Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Kamis, 09 Mei 2013

Asa


Kita ini Agent of Change!” seorang muda di depan saya menyalakkan orasinya saat orientasi kampus. Cukup menggugah saya, meski saya menyangsikannya memahami apa yang dikatakannya barusan.
Darah muda, darahnya para remaja. Yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah.” Saya hanya manggut-manggut mendengarkan alunan dangdut Rhoma Irama ini. Tak salah, orang muda memang memiliki ego yang tinggi. Ego tinggi berarti rawan pada kelakuan buruk. Dan ini terbukti pada hari-hari ini, media banya membicarakan kerusakan moral yang didalangi oleh para pemuda bangsa. Meskipun begitu, tiap orang – saya yakin demikian – sangat membanggakan kehidupan muda mereka. Mimpi, harapan, cinta, semua kesenangan dalam hidup begitu lekat dengan masa muda.
Berulang kali pemuda dijadikan tokoh utama dalam cerita-cerita fiksi. Sekali, pernah saya membaca dalam sebuah manga action dari Jepang, mengulas sebuah alasan mengapa pemuda selalu dijadikan harapan untuk perubahan besar. Tokoh manga yang tua itu berkata pada si tokoh utama yang muda, “Kami orang tua tidak bias meneruskan perjuangan, sebab kami sudah melihat batas kemampuan kami. Dan kalian para pemuda masih punya waktu untuk mencapai batas yang lebih tinggi.”
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Sebenarnya, atau dalam kebenaran publik sejarah banyak menorehkan kata ‘pemuda’ dalam epik perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia,apalagi setelah Een Eereschuld (hutang kehormatan) muncul dari pena Van Deventer, memaksa Belanda membuka babak baru kolonialisasi di Indonesia, Politik Balas Budi. Mungkin saja tidak disengaja,, kemunculan era baru bentukan koloni yang dimaksudkan untuk memperbaiki citranya di dunia malah menyemaikan sebuah gagasan baru dalam benak pelajar, golongan muda Indonesia yang beruntung. Pun pada masa pendudukan Jepang, ‘kesalahan’ yang serupa juga terjadi, kala pemuda dilatih di berbagai bidang, termasuk militer. Maksud untuk jadi anjing suruhan malah akhirnya jadi pecut makan tuannya, pemuda yang baru dididik dan dilatih ini seringkali ngelunjak, mengkhianati tuannya sendiri dengan memerdekakan dirinnya sendiri di waktu colongan. Kurang ajar, itulah sifat utama pemuda Indonesia di mata dunia. Entah baik atau buruk, tetapi tak bias dipungkiri bahwa Indonesia berhasil berkat kekurangajaran ini.
Habis satu masalah, buntunya pun mengikuti. Tak cukup merdeka saja untuk mencapai kesejahteraan publik, utopia tiap bangsa. Tak lama pasca proklamasi, pemuda Indonesia harus turun kembali ke medan perjuangan. Pasalnya, pemerintah yang diandalkan rakyat rupanya membelot, menguntungkan dirinya sendiri dan menyengsarakan rakyat dengan politik otoriter. Walaupun upaya pemuda berhasil, lagi-lagi tak sedikit korban jatuh di pihak rakyat, pun pemuda sendiri.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Memang benar, sebelum tiba kehancuran hakiki masalah takkan pernah habis, lagi dan datang lagi. Rupanya setelah rea reformasi dibentuk, masalah semakin banyak dan kompleks, menampakkan cacat bangsa ini. Apalagi korupsi. Agaknya sangat terlambat kita sadari – atau mungkin sengaja – korupsi menggerogoti bangsa ini. Namun bila kita mau menilik lebih tajam, sebenarnya permasalahan ini sudah terlanjur basi. Oknum-oknum pemerintahan sudah terbiasa dengan lingkungan – budaya – korupsi, meski awalnya mereka tak memiliki itikad memperkaya diri. Namun – meski tidak semua – ternyata bau korupsi lebih merangsang hasrat tiap oknum pemerintah yang masih nggumun dengan harta dan kuasa, membuatnya menggadaikan loyalitas terhadap negeri dan menarik kesempatan kotor.Bahkan lebih dari itu, bau korupsi – musuh kita yang ‘baru’ – ini sudah menjangkiti hamper seluruh elemen yang bercelah keuntungan pribadi, termasuk di dunia swasta. Kenyataan ini sudah begitu lekat dalam kehidupan kita, tak ayal bila ‘budaya korupsi’ adalah kata yang pantas sebagai gelarnya.
Satu pengalaman menarik yang saya alami kala terlibat dalam kepanitiaan sebuah acara. Ternyata pengeluaran yang terjadi di lapangan lebih sedikit dari yang sudah dijadwalkan di proposal. Alhasil menghasilkan sisa yang menganggur. Dalam protokoler organizer – katanya- saldo akhir keuangan harus nol, tak kurang tak lebih, titik. Sejenak saya merasa aneh, saya merasakan sebuah indikasi korupsi ketika kawan senior saya membelanjakan uang sisa tersebut untuk dimakan sendiri. “Ini sudah biasa, kalau tersisa malah salah, karena perhitungannya keliru.” Katanya sambil menertawakan saya.
Ternyata pengalaman saya ini memang hal yang marak terjadi. Banyak saya temukan kejadian serupa di kepanitiaan lain, bahkan di lingkup pemuda. Dan semua kejadian ini sudah dianggap biasa. Entah mana yang benar, tetapi fakta ini – saya berani menyimpulkan – sudah menunjukkan bahwa korupsi sudah sangat lekat dengan kehidupan kita.
Korupsi, begitulah namanya. Akhir-akhir ini seringkali terngiang di telinga kita, terutama setelah KPK diresmikan. Berkat kemunculannya, lumayan, banyak orang yang akhirnya tersadar akan kekacauan besar dalam sistem keuangan di negeri ini. Namun, sangat disayangkan, kemunculan KPK ini nyatanya tidak bisa mengurangi jumlah korupsi yang terjadi. Begitu sedikit kasus yang bisa terselesaikan, jauh lebih sedikit dari kasus yang ditangani, apalagi kasus yang belum bisa ditangani. Dan itu masih jauh lebih sedikit dari praktik korupsi yang terjadi.
Bila direnungkan, sangat terlambat kita menyadari kebobolan besar di negeri ini, membuat penanganan masalah ini terlambat pula. Kini, banyak orang yang meyakini, umur negeri ini tidak akan lama lagi. Beragam orang sok menyebut angka, berlagak dukun meramal waktu kematian bangsa ini.
Pupus harapan orang yang sudah terlanjur tua. Bahkan mereka pun kecewa pada dirinya yang mereka piker terlalu cepat menua, menuju ujung keterbatasan tanpa guna sedikit pun. Tak ada yang bisa diharapkan lebih jauh dari mereka golongan tua, karena hampir semuanya terkotak dalam kehidupan pribadinya. Golongan rendah hanya memikirkan perut dan golongan atas hanya sibuk mempertahankan posisinya, tak lain untuk hasratnya sendiri. Ada pula golongan tengah yang mau menyumbangkan pikiran, namun mereka sudah terlalu renta untuk mengobarkan semangat juangnya. Bukan mereka yang bisa diandalkan.
Namun di samping kenyataan itu masih ada secercah harapan – setidaknya saya mempercayainya – dari golongan tengah yang tidak memikirkan perutnya, pun kedudukannya. Ada orang-orang yang masih beritikad baik mensejahterakan bangsa, punya semangat juang tinggi dan kekuatan yang besar. Harapan terakhir bangsa, orang-orang yang masih murni hatinya, belum banyak hasratnya terhadap harta dan kuasa. Sebuah generasi baru pemimpin masa depan yang masih bisa dipercayakan, dan mau tak mau dipercayakan amanah negeri ini, merekalah Pemuda.
Pemuda lagi, lagi-lagi yang muda.
Judul: Asa; Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates