Indonesia adalah negara multibudaya dengan cita rasa orang timur. Semua orang tahu dan meyakini hal itu. Bahkan pemerintah yang agaknya selalu dalam posisi serba salah juga tahu, kita meyakini hal itu.
Belakangan banyak publik yang mengeluh
karena budaya kita yang tak terawat. Budaya tradisional semakin menipis dengan
dominasi globalisasi di Indonesia. Indonesia memang selalu terbuka.
Nah, sekarang pemerintah sudah banyak
menganggarkan dana untuk merehabilitasi budaya yang sedang kritis. Terlebih
isu-isu pencaplokan budaya via paten UNESCO oleh negara lain memicu gerakan
ini.
Alhasil, batik terselamatkan, kini
membludak. Reog mulai digadang-gadang. Dan restoran pinggir jalan meramu resep
kombinasi. Cita rasa khas tradisional, tapi internasional.
Tapi, katanya dana yang dianggarkan
masih kurang. Terlalu sedikit. Akibatnya proses rehabilitasi budaya masih belum
maksimal.
Dasar, dikasih air segelas minta lautan.
Itu dia masalahnya. Bukan masalah
pendanaan, tidak. Rehabilitasi budaya, ada yang salah di sana.
Budaya memang sedang dibangun, tapi cuma
dalam hal yang bisa dibentuk saja. Pakaian, tarian, musik, arsitektur, juga
budaya dalam bentuk yang lain, semuanya direhabilitasi. Tapi yang saya herankan
adalah, tidakkah kita sadar bahwa kita hanya berusaha mengawetkan jasad
Indonesia, tidak dengan jiwanya.
Adalah hukum alam, hukum Tuhan, bahwa
yang tidak berjiwa sama saja dengan mati.
Lantas, mengapa dibiarkan saja jiwa
Indonesia yang jelas-jelas sekarat meninggalkan jasadnya?
Apa? Tak bisa melihat jiwanya?
Jiwa Indonesia hidup dalam jiwa kita,
pemikiran kita. Tapi bukan kita yang sekarang, saya meragukannya. Saya yakin
kita telah banyak terpengaruh pemikiran asing. Ideologi, Gaya hidup, terlalu
banyak isme-isme yang merasuk dalam batin kita. Jiwa khas kita terdesak, koyak,
dan sekarat. Buktinya? “Katanya dana yang dianggarkan masih kurang.”
Jiwa Indonesia yang murni tidak pernah
merasa kekurangan, santai. Karena hidup selaras dengan alam, manusia Indonesia
yang masih murni hidup apa adanya. Ketika sedang susah ia tidak mengeluh.
Ketika sedang bahagia dibagikan ke tetangga, sekitar. Jiwa Indonesia yang murni
cenderung bersyukur dan selalu merasa dekat dengan Tuhan.
Lalu jiwa-jiwa yang merasuk pemikiran
kita, kebanyakan dari barat. Ya, memang mereka yang memimpin globalisasi.
Jiwa-jiwa mereka muncul dari tanah-tanah yang kurang subur, hidup di dunia
mereka butuh usaha ekstra keras. Akibatnya, karakter yang bermunculan di sana
cenderung mengubah keadaan, ada sifat membentuk dan menghancurkan di sana.
Terbukti lingkungan mereka yang awalnya tidak cocok untuk ditinggali menjadi
hidup sekarang.
Kini, sudahkah Anda bisa melihat? Tunggu
apa lagi? Anda Indonesia, bukan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar