Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Minggu, 29 Juni 2014

Presiden bukan harapan

   Pemilihan Umum sebentar lagi, hampir bisa dihitung jari. Calonnya ya cuma dua pasang, Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dengan Prabowo Subianto-Hatta Radjasa (Prabowo-Hatta). Tetapi semarak yang menghiasi media terus bertambah, bahkan membludak.
 
   Yang menjadi pokok pikiran saya setiap harinya adalah common sense yang menganggap presiden yang akan dipilih akan menjadi pemimpin yang diharapkan bisa memenuhi segala problematika yang ada di masyarakat. Tapi saya pikir, hal itu akan menjadi sia-sia. Karena tak bisa dielak bahwa yang memberi kita masalah adalah Causa Prima. Tentunya semua orang percaya akan hal ini, sekalipun yang tidak mengakui adanya Tuhan.
   Saya ingat betul kata kakak saya, yang saya lupa, dia mengutip dari mana. Entahlah. Tapi saya ingat kutipan itu, "We are the boss." Kakak saya mengatakan bahwa setiap ide yang ada di dalam manusia, itulah yang akan memimpin kehidupan manusia itu. Saya hendak menjadikan itu sebagai dalil yang bisa diterima seluruh lapisan, bahwa presiden sekaligus wakilnya tidak berdampak apa-apa pada diri setiap rakyatnya kecuali sedikit sekali. Sisanya, mau tak mau harus dijawab dengan sebuah kata majemuk: diri sendiri.
   Apalah arti presiden dan wakil presiden, keduanya tak akan meminjamkan tangannya untuk menggosok gigi kita. Tak akan pula mereka memakaikan kita sepatu dengan tangannya. Tidak. Bahkan yang menutup potensi banjir yang ada di ibukota, bukan presiden yang melakukannya. Keduanya hanyalah fasilitator formal untuk menjalankan sistem dalam pemerintahan ini.
   Malah saya lebih suka pada aktivis-aktivis berhati peka yang terjun ke tempat-tempat yang memang membutuhkan bantuan. Saya suka pada orang-orang yang turun tangan untuk mengubah lingkungan macam yang tertayang di Kick Andy, Metro TV. Memang tidak luas dampak yang bisa diberikan kepada masyarakat. Tetapi itulah yang saya sebut sebaga pemberian orisinil: pengabdian tanpa adanya kewajiban (formal).
   Saya tidak menulis hal ini untuk menghancurkan harapan yang telah terbentuk di hati masyarakat. Tidak. Sebaliknya, saya berharap supaya semua orang bisa menyadari batasan yang dimiliki oleh seorang presiden dan wakilnya, juga supaya tidak meremehkan diri sendiri dalam mengubah dunia yang ada di sekitar. Malah saya berpikir, bilamana masyarakat terlalu enjoy menunggu realisasi pemerintah, khususnya yang dilakukan oleh kepala eksekutif ini, akan menduakan harapan kepada Tuhan.
Judul: Presiden bukan harapan; Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates