Ada
sebagian orang, memang, yang mengklasifikasikan ayat ini sebagai ayat
pertama dalam Al-Qur’an. Tapi mayoritas meletakkannya sebagai ayat
kedua, dan saya memilih yang ini karena saya tidak tahu apa-apa.
Secara
umum, kalimat ini menunjukkan ekspresi syukur kepada Allah. Memang,
lafazh al-hamdu
lillah
secara harfiah bisa diartikan dengan segala
puji bagi Allah
dan itu merupakan salah satu bentuk bersyukur, yakni memuji. Dan,
saya pikir setiap orang yang karena saking gembiranya dan speechless,
mungkin frase segala
puji
bisa mewakili rasa syukur tersebut.
Tapi,
kalimat ini juga mengekspresikan tawakkal –sekaligus harapan,
mungkin, ketika yang mengucapkannya adalah orang yang sedang ditimpa
kesusahan. Sepintas, orang yang mengucapkan kalimat pujian dalam
keadaan susah tampak seperti orang gila. “Orang susah kok seneng?”
Tapi jika ditelusuri lebih dalam lafazh hamdalah yang diucapkan kala
susah lebih mirip pada sindiran, yang di sini saya artikan sebagai
rasa tawakkal, dan secara tidak langsung berharap kepada Allah.
Mungkin istilah ikhlas juga masuk di sini.
Satu
saat, dosen saya menanyakan kepada kami para mahasiswa “Kalimat
hamdalah ini, dalam salah satu hadits Nabi, disebut sebagai doa yang
paling agung. Mengapa?” Sampai saat ini saya belum juga bisa
menemukan dalil tersebut, maklum karena usaha saya minim.
Saya
lupa –terlupa– akan jawaban dari dosen saya –yang sebenarnya
adalah opini beliau sendiri. Beliau mengkajinya secara semantik, dan
itu cocok. Tapi saya punya jawaban lain, yang saya percaya, sendiri.
Boleh
kan? Toh Nabi Muhammad tak pernah menyebutkan alasannya.
Dalam
tasawuf, beberapa sufi –dalam taraf tertentu– telah mampu melihat
sisi positif dari segala bentuk negatif. Mereka beranggapan bahwa
segala yang terjadi atas kehendak Allah, dan kehendak Allah adalah
yang terbaik. Karenanya apapun yang terjadi patut disyukuri, karena
itulah yang terbaik.
Kemudian,
dalam frase yang terakhir, Tuhan
semesta alam,
mengapa frase ini yang digunakan mendampingi kalimat hamdalah?
Menurut
saya, frase ini menguatkan pujian kepada Allah dalam frase yang
sebelumnya. Mungkin juga secara maknawi memaparkan rasa syukur yang
teramat sangat, sehingga semesta yang batasnya belum mampu kita lihat
pun, kita bersyukur pula karenanya. Kita bersyukur atas bintang dan
langit yang sampai saat ini jadi batas penglihatan dan pengetahuan
kita atas semesta.
Mungkin
begitu, Wallahu
a’alam bi ash-Showwab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar