Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Jumat, 24 Januari 2014

Pemimpin, Antara Otak dan Hati



Sampai detik ini saya masih percaya bahwa tiap individu adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Saya juga yakin tiap-tiap dari mereka berpotensi –salah, yang benar berkesempatan– menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Tapi premis saya yang kedua ini sangat lemah, terutama karena kita sudah mengenal struktur organisasi.
Organisasi, seperti yang kita tahu, merupakan elemen yang terbentuk dari kumpulan individu yang memiliki tujuan yang sama, seharusnya begitu. Kumpulan ini membentuk beberapa organ yang memiliki bermacam-macam fungsi, dan wujud dari gabungan dari kesemuanya disebut organisasi –dalam biologi kita lazim menyebutnya sebagai tubuh.
Salah satu organ tersebut adalah ketua –di sini saya menuliskannya sebagai pemimpin struktural– yang dinyana sebagai otak sebuah organisasi. Organ ini sangat penting, lebih penting daripada jantung (sekretaris) dan paru-paru (bendahara)[1]. Karena sentralnya posisi ini, banyak yang berpendapat bahwa ketua yang baik berasal dari individu berkualifikasi terbaik.

Mengenai pendapat tersebut, mungkin saja benar. Tapi sebuah organisasi yang baik tak hanya organisasi yang memiliki ketua yang terbaik, tidak. Organisasi yang baik adalah organisasi yang memiliki organ-organ yang saling bersinergi, sehingga tujuan sebuah organisasi tersebut tercapai. Karena itu, organ-organ yang sehat dan kompak lebih baik daripada hanya ketua yang baik.
Secara fungsional seorang ketua wajib membimbing organ-organ lainnya –saya tidak menuliskannya dengan kata ‘bawahan’– supaya bisa bersatu, itu adalah salah satu tugasnya. Tapi hingga saat ini saya belum pernah menemukan ketua yang benar-benar mampu menyatukan organ-organ lain. Karena apa, adalah karena struktur itu sendiri. Posisi seorang ketua tidak menguntungkan untuk mendapat kepercayaan organ-organ lainnya. Hal ini tidak lain adalah karena posisi ketua selalu diletakkan di atas organ lainnya, juga memiliki otoritas tertinggi akan sebuah keputusan.
“Lantas, siapakah yang menyatukan organ-organ dalam sebuah organisasi jika bukan ketua?” Mungkin Anda berpikir demikian.
Ada satu organ yang belum saya sebutkan. Organ ini sangat penting, meski tak pernah tampak, yakni hati. Ya, dia adalah satu individu lain yang mampu menyatukan organ-organ selain ketua, ‘seharusnya’. Dalam struktur organisasi hati –bukan liver atau hepar dalam biologi– tidak ada, tentu saja hati tak bisa dilihat. Tapi dalam sebuah organisasi dia bisa muncul dari sisi mana saja, bisa saja sekretaris, bendahara, ataupun organ lain termasuk anggota biasa. Bisa juga hati tidak cuma satu individu, tapi dua-tiga. Itu berarti organisasi tersebut memiliki banyak hati untuk menyatukan organ-organ dalam organisasi.
Sebab hati lebih dipercaya adalah dia berbeda dari ketua yang dilebihkan secara struktural. Hati tidak dilihat secara struktural, melainkan dengan kedekatan emosional. Dan emosi adalah faktor penting dalam urusan suka-tak suka, yang bisa menimbulkan kekompakan, salah satunya.
Tapi, bukan berarti dengan begitu seharusnya yang memegang posisi sebagai pemimpin adalah si ‘hati’ ini. Sebabnya? Tentu ada pernah melihat orang gila. Dia adalah orang yang mementingkan hatinya daripada otaknya.
Tapi belum tentu hal itu selalu terjadi. Ketika individu ‘hati’ ini diletakkan sebagai pemimpin, kemungkinan besar organisasi tersebut menjadi lebih kompak. Tapi perlu digarisbawahi, sesuai dengan julukannya –julukan yang saya berikan– hati (qalb dalam bahasa Arab) memiliki sifat yang mudah terombang-ambing. Ketika hati diletakkan sebagai sentral dalam struktural, dia berpotensi untuk menyeleweng, potensi sangat besar. Karena itu kita sering menemukan seseorang yang kita percaya pada awalnya (sebelum menjabat pemimpin) pada akhirnya ketika sudah menjabat menjadi sangat berbeda, menjengkelkan. Banyak yang sebelumnya sangat alim ketika sudah menjabat menjadi amit-amit. Dan itu wajar, namanya juga manusia.
Karena itu, adalah baik ketika kita tidak memaksakan individu ‘hati’ menjadi ‘otak’ organisasi. Meskipun organisasi yang terbaik adalah organisasi yang dipimpin oleh otak yang juga hatinya. Tapi, percayalah, kemungkinan itu sangatlah kecil.
Karena itu dalam agama –Islam tentunya– kita tidak diperbolehkan berhasrat menjadi pemimpin.


[1] Saya masih ingat seorang teman saya (mungkin saya juga) meyakini bahwa 3 organ penting dalam organisasi adalah ketua (pimpinan) sebagai otak, sekretaris sebagai jantung, dan bendahara sebagai paru-paru. Sebuah organisasi tak mungkin terwujud tanpa seorang ketua. Sebuah organisasi tak mungkin hidup tanpa sekretaris. Sebuah organisasi tak mungkin berdiri tanpa bendahara.
Judul: Pemimpin, Antara Otak dan Hati; Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates