Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Senin, 30 Maret 2015

Salam Sahabat untukmu, Negeri

Assalamu ‘alaikum. Negeriku, bagaimana kabarmu?
Kudengar dari beberapa media yang berhasil menyusup kemari, akhir-akhir ini Engkau sedang tidak sehat. Begitu banyak penyakit yang menggerogoti dirimu hingga status kritis. Kabarnya penduduk yang hidup di pangkuanmu begitu sengsara, sedang si pemimpin malah melalaikan tugasnya. Benarkah demikian?
Kudengar pula dari para tetangga kini taringmu sudah tanggal dan tubuhmu tumbang. Kemolekan ragamu telah terkikis, sedang jiwa-jiwa yang bernaung di bawahmu berselingkuh pada kefanaan dan kehinaan. Ada sedikit yang tetap setia, namun cacat. Nama harummu dihinakan dunia hingga Engkau terperosok pada bayang-bayang kehancuran yang diperkirakan dalam beberapa dekade. Sungguh malang nasibmu, Sobat.
Maafkan, Sobatku, jikalau kami belum bisa turut menolongmu. Kami masih menyempurnakan pertapaan kami. Di sini kami masih sibuk menuntut ilmu, menyelaraskan ilmu dan nilai Islam dengan bidang-bidang keilmuan lain supaya terbentuk ilmu yang lebih sempurna nan barokah. Kemudian dengan ilmu tersebut kami ‘kan menolongmu, Sobat.
Ada yang bilang bahwa kami hidup terkungkung bak ayam dalam sangkar. Ada pula yang bilang kebebasan manusiawi kami terjajah oleh sistem ma’had yang begitu ketat. Tapi Sobat, itu tidak benar. Kami hidup di sini karena kami memang berkehendak. Memang benar, kehidupan mahasantri di sini begitu ketat, penuh dengan jam ma’had dan jadwal kuliah yang begitu padat, bahkan waktu istirahat kami sangat terbatas. Namun di sisi lain ––terserah Engkau percaya atau tidak–– begitu banyak yang kami dapatkan dari ma’had ini, pengetahuan dan pengalaman yang takkan pernah diraih kecuali dengan tinggal di ma’had. Dengan inilah kami bertapa, memantapkan diri untuk menjadi pemimpin yang ideal dan bisa dijadikan suri tauladan. Pemimpin yang mengerti suka duka yang hakiki, mengerti tentang kehidupan dan kematian, serta hikmah di antara keduanya. Atau setidaknya kami bisa menjadi Agent of ‘moral’ change yang bisa memperbaiki negeri ini dari berbagai kebobrokan moral, atau setidaknya mempertahankannya dari aus.
Memang hidup sebagai mahasantri tidak menjadi jaminan kehidupan surga hakiki karena banyak sekali tantangan fisik maupun mental yang bisa menumbangkan prinsip kami. Namun kami sangat bersyukur, karena kami hidup di bawah naunganmu, tanah air surga. Tanah yang di bawah permukaannya yang gelap tersimpan dengan rahasia butir-butir berkilau, sedang di atasnya terkuak kehidupan yang asri. Dalam airnya tampak pesona alami dan udaranya menyejukkan kehidupan. Tak kurang suatu apa, bagi kami ‘negeriku adalah surgaku’.
Walaupun sekarang surga tanah air mulai rusak terusik keusilan manusia, namun kami masih bisa merasakan kenikmatannya, meski dengan berbagai keterbatasan. Bahkan di lingkar kehidupan kami yang begitu kecil ini, tak hanya fisik surga yang kami rasakan, tetapi juga ruhnya. Ruh surga itu terpatri dalam nilai islami dunia ma’had dengan berbagai budaya yang menghiasinya. Kearifan lokal para penduduk sekitar turut mencerminkan karakter penduduk surga yang ramah, santun dan peduli. This is the real heaven, you know!
Sobatku, tolong tunggulah kami sebentar lagi. Beberapa tahun lagi ketika kami tiba, kami ‘kan membantumu berdiri tegak kembali, meski semua orang memandang kami dengan sebelah mata, bahkan memalingkan wajahnya dari kami, hanya karena segelintir orang menggolongkan kami dalam barisan putih yang sok suci, hingga seluruh tuduhan terorisme bermotifkan penyucian negeri disudutkan kepada kami. Tunggulah kami, bukan karena kami satu-satunya yang bisa menolongmu, namun karena kami adalah sahabatmu.
Wassalamu ‘alaikum


Salam Sahabat untukmu, Negeri


Mahasantri Indonesia




 Esai dalam buku Dari Mahasantri Untuk Negeri
Judul: Salam Sahabat untukmu, Negeri; Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates