Judul Buku : Wahsyi, Si Pembunuh Hamzah
Pengarang : Najib Kailani
Penerjemah : Syarif Ridwan
Penerbit : Syaamil Cipta Media
Cetakan : Oktober 2004
Dimensi : 11 x 18 cm
Tebal Buku : 443 halaman
"Tapi langit yang ada di atasku adalah langit yang kemarin itu juga.
Gunung Uhud yang berdiri kokoh di sana tidak peduli sedikit pun terhadap apa yang telah aku raih,
Al wahad dan Al akaam belum berubah sedikit pun.
Semuanya masih seperti semula."
Banyak sekali kisah yang menceritakan tentang kegagahan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW. Namun sedikit yang mengetahui bahwa paman beliau meninggal di medan laga. Lebih sedikit lagi yang mengetahui siapa pembunuhnya, apalagi kisah hidupnya.
Mungkin sedikit sekali yang mengetahui bahwa Wahsyi bin Harb si Pembunuh Hamzah sebenarnya tidak benar-benar membenci Hamzah, dia membunuhnya tidak lain untuk menebus kemerdekaannya sebagai budah bertahun-tahun di tangan Jubair bin Muth'im.
Karya Najib Kailani ini tak bisa dipandang sebelah mata. Kisah perjalanan Wahsyi mencari kebenaran memang sebuah kisah yang berada di tumpukan bawah di antara kisah sahabat Nabi Muhammad yang lain seperti Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah, Ali bin Abi Thalib ataupun yang lainnya. Namun di balik kisah sahabat-sahabat yang kurang dikenal sebenarnya ada hikmah yang tidak bisa dipetik dari sahabat-sahabat utama Nabi. Tiap orang punya cerita, begitu pula tiap individu sahabat Nabi. Salah satu kisah sahabat yang jarang disebut namun memiliki kisah yang unik adalah kisahnya, Wahsyi si Pembunuh Hamzah.
Bertahun-tahun Wahsyi hidup di bawah kungkungan kuasa majikannya Jubair bin Muth'im, salah satu pembesar Quraisy dan orang yang awalnya memusuhi Nabi Muhammad. Wahsyi yang memiliki hati yang lembut harus disiksa oleh majikannya tiap kali majikannya mengalami kesusahan, dan hal itu membuatnya tersiksa dan menginginkan kemerdekaan sebagai obatnya. Demi mendapatkan kemerdekaannya Wahsyi rela menukarkan apapun termasuk membunuh. Dan keteguhan hati Wahsyi inilah yang dimanfaatkan oleh para pembesar Quraisy yang menentang Nabi untuk membunuh pamannya Hamzah yang gagah di medan perang. Wahsyi menerima tantangan para pembesar Quraisy, dan ia berhasil melaksanakan tugasnya, meski tuidak menyerang secara jantan alias menyerang dari belakang. Ia mendapatkan kemerdekaan yang dicari-carinya dan harta untuk bayarannya.
Namun meski ia dikenal sebagai pembunuh Hamzah yang terkenal rupanya tidak membawa perubahan yang baik baginya. Bahkan kekasihnya Ablah yang dulu sangat mencintainya mencampakkan dirinyanya bersama hartanya. Begitu pula dengan kawan baiknya, Suhail, mereka mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW yang dikenal mulia dan baik budinya seantero Arab. Kehidupan Wahsyi memang makmur, tetapi batinnya mengalami siksaan yang lebih berat daripada sebelum dia merdeka.
Wahsyi menyadari bahwa kaum Quraisy adalah kaum yang bodoh yang memuja-muja patung sebagai sesembahannya. Namun ia tidak bisa memeluk ajaran Muhammad karena ia telah bersalah membunuh pamannya. Ia takut apabila ia kembali kepada Muhammad ia malah dibunuh. Kebingungan itulah yang menyiksanya setiap hari, apalagi teman-teman dan kekasihnya meninggalkannya, membutanya semakin tersiksa. Meski kebingungan selalu menyertainya setiap saat akhirnya ia ikut membela kaum Quraisy supaya memenangkan peperangan dan membunuh Muhammad, tak lain supaya Nabi Muhammad tidak menumpahkan dendamnya kepadanya dan membuatnya terbunuh.
Kebingungan Wahsyi pun tak sirna meski Makkah telah ditaklukkan dengan telak, ia malah pergi menuju Thaif, tempat yang penduduknya masih memusuhi Nabi. Rencananya tak berhasil, kaum kafir yang tetap menyerang umat Islam selalu dipukul mundur. Dalam keterdesakan itu Suhail sahabat Wahsyi segera mengajaknya masuk Islam dan menjaminnya tetap hidup selama dia berislam. Akhirnya masuklah Wahsyi dalam naungan ajaran Islam, dan menjadi tentara yang tangguh di medan jihad.
Najib mampu membawa kisahnya secara gamblang dengan bahasa yang mudah dipahami. Tetapi kisah yang diceritakan kurang jelas dan terfokus pada pergolakan batin Wahsyi. Meskipun begitu ksah Wahsyi yang dibawakannya tetap menarik karena tidak hanya menjelaskan kehidupan kaum kafir Quraisy, tapi juga tauhid dan tasawuf.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar