oleh karena itulah, Rasulullah bersabda:
    “Barangsiapa yang inginmenafkahkan kurma, roti, dinar atau dirham yang dimilikinya, maka yang paling utama untuk diberi nafkah ialah kedua orang tuanya, dan kedua dirinya sendiri beserta orang yang menjadi tanggungannya. Yang ketiga para kerabat dan saudara-saudaranya yang mukmin. Yang keempat: para tetangganya yang miskin. Dan yang kelima untuk kepentingan di jalan Allah. Itulah nafkah yang mendapat pahala terbaik.”
    “Ketika Rasulullah mendengar salah seorang penduduk Madinah menafkahkan seluruh hartanya pada detik-detik terakhir menjelang kematiannya, padahal dia mempunyai beberapa anak kecil, beliau berkata: “Seandainya kalian memberitahukan masalahnya kepadaku, tak akan kubiarkan kalian menguburnya di pemakaman umat Islam. Dia telah menjadikan anak-anaknya terlantar dan meminta-minta.”
    Kemudian Imam Ash-Shadiq berkata: “Ayahku, Al-Baqir memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Orang yang pertama kali patut dinafkahi ialah orang yang terdekat.”
    Ia melanjutkan perkataannya: “Lain dari itu Al-Qur’ an pun menolak perkataan kalian dan melarang perbuatan kalian. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan) itu di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. 25:67). Di ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Ia tak suka kepada orang yang berlebih-lebihan.”     (QS. 6:141). Jadi Allah melarang kaum muslimin berlebih-lebihan dan berlaku kikir. Allah tidak membenarkan seseorang menafkahkan seluruh kekayaannya sementara dia berdo’ a kepada-Nya agar dia diberi rezeki. Allah tak akan mengabulkan do’anya; sesuai dengan hadits nabi yang menyatakan: “Sesungguhnya ada beberapa golongan dari umatku yang tidak dikabukan do’anya:
    Pertama: Orang yang mendo’akan kejelekan buat orang tuanya.
    Kedua: Orang yang mendo’akan kejelekan buat orang yang berpiutang. Penghutang itu pergi membawa harta si pemberi hutang, tapi tidak mau menuliskan dan tidak sudi menjadi saksi atasnya.
    Ketiga: Orang yang mendo’akan kejelekan buat isterinya padahal Allah telah menyerahkan nasib wanita itu kepadanya.
    Keempat: Orang yang duduk ongkang-ongkang di rumah sambil berdo’a memohon rezeki kepada Tuhannya, tanpa melakukan suatu usaha. Allah Ta’ala berfirman. Hai hamba-Ku, bukankah Aku telah memberikan jalan kepadamu buat mencari rezeki dan berusaha dengan anggota tubuh yang sehat, sehingga kamu tidak tercela di hadapan-Ku dalam meminta karunia, karena kamu menunaikan perintah-Ku; dan juga agar kamu tidak menjadi beban atas keluargamu. Selanjutnya, jika Aku menghendaki, maka Aku beri rezeki kepadamu, dan jika Aku menghendaki maka Aku tak memberikan rezeki kepadamu. Tapi kamu tidak lagi tercela di sisi-Ku.
    Kelima: Orang yang dikaruniai Allah harta yang bayak kemudian menafkahkan seluruh hartanya itu. Lalu ia berdo’a kepada Allah memohon rezeki lagi, sehingga Allah berfirman: Bukankah Aku telah memberimu rezeki yag luas? Mengapa kamu tidak hemat dengan hartamu sebagaimana Aku perintahkan, dan mengapa kamu berlebih-lebihan padahal yang demikian itu Aku larang?
  Keenam: Orang yang berdo’a, padahal dia memutuskan siaturahmi.
Sesungguhnya Allah SWT telah mengajarkan kepada Nabi-Nya bagaimana seharusnya membelanjakan harta. Pernah beliau menafkahkan sejumlah emas, karena merasa tidak senang jika masih ada emas walaupun dalam jumlah sedikit di rumahnya. Maka dalam sehari itu beliau menyedekahkan semua emas yang ada padanya. Pada hari berikutnya beliau didatangi seseorang yang hendak memohon pertolongan, ternyata tak ada sesuatu pun yang dapat diberikan kepadanya – gundahlah hati Rasulullah. Ketika itu turun ayat: “Dan janganlah kau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula kau terlalu mengulurkannya, maka kamu akan menjadi tercela dan menyesal.”      (QS. 17:29). Ayat ini menguatkan apa yang terkandung dalam hadits Nabi tadi.
    Ketika Abu Bakar dalam keadaan kritis menjelang wafatnya, beliau diminta supaya berwasiat, maka beliau berkata: “Saya berwasiat seperlima hartaku, dan seperlima adalah banyak. Sesungguhnya Allah ridha dengan seperlima.”
Abu Bakar mewasiatkan seperlima hartanya, meski sebenarnya Allah memberinya kemampuan untuk berwasiat lebih dari itu (sepertiganya). Sekiranya Abu Bakar berpendapat bahwa berwasiat sepertiga itu baik, tentu sekian itulah yang beliau lakukan.
    Hal seperti itu terjadi pula pada diri Salman dan Abu Dzar yang dikenal sebagai orang zuhud dan wara’. Setiap kali Salman mengambil bayarannya, ia selalu menyisihkan makanan untuk satu tahun disimpan sampai datang bayaran berikutnya.Bertanyalah seorang kepadanya: “Hai Abu Abdillah engkau adalah orang zuhud, tapi mengapa berlaku demikian? Padahal engkau tidak tahu apakah akan mati sekarang atau besok hari.”
    Ia menjawab: “Mengapa kamu mengharapkan aku segera mati? Apakah kamu tidak mengerti bagi tiap-tiap bagian jiwa itu ada sepertiga bagian, sehingga jika sedang ditimpa kesusahan hidup, maka ia bisa menyandarkan diri kepada-Nya. Dan jika kehidupannya sedang lapang, ia merasa ringan.
    Adapun Abu Dzar, sebagai serang zuhud ia mempunyai banyak unta dan domba.Jika ada di antara keluarganya yang menginginkan daging atau sedang ditimpa kesulitan hidup, iaperah susunya dan ia sembelih binatang itu, kemudian dagingnya dibagi-bagikan. Dia pun mengambil bagian yang sama sebagaimana yang ia berikan kepada orang-orang.
Siapakah yang berani mengaku lebih zuhud dari mereka, padahal Rasulullah sendiri telah mengatakan sedemikian rupa mengenai mereka? Ketahuilah saudara-saudara sesungguhnya pernah saya mendengar ayah saya meriwayatkannya dari kakek-kakekku, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Tidaklah aku heran erhadap sesuatu melebihi keherananku kepada seorang mukmin. Jika terpotong-potong kulitnya di dunia dengan gunting, hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika ia memiliki seluruh isi dunia timur dan barat, hal itu merupakan kebaikan baginya. Apa pun yang ditakdirkanAllah terhadapnya selalu dianggap sebagai kebaikan.”
    Jadi kebahagiaan dan kebaikan seorang mukmin bukanlah terletak pada kelayaan ataupun kepapaannya, melainkan tergantung pada iman dan aqidahnya. Karena ia tahu, bahwa kewajiban itu mesti dilakukan, baik dalam keadaan kaya maupun dalam keadaan miskin. Sungguh aneh, manakala ada seorang mukmin menyengsarakan dirinya, degan keyakinan bahwa kesengsaraan itu merupakan kebahagiaan dan kebaikan.
    Selanjutnya Imam berkata: “Bolehkah aku tambah lagi perkataanku? Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya Allah SWT dahulu mewajibkan atas orang-orang mukmin, agar satu orang di antara mereka harus melawan sepuluh orang musyrik, tanpa boleh berpaling dari mereka. Barang siapa berpaling maka kelak akan ditimpa siksa neraka. Kemudian Allah mengubah ketentuan tersebut. Akhirnya seorang mukmin diharuskan melawan dua orang musyrik saja. Hal ini merupakan rahmat dan keringanan buat mereka. Jadi “dua orang” itu merupakan nasikh bagi “sepuluh orang”.
    Ketahuilah pula bahwa seorang hakim akan menjadi orang yang zhalim bila dia mengharuskan seseorang memberi nafkah kepada isterinya, padahal orang itu sudah mengatakan, “Saya ini seorang zahid, yang tak punya apa-apa.” Kalau kalian katakan hakim itu kejam, berarti kalian menganiaya sesama orang Islam dan mengada-ada. Tapi kalau kalian katakan hakim itu adil, maka hakim memusuhi diri sendiri.
    Perlu kalian ketahui pula bahwa jika semua manusia seperti kalian dalam berzuhud, tak perduli sama sekali dengan harta dunia, maka kepada siapa sedekah akan diberikan jika seseorang mau membayar kifarat sumpah atau kifarat nadzar? Kepada siapa zakat unta, kambing, sapi, dan lain-lain akan diserahkan? Kepada siapa pula zakat emas, perak, buah-buahan dan segala harta zakat akan dibayarkan?
    Seandainya Islam menjadikan dunia ini sebagai tempat kepapaan dan penderitaan hidup, atau sebagai tempat berpaling dari segala bentuk kesenangan duniawi atau sebagai penjara kemiskinan, dan dia harus mendekam di dalamnya, tentulah orang-orang fakir miskin itu telah sampai kepada apa yang dicita-citakan Islam. Lalu buat apa kita diwajibkan memeri zakat kepada mereka? Tentulah tidak perlu lagi kita mengusik kebahagiaan yang sedang mereka nikmati, yaitu kefakiran, dan tak perlu lagi menerima pemberian.
  Jika dunia yang dikehendaki adalah seperti apa yang kalian katakan, mestinya tak boleh ada seseorang yang menyimpan harta benda. Apa pun yang dimiliki seseorang haruslah dicampakkan, walaupun ia sendiri sedang dihimpit kesulitan hidup. Jelek nian dunia yang kalian dambakan. Dan kalian telah membawa umat ini kepada situasi kebutaan terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Kalian telah menolak hadits-hadits yang tidak sesuai dengan jalan hidup yang kalian tempuh. Inilah bentuk ketololan kalian yang lain pula. Kalian tidak pula memperhatikan adanya nasikh-mansukh di dalam Al-Qur’an, sebagaimana kalian tidak membedakan antara ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Juga kalian mencampur-adukkan antara perintah dan larangan.
    Ingatlah kisah Nabi Sulaiman bin Daud ketika memohon ke hadirat Allah agar dikaruniai kerajaan yang tidak dimiliki seorang jua pun sesudahnya kemudian Allah mengabulkannya. Kita tahu bahwa Nabi Sulaiman adalah penyeru dan sekaligus sebagai penyeru kebenaran. Ternyata Allah tidak mencela perbuatannya. Sampai sekarang pun, tak ada seorang mukmin yang menyalahkan sikapnya.
    Kenanglah pula riwayat Nabi Yusuf-beliau pernah berkata kepada raja Mesir: “Jadikanlah aku bendaharawan negara, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
    Ketika beliau memegang jabatan itu, datanglah masa paceklik, sehingga penduduk negara-negara tetangga datang berbondong-bondong ke kerajaannya untuk mendapatkan makanan daripadanya. Beliau adalah penyeru dan pelaksana. Dan ternyata, tak ada seorang pun yang mengeritik tindakannya.
Perhatikan pula bahwa Al-Qur’an memuat kisah Dzul Qarnain, seorang hamba yang mencintai Allah dan Dia pun mencintainya. Allah menjadikannya penguasa kerajaan yang sengat luas sekaligus sebagai penyeru dan pelaksana kebenaran – dan tidak kita jumpai seseorang yang mencelanya.
     Oleh sebab itu, hendaklah kalian bersikap sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Penuhilah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya. Apa-apa yang masih samar-samar bagimu tinggalkanlah andaikata kamu tak mempunyai pengetahuan tentangnya. Percayakan ilmu pada ahlinya, niscaya kalian akan diberi pahala dan diampuni Allah. Pelajarilah ilmu tentang nasikh-mansukh dalam Al-Qur’an dan tentang ayat-ayat muhkamat serta mustasyabihat. Apa yang dihalalkan Allah, sesungguhnya akan menjadikan kamu dekat dengan Allah, dan menjauhkan kamu dari kebodohan. Biarkanlah kebodohan itu kembali kepada pemiliknya, sesungguhnya orang-orang bodoh itu banyak, sedangkan orang-orang berilmu itu sedikit. Dan Allah telah berfirman: “Dan di atas tiap-tiap orang yang berilmu itu, ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (QS. 12:76)
Read more ...

Penghormatan terhadap khalifah

Dalam perjalannya menuju ke negeri Syam, Imam Ali melewati kota Anbar yang sedang diduduki bangsa persia. Mendengar kedatangannya, pemuka-pemuka kota Anbar beserta penduduknya keluar berbondong-bondong dan berkerumun berjejal-jejal di sekeliling Imam. Mereka menyambut hangat kedatangannya. Melihat itu, Imam pun bertanya:
    “Apa maksud kamu sekalian berbuat demikian?”
    “Adalah tradisi kami mengagungkan pemimpin-pemimpin kami.”
    “Demi Allah, perbuatan demikian tiadalah bermanfaat bagi pemimpin-pemimpinmu. Dan kamu benar-benar telah menyulitkan dirimu sendiri, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Alangkah ruginya orang-orang yang mendapat kesulitan di dunia sedangkan di akhirat mereka ditimpa siksa pula. Dan alangkah beruntungnya orang-orang yang tidak mendapat kesulitan di dunia, sementara di akhirat pun mereka dijauhi api neraka.
Read more ...

Kawan di perjalanan Haji

   Seusai menunaikan ibadah haji, berkisahlah salah seorang kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq apa yang terjadi dalam rombongan perjalanan hajinya. Ia memuji-muji kezuhudan salah seorang anggota rombongannya. Selanjutnya ia berkata: “Kami sangat bangga wahai tuan, mempunyai seorang anggota rombongan yang selalu sibuk dengan urusan ibadah. Setiap kali berhenti di suatu tempat, ia selalu menggunakan kesempatan itu untuk beribadah. Singkatnya, tak ada sedikit pun waktunya yang ia gunakan untuk memikirkan urusan dunia.”
    “Kalau begitu siapa gerangan yang mengurus keperluannya?” tanya Imam.
    Orang itu menjawab: “Kamilah yang mengurusnya, sebab ia tak punya waktu untuk melakukan hal itu.”
    Maka Imam pun menjawab: “Ketahuilahbahwa kalian semua lebih utama dari pada dia.”
Read more ...

Permohonan Do’a

  Seorang yang sedang dilanda kesulitan hidup datang menghadap Imam Ja’far Ash-Shadiq sekedar untuk mohon didoakan. Berkatalah orang itu: “Wahai tuanku, hamba sangat berharap semoga tuanku berkenan memanjatkan do’a ke hadirat Allah agar Ia melimpahkan rezeki kepadaku. Tuanku melihat sendiri, betapa hamba ini orang yang sangat miskin. Buat makan sehari-hari saja hamba tak kuasa mencarinya.
    Secara spontan Imam Ash-Shadiq menjawab: “Aku tak akan mendo’akan kamu!”. Orang yang menghadap itu pun heran maka bertanyalah ia: “Mengapa tuan tak sudi mendo’akan hamba?” Imam menjawab: “Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kita agar berusaha mencari rezeki, bukan untuk berpasrah diri tanpa usaha. Jika kamu duduk ongkang-ongkang saja di rumahmu seraya memanjatkan do’a sebagai wasilah untuk memperoleh rezeki, maka hal ini tidaklah diridhai Allah. Oleh karena itu, bekerjalah untuk mendapatkan rezeki, sebagaimana Allah telah memerintah kamu.”
Read more ...

Rasulullah dan dua kelompok sahabat

  Pada suatu hari Rasulullah SAW. Masuk ke masjid Madinah. Dilihatnya ada dua kelompok sahabat, di antaranya ada yang asyik melakukan ibadah dan dzikir, sedangkan yang lain sedang sibuk dalam urusan ilmu – mereka terlibat dalam proses belajar-mengajar. Wajah beliau tampak berseri-seri menyaksikan, dan matanya berbinar-binar menyaksikan kedua pemandangan tersebut. Namun rasa simpati lebih beliau tampakkan kepada kelompok kedua, yang diekspresikan nya dengan berkomentar kepada sahabat di sekitarnya, “Alangkah baiknya apa yang sedang mereka lakukan,” sambil memberi isyarat kepada kelompok kedua. Selanjutnya beliau berkata: “Sesungguhnya aku diutus untuk mengajar.” Kemudian beliau pun duduk ikut bersama kelompok kedua.
Read more ...

Adab Safar

Sebelum Perjalanan
  1. Shalat Istikharah
  2. Mengharap Ridha Allah
  3. Berbekal Ilmu Syar’i
  4. Bertaubat
  5. Izin dari kedua ibu bapak
  6. Mencari dan menjadi Teman perjalanan yang baik
  7. Mengajak istri dengan undian
  8. Menulis Wasiat
  9. Bekal yang Halal
  10. Membekali diri dengan wasiat orang-orang shalih, dan untuk mendapatkan do’anya
  11. Berpamitan
  12. Pesan Taqwa
  13. Saling mendo’akan dengan orang yang ditinggalkan
  14. Membaca do’a safar

Dalam Perjalanan
  1. Melakukan perjalanan di hari Kamis
  2. Berdo’a ketika keluar rumah
  3. Rajin berdoa selama perjalanan
  4. Amar Ma’ruf nahi Munkar
  5. Menjauhi segala bentuk kemaksiatan
  6. Melaksanakan segala kewajiban
  7. Berakhlak mulia
  8. Suka menolong
  9. Bercengkerama dengan anak-anak
  10. Tidak membawa genta, seruling, dan anjing
  11. Mengangkat seseorang untuk menjadi pemimpin perjalanan
  12. Tidak bepergian sendirian
  13. Berkumpul ketika singgah
  14. Memperhatikan kelancaran kendaraan, dan menjauh dari jalan ketika singgah di akhir malam
Perjalanan Pulang
  1. Membawa oleh-oleh
  2. Mengadakan perjamuan
  3. Bersegera untuk kembali
  4. Tidak datang tiba-tiba di malam hari
  5. Ketika datang di kampung halaman, mulailah dengan shalat dua raka’at di masjid
  6. Berpelukan
Read more ...

Sebelum Perjalanan: dari Niat hingga Teman Perjalanan

  1. Shalat Istikharah
Pada hakikatnya safar adalah sebuah pilihan yang berat, dan setiap pilihan lebih baik diawali dengan shalat istikharah. Karena kita sebagai manusia tidak mampu mengetahui hal-hal yang akan menimpa diri kita, sedang Allah maha mengetahui yang nampak dan tak nampak. Allah pulalah yang mengetahui jalan mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Dalam disebutkan pula “Orang yang bermusyawarah tidak akan merugi, dan orang yang beistikharah tidak akan menyesal.”
Namun di samping beristikharah alangkah baiknya bila kita meminta pertimbangan dari orang shalih dan orang yang berpengalaman dalam bersafar. Dari keduanya pula kita bisa menambah ilmu dan hikmah tentang bersafar, atau hal-hal yang bermanfaat bagi kita nantinya.
Adapun untuk hal-hal yang sudah pasti manfaat dan kebaikannya seperti haji ke baitullah tidak perlu untuk beristikharah. Namun istikharah baginya adalah sunnah.

  1. Memantapkan Niat yang baik
Penting bagi seorang musafir memantapkan niat baik dalam hatinya, yaitu selalu mengharap ridha Allah. Dengan mengharap ridha Allah seorang musafir akan mendapat barokah dari perjalanan tersebut. Hal ini berkenaan dengan hati, yaitu niat. Bila niat kita baik insya Allah jalan yang kita tempuh akan baik, dan bila niat kita buruk, maka jalan yang ditempuh akan membawa kepada keburukan, seperti yang dijelaskan pada The Law of Attraction (hukum tarik-menarik). Juga seperti yang dijelaskan dalam hadits pertama dalam kumpulan hadits arba’in Imam Nawawi.
Jangan pula seorang musafir memiliki niat melakukan safar untuk mendapatkan kesenangan duniawi, membanggakan diri, mendapatkan gelar, riya’ maupun sum’ah. Karena hal itu akan menghapus pahala kebaikan dan menyebabkan amal kita tidak diterima, akibatnya, kita pula tidak mendapatkan barokah dari safar kita.

  1. Berbekal Ilmu Syar’i
Apalagi seorang yang melakukan ibadah haji, seorang musafir harus tahu dan paham ilmu syar’i Islam, terutama yang berkaitan dengan safar. Jadi sebelum berangkat, baiknya bila kita mempelajari ilmu-ilu syar’i seperti shalat jama’ dan qashar, tayammum, dan syari’at teknis lainnya.

  1. Taubat
Dalam syariat Islam, kadang kala seseorang diharuskan untuk keluar dari tempat tinggalnya (safar) untuk menyempurnakan taubatnya. Sekilas sebagian pengharusan tersebut terkesan sebagai pengusiran dan pengucilan dikarenakan syariat tersebut diwajibkan atas seseorang yang berdosa seperti zina. Namun saya memandang bahwa safar yang diharuskan tersebut adalah sebagai wujud penyucian dirinya. Terbukti bahwa orang yang diharuskan untuk keluar dari tempat tinggalnya adalah untuk orang-orang yang bertaubat. Orang-orang yang bertaubat tersebut akan memperoleh hikmah yang akan membentuk dirinya di sepanjang perjalanan keluar tempat tinggalnya. Dan akhirnya orang yang bertaubat akan mendapatkan jati dirinya yang lebih baik. Selain itu dengan meninggalkan tempat tinggalnya sementara waktu (biasanya di syariat adalah minimal setahun) adalah untuk menghapus trauma dan memori buruk yang menempel di masyarakat tempatnya tinggal. Dan akhirnya ketika seorang musafir yang bertaubat itu kembali ke kampung halamannya ia akan mendapat kehormatannya kembali sebagai orang asing yang mulai membentuk kehidupan barunya di tempat tersebut, seperti kain putih yang sebelumnya kotor dicuci kembali hingga tampak putih lagi.
Kemudian dalam konteks safar, sebaiknya kita tidak melupakan hakikat safar, yakni pencarian jati diri. Taubat sendiri, mengapa dianjurkan dalam safar ini? Tidak lain taubat adalah sebuah pintu untuk membuka jati diri yang baik dari musafir itu sendiri.
Selain itu kita juga tahu bahwa safar adalah kegiatan yang amat berat dan memiliki resiko yang begitu besar. Besar pula kemungkinan seorang musafir meninggal dalam perjalanannya. Jadi taubat ini juga sebagai media untuk menyucikan diri sebelum mati.

  1. Izin dari kedua ibu bapak
Seseorang datang kepada Nabi Muhammad SAW. Meminta izin untuk pergi jihad, maka Nabi Muhammad SAW. bertanya kepadanya:
“Apakah kedua ibu bapakmu masih hidup?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya.”
Maka Nabi SAW. Bersabda, “Tinggallah dengan kedua orangtuamu, maka itulah jihadmu.”
Ibnu Hajar RA. Berkata, “Hadits tersebut dijadikan dalil haramnya safar tanpa izin orang tua. Karena manakala jihad dilarang, padahal keutamaannya sangat agung, maka safar yang mubah tentu lebih dilarang. Kecuali jika safar tersebut untuk mencari ilmu yang fardhu ‘ain dan ia tidak akan mendapatkannya kecuali dengan mengadakan safar, maka safar dalam hal ini tidak dilarang. Adapun jika ilmu tersebut fadhu kifayah, maka para ulama berbeda pendapat.”
  1. Mencari dan menjadi Teman perjalanan yang baik
Orang yang akan bepergian dianjurkan mencari teman yang baik, terutama orang yang mengerti tentang ilmu agama. Karena hal itu merupakan salah satu faktor yang membuat dia diberi petunjuk oleh Allah dan juga menyebabkan dia terjaga dari berbuat kesalahan selama dalam perjalanan atau ketika mengerjakan manasik haji dan umrah.
Rasulullah bersabda: “Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan teman dekat.”
Di samping mencari teman perjalanan yang baik, kita pula juga harus menjadi teman yang baik bagi teman perjalanan kita. Bahkan Imam Bukhari menekankan hal ini hingga membuat bab khusus tentang keutamaan seorang yang menjadi teman yang baik, dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Tentang seseorang yang mengangkat barang bawaan saudaranya dalam perjalanan:
“Setiap persendian wajib dikeluarkan shadaqahnya setiap hari. Seseorang membantu yang lain mengangkat barang bawaannya ke kendaraannya (adalah shadaqah). Atau membawakan barang orang lain (di kendaraan sendiri) adalah shadaqah. Kalimat yang baik dan setiap langkah untuk melaksanakan shalat adalah shadaqah. Dan menunjukkan jalan adalah shadaqah.”

  1. Mengajak istri dengan undian
Jika orang yang akan mengadakan perjalanan mempunyai lebih dari satu istri dan dia ingin mengajak salah satu dari mereka maka disunnahkan baginya mengundi mereka. Siapa yang namanya tertunjuk dalam undian dialah yang pergi menemani suami. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA, yang artinya:
“Rasulullah SAW. Jika ingin mengadakan perjalanan, beliau mengundi para istrinya. Beliau akan bepergian bersama istri yang namanya keluar dalam undian tersebut.”
Hal ini merupakan sunnah Nabi SAW. Jadi seorang suami yang hendak bepergian bersama salah seorang istrinya boleh melakukan undian. Hal itu juga merupakan salah satu solusi tepat yang diperbolehkan sehingga tidak akan timbul permasalahan. Namun bila tanpa undian permasalahan ini bisa diselesaikan maka itu lebih baik.

Read more ...

Macam-Macam Shafar

Safar dibagi menjadi lima macam dari segi hukumnya. Pada umumnya hukum safar diklasifikasikan menurut niat dan tujuan musafir tersebut. Kelima macam safar tersebut ialah sebagai berikut:
  1. Safar yang haram
Yaitu menempuh perjalanan untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Misalnya orang yang menempuh perjalanan untuk berdagang minuman keras dan barang-barang lain yang diharamkan oleh Allah. Demikian juga bepergian untuk merampok atau seorang wanita yang bepergian tanpa disertai mahramnya.
  1. Safar yang wajib
Menempuh perjalanan untuk menunaikan kewajiban seperti ibadah haji yang wajib, umrah yang wajib atau kewajiban berjihad. Bisa juga karena nadzar karena nadzar adalah wajib. Dan bisa pula untuk menghindari tempat-tempat yang berbahaya seperti daerah yang rawan bencana.
  1. Safar yang sunnah
Melakukan perjalanan yang dianjurkan, misalnya bepergian untuk melaksanakan umrah yang sunnah, haji yang sunnah, dan jihad yang sunnah.
  1. Safar yang mubah
Bepergian guna melakukan hal-hal yang dibolehkan dalam agama, misalnya untuk berdagang barang-barang yang halal.
  1. Safar yang makruh
Bepergian dimakruhkan adalah semisal orang yang bepergian sendirian tanpa ada yang menemaninya. Bepergian seperti itu dimakruhkan kecuali untuk melakukan hal-hal yang sangat penting. Dalil mengenai hal ini adalah sabda Rasulullah SAW:

Andai orang mengetahui bahaya yang terdapat dalam bepergian seorang diri sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak akan ada orang yang melakukan perjalanan sendirian pada waktu malam hari.”
Inilah beberapa macam perjalanan yang telah disebutkan oleh para ulama. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk tidak mengadakan perjalanan yang diharamkan. Seyogyanya seorang muslim tidak mengadakan perjalanan yang dimakruhkan, dan hanya mengadakan perjalanan yang diwajibkan, disunnahkan atau perjalanan yang dibolehkan.
NB: Para ulama berbeda pendapat mengenai safar yang menyebabkan seseorang mendapatkan rukhsah (keringanan) dalam beribadah seperti menjama’ shalat, tidak berpuasa, mengusap sepatu dan serban selama 3 hari 3 malam dan melakukan shalat sunnah di atas kendaraan, dalam hal ini ada beberapa pendapat:
  • Pendapat pertama menyebutkan bahwa safar yang membolehkan rukhshah tersebut ialah safar yang wajib, sunnah dan mubah. Adapun safar yang makruh dan haram tidak membolehkan adanya rukhshah
  • Pendapat kedua menyebutkan bahwa safar yang membolehkan rukhshah tersebut adalah safar yang dilakukan untuk menunaikan kewajiban seperti umrah, haji dan berjihad. Oleh karena itu safar yang sunnah, mubah, makruh dan haram tidak memberikan adanya rukhshah tersebut
  • Pendapat yang ketiga menyebutkan bahwa safar yang membolehkan adanya rukhshah adalah safar yang didasari ketaatan, yakni safar yang wajib dan yang sunnah.
  • Imam Abu Hanifah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan sebagian besar ulama berpendapat bahwa rukhshah dalam beribadah tetap diberikan meski dalam safar yang haram. Karena tidak ada dalil yang mengkhususkan macam safar mana yang diberikan keringanan beribadah
Read more ...

Sabtu, 20 April 2013

"Hati-hati, pikiranmu pun bisa jadi racun bagi hatimu"


Akal adalah kebanggaan kita sang manusia. Karenanya kita manusia dapat berpikir hingga berkarya. Namun seringkali ketika tak berhati-hati kita terpengaruh ke dalam persepsi yang tak bijak. pengaruh itu bisa jadi dari pikiranmu

"Hati-hati, pikiranmu pun bisa jadi racun bagi hatimu"
Read more ...

Apa ya . . . ?


Berbahagialah para pelupa

Bila dipikirkan secara sekilas, lupa adalah suatu musibah besar bagi tiap individu. karena lupa menghilangkan memori yang tersimpan di otak, sehingga akan banyak mengganggu rutinitas kita sebagai manusia yang aktif.

tentang lupa, dibagi menjadi 2. yang pertama adalah lupa karena suatu kesalahan pada memori. kemudian yang kedua adalah lupa karena saraf penghubung yang ada di otak mengalami masalah.

Berbahagialah para pelupa

Bila kita mau berpikir luas, lupa tak bisa dilakukan dengan sengaja, atau bisa dikatakan bahwa Allah-lah yang membuat kita lupa. banyak sekali orang yang telah mengalami masa-masa buruk namun mencoba untuk melupakan kenangan tersebut namun terasa sulit. ya, karena memang lupa adalah penyakit yang ditentukan Allah.

Bila kita mau berpikir luas, sangat beruntung orang tua yang pikun. pada hakikatnya orang yang sudah tua akan terbatas untuk menjalakan rutinitasnya. akhirnya ia akan banyak merenungi masa-masa mudanya. karena sudah lebih dewasa tentunya para orang yang tua akan banyak menyesali perbuatan masa lalunya. karena tak bisa membayar kesalahan yang sudah dilakukan pada masa mudanya maka banyak meninbulkan orang tersebut stres.  akhirnya ia tidak bisa bergerak maju untuk menebus kesalahannya dan membuatnya semakin terpuruk
Kepikunan bisa membantu orang kehilangan stres.

pada hakikatnya, manusia bisa merasakan rasa senang bila ia sudah merasakan lupa. sebab lupa bisa menghilangkan penyebab gundah dalam hati. contohnya saja bila seorang yang sangta miskin diberi uang sejuta maka akan langsung hilang rasa sedihnya, padahal kebutuhannya belum tercukupi, hutang belum terbayar, hanya dengan memegang uang sejuta rasa sedihnya hilang karena lupa.

juga bagi para pemikir, pada umumnya orang yang termasuk dalam kategori pemikir sering sekali lupa. andai saja mereka tidak lupa pasti pikirannya akan merasa tertekan karena menumpuknya bahan pikiran.

Berbahagialah para pelupa

sedikit berbeda dengan yang lainnya, lupa harus jadi sebuah pelajaran bagi seorang hafidz maupun orang yang sedang menghafal al-qur'an. bagi keduanya, lupa pada ayat2 qur'an yang telah dihafalnya bisa menjadi dosa karena telah melalaikan amanah. tapi lupa bagi keduanya bisa dijadikan cerminan bahwasanya telah melakukan hal yang dilarang agama. barokah dari lupa itu, para hafidz dan yang masih berproses menghafal qur'an bisa semakin meningkatkan amal baiknya hingga menjadi seorang yang shalih.

Wallahu A'lam
Read more ...

A Priori Evolusi Manusia


Manusia memang benar merupakan wujud dari evolusi (didukung Al-Qur'an),
buktinya dalam kandungan, manusia mengalami perubahan
cairan-segumpal darah-daging (mirip lintah)-(mirip kadal)-jadi manusia utuh

sedangkan asal usul manusia dari kera, tetap tidak akan tersambung,
meski ahli antropologi mengklaim bahwa tengkorang manusia dan kera sejenis,
meski ahli biologi mengklaim bahwa kera memiliki gen yang sejenis dengan manusia,
dan meski ahli sains mengklaim bahwa kecerdasan (intelijensia) kera bisa mencapai titik kecerdasan (intelijensia) manusia

namun selama kera belum terbukti memiliki asal usul etika yang jelas serta apresiasi estetika yang baik
belum dapat dibuktikan secara de 'Iman' bahwa kera berevolusi menjadi manusia

0_~
Read more ...

Piagam Madinah; Konstitusi Tertulis Pertama sepanjang Peradaban




tidak ada satu pun konstitusi yang dibuat oleh seluruh rakyat, semua disusun oleh pakar.
terkecuali satu, yang disusun oleh seluruh warga kota hingga menimbulkan perdebatan sengit bahkan perseteruan selama enam tahun hingga akhirnya mencetuskan 46 pasal dalam satu piagam tertulis yang dinamakan piagam madinah
Read more ...

Selasa, 16 April 2013

Petuah dari Pemakaman


Semasa perjalanan bersepeda kediri-malang pada 14 januari 2013, kemudian singgah dan menginap di kompleks pemakaman troloyo, mojokerto. saya dan sidiq (temans seperjalanan) bertemu dengan pak slamet, seorang yang kami anggap sufi karena sikap sederhananya dan keikhlasan hatinya merawat kompleks pemakaman troloyo. selain itu - beruntung -  kami diberitahu tentang sudut kecil yang biasa dipakai oleh beliau untuk beribadah seorang diri, disembunyikan dari orang lain.

dalam perbincangan saya sembari menunggu lelap, saya menangkap beberapa petuah yang bisa saya petik hikmahnya, di antaranya:
Read more ...

Bila . . .


Bila hati telah dibelai cinta
Namun belum mampu 'tuk menjalaninya
Maka bersabarlah . . .

Pendamlah rahasia kecil pembesar hatimu
Untuk menyemaikanmu dan meranumkannya

Biarkan dia semakin merona pesona
Dengan tidak menodai izzah dan iffahnya,
Membujuknya dengan suatu haram nan fana

Berdoa, dan Tawakkallah . . .
Titipkan hatimu kepada Sang Pemilik Hati
Dan titipkan dia untuk kebaikannya

Raih romantika Ali dan Fathimah
Dengan kesempurnaan agama dan cinta sejati

Dan bila takdir belum menyambut
Maka berbahagialah untuk kesucianmu

Dan bila takdir tak menyambut
Bahkan hingga habis masamu
Maka syahid kehormatanmu




Diadaptasi dari 'Anonim'
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates