Judul Buku : Le Rocher de Tanios
Pengarang : Amin Maalouf
Judul Terjemahan : Cadas Tanios
Penerjemah : Ida Sundari Husen
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Cetakan : pertama, Juli 1999
Tebal Buku : xiv + 262 halaman
"Sudah ditakdirkan kemalangan demi kemalangan yang menimpa desa kami mencapai puncaknya pada suatu kejadian mengerikan, yang membawa kutukan:
Pembunuhan Pemimpin Gereja yang sangat dipuja-puja, oleh tangan-tangan
yang tampaknya sama sekali tidak diciptakan untuk berbuat jahat."
~Cadas Tanios~
Kiranya pantaslah bagi seorang Maalouf memenangkan penghargaan Grand Prix Des Literatures pada 1996. Karya yang telah mengusungnya adalah sebuah bukti nyata dan mungkin semua orang yang pernah membaca karyanya yang satu ini memakluminya, Cadas Tanios.
Sedikit berbeda dengan dua karyanya yang lain -Balthasar's Odyssey dan Samarkand- Maalouf tetap menceritakan sebuah kisah sejarah, -atau legenda tepatnya karena tidak didasari dengan sumber yang utuh- hanya saja bukan kisah yang berkaitan dengan buku, melainkan batu. Kali ini Maalouf mengisahkan tentang sebuah batu cadas yang berada di pinggir desa Kfaryabda, Montagne, sekarang ada di wilayah Lebanon yang dinamai dengan nama seseorang, Tanios.
Diawali dengan pengantar pendek, Maalouf menuturkan sebuah pencarian fakta mengapa batu cadas di pinggir desa itu dinamakan Tanios. Setelah banyak berusaha ia mendapatkan 3 naskah yang menunjukkan kisah hidup Tanios dan seorang saksi hidup bernama Gebrayel. Dengan keempat sumber tersebut ia menyusun ceritanya.
Konon di Desa Kfaryabda yang dikenal makmur itu hidup seorang Ceikh -pedagang besar, saking besarnya hngga dianggap raja- yang bijaksana, lebih dari Ceikh-ceikh sebelumnya. Tetapi ia memiliki sebuah cacat dalam tabiatnya, perempuan. Hingga suatu saat dosa besar telah memulai sejarah baru di desa dan di negeri tersebut, ia menghamili pelayannya yang telah menikah dengan Gerios si Kepala Rumah Tangga Istana penurut yang bernama Lamia. Dari rahim Lamia lahirlah seorang anak lelaki bernama Tanios.
Semenjak kecil telah nampak kelebihan Tanios dibanding anak-anak seumurnya, yakni kepandaiannya. Suatu ketika kepandaiannya menemukan sesuatu yang ganjil, yang telah membudaya di desanya, yakni mengagung-agungkan Cheikh, dan kepandaiannya menolak dirinya ikut-ikutan. Dengan perenungannya Tanios duduk di batu cadas pinggiran desa untuk merenung dan bertemu dengan Roukoz, mantan Kepala Rumah Tangga Istana Cheikh sebelum digantikan oleh ayah Tanios karena fitnah Cheikh. Ia dikenalkan dengan rumah dan tanahnya yang semakin meluas serta keluarganya termasuk Asma anaknya. Dari perkenalan itu Tanios mulai jatuh cinta pada Asma.
Tanios telah berusaha mendekati Asma untuk menjadi calon pendampingnya, Asma pun mencintai Tanios. Namun suatu hari Raad anak Cheikh melamar Asma pada Roukoz dan ia menerimanya, karena baginya kesempatan terbuka lebar untuk menjadi seorang pemimpin di Kfaryabda sejak ia diusir oleh Cheikh. Rupanya ambisi dan 'balas dendam' Roukoz memukul hati Tanios, ia bersumpah pada kedua orangtuanya untuk bunuh diri bila pernikahan itu terjadi.
Awalnya kedua orangtuanya tidak terlalu khawatir melihat peluang bahwa Cheikh dan Pemimpin Gereja juga sependapat dengan Tanios, namun ternyata Pemimpin Gereja mengatakan hal yang berbeda. Pernyataannya membuat Gerios menerawang anaknya melakukan bunuh diri karena ambisinya, seperti yang pernah dilakukan Tanios pada saat yang sebelumnya -Tanios berusaha bunuh diri dengan mogok makan karena tak bisa menuntut ilmu di Sahlain. Dan hal yang tak pernah terbayangkan pun terjadi. Gerios menembak mati Pemimpin Gereja. Sejak saat itu Gerios dan Tanios menjadi buronan.
Ayah-anak itu melarikan diri ke Siprus, tempat dekat yang paling aman bagi keduanya untuk kabur dan memantau keadaan desanya. Di sana keduanya memulai hidup baru dengan kebiasaan baru dan teman-teman yang baru. Temannya yang paling akrab adalah Fahim, perantauan dari Montagne, satu wilayah dengan keduanya. Tiap hari Gerios dan Fahim bermain judi bersama dan Tanios sering pergi menemui kekasih gelap yang baru dikenalnya, Thamar. Kebiasaan itu mereka lakukan hingga beberapa saat, hingga Fahim memberitakan bahwa sudah aman bagi Tanios dan ayahnya kembali ke desa.
Ketika hendak kembali, secara tak sengaja Tanios terpisah dari ayahnya yang berangkat menyeberang lautan dengan kapal bersama Fahim terlebih dahulu. Berniat menyusul dengan kapal berikutnya, Tanios malah menemukan fakta bahwa dirinya dan ayahnya telah dijebak oleh Fahim yang seorang mata-mata Emir yang juga menguasai Kfaryabda masa itu. Tapi Tanios selamat, sedangkan ayahnya dihukum mati.
Tanios berniat meneruskan hidupnya sendiri, hingga suatu saat ia dipertemukan dengan guru masa kecilnya, seorang Inggris yang patut diperhitungkan dalam politik Inggris, negara yang menentang Emir penguasa Montagne sekaligus Kfaryabda. Atas rekomendasinya, Tanios bisa pulang ke kampung halamannya dengan benar-benar selamat, dengan syarat sebuah misi, yakni menyatakan hasil perundingan petinggi Inggris untuk mengasingkan Emir.
Tanios pulang ke kampung halamannya disambut meriah tidak sebagai pelarian, melainkan pahlawan yang telah 'menurunkan' kekuasaan Emir atas wilayah Montagne, penguasa yang bahkan dtakuti oleh Cheikh Kfaryabda. Akhir cerita ia diangkat sebagai putra makhota, penerus Cheikh yang sudah renta, karena Raad anak lelakinya telah dibunuh oleh Emir pada masa-masa sulit sebelumnya. Tapi ia tidak terlalu senang dengan hal itu, juga karena kepandaiannya.
Suatu ketika setelah Tanios dengan kuasanya yang baru mengantarkan Nader si pedagang keliling sahabatnya yang telah dikeroyok penduduk desa keluar dari perbatasan, ia duduk di batu cadas favoritnya, tempat ia biasa merenungkan segala hal yang dianggapnya perlu direnungkan. Lebih dari sehari ia duduk di situ, tak mengindahkan sapaan orang lain dan perintah untuk menemui Cheikh. Hingga ia tiba-tiba menghilang dari batu itu tanpa diketahui keberadaannya, bahkan hingga sekarang. Batu dudukan favorit Tanios itulah yang dinamai dengan namanya, Tanios.
Bila dibandingkan dengan kedua karyanya Bathasar's Odyssey dan Samarkand, kisah Cadas Tanios ini relatif lebih mudah dipahami, karena gaya bahasa yang digunakan cukup sederhana. Pun karena unsur-unsur sejarah yang mempengaruhinya relatif sedikit, sehingga pembaca tak perlu dirumitkan dengan keharusan memahami situasi yang terjadi saat itu. Begitu pula dengan penyajian ceritanya yang selalu unik dari yang lain, Maalouf menggunakan teknik bertutur multi sumber untuk mengisahkan satu cerita. Saya pribadi pun merasa karya-karya Maalouf Balthasar Odyssey, Samarkand dan Cadas Tanios ini sangat menginspirasi pembaca yang memiliki minat menulis, karena dengan membacanya akan muncul ide untuk menulis dengan penyampaian yang kreatif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar