Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Jumat, 17 Januari 2014

Titik Awal (1:1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ



Bukan wewenang saya untuk memutuskan apakah kalimat basmalah termasuk dalam ayat Al-Qur’an atau bukan, tapi memang demikian yang sudah sering saya baca. Kalimat basmalah selalu terletak dalam ayat pertama.
Sepengetahuan saya –yang amat terbatas– bahwasanya seluruh elemen semesta ini terkandung dalam Al-Qur’an. Namun kita juga tahu bahwa surat Al-Fatihah adalah induk Al-Qur’an, bilamana kita membacanya pahala yang kita dapat setara dengan pahala membaca seluruh Al-Qur’an (saya tidak tahu dalilnya, hanya ingat begitu saja). Dan satu surat yang berarti pembuka ini, memiliki inti pada kepalanya, alias ayat yang pertama, yakni kalimat basmalah. Saya juga mendengar, entah memang benar atau tidak, bahwa satu ayat basmalah itu berintikan huruf ba’ di awal ayat –hal ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa pengetahuan sahabat Ali bin Abi Thalib setara dengan huruf ba’ ini. Lantas saya berpikir nakal, barangkali inti dari huruf ba’ tersebut adalah titiknya. Barangkali semua terwakili oleh satu titik itu.
Alangkah mulianya kalimat basmalah itu.
Sedikit saya memikirkan, mengapa kalimat yang berisi 19 huruf ini wajib dibaca sebelum melakukan apa pun –saya belum tahu dalilnya, lantas di antara orang-orang yang membacanya mengalami banyak keajaiban (silakan cari referensinya). Sepintas saya tersadar, barangkali hal ini berkaitan dengan lafadz bismi di awal ayat.
Lafadz bismi ini –sudah saya klarifikasi ke teman saya– merupakan lafadz qasam[1]. Sedikit menengok, ada beberapa contoh qasam dalam Al-Qur’an, di antaranya pada surat Ad-Dhuha dan surat Asy-Syams. Seperti halnya kedua contoh tersebut lafadz-lafadz qasam tersebut menggunakan makhluk Allah sebagai isim qasam. Namun berbeda dengan lafadz basmalah, isim qasam tersebut adalah asma Allah.
Ada apa dengan hal ini?
Mungkinkah Allah mempertaruhkan nama-Nya sendiri sebagai sumpah-Nya, sehingga di antara qasam-qasam yang ada, qasam dalam kalimat basmalah inilah yang tertinggi? (Ketika saya membaca ulang kalimat ini, saya teringat bahwa berdasar kalimat thoyyibah hasbunallah [cukuplah bagi kami Allah], barangkali Allah memang jaminan sekaligus penjamin yang terbaik). Namun saya belum bisa menjawab, apakah Allah yang bersumpah di sana, ataukah kita yang membacanya ini, atau memang keduanya tidak salah.
Bukan saya yang tahu jawabannya.
Saya juga menyadari, bahwa Allah memang Maha Kuasa dengan segala kehendak-Nya. Dengan kesadaran itu saya mencoba mengerti, bahwa kalimat basmalah ini adalah kalimat ijab kita untuk bertawakkal, mencari dan menerima segala kehendak yang Allah berikan –seperti shalat istikharah. Sehingga dengan kalimat ini kita ditunjukkan pada kebesaran Allah. Sehingga dengan kalimat ini kita diluruskan menuju ridha-Nya, yang juga berarti taubat.
Wallahu a’alam bi ash-shawwab




[1] Sumpah. Dalam struktur bahasa Arab menggunakan 3 huruf: ba’, ta’, dan wawu
Judul: Titik Awal (1:1); Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates