Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Senin, 13 Januari 2014

Jiwa yang Salah


Indonesia adalah negara multibudaya dengan cita rasa orang timur. Semua orang tahu dan meyakini hal itu. Bahkan pemerintah yang agaknya selalu dalam posisi serba salah juga tahu, kita meyakini hal itu.
Belakangan banyak publik yang mengeluh karena budaya kita yang tak terawat. Budaya tradisional semakin menipis dengan dominasi globalisasi di Indonesia. Indonesia memang selalu terbuka.
Nah, sekarang pemerintah sudah banyak menganggarkan dana untuk merehabilitasi budaya yang sedang kritis. Terlebih isu-isu pencaplokan budaya via paten UNESCO oleh negara lain memicu gerakan ini.
Alhasil, batik terselamatkan, kini membludak. Reog mulai digadang-gadang. Dan restoran pinggir jalan meramu resep kombinasi. Cita rasa khas tradisional, tapi internasional.
Tapi, katanya dana yang dianggarkan masih kurang. Terlalu sedikit. Akibatnya proses rehabilitasi budaya masih belum maksimal.
Dasar, dikasih air segelas minta lautan.
Itu dia masalahnya. Bukan masalah pendanaan, tidak. Rehabilitasi budaya, ada yang salah di sana.
Budaya memang sedang dibangun, tapi cuma dalam hal yang bisa dibentuk saja. Pakaian, tarian, musik, arsitektur, juga budaya dalam bentuk yang lain, semuanya direhabilitasi. Tapi yang saya herankan adalah, tidakkah kita sadar bahwa kita hanya berusaha mengawetkan jasad Indonesia, tidak dengan jiwanya.
Adalah hukum alam, hukum Tuhan, bahwa yang tidak berjiwa sama saja dengan mati.
Lantas, mengapa dibiarkan saja jiwa Indonesia yang jelas-jelas sekarat meninggalkan jasadnya?
Apa? Tak bisa melihat jiwanya?
Jiwa Indonesia hidup dalam jiwa kita, pemikiran kita. Tapi bukan kita yang sekarang, saya meragukannya. Saya yakin kita telah banyak terpengaruh pemikiran asing. Ideologi, Gaya hidup, terlalu banyak isme-isme yang merasuk dalam batin kita. Jiwa khas kita terdesak, koyak, dan sekarat. Buktinya? “Katanya dana yang dianggarkan masih kurang.”
Jiwa Indonesia yang murni tidak pernah merasa kekurangan, santai. Karena hidup selaras dengan alam, manusia Indonesia yang masih murni hidup apa adanya. Ketika sedang susah ia tidak mengeluh. Ketika sedang bahagia dibagikan ke tetangga, sekitar. Jiwa Indonesia yang murni cenderung bersyukur dan selalu merasa dekat dengan Tuhan.
Lalu jiwa-jiwa yang merasuk pemikiran kita, kebanyakan dari barat. Ya, memang mereka yang memimpin globalisasi. Jiwa-jiwa mereka muncul dari tanah-tanah yang kurang subur, hidup di dunia mereka butuh usaha ekstra keras. Akibatnya, karakter yang bermunculan di sana cenderung mengubah keadaan, ada sifat membentuk dan menghancurkan di sana. Terbukti lingkungan mereka yang awalnya tidak cocok untuk ditinggali menjadi hidup sekarang.
Kini, sudahkah Anda bisa melihat? Tunggu apa lagi? Anda Indonesia, bukan?
Judul: Jiwa yang Salah; Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates