Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Kamis, 27 Desember 2012

BERPIKIR INDONESIA, INDONESIAWI



   Indonesia semakin hari semakin punah. Hari ini penghuni negeri ini mulai melenceng dari pola pikir layaknya bangsa Indonesia seharusnya. Melenceng jadi seperti bangsa barat, terbukti acuan masyarakat Indonesia untuk mengukur segala sesuatu menggunakan analogi barat. Hidup, kebutuhan hidup, sumber kehidupan semuanya mengacu pada barat. Sudut pandangnya mulai mengekor pola barat, seolah Indonesia harus mengejar ketertinggalannya dari barat. Seolah bangsa Indonesia seekor burung yang dilatih keras jadi seekor penguin, praktis tak pernah terlintas dalam benak bangsa Indonesia untuk terbang seperti kodratnya melainkan menyelam layaknya penguin.
   Sudah umum bahwa pola pikir bangsa barat dan bangsa timur saling membelakangi. Barat selalu berpikir secara terfokus untuk hidup sukses dan perfeksionis sedangkan Timur selalu berpikir tenang untuk hidup berdampingan secara sederhana dan penuh toleransi. Hal inilah yang jadi jurang pemisah budaya barat dengan budaya timur. Budaya barat identik dengan gaya hidup mandiri, praktis dan glamor, sedang budaya timur identik dengan gotong royong, harmonis dan berkecukupan.
   Indonesia sendiri sebagai negara belahan Timur semenjak dulu terkenal dengan keramahannya. Bahkan Indonesia tercatat sebagai bangsa paling ramah karena paling sering menebar senyum dan salam. Kebudayaan Indonesia sendiri jauh lebih timur dari bangsa timur lainnya karena yang menempel dalam jiwa bangsa Indonesia tak hanya mindset orang timur saja, namun ajaran Islam juga telah memolesnya hingga sangat halus. Mungkin saja para wali yang menyebarkan ajaran Islam dengan mengakulturasikan nilai Islam pada budaya Indonesia asli sudah memahami karakter bangsa Indonesia pribumi dan tahu cara untuk membentuk karakter bangsa yang sempurna, bahkan lebih sempurna dari bangsa Arab asal Islam.
   Namun sekarang globalisasi barat mengambil hati sebagian hati timur karena barat lihai dalam berakting cerdas. Akibatnya banyak negeri timur ‘gengsi’ bila tak mengikuti tren barat yang terkesan lebih maju –padahal sebenarnya barat tak lebih dari tamu kasar penjajah dunia timur dan mengekor kepada barat daripada mempertahankan pola kehidupan lamanya. Tengok saja Jepang yang tercatat kalah judi perang dunia II ternyata tapi juga kalah dalam mempertahankan pola pikir ketimuran khasnya pasca perang. Jepang terburu-buru memilih revolusi industri daripada rekonstruksi karakter bangsanya sendiri. Akhirnya Jepang memang dapat menghidupi kepala-kepala yang berlindung di bawahnya, namun Jepang menyesali keterburu-buruannya atas satu hal. Jepang kehilangan jati dirinya sebagai bangsa timur yang gigih dan sabar dalam menghadapi cobaan dan memilih jalan pintas mengekor Amerika. Sekarang sambil menyesali kebodohannya Jepang berusaha mengais puing kebudayaan yang terkubur setelah dikhianatinya.
   Beda halnya dengan Indonesia. Indonesia memang telah memerdekakan raga dari penjajahan barat dan meyelamatkan sebagian besar budayanya, tapi tidak dengan otaknya. Indonesia belum mampu membawa otaknya merdeka karena otaknya lebih memilih barat. Rupanya sejak masa kependudukan banyak bangsa Indonesia yang mulai putus asa dan mengidolakan kehidupan ala barat. Memang secara psikologis hal ini wajar, terhitung Indonesia ditekan begitu lalimnya di tanahnya sendiri. Namun hal ini bukanlah alibi yang bisa dijadikan alasan mengapa otak Indonesia tak ikut merdeka.
   Racun pikiran itu membuat segala hal yang bisa memenuhi hasratnya akan jadi tuhan. Lihat saja akibat proklamasi yang pincang itu membuat rakyat kecil dijajah oleh pemerintahnya sendiri. Petinggi negara yang awalnya merasa siap memimpin jadi melongo ketika melihat uang dan kuasa di tangannya. Praktis korupsi pun terjadi. Walaupun pejabatnya diganti hal ini akan terus berulang karena mengganti kursi tak sama degan mengganti otak. Ibarat seekor macan yang hingga usia tiga tahun tak pernah makan daging, namun tiba-tiba ia disuguhi daging, kontan saja si macan pasti mengambil daging itu dan tergila-gila karenanya. Dan hal ini berlaku pada setiap macan. Penyakit nggumun, itulah efek samping pola pikir barat yang menjangkiti bangsa Indonesia, terutama di barisan pemerintah.
   Andaikan saja bangsa Indonesia mau mengerti jati diri bangsa dan tanah airnya sendiri tentu saja hal seperti itu tak akan pernah terjadi. Kalau bangsa Indonesia mau berpikir keluar kotak dan memperhatikan negerinya, ia akan memahami bahwa tanah air Indonesia adalah surga dunia, tanah yang tak pernah tandus dan air yang tak pernah punah. Di bawah tanahnya terkubur harta karun dan di atasnya terapat sumber kehidupan. Dalam airnya terkunci segala keindahan dan dalam udaranya bertiup hawa kehidupan. Sungguh surga dunia bila bangsa Indonesia mengerti jati dirinya. Terlebih, penduduk yang hidup di negeri adalah penduduk yang ramah, santun, serta cinta damai. Itulah gambaran dari penduduk surga yang kita sendiri bangsa Indonesia. Bahkan Islam sendiri menggambarkan surga layaknya Indonesia. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan? Jati diri itulah yang seharusnya diangkat  dari penjara mindset barat.
   Andaikan saja bangsa Indonesia kini mau berpikir layaknya bangsa Indonesia sejatinya tak akan ada permasalahan materi yang membunuh, tak ada masalah sosial yang menyiksa hati, tak ada masalah lingkungan yang meracuni. Sedikit bangsa Indonesia mau berpikir out of the box, akan ketemu berbagai keindahan sisi kehidupan bangsa Indonesia yang bisa menyembuhkan segala duka-lara. Tak hanya itu, dengan berpikir ala Indonesia maka bangsa Indonesia akan menemukan jati dirinya yang lebih unggul dari bangsa lain. Tak perlu teknologi canggih untuk memenuhi kebutuhan kita, karena kita hidup di surga dan kita lah penghuni surga yang sebenarnya.
   Andaikan saja bangsa Indonesia mau berpikir ala Indonesia. Maukah Anda?
Read more ...

Kamis, 29 November 2012

Permintaan kecil buat-Mu

Engkau itu Maha Berkehendak
   lalu apa dayaku?
Engkau itu Maha Berkuasa
   lalu apa dayaku?

Hidup ini karena-Mu
Ibadahku pun karena Ridha-Mu
Matiku ini karena-Mu
Sesatku pun karena Izin-Mu

Sebuah permintaan...
Besar bagiku kecil buat-Mu ...

Aku terpuruk di zona nol
Sedang Engkau Tak Terbatas
Maka Ampunilah aku
Karena Engkau .  .  .
Read more ...

Minggu, 08 April 2012

Cerpin (Cerita Sepintas) 1

Pagi itu ia bangun jam dua. Rasa kantuk yang masih menempel ia kalahkan dengan  membantu ibunya membuat jajanan. Ingin sekali perutnya mencicipi jajanan ibunya itu barang sedikit. Tapi hatinya tak sanggup mengijinkan saat sepintas teringat nasib neneknya.

Jam empat ia sudah siap. Ia pamitan pada ibunya. Neneknya yang terbaring lumpuh ia salami. Satu kecupan dari ibunya menjadi bekal hari itu. Ia pun melangkah keluar, selangkah untuk mimpinya.

Jam lima ia sudah sampai di lahan nafkahnya. 10 lembar koran dipegangnya. Bak salesman sejati, tiap kesempatan datang tak luput diambilnya. Mobil motor incarannya. Malang, hanya dua yang laku hari itu.

500 perak ia simpan dalam dompet plastiknya. Lalu pergilah ia ke masjid depan sekolahan. Bergantilah rupa dia. Dari kumal jadi putih merah. Kini siaplah ia bersekolah

Kelas dua tempatnya. Ia duduk sendiri di bangku pojok belakang. Tak sama dengan temannya, ia serius belajar. Hari itu ia meminjam buku kelas enam. Buku itu habis sebelum waktu pulang. Dalam bacaannya, selalu terngiang nasib ibunya, neneknya, serta adiknya yang selalu digendong ibunya. Sering ia berucap hamdalah karena sadar bisa ada di tempatnya sekarang. Kadang ia teringat ayahnya. Tapi itu cuma menambah rasa pahitnya.

Pagi itu ibu guru memberi tugas satu halaman. Cukup gampang, sebuah karangan bebas tentang cita-cita. Tapi baginya itu tugas yang susah. Satu per satu temannya maju ke depan, menceritakan cita-cita mereka di masa depan. Ada yang lancar, dan ada pula yang malu-malu.

"Hebat, Dinda. Teruslah belajar supaya kamu bisa jadi dokter. Sekarang,,, Amir, coba kamu maju ke depan, nak."

Ia tak punya pilihan. Mau tak mau ia harus maju ke depan. Ia berikan satu-satuya buku miliknya pada gurunya.

"Pedagang asongan? Amir, betul kamu ingin jadi pedagang asongan? Kamu gak pingin jadi orang yang hebat?"

Menunduk. Ia tak mampu menjawab.

"Coba bilang sama ibu, sayang. Kamu sebenernya pingin jadi apa?"

Pundaknya naik, menarik angin bekal mentalnya.

"Presiden, Bu. Saya pingin jadi presiden"

Tambah penasaran, gurunya pun bertanya lagi, "Trus, kenapa kamu gak tulis cita-citamu ini presiden?"

Menunduk. Ia termenung. Ia ingat saat kakenya bercerita tentang kepahlawanan kakeknya merebut kemerdekaan. Cerita muda kakeknya. Lalu ia teringat saat ia pergi menemani kakeknya antre BLT. Ia ingat kata-kata terakhir kakeknya sebelum kakeknya mati terinjak-injak orang yang berebutan mengantre.

"Amir,,, Ibu sudah tanya tiga kali. Coba, sayang. Bilang aja. Ibu gak akan marah."

Kali ini ia angkat kepalanya. Ia kumpulkan lagi napas untuk bekal mentalnya.

"Sebenarnya, kakek saya pernah bilang, presiden itu orang jahat. Presiden itu orang yang makan hati rakyat. Jadi saya dilarang kakek jadi presiden."
Read more ...
Designed By Published.. Blogger Templates