بِسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ الرَّØْÙ…َÙ†ِ الرَّØِيمِ
Bukan wewenang saya untuk memutuskan
apakah kalimat basmalah termasuk dalam ayat Al-Qur’an atau bukan, tapi memang
demikian yang sudah sering saya baca. Kalimat basmalah selalu terletak dalam
ayat pertama.
Sepengetahuan saya –yang amat terbatas–
bahwasanya seluruh elemen semesta ini terkandung dalam Al-Qur’an. Namun kita
juga tahu bahwa surat Al-Fatihah adalah induk Al-Qur’an, bilamana kita
membacanya pahala yang kita dapat setara dengan pahala membaca seluruh
Al-Qur’an (saya tidak tahu dalilnya, hanya ingat begitu saja). Dan satu surat
yang berarti pembuka ini, memiliki inti pada kepalanya, alias ayat yang
pertama, yakni kalimat basmalah. Saya juga mendengar, entah memang benar atau
tidak, bahwa satu ayat basmalah itu berintikan huruf ba’ di awal ayat
–hal ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa
pengetahuan sahabat Ali bin Abi Thalib setara dengan huruf ba’ ini.
Lantas saya berpikir nakal, barangkali inti dari huruf ba’ tersebut adalah
titiknya. Barangkali semua terwakili oleh satu titik itu.
Alangkah mulianya kalimat basmalah itu.
Sedikit saya memikirkan, mengapa kalimat
yang berisi 19 huruf ini wajib dibaca sebelum melakukan apa pun –saya belum
tahu dalilnya, lantas di antara orang-orang yang membacanya mengalami banyak
keajaiban (silakan cari referensinya). Sepintas saya tersadar, barangkali hal
ini berkaitan dengan lafadz bismi di awal ayat.
Lafadz bismi ini –sudah saya
klarifikasi ke teman saya– merupakan lafadz qasam.
Sedikit menengok, ada beberapa contoh qasam dalam Al-Qur’an, di antaranya pada
surat Ad-Dhuha dan surat Asy-Syams. Seperti halnya kedua contoh tersebut lafadz-lafadz
qasam tersebut menggunakan makhluk Allah sebagai isim qasam. Namun berbeda
dengan lafadz basmalah, isim qasam tersebut adalah asma Allah.
Ada apa dengan hal ini?
Mungkinkah Allah mempertaruhkan nama-Nya
sendiri sebagai sumpah-Nya, sehingga di antara qasam-qasam yang ada, qasam
dalam kalimat basmalah inilah yang tertinggi? (Ketika saya membaca ulang
kalimat ini, saya teringat bahwa berdasar kalimat thoyyibah hasbunallah [cukuplah
bagi kami Allah], barangkali Allah memang jaminan sekaligus penjamin yang
terbaik). Namun saya belum bisa menjawab, apakah Allah yang bersumpah di sana,
ataukah kita yang membacanya ini, atau memang keduanya tidak salah.
Bukan saya yang tahu jawabannya.
Saya juga menyadari, bahwa Allah memang
Maha Kuasa dengan segala kehendak-Nya. Dengan kesadaran itu saya mencoba
mengerti, bahwa kalimat basmalah ini adalah kalimat ijab kita untuk bertawakkal,
mencari dan menerima segala kehendak yang Allah berikan –seperti shalat
istikharah. Sehingga dengan kalimat ini kita ditunjukkan pada kebesaran Allah.
Sehingga dengan kalimat ini kita diluruskan menuju ridha-Nya, yang juga berarti
taubat.
Wallahu a’alam bi ash-shawwab