Sampai detik ini saya masih percaya bahwa tiap individu adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Saya juga yakin tiap-tiap dari mereka berpotensi –salah, yang benar berkesempatan– menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Tapi premis saya yang kedua ini sangat lemah, terutama karena kita sudah mengenal struktur organisasi.
Organisasi, seperti yang kita tahu,
merupakan elemen yang terbentuk dari kumpulan individu yang memiliki tujuan
yang sama, seharusnya begitu. Kumpulan ini membentuk beberapa organ yang memiliki
bermacam-macam fungsi, dan wujud dari gabungan dari kesemuanya disebut
organisasi –dalam biologi kita lazim menyebutnya sebagai tubuh.
Salah satu organ tersebut adalah ketua –di
sini saya menuliskannya sebagai pemimpin struktural– yang dinyana sebagai otak
sebuah organisasi. Organ ini sangat penting, lebih penting daripada jantung
(sekretaris) dan paru-paru (bendahara)[1].
Karena sentralnya posisi ini, banyak yang berpendapat bahwa ketua yang baik
berasal dari individu berkualifikasi terbaik.
Mengenai pendapat tersebut, mungkin saja
benar. Tapi sebuah organisasi yang baik tak hanya organisasi yang memiliki
ketua yang terbaik, tidak. Organisasi yang baik adalah organisasi yang memiliki
organ-organ yang saling bersinergi, sehingga tujuan sebuah organisasi tersebut
tercapai. Karena itu, organ-organ yang sehat dan kompak lebih baik daripada
hanya ketua yang baik.
Secara fungsional seorang ketua wajib
membimbing organ-organ lainnya –saya tidak menuliskannya dengan kata ‘bawahan’–
supaya bisa bersatu, itu adalah salah satu tugasnya. Tapi hingga saat ini saya
belum pernah menemukan ketua yang benar-benar mampu menyatukan organ-organ lain.
Karena apa, adalah karena struktur itu sendiri. Posisi seorang ketua tidak
menguntungkan untuk mendapat kepercayaan organ-organ lainnya. Hal ini tidak
lain adalah karena posisi ketua selalu diletakkan di atas organ lainnya, juga
memiliki otoritas tertinggi akan sebuah keputusan.
“Lantas, siapakah yang menyatukan
organ-organ dalam sebuah organisasi jika bukan ketua?” Mungkin Anda berpikir
demikian.
Ada satu organ yang belum saya sebutkan.
Organ ini sangat penting, meski tak pernah tampak, yakni hati. Ya, dia adalah
satu individu lain yang mampu menyatukan organ-organ selain ketua, ‘seharusnya’.
Dalam struktur organisasi hati –bukan liver atau hepar dalam
biologi– tidak ada, tentu saja hati tak bisa dilihat. Tapi dalam sebuah
organisasi dia bisa muncul dari sisi mana saja, bisa saja sekretaris,
bendahara, ataupun organ lain termasuk anggota biasa. Bisa juga hati tidak cuma
satu individu, tapi dua-tiga. Itu berarti organisasi tersebut memiliki banyak
hati untuk menyatukan organ-organ dalam organisasi.
Sebab hati lebih dipercaya adalah dia
berbeda dari ketua yang dilebihkan secara struktural. Hati tidak dilihat secara
struktural, melainkan dengan kedekatan emosional. Dan emosi adalah faktor
penting dalam urusan suka-tak suka, yang bisa menimbulkan kekompakan, salah
satunya.
Tapi, bukan berarti dengan begitu
seharusnya yang memegang posisi sebagai pemimpin adalah si ‘hati’ ini.
Sebabnya? Tentu ada pernah melihat orang gila. Dia adalah orang yang
mementingkan hatinya daripada otaknya.
Tapi belum tentu hal itu selalu terjadi.
Ketika individu ‘hati’ ini diletakkan sebagai pemimpin, kemungkinan besar
organisasi tersebut menjadi lebih kompak. Tapi perlu digarisbawahi, sesuai
dengan julukannya –julukan yang saya berikan– hati (qalb dalam bahasa
Arab) memiliki sifat yang mudah terombang-ambing. Ketika hati diletakkan
sebagai sentral dalam struktural, dia berpotensi untuk menyeleweng, potensi
sangat besar. Karena itu kita sering menemukan seseorang yang kita percaya pada
awalnya (sebelum menjabat pemimpin) pada akhirnya ketika sudah menjabat menjadi
sangat berbeda, menjengkelkan. Banyak yang sebelumnya sangat alim ketika sudah
menjabat menjadi amit-amit. Dan itu wajar, namanya juga manusia.
Karena itu, adalah baik ketika kita
tidak memaksakan individu ‘hati’ menjadi ‘otak’ organisasi. Meskipun organisasi
yang terbaik adalah organisasi yang dipimpin oleh otak yang juga hatinya. Tapi,
percayalah, kemungkinan itu sangatlah kecil.
Karena itu dalam agama –Islam tentunya–
kita tidak diperbolehkan berhasrat menjadi pemimpin.
[1] Saya masih ingat seorang teman saya (mungkin saya juga) meyakini bahwa
3 organ penting dalam organisasi adalah ketua (pimpinan) sebagai otak,
sekretaris sebagai jantung, dan bendahara sebagai paru-paru. Sebuah organisasi
tak mungkin terwujud tanpa seorang ketua. Sebuah organisasi tak mungkin hidup
tanpa sekretaris. Sebuah organisasi tak mungkin berdiri tanpa bendahara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar