Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Kamis, 27 Februari 2014

Semesta Puji (1:2)


الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Ada sebagian orang, memang, yang mengklasifikasikan ayat ini sebagai ayat pertama dalam Al-Qur’an. Tapi mayoritas meletakkannya sebagai ayat kedua, dan saya memilih yang ini karena saya tidak tahu apa-apa.
Secara umum, kalimat ini menunjukkan ekspresi syukur kepada Allah. Memang, lafazh al-hamdu lillah secara harfiah bisa diartikan dengan segala puji bagi Allah dan itu merupakan salah satu bentuk bersyukur, yakni memuji. Dan, saya pikir setiap orang yang karena saking gembiranya dan speechless, mungkin frase segala puji bisa mewakili rasa syukur tersebut.

Tapi, kalimat ini juga mengekspresikan tawakkal –sekaligus harapan, mungkin, ketika yang mengucapkannya adalah orang yang sedang ditimpa kesusahan. Sepintas, orang yang mengucapkan kalimat pujian dalam keadaan susah tampak seperti orang gila. “Orang susah kok seneng?” Tapi jika ditelusuri lebih dalam lafazh hamdalah yang diucapkan kala susah lebih mirip pada sindiran, yang di sini saya artikan sebagai rasa tawakkal, dan secara tidak langsung berharap kepada Allah. Mungkin istilah ikhlas juga masuk di sini.
Satu saat, dosen saya menanyakan kepada kami para mahasiswa “Kalimat hamdalah ini, dalam salah satu hadits Nabi, disebut sebagai doa yang paling agung. Mengapa?” Sampai saat ini saya belum juga bisa menemukan dalil tersebut, maklum karena usaha saya minim.
Saya lupa –terlupa– akan jawaban dari dosen saya –yang sebenarnya adalah opini beliau sendiri. Beliau mengkajinya secara semantik, dan itu cocok. Tapi saya punya jawaban lain, yang saya percaya, sendiri. Boleh kan? Toh Nabi Muhammad tak pernah menyebutkan alasannya.
Dalam tasawuf, beberapa sufi –dalam taraf tertentu– telah mampu melihat sisi positif dari segala bentuk negatif. Mereka beranggapan bahwa segala yang terjadi atas kehendak Allah, dan kehendak Allah adalah yang terbaik. Karenanya apapun yang terjadi patut disyukuri, karena itulah yang terbaik.
Kemudian, dalam frase yang terakhir, Tuhan semesta alam, mengapa frase ini yang digunakan mendampingi kalimat hamdalah?
Menurut saya, frase ini menguatkan pujian kepada Allah dalam frase yang sebelumnya. Mungkin juga secara maknawi memaparkan rasa syukur yang teramat sangat, sehingga semesta yang batasnya belum mampu kita lihat pun, kita bersyukur pula karenanya. Kita bersyukur atas bintang dan langit yang sampai saat ini jadi batas penglihatan dan pengetahuan kita atas semesta.
Mungkin begitu, Wallahu a’alam bi ash-Showwab.
Judul: Semesta Puji (1:2); Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates