Kami
berjalan sore-sore menyusuri desa Prancis tua itu, yang membanggakan
diri dengan taman rajanya yang luas, dari zaman Louis XIV. Musim
gugur seperti membentangkan permadani Turki pada daun-daun agak di
kejauhan. Di belakang kami suara angin. Tak ada deru mobil. Hanya
sesekali bel sepeda.
“Aku
menyukai tempat ini,” kata teman saya, seorang penulis tak terkenal
kelahiran Belgia. Ia memang tinggal di desa itu, sejak beberapa belas
tahun.
“Aku
menyukai tempat ini lebih dari banyak tempat di Eropa,” katanya
setengah mengulang. Ketika kami selesai satu jam berjalan –
menyeberangi taman dan hutan perburuan, melihat kolam dan pohon-pohon
yang membisu – te3man itu menunjuk ke satu tempat agak di tepi
jalan. Sebuah kafe kecil. Kami pun ke sana, duduk, memesan sherry.
Tempat
itu lengang tampaknya, tapi agak di bagian dalam tampak lima pasang
anak muda merayakan sebuah perkawinan. Mereka menari dengan lagu pada
akordeon. Pengantin dusun yang riang.
“Apakah
jadinya hidup ini jika kegembiraan kecil seperti itu hilang, jika
kafe kecil ini berubah jadi restoran besar, jika desa ini berubah
jadi Paris atau New York?” teman saya terus berkata-kata. Saya
memandangi pasangan-pasangan itu, yang menari, dengan gelas anggur di
tangan, dan dengan ketawa dan nyanyi yang mulai terhuyung-huyung.
“Karena
itu, kau beruntung, di Indonesia,” kata teman saya pula. “Orang
masih bisa menghibur diri, menyanyi dan menari, dan tak cuma menunggu
acara music televise. Kau tentu menyukai dusun-dusun di khatulistiwa
itu, bukan? Mungkin lebih nyaman dari ini?”
Saya
mengangguk, “ya, ya”, dan mencoba mengingat dusun-dusun yang
pernah saya kenal.
Di
sana memang ada kegembiraan, juga pengantin, meskipuun tanpa tarian
dan anggur. Di sana ada kedai, juga orang menembang atau bermain
gamelan. Tapi di sana ada kemiskinan. Dan kepadatan.
“Di
Dunia ketiga orang berseruuntuk industrialisasi, modernisasi, obil,
tv, pabrik, dan entah apa lagi didatangkan. Apa yang sebenarnya
hendak didapat? Kebahagiaan? Lalu teman itu memungut selembar daun
yang jatuh, dan menciumnya. “harum daun ini adalah sebagian dari
surga yang hampir hilang,” katanya lagi.
“Maka,
Dunia Ketiga tak perlu kehilangan haru daun jati,” tiba-tiba ia
seperti menasihati.”Tutup pintu kalian dari angin burukm tumbuhlah
seperti padi tumbuh, dengan sifat-sifatnya sendiri.”
Sore
mulai gelap. Rombongan pengantin itu masih menyanyi, sampai pada lagu
yang tiba-tiba membuat mata saya nyalang: melodi itu pernah diajarkan
kakak saya, dulu, jauh, di sebuah dusun di Indonesia. Bagaimana
melodi itu bisa dating menyeberangi lautan dan benua, tak tahulah
saya. Saya teringat radio besar ayah di pojok rumah. Dan saya
teringat tiang-tiang listrik, tempat burung-burung hinggap sebelum
magrib. Seakan unggas itu mendapatkan tempat beristirahat.
Dunia
Ketiga pun membangun tiang-tiang listrik juga – lebih banyak. Bung
Karno menyuruh orang membongkar alam, bikin telaga buatan dan
Jatiluhur, juga pabrik baja dan stasiun tv. Orang komunis bicara akan
membawa abad ke-20 ke antara pematang sawah. Orde Baru memasang
satelit, memperkenalkan padi unggul, dan bahkan para pesindennya
menembangkan semboyan “modernisasi desa”. Tampaknya, pilihan
memang tak banyak. Mungkin itu-itu juga, dengan pelbagai variasinya.
Untuk melawan kemiskinan, untuk mengurangi tekanan kepadatan.
Saya
tak tahu apa yang harus saya katakana kepada teman saya. Bahwa ia
bicara klise, mengulang suara romantic, mencari Dunia Ketiga yang
sebenarnya hanya imajiner karena ia kehilangan sesuatu di Dunia
Pertama? Tapi ia bisa mengatakan seperti Dr. Sutomo mengatakan
setengah abad yang silam: berhati-hatilah. Kesalahan yang pernah
dialamu Dunia Pertama, toh bisa dihindari. “Janganlah terjadi yang
kita juga akan menderita beberapa ‘kesedihan dan kesakitan’
masyarakat, seperti di Benua Eropa . . .,” tulis Sutomo, tahun
1936.
Masalahnya,
kemudian: apa pula yang dianggap “kesedihan dan kesakitan?” Dan
oleh siapa? Oleh mereka yang tak ingin kehilangan surga semula yang
lebih tenteram? Atau oleh mereka yang menginginkan surga baru? Dua
sisi itu adalah kenyataan-kenyataan kita, dan dua sisi itu bergolak
di tengah kita.
Dan
pergulatan antara keduanya bukanlah sekadar pergulatan antara
keindahan daun dan kemegahan pabrik. Yang terjadi akhirnya adalah
pergulatan yang lebih kasar: pergulatan kepentingan – mungkin
kepentingan seorang atau lebih, nun di atas sana, yang tak semua kita
tahu.
Goenawan
Mohamad, Catatan
Pinggir 29 Maret
1986

Tidak ada komentar:
Posting Komentar