Pagi itu ia bangun jam dua. Rasa kantuk yang masih menempel ia kalahkan dengan membantu ibunya membuat jajanan. Ingin sekali perutnya mencicipi jajanan ibunya itu barang sedikit. Tapi hatinya tak sanggup mengijinkan saat sepintas teringat nasib neneknya.
Jam empat ia sudah siap. Ia pamitan pada ibunya. Neneknya yang terbaring lumpuh ia salami. Satu kecupan dari ibunya menjadi bekal hari itu. Ia pun melangkah keluar, selangkah untuk mimpinya.
Jam lima ia sudah sampai di lahan nafkahnya. 10 lembar koran dipegangnya. Bak salesman sejati, tiap kesempatan datang tak luput diambilnya. Mobil motor incarannya. Malang, hanya dua yang laku hari itu.
500 perak ia simpan dalam dompet plastiknya. Lalu pergilah ia ke masjid depan sekolahan. Bergantilah rupa dia. Dari kumal jadi putih merah. Kini siaplah ia bersekolah
Kelas dua tempatnya. Ia duduk sendiri di bangku pojok belakang. Tak sama dengan temannya, ia serius belajar. Hari itu ia meminjam buku kelas enam. Buku itu habis sebelum waktu pulang. Dalam bacaannya, selalu terngiang nasib ibunya, neneknya, serta adiknya yang selalu digendong ibunya. Sering ia berucap hamdalah karena sadar bisa ada di tempatnya sekarang. Kadang ia teringat ayahnya. Tapi itu cuma menambah rasa pahitnya.
Pagi itu ibu guru memberi tugas satu halaman. Cukup gampang, sebuah karangan bebas tentang cita-cita. Tapi baginya itu tugas yang susah. Satu per satu temannya maju ke depan, menceritakan cita-cita mereka di masa depan. Ada yang lancar, dan ada pula yang malu-malu.
"Hebat, Dinda. Teruslah belajar supaya kamu bisa jadi dokter. Sekarang,,, Amir, coba kamu maju ke depan, nak."
Ia tak punya pilihan. Mau tak mau ia harus maju ke depan. Ia berikan satu-satuya buku miliknya pada gurunya.
"Pedagang asongan? Amir, betul kamu ingin jadi pedagang asongan? Kamu gak pingin jadi orang yang hebat?"
Menunduk. Ia tak mampu menjawab.
"Coba bilang sama ibu, sayang. Kamu sebenernya pingin jadi apa?"
Pundaknya naik, menarik angin bekal mentalnya.
"Presiden, Bu. Saya pingin jadi presiden"
Tambah penasaran, gurunya pun bertanya lagi, "Trus, kenapa kamu gak tulis cita-citamu ini presiden?"
Menunduk. Ia termenung. Ia ingat saat kakenya bercerita tentang kepahlawanan kakeknya merebut kemerdekaan. Cerita muda kakeknya. Lalu ia teringat saat ia pergi menemani kakeknya antre BLT. Ia ingat kata-kata terakhir kakeknya sebelum kakeknya mati terinjak-injak orang yang berebutan mengantre.
"Amir,,, Ibu sudah tanya tiga kali. Coba, sayang. Bilang aja. Ibu gak akan marah."
Kali ini ia angkat kepalanya. Ia kumpulkan lagi napas untuk bekal mentalnya.
"Sebenarnya, kakek saya pernah bilang, presiden itu orang jahat. Presiden itu orang yang makan hati rakyat. Jadi saya dilarang kakek jadi presiden."
Read more ...