Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Sabtu, 17 Januari 2015

Membangun kehidupan di atas kematian saudara


Judul buku         : The Gathering
Penulis                 : Anne Enright
Penerjemah      : Rika Iffati Farihah
Penerbit              : Voila – Mizan
Cetakan               : 1, November 2009
Tebal Buku         : 372 halaman
  
Kupilih buku ini dalam genggamanku menuju kasir karena di antara tumpukan buku yang sedang diobral, buku ini-lah tinggal satu di antara spesiesnya. Mungkin saking larisnya hingga tersisa satu? Aku tak ingat harganya, dua puluh ribu barangkali,  tapi kurasa sepadan dengan predikat yang tertulis di sampulnya. A new york times bestseller – a man booker prize winner. Tetapi sebenarnya yang paling membuatku penasaran adalah kutipan kecil di halaman depan: “Terkadang harus ada kematian untuk menyadarkan kita akan pentingnya kehidupan”.
Veronica nama wanita yang berkisah di sini. Sekarang, maksudku di cerita itu, dia adalah seorang ibu beranak dua yang hidup di Irlandia. Dia tidak benar-benar bahagia hidup dengan keluarganya, setidaknya menurutku. Dia hanya menganggap rumahnya “rumah” dan suaminya sebatas “suami”. Tetapi dia tidak benar-benar tahu apa yang ia inginkan. Bahkan dia tidak sadar dirinya tidak bahagia. Kurasa jiwanya tidak benar-benar mengisi tubuhnya. Hingga akhirnya terdengar kabar tentang kakak lelakinya, Liam, yang lama hilang dari keluarganya. Bukan Liam yang bicara, tapi petugas pengurus jenazah.
Perjalanan kisah ini sebenarnya amat singkat, antara berita kematian kakaknya hingga saat-saat setelah penguburan di tengah keluarga besarnya, Hegarty. Tetapi cerita yang dibawakan Veronica menjadi amat panjang karena hantu-hantu yang berseliweran dari masa lalunya. Kehidupan bersama Ada, neneknya-lah yang sangat mempengaruhi kehidupannya. Ia sudah mati dulu bersama suami dan selingkuhannya, meninggalkan ibu, bibi dan kesebelas saudaranya yang juga berkurang satu per satu.
Bahkan hingga di tengah cerita yang kubaca aku masih belum tahu ke mana novel ini berjalan.. Yang kubaca hanya fragmen-fragmen hidup Veronica yang tak saling bertautan. Hingga akhirnya kusadari di saat terakhir, seluruh hantu masa lalu dan sisa keluarganya adalah sebagian mozaik kehidupan Veronica. Novel ini bercerita tentang perjalanan Veronica untuk menjadi dirinya sendiri. Hal itu baru bisa tercapai ketika seluruh anggota keluarga Hegarty berkumpul untuk memakamkan Liam. Liam-lah kunci utama untuk Veronica. Karena dia-lah yang lebih disayangi Veronica ketimbang keluarga kecilnya.
Untuk bisa merasakan kehidupan dalam kisah ini dibutuhkan kecerdasan yang tinggi, menurutku. Oh, jangan lupakan empati, karena kisah ini ditulis dari sudut pandang wanita. Karena itulah aku kesusahan untuk menghayatinya.
Oh ya, sekilas tentang penulisnya, Anne Enright, aku tak pernah mendengar namanya sebelum ini. Dia seorang Irlandia dan seorang wanita. Kurasa itu cukup untuk menjelaskan rumitnya novel ini. Tentang karya lainnya, dikabarkan sudah empat novel dan sebuah buku non-fiksi yang telah ditulisnya. Selain itu banyak dan esainya yang telah terbit. Memang dikatakan di bagian kepengarangan bahwa dia gemar mengeksplorasi tema hubungan keluarga, cinta dan masa lalu.

Kurasa ini novel pertama dengan latar belakang keluarga yang pernah kubaca. Aku cukup terpukau dengan isinya, tapi belum sanggup menyukainya.
Judul: Membangun kehidupan di atas kematian saudara; Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates