Salahkah bila mempercayai apa yang dianggap benar?
Pertanyaan ini seringkali hinggap di kepala saya, terutama ketika saya telah melakukan sebuah tindakan yang saya pikir adalah benar. Namun di saat kemudian saya mendengar bahwa yang saya lakukan adalah salah.
Andaikata saya tak punya pendirian maka saya akan langsung berbalik arah. Tapi untung saja saya masih punya ego, sehingga saya masih bisa bersikukuh. Namun saya mengira, jika orang yang menyalahkan saya benar-benar memiliki argumen yang saking luar biasanya hingga saya merasa bersalah mempertahankan ego saya, sudah pasti saya akan mangkir dari jalan yang saya pilih tadi.
Singkatnya, saya akan selalu dihadapkan pada sebuah jebakan simalakama, yang keduanya saling menyalahkan. Lalu saya bertanya: "Salahkan bila saya mempercayai apa yang saya anggap benar?"
Andaikata saya tak punya pendirian maka saya akan langsung berbalik arah. Tapi untung saja saya masih punya ego, sehingga saya masih bisa bersikukuh. Namun saya mengira, jika orang yang menyalahkan saya benar-benar memiliki argumen yang saking luar biasanya hingga saya merasa bersalah mempertahankan ego saya, sudah pasti saya akan mangkir dari jalan yang saya pilih tadi.
Singkatnya, saya akan selalu dihadapkan pada sebuah jebakan simalakama, yang keduanya saling menyalahkan. Lalu saya bertanya: "Salahkan bila saya mempercayai apa yang saya anggap benar?"
Persoalan barusan mungkin sudah sering dialami oleh setiap orang. Beberapa dari mereka tak peduli, karena bukan kebenaran yang mereka utamakan. Lihat saja kawula muda yang sudah terjebak dalam kubangan hedonisme, kebenaran akan menempati daftar prioritas yang kesekian, dibandingkan dengan kesenangan pribadi.
Tetapi saya percaya banyak sekali orang yang merasa terhimpit atas permasalahan seperti ini. Ketika mendengar bahwasanya banyak diadakan debat antar agama, tentu simalakama kebenaran mengepung keberanian religi. Yang saya takutkan adalah, pada saatnya nanti saya tidak akan bisa mempertahankan kepercayaan Islam saya andaikata saya dihadapkan pada retoris religi yang jauh lebih pandai dari saya. Ya, mau tak mau mulai detik ini saya berdoa supaya dipilihkan jalan yang benar. benar.
Benar? satu kata ini terkadang membuat saya muak. Karena saya ingat pada sebuah frase "kebenaran adalah kumpulan kebohongan". Ya, saya tahu itu. Itu adalah pengertian dari kebenaran publik. Tetapi, kebenaran hakiki, seperti apakah itu? Gadamer menjelaskan bahwa kebenaran tak bisa ditemukan melalui metode, dan saya menyimpulkan bahwa sia-sia kita mencari kebenaran karena kebenaran tak pernah bisa didapat. ada sebuah kata: "Kebenaran hanya milik Tuhan," dan ternyata saya bukan Tuhan. selamanya saya tak akan bisa mendapatkan kebenaran.
Bila pendapat itu benar adanya, lantas untuk apa kita hidup? Saya tak habis pikir.
Tetapi saya percaya banyak sekali orang yang merasa terhimpit atas permasalahan seperti ini. Ketika mendengar bahwasanya banyak diadakan debat antar agama, tentu simalakama kebenaran mengepung keberanian religi. Yang saya takutkan adalah, pada saatnya nanti saya tidak akan bisa mempertahankan kepercayaan Islam saya andaikata saya dihadapkan pada retoris religi yang jauh lebih pandai dari saya. Ya, mau tak mau mulai detik ini saya berdoa supaya dipilihkan jalan yang benar. benar.
Benar? satu kata ini terkadang membuat saya muak. Karena saya ingat pada sebuah frase "kebenaran adalah kumpulan kebohongan". Ya, saya tahu itu. Itu adalah pengertian dari kebenaran publik. Tetapi, kebenaran hakiki, seperti apakah itu? Gadamer menjelaskan bahwa kebenaran tak bisa ditemukan melalui metode, dan saya menyimpulkan bahwa sia-sia kita mencari kebenaran karena kebenaran tak pernah bisa didapat. ada sebuah kata: "Kebenaran hanya milik Tuhan," dan ternyata saya bukan Tuhan. selamanya saya tak akan bisa mendapatkan kebenaran.
Bila pendapat itu benar adanya, lantas untuk apa kita hidup? Saya tak habis pikir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar