Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Senin, 30 Maret 2015

Pagar : Kisah si Pohon Mangga

    A Priori.
   Agaknya semasa kecil kita terkadang heran setelah menilik peta dan globe, karena tak pernah sekalipun kita temukan wujud garis-garis astronomi di dunia realita. Dan setelah mendengar keterangan Ibu guru kita baru sadar, betapa khayalan bisa masuk ke ranah ilmu. Katanya garis itu dibuat untuk menunjukkan batas - meski si empu peta menentukan seenaknya. Lalu di mana batas antara ilmu dengan khayalan?
   Kita patut kagum pada para pendahulu kita bangsa Indonesia, dan segelintir masyarakat kini yang terpinggirkan. Satu unik - dulu biasa - dari mereka, yakni kemampuan mereka dalam membuat batas dan melihat batas, terutama batas tanah.
   Kali yang tiap kemarau kering, Pohon yang jadi sarang burung, bahkan batu di pojok jalan bisa jadi batas. Sekali kesepakatan atas tanah terbentuk, tak akan dilanggar. "tanah Pak Sutoyo dan tanah Pak Budi dibatasi oleh pohon mangga Pak Budi ini" hingga seterusnya, bahkan hingga pohon mangga itu mati, jasad pohon itu tetap jadi batas. Dan entah mengapa tanpa komando seseorang - apalagi memorandum - pun mereka tak akan berani-berani memindahkan pohon tersebut. Bukannya takut, tapi sadar diri.
   Sering sekali ketika dari dahan pohon mangga yang jadi tapal batas tanah muncul buah dan jatuh karena saking matangnya, tak seorang pun akan mengambilnya, bahkan terkadang hingga busuk. Sungkan, perasaan yang hanya bisa ditafsirkan dalam kehidupan Jawa ini selalu muncul dalam benak mereka. Tak akan mereka ambil bila tanpa izin, tanpa permisi, meski si empunya pohon sudah mengumumkan kepada seluruh desa, "silakan ambil buah dari pohon saya sesuka kalian".
   Namun berbeda bila kita mencoba menatap pohon mangga itu jika hidupnya di kota. Mungkin akan sulit sekali kita temui pohon mangga yang 'bebas' dipanjat, dimakan buahnya dan dibuat tidur-tiduran  bawahnya.
   Privasi. Bahkan pohon yang notabene milik Tuhan karena tanpa-Nya bisa tumbuh, diaku-aku milik pribadi - kalau memang ada orang kota yang mau menanam pohon mangga - tak ada yang boleh mengambil buah. Di batas tanahnya dipasang pagar, tinggi-tinggi pula. "Mengantisipasi maling" katanya.
    Batas semen tinggi-tinggi ini memang sering dibangun orang-orang kota, untuk membatasi tanahnya. Saya tidak tahu, apa motif sebenarnya, kepemilikan atau
  
Judul: Pagar : Kisah si Pohon Mangga; Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates