Haruskah berpikir diperuntukkan pada kebenaran?
Camera is a responsive/adaptive slideshow. Try to resize the browser window
It uses a light version of jQuery mobile, navigate the slides by swiping with your fingers
It's completely free (even though a donation is appreciated)
Camera slideshow provides many options to customize your project as more as possible
It supports captions, HTML elements and videos.

Jumat, 26 Juli 2013

Refleksi Guru: Digugu dan Ditiru


Judul Buku : Pesantren Ilalang
Pengarang  : Amar de Gapi
Penerbit      : DIVA Press
Cetakan      : Pertama, Februari 2009
Tebal Buku : 306 halaman

"Tawaran mengajar di Pesantren as-Salam, menghadapkanku pada kenyataan lain:
Menjadi seorang guru di tempat yang terpencil?
Segala predikat harus kutanggalkan sejenak. Melipat rapi dalam benak kepala."
~Pesantren Ilalang~

   Seperti namanya, Pesantren Ilalang karya Amar de Gapi menggambarkan sebuah pesantren kecil di daerah terpencil di Aceh. As-Salam namanya. Menurut penulis, kisah Amar tentang kehidupan di pesantren As-Salam merupakan terinspirasi pengalamannya di MA & MTs sekaligus pondok pesantren Husni Thamrin di Aceh Singkil, karena mirip dengan profilnya di bagian akhir buku.
   Kemal si murid pandai di sekolahnya mengawali karirnya yang serba semrawut, karena planning untuk masa depannya yang tak pasti, sehingga cita-cita awalnya sebagai dokter tak tercapai. Ia malah mengambil pilihan jurusan matematika tatkala jalan untuk mendapatkan beasiswa menuju cita-citanya terbentang lebar. Alhasil ia menjalani studinya dengan setengah-setengah, bahkan dirinya ragu akan kehidupannya di masa mendatang.
   Sebuah peluang yang tak pernah terduga menempatkan Kemal sebagai guru di tengah pondok pesantren As-Salam yang terpencil dari keramaian. Dengan segala keterbatasan fasilitas dan tenaga Kemal harus bekerja dengan gaji tiga ratus ribu per bulannya. Beratnya tugas yang dibebankan padanya, mengajar di beberapa mata pelajaran dan beberapa kelas MTs dan MA, sangat tidak berimbang dengan upah yang diberikan. Ia sungguh terkejut menghadapi tantangan di depannya.
   Seiring berjalannya waktu peristiwa demi peristiwa terjadi. Mulai dari kesurupan rutin hingga skandal percintaan antar guru menambah pengalaman Kemal. Ujian enak dan tak enak tersebut rupanya menyentuh perasaan Kemal, membuatnya semakin mencintai pesantren tersebut. Lama kelamaan rasa sebagai guru sejati -digugu dan ditiru- melekat pada jiwanya. Dan ia menikmatinya.
   Kemunculan Pesantren Ilalang cukup fenomenal di masa sekarang, di tengah hiruk pikuk yang mempertentangkan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan gaji guru. Banyak gaji yang sebenarnya dikeluarkan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan memberikan apresiasi lebih kepada para guru tidak sukses. Masih banyak bantuan yang diberikan pemerintah yang salah sasaran, karena banyak sekali sekolah yang belum difasilitasi dan guru yang mengajar dengan modal swadaya tak pernah diperhatikan.
   Memang penulisan Amar de Gapi mengenai perjalanan Kemal tergolong sedikit dan tak memiliki klimaks yang menonjol. Tapi sedikit banyak Pesantren Ilalang mampu menginspirasi para guru dan simpatisan pendidikan dengan gaya tulisnya yang mudah dipahami.
Judul: Refleksi Guru: Digugu dan Ditiru; Ditulis oleh finuaz; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates